Share

BAB 5

Author: Aara
last update publish date: 2026-09-08 20:53:19

“Kau pulang sangat larut hari ini. Sudah makan malam? Aku tadi masak sesuatu, mungkin kau bisa mencobanya,” ujar Elara. Ia mengikuti langkah Nathan yang baru masuk rumah, sebelah tangannya terulur mengambil jas yang baru saja Nathan lempar ke sofa ruang tengah.

“Nathan?” panggil Elara lagi setelah cukup lama tidak ada jawaban. Ia masih mengikuti langkah panjang pria itu sampai ke lantai dua. Entah berapa kali ia memanggil nama Nathan, tapi suaminya itu sama sekali tidak menoleh.

“Kenapa kau mengikutiku?!” 

Elara tersentak, tubuhnya mundur selangkah. Bentakan Nathan cukup mengagetkan. Ia baru sadar kalau kini keduanya sudah berdiri di depan pintu hitam besar, kamar Nathan. Sepertinya Elara terlalu fokus mengejar suaminya tanpa memperhatikan sekitar.

“Sudah makan malam?” tanya Elara lagi, kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Matanya berkedip lucu sambil menatap Nathan yang jauh lebih tinggi darinya. 

“El, jangan bersikap seperti seorang istri. Aku benci itu!”

Lagi-lagi tatapan penuh benci itu. Elara mulai merasa biasa dengan tatapan penuh intimidasi dari suaminya. Entah apa yang membuatnya bertahan, tapi Elara merasa apapun yang terjadi, ia tidak boleh mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri.

“Nathan, cobalah satu kali saja masakanku. Pasti ketagihan,” rayu Elara lagi, kali ini tangannya menggelayuti lengan Nathan. Sejak kapan Elara mendapatkan keberanian sebesar itu? Entahlah, ia hanya berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik.

“Nathan … ayolah –”

Elara mengaduh kesakitan saat Nathan menghempaskan tangannya dengan begitu keras sampai mengenai wajahnya. “Kau menyakitiku, Nathan,” lirihnya sambil mengelus pelan pipi kanannya.

Bukannya berhenti, Nathan malah mendekat dan rautnya menyeringai. Kali ini Elara tidak berani menatap sang suami. Benaknya berkata ini bukan pertanda baik. “Nath … apa yang kau – awh!”

Elara tersungkur. Sesuatu yang anyir terasa di mulutnya. Ia membawa tangannya ke ujung bibir. Darah, bibirnya berdarah dan pipinya terasa sangat perih oleh tamparan keras Nathan. Kedua matanya memanas, pandangannya mulai memudar karena buliran bening menggenang di pelupuk mata. 

Tidak pernah Elara sangka kalau Nathan sampai hati untuk bermain tangan. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, Elara merasakan tamparan yang begitu keras di pipinya. Dan tersangkanya adalah sang suami. Sungguh ironis.

“Kau … menamparku?” lirih Elara. Ia berusaha pelan untuk berdiri dengan tangan masih mengelus pipi. Kepalanya mendongak dan tatapannya tertuju pada Nathan. Sungguh tidak menyangka dengan sikap pria itu.

Elara bergidik ngeri ketika melihat Nathan justru tersenyum miring. Pria itu tidak merasa bersalah, Elara tahu itu. Sebelas tahun mereka bersahabat, baru kali ini Elara melihat sisi kejam dalam diri Nathan Whitmore.

“El, aku sudah mengingatkanmu berulang kali. Jangan membantahku! Kali ini aku hanya memukulmu. Lain kali bisa lebih parah,” balas Nathan sinis. Tatapan kejamnya mendominasi. Beberapa pelayan yang tidak sengaja lewat, sempat terpaku sejenak namun segera menjauh. Mungkin mereka takut melihat sikap tuannya.

“Lebih parah? Kau akan melakukan apa? Membunuhku?”

Elara merutuki kebodohannya sendiri setelah mengucapkan kalimat yang menantang. Seharusnya ia bisa menahan mulutnya. Kini buliran bening itu sudah membasahi pipinya. Ia semakin takut melihat senyum miring Nathan. Satu hal yang Elara tahu, sepertinya pria itu menikmati melihat istrinya menderita.

