LOGIN“Maafkan mom dan dad ya, sayang.”
Elara mendongak dan membalas tatapan sang ibu. Ia tidak merespon dan kembali memandang dirinya lewat cermin di hadapannya. Penampilannya sudah rapi dengan gaun pengantin putih sederhana dan make up tipis di wajahnya. Pernikahan ini bahkan hanya memerlukan waktu kurang dari satu bulan persiapan.
“Tidak apa-apa, mom. Aku yang minta maaf karena sempat egois dan menolak perjodohan ini.”
“Tidak, sayang. Kau anak yang baik. Justru kami yang bersalah padamu.”
Elara terdiam lagi. Ia menatap ibunya, Diana Ainsley lewat pantulan cermin. Sang ibu tampak jelas sedang menahan air matanya. Hal itu membuat Elara memalingkan wajahnya lagi, berusaha tidak menangis. Pernikahan ini adalah demi perusahaan Ainsley. Keputusan Elara sudah benar.
“Sayang. Mom benar-benar minta maaf. Jika saja perusahaan baik-baik saja, kita tidak perlu meminta bantuan keluarga Whitmore dan kau –”
“Sudahlah, mom. Aku baik-baik saja, sungguh. Jangan khawatir,” potong Elara cepat tanpa membalas tatapan sang ibu. Hanya keluarga Whitmore yang bersedia menyuntikkan dana untuk perusahaan sang ayah yang sedang di ujung tanduk, dan mereka menginginkan perjodohan ini. Elara tidak punya pilihan lain.
“Elara? Bolehkah aku masuk?”
Suara rendah terdengar dari balik pintu. Sontak Elara dan Diana Ainsley menoleh bersamaan. “Tentu. Masuklah, Luc,” jawab Elara sambil memaksakan senyumnya. Ia memutar duduknya sehingga bisa menatap Luca yang baru saja masuk. “Duduklah di sana,” ujarnya sambil menunjuk sofa yang tidak jauh dari kursinya.
“Cantik,” lirih Luca. Sangat pelan, tapi Elara tetap bisa mendengarnya.
“Apa kau bilang? Aku cantik?” tanya Elara dengan nada bercanda. Kedua tatapannya melirik jahil ke arah Luca. Tidak bisa mendengar sahabatnya itu memuji paras dirinya. Jika iya, seringnya selalu berakhir dengan tawa keras Luca.
“Kenapa tatapanmu begitu?”
“Kau tidak pernah serius ketika memujiku atau Keira,” jawab Elara dengan senyum miringnya. Mendengar itu, Luca tertawa keras sambil mengangguk setuju.
“Sesuai keyakinanmu saja kalau begitu.”
Tatapan keduanya saling bertemu dan mereka tertawa bersama. Elara bersyukur karena ada Luca yang masih peduli padanya setelah huru-hara perjodohan konyolnya. Bagaimana dengan Keira? Tentu saja wanita itu marah besar padanya.
“Kau sudah bertemu Nathan?” Elara bertanya sambil membalikkan badannya lagi ke arah cermin. Sebelah tangannya terangkat merapikan sedikit rambutnya yang kurang rapi. Diana Ainsley ikut membantu.
“Ya. Nathan di depan, sedang menyambut para tamu undangan,” jawab Luca singkat.
“Apakah dia terlihat bahagia atau murung?” Elara membungkam pelan mulutnya, ujung matanya melirik sang ibu dari pantulan cermin. Tidak seharusnya ia membahas hal ini di hadapan Diana Ainsley. Itu akan membuat sang ibu khawatir.
Diana tersenyum penuh pengertian sebelum mengangguk paham. “Mom keluar dulu ya. Kalian bisa mengobrol dulu sebentar,” tutur Diana Ainsley pelan kemudian melangkah keluar ruangan.
Setelah mendengar bunyi pintu tertutup, Elara kembali menatap Luca untuk mendengar jawaban pria itu. Namun selama beberapa menit suasana mendadak hening, membuat perasaan Elara tidak nyaman. “Bagaimana Nathan?” tanyanya lagi. Kali ini tidak berani melihat raut Luca karena sepertinya apapun yang akan pria itu katakan bisa membuat hatinya perih.
“Nathan terlihat ….”
“Apa?” desak Elara.
“Marah.”
