Rinna memarkir motor tepat di sebelah pos satpam di Klinik Kencana. Ia membantu Nania menggantung helm, lalu berjalan mendahului kakaknya.Gaya Rinna begitu percaya diri, sedangkan Nania cemas setengah mati."Rin, Rinna!" panggil Nania, susah payah menyamakan langkah. "Kamu mau ngapain, sih?" Klinik itu adalah satu-satunya pusat pengobatan terbesar di daerah mereka. Dokternya lumayan lengkap, mulai dari dokter umum, dokter anak, sampai dokter gigi. Mereka masuk bersama-sama menembus dinginnya pendingin ruangan.Kata Rinna, ada kenalannya yang bernama Lala bekerja sebagai resepsionis klinik. Siapa tahu mereka bisa mengorek sedikit informasi darinya.Nania yang tadinya skeptis mulai merasa sedikit berharap. Jika itu benar, bisa jadi ia akan bisa bertanya banyak hal pada Lala.Sesampainya di area pendaftaran, Rinna celingak-celinguk mengamati setiap wajah di balik meja kaca."Kayaknya nggak ada, deh, si Lala," gumam Rinna seraya menggaruk tengkuknya."Kita tunggu aja dulu. Mungk
Dernière mise à jour : 2026-09-24 Read More