“Membunuhmu? Ide bagus.”

“NATHAN!” Elara berteriak keras. Sangat keras sampai suaranya menggema. Tangannya gemetar. Ia ingin pergi, tetapi kakinya seolah membeku. Rasa takut benar-benar menyeruak dalam dirinya.

Mata Elara kembali terpejam ketika melihat sebelah tangan Nathan terangkat lagi hendak menampar. Satu detik. Dua detik. Tidak ada tamparan. Perlahan Elara membuka matanya dan menemukan Nathan sudah menurunkan tangannya. Ia bergumam lega.

“Pergilah. Jangan membantahku lagi!” Nathan berucap singkat sebelum berbalik dan masuk ke kamar. 

“Nyonya. Anda baik-baik saja?”

Elara menoleh dan menemukan Martha yang langsung mendekatinya. Raut wanita itu tampak sangat khawatir. “Tidak apa-apa,” jawab Elara sambil memaksakan senyumnya. Pipinya terasa kaku dan nyeri.

“Aku bisa jalan sendiri. Terima kasih, Martha,” lirih Elara pelan sebelum berjalan menuju kamarnya di lantai satu. Langkahnya gontai, pikirannya kacau, dan hatinya sakit. Nathan Whitmore menamparnya. Sahabat yang sudah bertahun-tahun Elara kenal tidak pernah kasar pada wanita, kini menamparnya, sangat keras.

Elara mengunci pintu kamarnya, berjalan lagi sampai ke ranjang dan merebahkan tubuhnya. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Rasa anyir masih tersisa di mulutnya, tapi tidak dihiraukan.

Selama beberapa hari ini Elara berusaha keras adaptasi dengan kehidupan barunya sebagai seorang istri, di rumah baru tanpa ada kedua orang tuanya. Yang ada dalam bayangan Elara Ainsley tentang pernikahan adalah seperti keluarganya sendiri, keluarga Ainsley. Kedua orang tuanya saling mencintai satu sama lain. Akankah ia tidak bisa membangun rumah tangga seperti itu?

***

“Pipimu kenapa?”

Elara tidak langsung menjawab pertanyaan Luca. Ia memegang perlahan pipinya yang masih perih karena tamparan sang suami kemarin malam. Sebenarnya ia merahasiakan tentang hubungan rumah tangganya dari orang lain, termasuk orang tua dan Luca. Namun, kejadian semalam membuatnya hampir gila. 

“Elara, jujur padaku!” tegas Luca, kedua matanya menunjukkan kekhawatiran.

“Hmm … ditampar.”

Luca membulatkan kedua matanya, jelas pria itu terkejut. Elara bisa memahami apa yang ada di pikiran sahabatnya. “Nathan menamparku,” lanjutnya singkat. Kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman nanar.

“APA?! NATHAN KAU BILANG?” 

Teriakan Luca sontak mengundang perhatian banyak pengunjung lain di Chapter One Coffee. Elara melayangkan tatapan tajamnya dan membuat Luca langsung memukul pelan mulutnya sendiri sebelum kembali duduk. Kepala pria itu bergerak maju.

“Jangan bercanda, El. Nathan menamparmu?”

Kali ini Luca berbisik, berusaha meredam keterkejutannya. Elara mengangguk sebagai respon. Entah kenapa lidahnya kelu jika harus mengulangi kalimat menyakitkan tadi. Nathan berlaku kasar padanya adalah mimpi buruk yang bahkan belum pernah Elara bayangkan sebelumnya.

“Kau tidak mengobatinya dengan baik, ya? Tunggu di sini.”

Elara hendak bertanya namun Luca sudah terlebih dulu melangkah pergi. Tidak lama setelah itu, Luca kembali dengan tangan menggenggam kotak P3K berukuran kecil. Pria itu kali ini tidak duduk di hadapan Elara, melainkan sebelahnya. Dengan gerakan lincah, Luca mengambil gel untuk memar dan mengoleskannya perlahan di pipi Elara.

