Share

BAB 3

Author: Aara
last update publish date: 2026-09-08 20:35:23

“Maafkan mom dan dad ya, sayang.”

Elara mendongak dan membalas tatapan sang ibu. Ia tidak merespon dan kembali memandang dirinya lewat cermin di hadapannya. Penampilannya sudah rapi dengan gaun pengantin putih sederhana dan make up tipis di wajahnya. Pernikahan ini bahkan hanya memerlukan waktu kurang dari satu bulan persiapan.

“Tidak apa-apa, mom. Aku yang minta maaf karena sempat egois dan menolak perjodohan ini.”

“Tidak, sayang. Kau anak yang baik. Justru kami yang bersalah padamu.”

Elara terdiam lagi. Ia menatap ibunya, Diana Ainsley lewat pantulan cermin. Sang ibu tampak jelas sedang menahan air matanya. Hal itu membuat Elara memalingkan wajahnya lagi, berusaha tidak menangis. Pernikahan ini adalah demi perusahaan Ainsley. Keputusan Elara sudah benar.

“Sayang. Mom benar-benar minta maaf. Jika saja perusahaan baik-baik saja, kita tidak perlu meminta bantuan keluarga Whitmore dan kau –”

“Sudahlah, mom. Aku baik-baik saja, sungguh. Jangan khawatir,” potong Elara cepat tanpa membalas tatapan sang ibu. Hanya keluarga Whitmore yang bersedia menyuntikkan dana untuk perusahaan sang ayah yang sedang di ujung tanduk, dan mereka menginginkan perjodohan ini. Elara tidak punya pilihan lain.

“Elara? Bolehkah aku masuk?”

Suara rendah terdengar dari balik pintu. Sontak Elara dan Diana Ainsley menoleh bersamaan. “Tentu. Masuklah, Luc,” jawab Elara sambil memaksakan senyumnya. Ia memutar duduknya sehingga bisa menatap Luca yang baru saja masuk. “Duduklah di sana,” ujarnya sambil menunjuk sofa yang tidak jauh dari kursinya.

“Cantik,” lirih Luca. Sangat pelan, tapi Elara tetap bisa mendengarnya. 

“Apa kau bilang? Aku cantik?” tanya Elara dengan nada bercanda. Kedua tatapannya melirik jahil ke arah Luca. Tidak bisa mendengar sahabatnya itu memuji paras dirinya. Jika iya, seringnya selalu berakhir dengan tawa keras Luca.

“Kenapa tatapanmu begitu?” 

“Kau tidak pernah serius ketika memujiku atau Keira,” jawab Elara dengan senyum miringnya. Mendengar itu, Luca tertawa keras sambil mengangguk setuju. 

“Sesuai keyakinanmu saja kalau begitu.”

Tatapan keduanya saling bertemu dan mereka tertawa bersama. Elara bersyukur karena ada Luca yang masih peduli padanya setelah huru-hara perjodohan konyolnya. Bagaimana dengan Keira?  Tentu saja wanita itu marah besar padanya.

“Kau sudah bertemu Nathan?” Elara bertanya sambil membalikkan badannya lagi ke arah cermin. Sebelah tangannya terangkat merapikan sedikit rambutnya yang kurang rapi. Diana Ainsley ikut membantu.

“Ya. Nathan di depan, sedang menyambut para tamu undangan,” jawab Luca singkat.

“Apakah dia terlihat bahagia atau murung?” Elara membungkam pelan mulutnya, ujung matanya melirik sang ibu dari pantulan cermin. Tidak seharusnya ia membahas hal ini di hadapan Diana Ainsley. Itu akan membuat sang ibu khawatir.

Diana tersenyum penuh pengertian sebelum mengangguk paham. “Mom keluar dulu ya. Kalian bisa mengobrol dulu sebentar,” tutur Diana Ainsley pelan kemudian melangkah keluar ruangan. 

Setelah mendengar bunyi pintu tertutup, Elara kembali menatap Luca untuk mendengar jawaban pria itu. Namun selama beberapa menit suasana mendadak hening, membuat perasaan Elara tidak nyaman. “Bagaimana Nathan?” tanyanya lagi. Kali ini tidak berani melihat raut Luca karena sepertinya apapun yang akan pria itu katakan bisa membuat hatinya perih.

“Nathan terlihat ….”