Elara menghembuskan nafasnya panjang. Ia sudah menduganya. Waktu itu, saat dirinya bilang pada Nathan jika perjodohan ini tidak bisa batal, Nathan langsung membentaknya dan pergi begitu saja. Setelahnya, sikap Nathan berubah total. Seperti bukan sahabat lamanya, bahkan menatap mata Elara pun sepertinya Nathan tidak sudi.
“Bagaimana dengan Keira? Dia mau bertemu denganmu?” tanya Elara mengingat setelah kabar perjodohan ini sampai di telinga Keira, wanita itu tidak mau bertemu dengannya. Niatnya, Elara ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya walaupun ia tahu kesalahannya sangat besar. Mau bagaimana pun, Keira sudah bersahabat dengannya selama bertahun-tahun, tidak mungkin membiarkan Keira tersakiti sedalam ini.
“Keira tidak mau bertemu denganku.”
Jawaban Luca semakin membuat perasaan Elara campur aduk. Ia merasa sangat bersalah karena menjadi penyebab hancurnya hubungan Nathan dan Keira, bahkan merusak persahabatan mereka semua.
“Aku yakin Keira tidak datang hari ini,” lirih Elara, suaranya berbisik. Lehernya seolah tercekik ketika menyebut nama sahabat yang sudah disakitinya begitu dalam. Sudah sepantasnya ia mendapat hukuman seperti ini, menjadi musuh dari sahabat baiknya sendiri.
“Jangan terlalu khawatir, Elara. Aku akan mencoba bicara lagi dengan Keira besok,” tutur Luca, seolah berusaha menenangkan Elara.
***
Pernikahan berlangsung lancar dan khidmat. Elara kini berdiri tepat di sisi suaminya, Nathan yang berpenampilan menawan dengan jas hitamnya. Aroma white tea dan musk yang khas Nathan menguar di hidung Elara. Aroma yang sudah lama menjadi candu bagi Elara.
Tanpa sadar kedua matanya menangkap satu sosok wanita yang sedang duduk di meja paling belakang. Keira Bennet terlihat menatapnya tajam, raut marahnya sangat kentara. Tidak sesuai dugaan Elara, ternyata sahabatnya itu datang ke pernikahan.
“Kita harus bergantian menyapa tamu.”
Bisikan Nathan menyadarkan Elara yang langsung menoleh, kepalanya mendongak untuk dapat membalas tatapan Nathan. “Iya, ayo,” jawabnya singkat. Ia menelan kasar ludahnya saat mendapati tatapan Nathan yang sangat dingin padanya. Tidak ada lagi kelembutan yang selama ini Nathan tunjukkan.
Nathan membiarkan Elara melangkah di belakang tanpa menggenggam tangannya. Layaknya suami istri yang baru saja menikah, mereka terlihat kebalikannya. Elara tetap memaksakan senyumnya untuk para tamu undangan. Ia tidak ingin menampakkan kejanggalan apapun, terutama di hadapan kedua orang tuanya.
“Selamat, Sayang. Aku sangat senang akhirnya kau jadi menantuku,” tutur Helena Whitmore seraya memeluknya hangat.
“Terima kasih, tante.”
“No, no. Kau sudah menikah dengan anakku. Itu artinya, kau juga anakku. Panggil aku ibu,” protes Helena dengan senyum tulusnya. Terlihat jelas dalam tatapan wanita itu, ia sangat senang dan menerima Elara dengan baik. Elara memaksa senyumnya dan merespon dengan sopan. Walaupun dalam hatinya, ia masih gundah.
Setelah berkeliling ke banyak meja, akhirnya Elara dan Nathan sampai di meja terakhir. Ada Keira Bennet dan Luca Foster di sana. Berbanding terbalik dengan raut Luca yang tampak tersenyum tulus, Keira justru menatap Elara dengan tajam.
“Kei, Luc. Terima kasih sudah datang,” ujar Elara dan langsung memeluk singkat Luca. Ia hendak memeluk Keira juga namun gerakannya terhenti ketika melihat Keira memeluk erat Nathan. Elara tidak bisa melihat dengan jelas raut keduanya, tapi ia tahu jika Keira menangis. Tubuh wanita itu terlihat sedikit gemetar.