“Sakit?” tanya Luca, gerakan tangannya terhenti sejenak untuk melihat reaksi Elara.

Elara menggeleng. Luca menyelesaikannya kemudian membereskan kotak P3K itu sebelum kembali menatap Elara. Tatapan pria itu tampak serius, sama sekali berbeda dengan Luca yang biasanya suka bercanda.

“Nathan menamparmu dan kau diam saja, El?”

“Kau berharap aku melakukan apa?”

“Tampar balik Nathan,” jawab Luca enteng namun serius. Kedua mata Elara membulat sempurna. Jelas terkejut dengan saran sahabatnya itu.

“Kau gila? Untuk apa aku menampar Nathan?!”

“Nathan yang gila, bukan kau. Ini sudah keterlaluan.”

Elara tidak merespon. Ia memaklumi kekesalan yang Luca rasakan sekarang. Sikap Nathan tidak dibenarkan apapun alasannya. Tapi setiap ingin mengeluarkan bantahan, Elara selalu ingat jika ini semua terjadi karenanya. Dirinya lah yang membuat pernikahan ini ada. Lantas apa yang akan ia lakukan kedepannya dengan sikap Nathan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 7

    “Nathan, kau tidak waras!” ujar Luca penuh penekanan. Setelah berhari-hari Nathan sibuk, akhirnya pria itu bisa bertemu dengannya. Sebenarnya amarah sudah memenuhi benak Luca mengingat tentang perlakuan kasar yang Nathan lakukan pada Elara, tapi sebisa mungkin ia tahan. “Apa maksudmu?” tanya Nathan acuh. Sebelah tangannya mengambil cangkir dari meja dan menyeruputnya pelan. Americano di kafe ini memang yang terbaik, pikirnya. “Elara sahabatmu, dan sekarang dia adalah istrimu.” Luca mengepalkan tangannya karena melihat sikap Nathan yang terlampau tenang. Tidak ada raut bersalah di wajahnya, padahal Luca yakin jika pria itu memahami maksud ucapannya barusan. “Nathan!” “Kenapa kau tiba-tiba marah?!” teriak Nathan tidak kalah keras, membuat seisi manusia di Chapter One Coffee menatap ke arah mereka. Luca mengusap kasar wajahnya, rahangnya mengeras, dan kemarahannya semakin membuncah. “Kita pindah ke ruanganku saja,” perintahnya. Sebelum beranjak dari posisinya, Luca memanggil seor

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 6

    “Kei, jangan pedulikan Elara. Perasaanku tetap sama dan tidak akan pernah berubah.” Nathan memeluk erat Keira. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus kepala sang wanita. Sudah berhari-hari Keira menolak bertemu dengannya. Syukurnya hari ini dan dengan sedikit paksaan, Keira membuka pintu rumahnya untuk Nathan. “Nathan. Kenapa kau tega padaku?! Kenapa Elara tega melakukan ini!” Keira berteriak kencang sampai tubuhnya bergetar hebat. Kedua matanya deras oleh air mata, membuat Nathan tidak sampai hati melihat wanitanya begitu tersakiti. “Kei, babe. Tenanglah … tenang ….” “Bagaimana aku bisa tenang sementara kekasihku menikahi sahabat dekatku sendiri?!” Air mata Keira semakin deras. Wanita itu berteriak kencang dengan bibir bergetar, seolah sedang menumpahkan segala kemarahannya yang sempat tertahan. Penampilan Keira yang selama ini selalu rapi juga terlihat berbeda hari ini, tampak berantakan. Sangat tidak menggambarkan seorang Keira Bennett. “Babe –” “Jangan memanggilku deng

