แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Anna
Teman-teman Aldo mulai bergantian menyalahkanku, sementara Aldo sendiri sibuk menenangkan wanita yang sedang meneteskan air mata dengan suara pelan itu.

Seluruh tubuhku merinding. Rasa malu yang begitu besar seolah-olah hampir menenggelamkanku.

Saat aku sudah hampir tak sanggup bertahan lagi, akhirnya Aldo melepaskan Yuna dan berjalan mendekatiku.

Dia merendahkan suaranya, “Sayang, kok kamu bisa tahu tempat ini?”

Aku menatapnya dan menajamkan senyuman sinis.

“Jadi kamu nggak tanya kenapa aku datang ke sini, tapi hanya tanya kok bisa tahu tempat ini?”

Aldo mengerutkan keningnya dan mengulurkan tangan untuk menarikku.

“Jangan buat keributan di sini, ayo kita bicara di luar saja.”

Aku menghempaskan tangannya.

“Keributan apa yang kubuat?”

“Aldo, kamu menyembunyikanku selama tujuh tahun dan menyembunyikan dia selama tiga tahun. Hari ini, aku hanya mau dengar kamu bilang satu kalimat di depan semua orang.”

“Sebenarnya aku ini dianggap apa?”

Raut wajah Aldo perlahan-lahan menjadi dingin.

Dulu, dia paling takut kalau aku menangis.

Saat aku sakit maag, dia menyetir menembus separuh kota di tengah malam hanya untuk membelikan obat untukku.

Saat aku datang bulan, dia bakal mendekap kantong kompres air hangat di dadanya sampai hangat sebelum menyerahkannya padaku.

Namun sekarang, saat seluruh tubuhku gemetaran, cara dia menatapku malah seperti sedang melihat sebuah masalah yang tak tahu diri.

Dia mencengkeram pergelangan tanganku dan membawaku keluar dari hotel.

Melihat mataku yang berkaca-kaca, dia menghela napas,

“Tara, karena kamu sudah tahu semuanya, aku juga nggak bakal menutupinya lagi. Aku dan Yuna sudah bersama tiga tahun.”

“Tapi tenang saja, tetap kamu yang paling kusayang. Aku bakal menikahimu, tapi juga bakal mengadakan pesta pernikahan dengan dia. Anggap saja sebagai bentuk ganti rugi untuk dia.”

“Yuna itu gadis yang polos, dia nggak bisa hidup tanpa aku. Kamu pasti bisa memahami posisiku, ‘kan?”

Rasa aneh dan tak masuk akal menjalar ke seluruh tubuhku. Aku menatap pria di depanku ini, rasanya seperti baru pertama kali mengenalnya.

“Atas dasar apa?”

Aldo tertawa pelan, mengelus wajahku dan berkata dengan nada yang terdengar lembut, tapi sangat kejam,

“Tara, kita sudah bersama selama tujuh tahun. Aku tahu kamu nggak bisa hidup tanpaku, lagipula kita juga bakal menikah sebentar lagi.”

“Sayang, jangan kekanak-kanakan begitu, ya.”

Kalimat itu lagi.

Dulu, setiap kali aku ingin mempublikasikan hubungan kami, setiap kali ingin masuk ke lingkaran pertemanannya, setiap kali sedih karena sikapnya yang terkadang hangat terkadang dingin, dia selalu mengerutkan kening dan berkata, “Jangan kekanak-kanakan.”

Seolah-olah rasa sedihku, rasa tak amanku dan setiap momen saat aku ingin dipilih dengan tegas, semuanya hanya dianggap sebagai sikap kekanak-kanakan.

Aku memejamkan mata. Setelah lama kemudian, barulah aku menjawab pelan,

“Baiklah, aku nggak bersikap kekanak-kanakan.”

Aku akan mundur.

Aldo tersenyum puas, lalu mendaratkan sebuah kecupan di keningku.

“Aku tahu kamu paling patuh. Kamu pulang duluan, ya.”

“Aku harus menemani Yuna malam ini. Dia masih muda, cukup temperamen. Gara-gara omonganmu tadi, aku harus menghiburnya baik-baik.”

