LOGIN“Kau pulang sangat larut hari ini. Sudah makan malam? Aku tadi masak sesuatu, mungkin kau bisa mencobanya,” ujar Elara. Ia mengikuti langkah Nathan yang baru masuk rumah, sebelah tangannya terulur mengambil jas yang baru saja Nathan lempar ke sofa ruang tengah.
“Nathan?” panggil Elara lagi setelah cukup lama tidak ada jawaban. Ia masih mengikuti langkah panjang pria itu sampai ke lantai dua. Entah berapa kali ia memanggil nama Nathan, tapi suaminya itu sama sekali tidak menoleh.
“Kenapa kau mengikutiku?!”
Elara tersentak, tubuhnya mundur selangkah. Bentakan Nathan cukup mengagetkan. Ia baru sadar kalau kini keduanya sudah berdiri di depan pintu hitam besar, kamar Nathan. Sepertinya Elara terlalu fokus mengejar suaminya tanpa memperhatikan sekitar.
“Sudah makan malam?” tanya Elara lagi, kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Matanya berkedip lucu sambil menatap Nathan yang jauh lebih tinggi darinya.
“El, jangan bersikap seperti seorang istri. Aku benci itu!”
Lagi-lagi tatapan penuh benci itu. Elara mulai merasa biasa dengan tatapan penuh intimidasi dari suaminya. Entah apa yang membuatnya bertahan, tapi Elara merasa apapun yang terjadi, ia tidak boleh mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri.
“Nathan, cobalah satu kali saja masakanku. Pasti ketagihan,” rayu Elara lagi, kali ini tangannya menggelayuti lengan Nathan. Sejak kapan Elara mendapatkan keberanian sebesar itu? Entahlah, ia hanya berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik.
“Nathan … ayolah –”
Elara mengaduh kesakitan saat Nathan menghempaskan tangannya dengan begitu keras sampai mengenai wajahnya. “Kau menyakitiku, Nathan,” lirihnya sambil mengelus pelan pipi kanannya.
Bukannya berhenti, Nathan malah mendekat dan rautnya menyeringai. Kali ini Elara tidak berani menatap sang suami. Benaknya berkata ini bukan pertanda baik. “Nath … apa yang kau – awh!”
Elara tersungkur. Sesuatu yang anyir terasa di mulutnya. Ia membawa tangannya ke ujung bibir. Darah, bibirnya berdarah dan pipinya terasa sangat perih oleh tamparan keras Nathan. Kedua matanya memanas, pandangannya mulai memudar karena buliran bening menggenang di pelupuk mata.
Tidak pernah Elara sangka kalau Nathan sampai hati untuk bermain tangan. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, Elara merasakan tamparan yang begitu keras di pipinya. Dan tersangkanya adalah sang suami. Sungguh ironis.
“Kau … menamparku?” lirih Elara. Ia berusaha pelan untuk berdiri dengan tangan masih mengelus pipi. Kepalanya mendongak dan tatapannya tertuju pada Nathan. Sungguh tidak menyangka dengan sikap pria itu.
Elara bergidik ngeri ketika melihat Nathan justru tersenyum miring. Pria itu tidak merasa bersalah, Elara tahu itu. Sebelas tahun mereka bersahabat, baru kali ini Elara melihat sisi kejam dalam diri Nathan Whitmore.
“El, aku sudah mengingatkanmu berulang kali. Jangan membantahku! Kali ini aku hanya memukulmu. Lain kali bisa lebih parah,” balas Nathan sinis. Tatapan kejamnya mendominasi. Beberapa pelayan yang tidak sengaja lewat, sempat terpaku sejenak namun segera menjauh. Mungkin mereka takut melihat sikap tuannya.
“Lebih parah? Kau akan melakukan apa? Membunuhku?”
Elara merutuki kebodohannya sendiri setelah mengucapkan kalimat yang menantang. Seharusnya ia bisa menahan mulutnya. Kini buliran bening itu sudah membasahi pipinya. Ia semakin takut melihat senyum miring Nathan. Satu hal yang Elara tahu, sepertinya pria itu menikmati melihat istrinya menderita.
“Membunuhmu? Ide bagus.”