“Apa?” desak Elara.

“Marah.”

Elara menghembuskan nafasnya panjang. Ia sudah menduganya. Waktu itu, saat dirinya bilang pada Nathan jika perjodohan ini tidak bisa batal, Nathan langsung membentaknya dan pergi begitu saja. Setelahnya, sikap Nathan berubah total. Seperti bukan sahabat lamanya, bahkan menatap mata Elara pun sepertinya Nathan tidak sudi. 

“Bagaimana dengan Keira? Dia mau bertemu denganmu?” tanya Elara mengingat setelah kabar perjodohan ini sampai di telinga Keira, wanita itu tidak mau bertemu dengannya. Niatnya, Elara ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya walaupun ia tahu kesalahannya sangat besar. Mau bagaimana pun, Keira sudah bersahabat dengannya selama bertahun-tahun, tidak mungkin membiarkan Keira tersakiti sedalam ini. 

“Keira tidak mau bertemu denganku.”

Jawaban Luca semakin membuat perasaan Elara campur aduk. Ia merasa sangat bersalah karena menjadi penyebab hancurnya hubungan Nathan dan Keira, bahkan merusak persahabatan mereka semua. 

“Aku yakin Keira tidak datang hari ini,” lirih Elara, suaranya berbisik. Lehernya seolah tercekik ketika menyebut nama sahabat yang sudah disakitinya begitu dalam. Sudah sepantasnya ia mendapat hukuman seperti ini, menjadi musuh dari sahabat baiknya sendiri.

“Jangan terlalu khawatir, Elara. Aku akan mencoba bicara lagi dengan Keira besok,” tutur Luca, seolah berusaha menenangkan Elara. 

***

Pernikahan berlangsung lancar dan khidmat. Elara kini berdiri tepat di sisi suaminya, Nathan yang berpenampilan menawan dengan jas hitamnya. Aroma white tea dan musk yang khas Nathan menguar di hidung Elara. Aroma yang sudah lama menjadi candu bagi Elara.

Tanpa sadar kedua matanya menangkap satu sosok wanita yang sedang duduk di meja paling belakang. Keira Bennet terlihat menatapnya tajam, raut marahnya sangat kentara. Tidak sesuai dugaan Elara, ternyata sahabatnya itu datang ke pernikahan.

“Kita harus bergantian menyapa tamu.”

Bisikan Nathan menyadarkan Elara yang langsung menoleh, kepalanya mendongak untuk dapat membalas tatapan Nathan. “Iya, ayo,” jawabnya singkat. Ia menelan kasar ludahnya saat mendapati tatapan Nathan yang sangat dingin padanya. Tidak ada lagi kelembutan yang selama ini Nathan tunjukkan.

Nathan membiarkan Elara melangkah di belakang tanpa menggenggam tangannya. Layaknya suami istri yang baru saja menikah, mereka terlihat kebalikannya. Elara tetap memaksakan senyumnya untuk para tamu undangan. Ia tidak ingin menampakkan kejanggalan apapun, terutama di hadapan kedua orang tuanya.

“Selamat, Sayang. Aku sangat senang akhirnya kau jadi menantuku,” tutur Helena Whitmore seraya memeluknya hangat. 

“Terima kasih, tante.”

No, no. Kau sudah menikah dengan anakku. Itu artinya, kau juga anakku. Panggil aku ibu,” protes Helena dengan senyum tulusnya. Terlihat jelas dalam tatapan wanita itu, ia sangat senang dan menerima Elara dengan baik. Elara memaksa senyumnya dan merespon dengan sopan. Walaupun dalam hatinya, ia masih gundah.

Setelah berkeliling ke banyak meja, akhirnya Elara dan Nathan sampai di meja terakhir. Ada Keira Bennet dan Luca Foster di sana. Berbanding terbalik dengan raut Luca yang tampak tersenyum tulus, Keira justru menatap Elara dengan tajam.

“Kei, Luc. Terima kasih sudah datang,” ujar Elara dan langsung memeluk singkat Luca. Ia hendak memeluk Keira juga namun gerakannya terhenti ketika melihat Keira memeluk erat Nathan. Elara tidak bisa melihat dengan jelas raut keduanya, tapi ia tahu jika Keira menangis. Tubuh wanita itu terlihat sedikit gemetar. 