Elara membiarkan Keira dan Nathan berpelukan cukup lama. Mendadak ia merasakan ada yang menepuk pelan pundaknya. Luca sedang berusaha menghiburnya. Ia menoleh dan mendapati tatapan Luca yang menenangkan.
“Kei ….” panggil Elara pelan. Tidak ada respon selama beberapa menit sampai pelukan Keira pada Nathan terlepas. Elara menelan kasar ludahnya. Di hadapannya kini ada dua orang, dua sahabat baiknya yang menatap penuh dendam ke arahnya.
“Kei, Nathan … aku –”
“Elara Ainsley. Kau benar-benar wanita egois!” ucap Keira penuh penekanan, membuat Elara tidak berkutik. Kepalanya menunduk dan kedua tangannya bertaut penuh rasa takut.
“Aku … minta maaf –”
“Bullshit!”
Elara kembali mematung mendengar umpatan Nathan. Pria itu mengumpat padanya dengan kedua tangan mengepal.
“Nathan, sudahlah. Jangan begitu –”
“Jangan membelanya, Luc,” potong Nathan cepat bahkan sebelum Luca menyelesaikan kalimatnya.
“Dia adalah pengkhianat!” desis Keira.
Elara memutar pena di jarinya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tahu seberapa besar masalah yang dihadapi perusahaan Whitmore, Nathan pasti kewalahan. Sudah seminggu Nathan tidak membalas pesannya yang sekedar bertanya kabar. “Kau memikirkan Nathan?” Suara Luca membuat Elara tersentak. Matanya kembali pada dokumen berserakan di meja dan Luca yang duduk berseberangan dengannya. Tersadar jika ia sedang diskusi tentang rencana kerja sama dengan Winslow Group. “Maaf,” jawab Elara penuh rasa bersalah. Sangat tidak profesional ia memikirkan urusan pribadi di saat Aster sedang butuh dirinya. Apalagi sekarang Elara hanya berdua dengan Luca, hubungan mereka masih belum baik-baik saja. “Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena beberapa hari belakangan bersikap kasar padamu.” Elara sontak menggeleng. “Tidak, tidak. Itu semua bukan salahmu, memang aku sendiri penyebabnya.” Luca tidak langsung menjawab, ia menaruh dokumen yang sedari tadi ada di pangkuannya ke meja lalu menatap Elara. “
Bel pintu bunyi hampir bersamaan dengan ponsel Elara yang juga bergetar di dalam saku. Nathan tampak berusaha menormalkan napasnya, sedangkan Elara langsung memeriksa ponselnya. Ada pesan anonim lagi dari nomor biasanya. [Kau baik-baik saja di dalam kamar? Nathan tidak kurang ajar padamu, kan?] Isi pesan itu membuat kening Elara berkerut. Siapa sebenarnya orang dibalik pesan ini sampai tahu detail keberadaan Elara? “Sophia. Ada apa?” Elara menutup ponselnya, menoleh ke arah Nathan yang sudah membuka pintu. “Maaf mengganggu, Tuan. Ada sesuatu terjadi di kantor Whitmore dan cukup mendesak,” jawab Sophia sambil menyerahkan tablet ke Nathan. Elara mendekat, sedikit mengintip karena penasaran. “Ada masalah?” bisik Elara. Tidak lupa ia juga menyapa Sophia yang sudah dikenalnya sejak lama. Wanita itu juga tersenyum ramah padanya. Nathan menggeleng, mengembalikan tablet Sophia, lalu menoleh ke Elara lagi sambil tersenyum tenang. “Tidak ada. Hanya masalah kecil,” jawabnya. Nathan Whit
Elara mengikuti Nathan duduk di salah satu sofa lobi hotel. Panas matahari sangat terik dan membuat kepalanya pening, menunggu di dalam memang keputusan terbaik. Lagi pula ia juga tidak tahu berapa lama orang bengkel itu akan datang. “Sial!” Elara menoleh dan menemukan Nathan mengusap kasar wajahnya. “Kenapa. Nath?” “Aku mau menunjukkan sesuatu padamu, tapi ketinggalan di kamar.” Elara mengerjap. “Kamarmu?” Nathan berdehem sekilas, kepalanya terangkat menatap Elara. “Kau keberatan naik ke kamar dulu?” Diam sebentar, Elara mengamati raut Nathan yang tampak menyesal. “Boleh,” jawabnya kemudian sambil mengangguk. Setelah itu Elara langsung beranjak mengikuti langkah Nathan memasuki lift. Akal sehatnya mulai bisa berpikir jernih. Kenapa ia harus ikut naik, padahal bisa tetap menunggu di lobi, kan? Elara mengumpat dalam hati, tidak bisa protes karena ikut ke kamar Nathan adalah keputusannya sendiri.“Silahkan masuk.”Elara tersadar saat Nathan membuka lebar pintu di depannya. “Teri