“NATHAN!” Elara berteriak keras. Sangat keras sampai suaranya menggema. Tangannya gemetar. Ia ingin pergi, tetapi kakinya seolah membeku. Rasa takut benar-benar menyeruak dalam dirinya.
Mata Elara kembali terpejam ketika melihat sebelah tangan Nathan terangkat lagi hendak menampar. Satu detik. Dua detik. Tidak ada tamparan. Perlahan Elara membuka matanya dan menemukan Nathan sudah menurunkan tangannya. Ia bergumam lega.
“Pergilah. Jangan membantahku lagi!” Nathan berucap singkat sebelum berbalik dan masuk ke kamar.
“Nyonya. Anda baik-baik saja?”
Elara menoleh dan menemukan Martha yang langsung mendekatinya. Raut wanita itu tampak sangat khawatir. “Tidak apa-apa,” jawab Elara sambil memaksakan senyumnya. Pipinya terasa kaku dan nyeri.
“Aku bisa jalan sendiri. Terima kasih, Martha,” lirih Elara pelan sebelum berjalan menuju kamarnya di lantai satu. Langkahnya gontai, pikirannya kacau, dan hatinya sakit. Nathan Whitmore menamparnya. Sahabat yang sudah bertahun-tahun Elara kenal tidak pernah kasar pada wanita, kini menamparnya, sangat keras.
Elara mengunci pintu kamarnya, berjalan lagi sampai ke ranjang dan merebahkan tubuhnya. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Rasa anyir masih tersisa di mulutnya, tapi tidak dihiraukan.
Selama beberapa hari ini Elara berusaha keras adaptasi dengan kehidupan barunya sebagai seorang istri, di rumah baru tanpa ada kedua orang tuanya. Yang ada dalam bayangan Elara Ainsley tentang pernikahan adalah seperti keluarganya sendiri, keluarga Ainsley. Kedua orang tuanya saling mencintai satu sama lain. Akankah ia tidak bisa membangun rumah tangga seperti itu?
***
“Pipimu kenapa?”
Elara tidak langsung menjawab pertanyaan Luca. Ia memegang perlahan pipinya yang masih perih karena tamparan sang suami kemarin malam. Sebenarnya ia merahasiakan tentang hubungan rumah tangganya dari orang lain, termasuk orang tua dan Luca. Namun, kejadian semalam membuatnya hampir gila.
“Elara, jujur padaku!” tegas Luca, kedua matanya menunjukkan kekhawatiran.
“Hmm … ditampar.”
Luca membulatkan kedua matanya, jelas pria itu terkejut. Elara bisa memahami apa yang ada di pikiran sahabatnya. “Nathan menamparku,” lanjutnya singkat. Kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman nanar.
“APA?! NATHAN KAU BILANG?”
Teriakan Luca sontak mengundang perhatian banyak pengunjung lain di Chapter One Coffee. Elara melayangkan tatapan tajamnya dan membuat Luca langsung memukul pelan mulutnya sendiri sebelum kembali duduk. Kepala pria itu bergerak maju.
“Jangan bercanda, El. Nathan menamparmu?”
Kali ini Luca berbisik, berusaha meredam keterkejutannya. Elara mengangguk sebagai respon. Entah kenapa lidahnya kelu jika harus mengulangi kalimat menyakitkan tadi. Nathan berlaku kasar padanya adalah mimpi buruk yang bahkan belum pernah Elara bayangkan sebelumnya.
“Kau tidak mengobatinya dengan baik, ya? Tunggu di sini.”
Elara hendak bertanya namun Luca sudah terlebih dulu melangkah pergi. Tidak lama setelah itu, Luca kembali dengan tangan menggenggam kotak P3K berukuran kecil. Pria itu kali ini tidak duduk di hadapan Elara, melainkan sebelahnya. Dengan gerakan lincah, Luca mengambil gel untuk memar dan mengoleskannya perlahan di pipi Elara.
“Sakit?” tanya Luca, gerakan tangannya terhenti sejenak untuk melihat reaksi Elara.