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa mual di perutku, lalu berbalik dan pergi.

Keluar dari hotel, hal pertama yang kulakukan adalah menelepon sahabatku, Fiona.

Rasanya terlalu sakit, saat ini aku hanya ingin mengeluh di depan orang terdekatku.

Saat telepon terhubung, baru saja aku memanggil namanya, “Fiona,” air mataku langsung menetes.

Aku menceritakan semuanya padanya dan semakin kuceritakan, suaraku semakin gemetar.

“Fiona, aku sangat konyol, ‘kan?”

“Pacar yang sudah tujuh tahun bersamaku, tapi nggak ada satu orang pun yang tahu kalau aku ini pacarnya.”

“Bahkan wanita itu pun nggak tahu.”

Di balik telepon mendadak hening untuk waktu yang lama, aku mengira ada masalah dengan sinyalnya.

Lalu, Fiona menghela napas, “Ternyata tetap nggak bisa disembunyikan darimu.”

Aku membeku, “Apa… apa maksudnya?”

Aku mendengarnya menarik napas pelan.

“Yuna itu teman kuliahku. Dia dan Aldo kenal gara-gara aku.”

Seketika, ada sesuatu di dalam kepalaku yang rasanya runtuh begitu saja.

Aku teringat tiga tahun lalu, Fiona tiba-tiba bilang ada teman kuliahnya yang sedang berada di luar negeri dan orangnya sangat baik. Dia menyuruh Aldo untuk menghubunginya jika butuh bantuan saat perjalanan bisnis.

Waktu itu aku bahkan masih bercanda, “Kamu jangan asal mengenalkan wanita cantik ke dia, aku bisa cemburu.”

Saat itu, Fiona menepuk bahuku dan berkata, “Tenang saja, aku pasti akan berdiri di pihak kamu.”

Aku tak bisa mengendalikan diri lagi, suaraku gemetaran, “Kok kamu nggak kasih tahu aku?”

Suara Fiona terdengar agak panik, “Tara, aku bukan sengaja menyembunyikannya dari kamu. Awalnya aku juga nggak tahu mereka bakal jadi seperti ini, tapi setelah itu Yuna sangat suka dengan Aldo dan Aldo juga memperlakukan dia berbeda.”

Aku tersenyum tipis, lalu bertanya, “Lalu?”

Fiona berkata, “Jadi, aku nggak tahu harus bagaimana menyampaikannya padamu.”

Aku memejamkan mata, air mataku terasa sangat panas.

Fiona itu sahabat terbaikku.

Masa SMA dulu, aku dan dia pernah berdesakan di satu ranjang asrama.

Pertama kali aku bertengkar dengan Aldo, Fionalah yang menemaniku berjalan di lapangan sekolah sampai tengah malam.

Di saat usaha Aldo bangkrut, dia yang menasihatiku untuk tidak menyerah, bahkan bilang bahwa hubungan yang sanggup melewati masa sulit adalah yang paling berharga.

Namun sekarang, wajahku rasanya seperti baru saja ditampar dengan sangat keras.

Ponselku masih menempel di telinga, suara Fiona terasa semakin asing.

“Tara, anggap saja aku memohon padamu, kamu jangan buat keributan lagi.”

“Yuna itu orang yang sangat baik, dia benar-benar sangat polos. Semua orang bisa menilai hubungannya dengan Aldo selama tiga tahun ini.”

“Mereka sangat serasi.”

“Teman-teman Aldo juga sangat menyukainya.”

“Bahkan ibunya Aldo juga sudah pernah menemuinya.”

Seketika, napasku terasa tertahan.

Aku dan Aldo sudah bersama selama tujuh tahun.

Dia tak pernah mengajakku bertemu ibunya.

Dia bilang, “Sayang, ibuku galak, aku nggak tega kamu merasa tertekan.”

Dia bilang, “Kalau waktunya sudah tepat, aku pasti bakal mengajak kamu ke rumah.”

Namun, ternyata dia sudah lebih dulu membawa Yuna bertemu dengan orang tuanya.