Elara membiarkan Keira dan Nathan berpelukan cukup lama. Mendadak ia merasakan ada yang menepuk pelan pundaknya. Luca sedang berusaha menghiburnya. Ia menoleh dan mendapati tatapan Luca yang menenangkan.

“Kei ….” panggil Elara pelan. Tidak ada respon selama beberapa menit sampai pelukan Keira pada Nathan terlepas. Elara menelan kasar ludahnya. Di hadapannya kini ada dua orang, dua sahabat baiknya yang menatap penuh dendam ke arahnya.

“Kei, Nathan … aku –”

“Elara Ainsley. Kau benar-benar wanita egois!” ucap Keira penuh penekanan, membuat Elara tidak berkutik. Kepalanya menunduk dan kedua tangannya bertaut penuh rasa takut.

“Aku … minta maaf –”

Bullshit!

Elara kembali mematung mendengar umpatan Nathan. Pria itu mengumpat padanya dengan kedua tangan mengepal. 

“Nathan, sudahlah. Jangan begitu –”

“Jangan membelanya, Luc,” potong Nathan cepat bahkan sebelum Luca menyelesaikan kalimatnya. 

“Dia adalah pengkhianat!” desis Keira.

  

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 7

    “Nathan, kau tidak waras!” ujar Luca penuh penekanan. Setelah berhari-hari Nathan sibuk, akhirnya pria itu bisa bertemu dengannya. Sebenarnya amarah sudah memenuhi benak Luca mengingat tentang perlakuan kasar yang Nathan lakukan pada Elara, tapi sebisa mungkin ia tahan. “Apa maksudmu?” tanya Nathan acuh. Sebelah tangannya mengambil cangkir dari meja dan menyeruputnya pelan. Americano di kafe ini memang yang terbaik, pikirnya. “Elara sahabatmu, dan sekarang dia adalah istrimu.” Luca mengepalkan tangannya karena melihat sikap Nathan yang terlampau tenang. Tidak ada raut bersalah di wajahnya, padahal Luca yakin jika pria itu memahami maksud ucapannya barusan. “Nathan!” “Kenapa kau tiba-tiba marah?!” teriak Nathan tidak kalah keras, membuat seisi manusia di Chapter One Coffee menatap ke arah mereka. Luca mengusap kasar wajahnya, rahangnya mengeras, dan kemarahannya semakin membuncah. “Kita pindah ke ruanganku saja,” perintahnya. Sebelum beranjak dari posisinya, Luca memanggil seor

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 6

    “Kei, jangan pedulikan Elara. Perasaanku tetap sama dan tidak akan pernah berubah.” Nathan memeluk erat Keira. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus kepala sang wanita. Sudah berhari-hari Keira menolak bertemu dengannya. Syukurnya hari ini dan dengan sedikit paksaan, Keira membuka pintu rumahnya untuk Nathan. “Nathan. Kenapa kau tega padaku?! Kenapa Elara tega melakukan ini!” Keira berteriak kencang sampai tubuhnya bergetar hebat. Kedua matanya deras oleh air mata, membuat Nathan tidak sampai hati melihat wanitanya begitu tersakiti. “Kei, babe. Tenanglah … tenang ….” “Bagaimana aku bisa tenang sementara kekasihku menikahi sahabat dekatku sendiri?!” Air mata Keira semakin deras. Wanita itu berteriak kencang dengan bibir bergetar, seolah sedang menumpahkan segala kemarahannya yang sempat tertahan. Penampilan Keira yang selama ini selalu rapi juga terlihat berbeda hari ini, tampak berantakan. Sangat tidak menggambarkan seorang Keira Bennett. “Babe –” “Jangan memanggilku deng

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 5

    “Kau pulang sangat larut hari ini. Sudah makan malam? Aku tadi masak sesuatu, mungkin kau bisa mencobanya,” ujar Elara. Ia mengikuti langkah Nathan yang baru masuk rumah, sebelah tangannya terulur mengambil jas yang baru saja Nathan lempar ke sofa ruang tengah. “Nathan?” panggil Elara lagi setelah cukup lama tidak ada jawaban. Ia masih mengikuti langkah panjang pria itu sampai ke lantai dua. Entah berapa kali ia memanggil nama Nathan, tapi suaminya itu sama sekali tidak menoleh. “Kenapa kau mengikutiku?!” Elara tersentak, tubuhnya mundur selangkah. Bentakan Nathan cukup mengagetkan. Ia baru sadar kalau kini keduanya sudah berdiri di depan pintu hitam besar, kamar Nathan. Sepertinya Elara terlalu fokus mengejar suaminya tanpa memperhatikan sekitar. “Sudah makan malam?” tanya Elara lagi, kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Matanya berkedip lucu sambil menatap Nathan yang jauh lebih tinggi darinya. “El, jangan bersikap seperti seorang istri. Aku benci itu!” L