Elara menggeleng. Luca menyelesaikannya kemudian membereskan kotak P3K itu sebelum kembali menatap Elara. Tatapan pria itu tampak serius, sama sekali berbeda dengan Luca yang biasanya suka bercanda.
“Nathan menamparmu dan kau diam saja, El?”
“Kau berharap aku melakukan apa?”
“Tampar balik Nathan,” jawab Luca enteng namun serius. Kedua mata Elara membulat sempurna. Jelas terkejut dengan saran sahabatnya itu.
“Kau gila? Untuk apa aku menampar Nathan?!”
“Nathan yang gila, bukan kau. Ini sudah keterlaluan.”
Elara tidak merespon. Ia memaklumi kekesalan yang Luca rasakan sekarang. Sikap Nathan tidak dibenarkan apapun alasannya. Tapi setiap ingin mengeluarkan bantahan, Elara selalu ingat jika ini semua terjadi karenanya. Dirinya lah yang membuat pernikahan ini ada. Lantas apa yang akan ia lakukan kedepannya dengan sikap Nathan?
Elara memutar pena di jarinya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tahu seberapa besar masalah yang dihadapi perusahaan Whitmore, Nathan pasti kewalahan. Sudah seminggu Nathan tidak membalas pesannya yang sekedar bertanya kabar. “Kau memikirkan Nathan?” Suara Luca membuat Elara tersentak. Matanya kembali pada dokumen berserakan di meja dan Luca yang duduk berseberangan dengannya. Tersadar jika ia sedang diskusi tentang rencana kerja sama dengan Winslow Group. “Maaf,” jawab Elara penuh rasa bersalah. Sangat tidak profesional ia memikirkan urusan pribadi di saat Aster sedang butuh dirinya. Apalagi sekarang Elara hanya berdua dengan Luca, hubungan mereka masih belum baik-baik saja. “Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena beberapa hari belakangan bersikap kasar padamu.” Elara sontak menggeleng. “Tidak, tidak. Itu semua bukan salahmu, memang aku sendiri penyebabnya.” Luca tidak langsung menjawab, ia menaruh dokumen yang sedari tadi ada di pangkuannya ke meja lalu menatap Elara. “
Bel pintu bunyi hampir bersamaan dengan ponsel Elara yang juga bergetar di dalam saku. Nathan tampak berusaha menormalkan napasnya, sedangkan Elara langsung memeriksa ponselnya. Ada pesan anonim lagi dari nomor biasanya. [Kau baik-baik saja di dalam kamar? Nathan tidak kurang ajar padamu, kan?] Isi pesan itu membuat kening Elara berkerut. Siapa sebenarnya orang dibalik pesan ini sampai tahu detail keberadaan Elara? “Sophia. Ada apa?” Elara menutup ponselnya, menoleh ke arah Nathan yang sudah membuka pintu. “Maaf mengganggu, Tuan. Ada sesuatu terjadi di kantor Whitmore dan cukup mendesak,” jawab Sophia sambil menyerahkan tablet ke Nathan. Elara mendekat, sedikit mengintip karena penasaran. “Ada masalah?” bisik Elara. Tidak lupa ia juga menyapa Sophia yang sudah dikenalnya sejak lama. Wanita itu juga tersenyum ramah padanya. Nathan menggeleng, mengembalikan tablet Sophia, lalu menoleh ke Elara lagi sambil tersenyum tenang. “Tidak ada. Hanya masalah kecil,” jawabnya. Nathan Whit
Elara mengikuti Nathan duduk di salah satu sofa lobi hotel. Panas matahari sangat terik dan membuat kepalanya pening, menunggu di dalam memang keputusan terbaik. Lagi pula ia juga tidak tahu berapa lama orang bengkel itu akan datang. “Sial!” Elara menoleh dan menemukan Nathan mengusap kasar wajahnya. “Kenapa. Nath?” “Aku mau menunjukkan sesuatu padamu, tapi ketinggalan di kamar.” Elara mengerjap. “Kamarmu?” Nathan berdehem sekilas, kepalanya terangkat menatap Elara. “Kau keberatan naik ke kamar dulu?” Diam sebentar, Elara mengamati raut Nathan yang tampak menyesal. “Boleh,” jawabnya kemudian sambil mengangguk. Setelah itu Elara langsung beranjak mengikuti langkah Nathan memasuki lift. Akal sehatnya mulai bisa berpikir jernih. Kenapa ia harus ikut naik, padahal bisa tetap menunggu di lobi, kan? Elara mengumpat dalam hati, tidak bisa protes karena ikut ke kamar Nathan adalah keputusannya sendiri.“Silahkan masuk.”Elara tersadar saat Nathan membuka lebar pintu di depannya. “Teri
