“Kamu udah datang dari tadi, kenapa nggak langsung masuk ke kamar aku sih, Ka?” tanya Amara dengan nada kesal sembari melipat tangannya di dada.Raka yang khawatir jika ada yang melihat keadaan Amara segera menutup rapat pintu kayu besar itu. “Maaf, Bu. Saya tadi kepagian datangnya. Saya ke dapur dulu, minta Bu Sri buatkan kopi untuk saya,” jelasnya.Amara yang tidak menggunakan alas kaki melangkah pelan dan penuh gerakan sensual mendekati Raka yang masih berdiri diam di posisinya.“B–bu”“Ini bukan yang pertama kali bagi kita, Raka. Kenapa kamu tegang gini sih?” Amara mengelus dagu Raka yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, membuat tubuh Raka mulai meremang.Amara semakin gencar menggoda Raka. Tangan lembutnya pun berpindah, menyentuh pelan bibir Raka yang selalu ingin dikecupnya lagi, dan lagi.Ia mulai berbisik tepat di depan bibir Raka yang masih tercium sisa kopi hitam tadi. “Kalau kamu tadi langsung masuk ke kamar aku, kita kan jadi punya banyak waktu, Ka. Kamu tau kan kal
Last Updated : 2026-09-21 Read more