Aku bahkan masih dengan bodohnya menunggu waktu yang tepat.

Ternyata diriku bagaikan sebuah rahasia yang tak pantas diperlihatkan.

Dibungkus rapi dengan kata-kata manisnya, lalu disembunyikan di sudut yang tak diketahui oleh siapa pun.

Sementara Yuna tak pernah memperjuangkannya, tak perlu bertanya dan tak perlu menunggu.

Dia sudah mendapatkan semuanya.

Mendapatkan restu dari teman-teman dan pengakuan dari orang tua.

Bahkan sahabat terbaikku sendiri juga ikut membelanya.

Fiona merendahkan suaranya, “Tara, dengar nasehatku, jangan rusak hubungan mereka.”

Aku mematikan sambungan telepon dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 9

    Satu bulan kemudian, uang di rekening bersama kami sudah sepenuhnya dilunasi.Aldo mentransfer kembali bagianku dan ada kelebihan sejumlah uang yang katanya sebagai bentuk kompensasi.Aku mengembalikannya.Aku tak butuh kompensasi darinya.Kompensasi artinya rasa bersalah masih bisa diukur dengan angka, padahal tujuh tahunku yang terbuang tidak akan pernah bisa ditebus dengan nominal berapa pun.Setelah itu, Fiona juga datang mencariku.Dia berdiri di lantai bawah rumahku sambil memegang kue kesukaanku dulu, dengan matanya yang sembap.Dia berkata, “Tara, aku benar-benar sudah tahu salah.”Hari itu angin berhembus sangat kencang. Aku menatapnya, lalu teringat pada musim panas saat kami masih SMA dulu.Kami berdesakan di depan kantin sekolah memakan satu es lilin berdua, sambil tertawa bilang kalau nanti siapa pun yang menikah duluan, yang satunya wajib jadi pengiring pengantin.Ketulusannya nyata.Namun, pengkhianatan ini juga nyata adanya.Aku tak menerima kue itu.“Fiona, aku sudah t

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 8

    Keesokan paginya, aku mengunggah satu postingan.Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun ini, aku menuliskan nama Aldo.Aku tak menangis atau memaki-maki, tapi hanya membeberkan kronologi waktunya dengan sangat jelas.Pernyataan cinta waktu kuliah, pacaran selama tujuh tahun, tinggal bersama, rekening bersama, pertemuan dengan orang tuaku, hingga janji tanggal pernikahan.Serta bagaimana Aldo mulai menjalin hubungan dengan Yuna sejak tiga tahun lalu, mempublikasikan wanita itu di postingannya, membawanya bertemu dengan teman-teman dan ibunya, tapi di saat yang sama terus beralasan padaku sedang perjalanan dinas, sibuk dan menunggu waktu yang tepat.Terakhir, aku mengunggah video yang kuambil di hotel malam itu.Di dalam video tersebut, Aldo bilang sendiri, “Aku bakal menikahimu, tapi juga bakal mengadakan pesta pernikahan dengan dia.”Setelah mengunggahnya, aku mematikan ponsel dan menemani ibu pergi berbelanja ke pasar.Sepanjang jalan ibu terus menggenggam tanganku, sama seperti wakt

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 7

    Aldo tak langsung pergi.Dia berdiri di lantai bawah sampai siang, lalu mengirim banyak pesan di depan pintu rumahku.Dia bilang kalau dirinya sudah menghapus semua kontak Yuna.Dia bilang kalau dirinya akan membalas semua pengakuan status yang terutang padaku selama ini.Dia bilang asal aku mau memaafkannya, dirinya rela berlutut memohon pada seluruh kerabat dan temanku.Tak ada satu pun pesan yang kubalas.Sore harinya, Fiona meneleponku lagi.Kali ini, nadanya tak seberani kemarin, melainkan terdengar sangat lelah.“Tara, kamu benaran harus sekejam ini?”Aku duduk di dekat jendela, memegang cangkir air hangat yang diberikan ibu, lalu bertanya padanya dengan tenang, “Emangnya apa yang kulakukan?”“Gara-gara kamu, Aldo langsung terbang balik malam-malam. Yuna menangis terpuruk sampai sekarang. Dia nggak tahu kalau kamu dan Aldo masih pacaran. Dia juga korban.”“Jadi?”Di seberang telepon mendadak hening sejenak.Aku melanjutkan, “Jadi aku harus menenangkannya, mengucapkan selamat untu

