Mobil bergemuruh halus melewati jalan kecil menuju vila. Sementara itu, di dalam mobil, hanya ada keheningan. Ray menggenggam kemudi erat-erat, matanya lurus menatap aspal basah. Di sampingnya, Nania memilih membuang pandang ke luar jendela. Bayangan pepohonan melintas cepat, persis seperti kerumunan pikiran yang berlarian di kepalanya. Mereka tidak bicara sejak awal mula perjalanan pulang dari rumah Pak Wira. Tapi Nania tahu, Ray selalu mencuri pandang. Mesin akhirnya mati di pelataran vila. Ray melepas sabuk pengaman, keluar, lalu memutar cepat. Pintu sisi penumpang terbuka. Ray berdiri di sana, mengulurkan tangan.Nania melempar tatapan ragu. Sudah berapa lama Ray tak membukakan pintu mobil untuknya? Bulan? Tahun? Atau mungkin ia sudah lupa kapan terakhir kali lelaki itu bersikap perhatian seperti ini. Gestur sederhana itu justru terasa asing, dan suasana jadi makin canggung. "Makasih," bisik Nania. Ia menolak menggapai jemari Ray dan memilih bangkit sendiri.Langkah perta
Dernière mise à jour : 2026-11-08 Read More