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 4

    “Aku tidur di kamarku sendiri, kau terserah di mana. Ada banyak kamar di sini.” Elara mengangguk paham dan membiarkan Nathan melangkah menjauh. Pria itu naik ke lantai dua. Ia memandang sekeliling dan bergumam kagum. Ini adalah rumah pribadi Nathan yang sudah pria itu tempati sekitar dua tahun. Sebenarnya Elara pernah berkunjung, tapi hanya sekali. Ia tidak terlalu mengingat detail rumah ini karena waktu itu hanya mampir sebentar untuk menjemput Nathan. “Nyonya, mau kamar di lantai satu atau dua? Semuanya sudah kami rapikan.” Suara seorang pelayan wanita membuat Elara menoleh. “Lantai satu saja. Aku harus memanggilmu siapa?” tanya Elara seraya melempar senyuman manisnya. Sepertinya wanita di hadapannya itu adalah kepala pelayan yang mengurus rumah ini. Umurnya sekitar pertengahan empat puluh, jika Elara tidak salah menduga. “Martha. Anda bisa memanggil saya Martha.” Elara tersenyum lalu mengangguk paham. “Baiklah, Martha. Terima kasih sudah menyambutku. Semoga kita bisa akrab.”

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 3

    “Maafkan mom dan dad ya, sayang.” Elara mendongak dan membalas tatapan sang ibu. Ia tidak merespon dan kembali memandang dirinya lewat cermin di hadapannya. Penampilannya sudah rapi dengan gaun pengantin putih sederhana dan make up tipis di wajahnya. Pernikahan ini bahkan hanya memerlukan waktu kurang dari satu bulan persiapan. “Tidak apa-apa, mom. Aku yang minta maaf karena sempat egois dan menolak perjodohan ini.” “Tidak, sayang. Kau anak yang baik. Justru kami yang bersalah padamu.” Elara terdiam lagi. Ia menatap ibunya, Diana Ainsley lewat pantulan cermin. Sang ibu tampak jelas sedang menahan air matanya. Hal itu membuat Elara memalingkan wajahnya lagi, berusaha tidak menangis. Pernikahan ini adalah demi perusahaan Ainsley. Keputusan Elara sudah benar. “Sayang. Mom benar-benar minta maaf. Jika saja perusahaan baik-baik saja, kita tidak perlu meminta bantuan keluarga Whitmore dan kau –” “Sudahlah, mom. Aku baik-baik saja, sungguh. Jangan khawatir,” potong Elara cepat tanpa me

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 2

    “Kau tidak akan menerimanya, kan?”Elara yang mulanya menatap kosong ke arah taman gelap di hadapannya menoleh dan menemukan Nathan berdiri tidak jauh dari posisinya. Ia tersenyum getir, menepuk kursi sebelahnya yang kosong.“Kita bicara sambil duduk,” jawab Elara. Nathan mengangguk pelan kemudian duduk di sebelahnya. Keduanya tidak ada yang membuka obrolan, sejenak menikmati udara sejuk malam ini.Elara memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya sedikit berantakan karena hembusan angin. Udara malam ini tidak terlalu dingin, sangat menenangkan. “Kau juga belum tahu soal perjodohan ini?” tanyanya tanpa menoleh ke arah Nathan.“Aku tidak tahu kalau acara keluarga malam ini adalah makan bersama keluargamu, El,” jawab Nathan singkat sambil terkekeh pelan. Ternyata mereka berdua sama-sama tidak tahu apapun. Mendadak mengadakan makan malam dua keluarga dan mengabarkan jika kedua pihak sudah setuju dengan perjodohan ini. Perjodohan Elara Ainsley dan Nathan Whitmore.Elara juga terkekeh pela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status