Nania terpejam di atas ranjang UGD yang keras dan dingin. Aroma khas rumah sakit menusuk penciumannya. Pengaruh obat yang diberikan dokter membuat kelopak matanya terasa amat berat untuk dibuka. Memaksa tubuhnya yang lelah untuk beristirahat.Namun, sialnya, otaknya menolak rehat secara maksimal. Nania merasa terjebak di persimpangan yang menyiksa antara lelap dan sadar.Di penglihatan yang aneh, bayangan itu muncul. Wajah Ray.Pria itu sedang tersenyum bahagia. Berdiri di dalam sebuah ruangan yang terang, serba putih, dan sangat indah."Aku sayang kamu, Nania."Suara lembut pria itu bergema di dalam kepala Nania, memantul dan terdengar begitu nyata. Ray kemudian berlari ke arahnya. Membentangkan kedua tangan lebar-lebar, lalu merengkuh tubuh Nania erat. Dalam kesunyian yang terasa magis dan ajaib itu, Nania hanya merasakan kebahagiaan murni. Tidak ada keresahan, kesedihan, atau keraguan.Namun, detik berikutnya....Tiba-tiba, seolah ada penutup lubang raksasa yang mendadak te
Dernière mise à jour : 2026-10-23 Read More