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 6

    Keesokan harinya, aku terbangun oleh suara kegaduhan dari lantai bawah.Ibu berbisik-bisik di luar pintu, suaranya terdengar dingin dan tegas, sesuatu yang jarang sekali terjadi, “Dia nggak mau bertemu denganmu, pergi saja.”Seketika, dadaku terasa sesak. Aku memakai jaket dan berjalan ke arah jendela.Aldo sedang berdiri di lantai bawah. Dia masih memakai kemeja yang sama seperti kemarin, lecek tak beraturan.Saat mendongak dan melihatku, matanya langsung berbinar, seperti menemukan harapan hidupnya yang terakhir.“Sayang, turun sebentar, temui aku.”Aku tak bergerak.Dia terus mendongak, suaranya terdengar sangat serak, “Aku naik penerbangan paling pagi untuk balik ke sini, bahkan nggak sempat membawa koper. Tara, aku benaran sudah tahu salah, tolong jangan buang aku.”Dulu, aku paling tak tahan melihatnya seperti ini.Asalkan dia memanggilku sayang dengan mata berkaca-kaca, hatiku pasti langsung luluh. Aku bakal merasa bahwa perjalanan tujuh tahun itu tak mudah, lalu melupakan semua

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 5

    Saat pesawat mendarat, gerimis halus sedang mengguyur di luar jendela.Saat mengaktifkan ponsel, pesan-pesan yang masuk hampir meledakkan ponselku.Aldo menelepon lebih dari tiga puluh kali. Pesan yang dikirimnya berubah dari bujukan lembut menjadi pertanyaan yang panik.[Sayang, kamu ke mana?][Jangan ngambek lagi, bukannya aku sudah bilang bakal menikahimu?][Apa maksudmu menghapus semua postinganmu?]Pesan terakhir dikirim pada pukul empat pagi.[Sayang, aku sudah tahu salah. Angkat teleponku, ya?]Aku menatap kalimat ‘aku sudah tahu salah’ itu, tiba-tiba merasa sangat miris.Dia tak merasa salah saat aku dipermalukan oleh teman-temannya.Dia tak merasa salah saat mengatakan ingin menikahiku, tapi malah memberikan pesta pernikahan untuk Yuna.Dia juga tak merasa salah saat aku mengetahui bahwa dirinya telah berbohong padaku selama tiga tahun.Dia hanya menyadari aku telah benar-benar pergi.Makanya dia panik.Ibu dan ayah sudah menungguku di pintu kedatangan. Saat melihatku, mata ib

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 4

    Aku berdiri di tepi jalan raya, tiba-tiba ponselku bergetar.Ada pesan masuk dari ayah.Ayah berkata, [Nak, kapan Aldo pulang? Hari ini ibu menanyakan soal pernikahan kalian lagi.]Aku menatap barisan kalimat itu, akhirnya mataku terasa perih.Demi Aldo, aku sudah terlalu lama membohongi keluargaku.Membohongi mereka dengan bilang dia sibuk, bilang dia menyayangiku, bilang dia itu tipe orang yang tertutup.Hingga akhirnya, diriku sendiri pun hampir memercayainya.Aku menelepon ibuku.Suara lembut ibu terdengar, “Bagaimana? Kamu sudah menentukan tanggal pernikahan dengan Aldo? Kapan dia mau ke rumah?”“Ibu, kami sudah putus.”Di balik telepon mendadak hening untuk waktu yang lama.Begitu lama sampai aku mengira ibu bakal memarahiku karena dianggap terlalu impulsif atau membujukku untuk memberi kesempatan sekali lagi pada Aldo.Namun, ibu hanya menghela napas pelan.“Kamu merasa tertekan, ya?”Begitu empat kata itu diucapkan, seluruh pertahanan dan gengsi yang kutahan mati-matian langsun

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status