Sesampainya di rumah tua, Burhan memarkir Jeep-nya di halaman dan mematikan mesin. Dia masih diam di balik setir beberapa detik, memijat pelipisnya yang berdenyut. Bayangan mata Dina yang berkaca-kaca di perempatan tadi terus menempel di kepalanya. “Awas aja besok subuh,” gumamnya lagi, lalu turun dan melangkah ke pintu samping dapur.Pintu itu ternyata belum dikunci. Lampu teplok di meja makan masih menyala, dan di sampingnya, Endah sedang sibuk merapikan taplak serta menyiapkan tudung saji.“Eh, Mas Burhan sudah pulang?” Endah menoleh, menyapa ramah. “Endah kira Mas nginep di kebun.”“Mbak Endah belum pulang? Ini sudah malem.”“Belum, Mas. Kan tugas Endah ngurusin konsumsi Mas Burhan.” Gadis dua puluh tiga tahun itu mengangkat tudung saji dengan hati-hati. “Makan malam Mas sudah Endah siapin, nggih. Ada sayur asem, ayam goreng, tahu bacem, ikan asin, sama sambel terasi. Ala kadarnya.”“Wah, lengkap.” Burhan mengusap perutnya. “Pas banget, saya lapar.”“Masih anget kok, Mas. Tadi En
Last Updated : 2026-10-26 Read more