Melihat mata menyelidik Yanti di teras semen, Burhan terlihat santai. Rahang tegasnya tetap tenang tanpa raut gugup.“Ini loh, Mbak, bantuin Dina angkat karung kentang. Berat banget ternyata,” sahut Burhan enteng.Mata Yanti menyipit tajam, jelas belum puas menatap pemandangan ganjil di depannya. “Nata sayur kok sampai buka baju to, Mas? Jam segini dinginnya nusuk tulang. Itu muka Dina juga merah banget.”Kali ini giliran Dina yang lekas maju. Gadis itu menepuk-nepuk debu di daster kusamnya dengan lagak sok sibuk.“Hoalah, ini tadi Dina sama Om angkatin keranjang sayur, Mbak. Tuh, dari depan sana ....” Dina menunjuk gerbang pekarangan, tempat sepedanya disandarkan. “Om Burhan kan mau ke kecamatan, jadi Dina nebeng sekalian ke pasar. Pas Om bantuin, keringetnya ngucur, Mbak. Jadi lepas kaos deh.”“Oalah, kamu ke sini pagi-pagi mau nebeng? Udah janjian to?” Dina nyengir polos tanpa beban. “Iya, Mbak. Janjian kemarin pagi itu lho.”Yanti manggut-manggut pelan. Ekor matanya sempat meliri
Last Updated : 2026-11-01 Read more