“Ayolah, Lex ….” Elara bergelayut manja di lengan sang kakak. “Kau diskusikan dengan Luca dulu. Nanti aku pulang sekitar jam delapan,” jawab Alex, fokusnya masih di ponsel karena ada sedikit masalah di warehouse Aster. Elara mendengus, tapi tidak membantah dan tetap membiarkan Alexander pergi. Sebenarnya ia hendak diskusi tentang konsep Aster yang akan mereka pakai untuk kerja sama hotel Winslow bersama Alex dan Luca. Sudah hampir satu minggu hubungan Elara dan Luca belum membaik. Mereka hanya bertemu di waktu-waktu tertentu, yaitu saat membicarakan pekerjaan saja. Sisanya, Elara hampir tidak pernah berpapasan dengan sang kekasih, bahkan di kantor sekali pun. Sekarang Elara perlu mendiskusikan ide konsepnya bersama Luca dan Alex. Menurutnya, semakin cepat maka semakin baik. Ia tidak ingin membuang banyak waktu sebelum menghadap pihak Winslow Group. Elara melirik jam dinding, sebentar lagi Luca pasti datang. Ia memilih untuk menyandarkan tubuh di sofa ruang tengah sembari bermain
“Jadi, Victor Winslow sendiri yang menawarkan kerja sama ini?” Alex bertanya sambil menyeruput kopi panasnya di sofa empuk ruang kerja Elara. Elara memang sengaja menyuruh Alex mampir ke kantor Aster sebelum ke warehouse. Pria itu sempat menggerutu kecil karena ini masih terlalu pagi untuk mulai bekerja. Elara mengangguk. “Betul. Tuan Victor sedang mencari mitra yang cocok untuk mengelola kedai kopi di hotelnya,” jawabnya sambil menyerahkan beberapa dokumen tentang pengembangan hotel Winslow Group pada sang kakak. “Winslow Group bukan perusahaan kecil,” ujar Alex, membaca dokumen tersebut sambil mengangguk kecil. “Kalau mereka tertarik dengan Aster, itu akan menjadi kesempatan besar bagi kita setelah kerja sama dengan Bellmont Grand Hotel kemarin.” Sesuai perkiraan Elara sebelumnya, Alex pasti juga antusias dengan rencana kerja sama ini. Setelah ia telusuri, hotel ini memang tidak sebesar properti Winslow yang lain. Namun konsepnya menarik dan mereka ingin memiliki kedai kopi deng
“Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?” Luca berdiri di sebelah Elara. Keduanya bersama mengantar Vanessa Winslow sampai masuk mobil dan pergi. Elara menoleh, keningnya sedikit berkerut. “Tentang apa?” “Nessa.” “Bukankah tadi dia sudah menjelaskan semuanya? Dia tertarik padamu, tapi karena sudah tahu tentang hubungan kita, dia berjanji tidak akan mengganggu.” Luca mengusap kasar wajahnya, membuat Elara merasa semakin heran. “Iya, iya. Aku tahu. Nessa menjelaskan semuanya, tapi ada satu yang membuatku bingung.” Luca berhenti sejenak. “Kenapa kau begitu santai menghadapi Nessa?” Napas Elara terdengar panjang. Ia berbalik, melangkah memasuki Aster dengan Luca yang mengikuti dari belakang. “Lalu maksudmu aku harus bagaimana? Mengusir Vanessa dari kantorku, begitu?” tanya Elara. Ting. Pintu lift terbuka dan keduanya masuk, kebetulan tidak ada orang lain di dalam sana. Luca maju satu langkah dan berbalik menghadap Elara. “Bukan itu maksudku, El.” Elara merasakan kedua bahuny







