Sepanjang jalan, Dina tidak bisa diam. Tubuhnya terus menggeliat gelisah, sesekali melirik tonjolan di selangkangan Burhan sambil menggigit bibir bawahnya. Gadis itu sudah kepalang basah, tak sabar ingin merasakan rasanya ditiduri pria kota yang tampan dan gagah.Tapi mobil yang dikemudikan Burhan justru berhenti di persimpangan jalan tak jauh dari rumah Dina.“Loh, Om ... kok berhenti di sini sih?” sungut Dina heran, bibirnya langsung maju mengerucut manja. “Katanya tadi mau ngajak Dina main di kasur empuk kamar Om? Kok malah belok ke arah rumah Dina?”“Om baru ingat, sore ini ada janji mendadak sama orang kecamatan buat urusan tanah kebun teh. Main di kasurnya besok-besok aja, ya?” sahut Burhan, sambil mengusap kepala Dina dengan telapak tangannya.Mendengar Burhan lagi-lagi menghindar, wajah Dina makin kusut. Gadis itu menatap Burhan curiga, matanya mulai berkaca-kaca menahan kecewa.“Om bohong, ya? Om cuma menghindar, kan?” cicit Dina lirih, suaranya bergetar sedih.Ulu hati Burha
Last Updated : 2026-09-22 Read more