“Ah, Pakde! Sakit!”Jeritan pedas Rini seketika memecah keheningan fajar yang dingin menusuk tulang. Bibir bergincu merah menyala itu meringis ngilu, matanya merem-melek menahan sengatan panas yang membakar kulit pantatnya.Di atas dipan bambu teras rumah tua, pemandangan itu tampak kelewat ambigu dan mengundang pikiran kotor. Tubuh kurus Rini menungging pasrah, menumpu kedua telapak tangannya di bilah-bilah bambu. Bokongnya sengaja ditunggingkan tinggi-tinggi, bergetar naik-turun.Tepat di belakangnya, tubuh tegap Burhan menjulang rapat menaungi gadis itu.“Tahan! Jangan cengeng! Kamu sendiri yang tadi ngebet minta, kan? Sekarang rasain akibatnya!” dengus Burhan.Plak! Plak!“Aduh! Pedes banget, Pakde!” rengek Rini mendesah parau bercampur rasa perih yang bikin matanya berair. Tubuh kurusnya tersentak maju tiap kali benturan keras itu mendarat, membuat daging pantatnya berdenyut panas membara.Sementara itu di luar pagar bambu, derap langkah kaki tergesa-gesa mendadak terhenti kaku.
Last Updated : 2026-10-03 Read more