“Ayolah, Lex ….” Elara bergelayut manja di lengan sang kakak. “Kau diskusikan dengan Luca dulu. Nanti aku pulang sekitar jam delapan,” jawab Alex, fokusnya masih di ponsel karena ada sedikit masalah di warehouse Aster. Elara mendengus, tapi tidak membantah dan tetap membiarkan Alexander pergi. Sebenarnya ia hendak diskusi tentang konsep Aster yang akan mereka pakai untuk kerja sama hotel Winslow bersama Alex dan Luca. Sudah hampir satu minggu hubungan Elara dan Luca belum membaik. Mereka hanya bertemu di waktu-waktu tertentu, yaitu saat membicarakan pekerjaan saja. Sisanya, Elara hampir tidak pernah berpapasan dengan sang kekasih, bahkan di kantor sekali pun. Sekarang Elara perlu mendiskusikan ide konsepnya bersama Luca dan Alex. Menurutnya, semakin cepat maka semakin baik. Ia tidak ingin membuang banyak waktu sebelum menghadap pihak Winslow Group. Elara melirik jam dinding, sebentar lagi Luca pasti datang. Ia memilih untuk menyandarkan tubuh di sofa ruang tengah sembari bermain
“Jadi, Victor Winslow sendiri yang menawarkan kerja sama ini?” Alex bertanya sambil menyeruput kopi panasnya di sofa empuk ruang kerja Elara. Elara memang sengaja menyuruh Alex mampir ke kantor Aster sebelum ke warehouse. Pria itu sempat menggerutu kecil karena ini masih terlalu pagi untuk mulai bekerja. Elara mengangguk. “Betul. Tuan Victor sedang mencari mitra yang cocok untuk mengelola kedai kopi di hotelnya,” jawabnya sambil menyerahkan beberapa dokumen tentang pengembangan hotel Winslow Group pada sang kakak. “Winslow Group bukan perusahaan kecil,” ujar Alex, membaca dokumen tersebut sambil mengangguk kecil. “Kalau mereka tertarik dengan Aster, itu akan menjadi kesempatan besar bagi kita setelah kerja sama dengan Bellmont Grand Hotel kemarin.” Sesuai perkiraan Elara sebelumnya, Alex pasti juga antusias dengan rencana kerja sama ini. Setelah ia telusuri, hotel ini memang tidak sebesar properti Winslow yang lain. Namun konsepnya menarik dan mereka ingin memiliki kedai kopi deng
“Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?” Luca berdiri di sebelah Elara. Keduanya bersama mengantar Vanessa Winslow sampai masuk mobil dan pergi. Elara menoleh, keningnya sedikit berkerut. “Tentang apa?” “Nessa.” “Bukankah tadi dia sudah menjelaskan semuanya? Dia tertarik padamu, tapi karena sudah tahu tentang hubungan kita, dia berjanji tidak akan mengganggu.” Luca mengusap kasar wajahnya, membuat Elara merasa semakin heran. “Iya, iya. Aku tahu. Nessa menjelaskan semuanya, tapi ada satu yang membuatku bingung.” Luca berhenti sejenak. “Kenapa kau begitu santai menghadapi Nessa?” Napas Elara terdengar panjang. Ia berbalik, melangkah memasuki Aster dengan Luca yang mengikuti dari belakang. “Lalu maksudmu aku harus bagaimana? Mengusir Vanessa dari kantorku, begitu?” tanya Elara. Ting. Pintu lift terbuka dan keduanya masuk, kebetulan tidak ada orang lain di dalam sana. Luca maju satu langkah dan berbalik menghadap Elara. “Bukan itu maksudku, El.” Elara merasakan kedua bahuny







