Araya menjerit saat rasa perih yang teramat sangat menusuk hingga ke ubun-ubunnya. Tubuhnya melengkung di atas kasur, sementara kedua tangannya meremas bahu Kalingga sekuat tenaga. Air mata Araya menetes makin deras, membasahi bantal di bawah kepalanya. "S-sakit, Mas... cabut..." rintih Araya terengah-engah, merasakan keperkasaan Kalingga yang menjejal rapat dan memenuhinya tanpa celah. Kalingga tidak bergerak. Pria itu menahan posisinya, membiarkan tubuhnya tetap tertanam utuh di dalam sana. Ia mengusap air mata di pipi Araya, lalu mengecup bibir gadis itu berulang kali untuk menenangkan. "Sshh... diam dulu, Araya," bisik Kalingga parau, napasnya yang panas menghembus langsung di leher Araya. "Jangan tegang. Biarkan tubuh kamu terbiasa dulu." "Tapi sakit banget, Mas... aku nggak tahan..." tangis Araya pecah. Rasa asing yang padat dan menyiksa di bawah sana membuatnya makin panik. "Napas pelan-pelan," perintah Kalingga, sembari mengusap kening Araya, menenangkan. Araya memb
Last Updated : 2026-09-14 Read more