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 5

    “Kau pulang sangat larut hari ini. Sudah makan malam? Aku tadi masak sesuatu, mungkin kau bisa mencobanya,” ujar Elara. Ia mengikuti langkah Nathan yang baru masuk rumah, sebelah tangannya terulur mengambil jas yang baru saja Nathan lempar ke sofa ruang tengah. “Nathan?” panggil Elara lagi setelah cukup lama tidak ada jawaban. Ia masih mengikuti langkah panjang pria itu sampai ke lantai dua. Entah berapa kali ia memanggil nama Nathan, tapi suaminya itu sama sekali tidak menoleh. “Kenapa kau mengikutiku?!” Elara tersentak, tubuhnya mundur selangkah. Bentakan Nathan cukup mengagetkan. Ia baru sadar kalau kini keduanya sudah berdiri di depan pintu hitam besar, kamar Nathan. Sepertinya Elara terlalu fokus mengejar suaminya tanpa memperhatikan sekitar. “Sudah makan malam?” tanya Elara lagi, kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Matanya berkedip lucu sambil menatap Nathan yang jauh lebih tinggi darinya. “El, jangan bersikap seperti seorang istri. Aku benci itu!” L

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 4

    “Aku tidur di kamarku sendiri, kau terserah di mana. Ada banyak kamar di sini.” Elara mengangguk paham dan membiarkan Nathan melangkah menjauh. Pria itu naik ke lantai dua. Ia memandang sekeliling dan bergumam kagum. Ini adalah rumah pribadi Nathan yang sudah pria itu tempati sekitar dua tahun. Sebenarnya Elara pernah berkunjung, tapi hanya sekali. Ia tidak terlalu mengingat detail rumah ini karena waktu itu hanya mampir sebentar untuk menjemput Nathan. “Nyonya, mau kamar di lantai satu atau dua? Semuanya sudah kami rapikan.” Suara seorang pelayan wanita membuat Elara menoleh. “Lantai satu saja. Aku harus memanggilmu siapa?” tanya Elara seraya melempar senyuman manisnya. Sepertinya wanita di hadapannya itu adalah kepala pelayan yang mengurus rumah ini. Umurnya sekitar pertengahan empat puluh, jika Elara tidak salah menduga. “Martha. Anda bisa memanggil saya Martha.” Elara tersenyum lalu mengangguk paham. “Baiklah, Martha. Terima kasih sudah menyambutku. Semoga kita bisa akrab.”

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 3

    “Maafkan mom dan dad ya, sayang.” Elara mendongak dan membalas tatapan sang ibu. Ia tidak merespon dan kembali memandang dirinya lewat cermin di hadapannya. Penampilannya sudah rapi dengan gaun pengantin putih sederhana dan make up tipis di wajahnya. Pernikahan ini bahkan hanya memerlukan waktu kurang dari satu bulan persiapan. “Tidak apa-apa, mom. Aku yang minta maaf karena sempat egois dan menolak perjodohan ini.” “Tidak, sayang. Kau anak yang baik. Justru kami yang bersalah padamu.” Elara terdiam lagi. Ia menatap ibunya, Diana Ainsley lewat pantulan cermin. Sang ibu tampak jelas sedang menahan air matanya. Hal itu membuat Elara memalingkan wajahnya lagi, berusaha tidak menangis. Pernikahan ini adalah demi perusahaan Ainsley. Keputusan Elara sudah benar. “Sayang. Mom benar-benar minta maaf. Jika saja perusahaan baik-baik saja, kita tidak perlu meminta bantuan keluarga Whitmore dan kau –” “Sudahlah, mom. Aku baik-baik saja, sungguh. Jangan khawatir,” potong Elara cepat tanpa me

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 2

    “Kau tidak akan menerimanya, kan?”Elara yang mulanya menatap kosong ke arah taman gelap di hadapannya menoleh dan menemukan Nathan berdiri tidak jauh dari posisinya. Ia tersenyum getir, menepuk kursi sebelahnya yang kosong.“Kita bicara sambil duduk,” jawab Elara. Nathan mengangguk pelan kemudian duduk di sebelahnya. Keduanya tidak ada yang membuka obrolan, sejenak menikmati udara sejuk malam ini.Elara memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya sedikit berantakan karena hembusan angin. Udara malam ini tidak terlalu dingin, sangat menenangkan. “Kau juga belum tahu soal perjodohan ini?” tanyanya tanpa menoleh ke arah Nathan.“Aku tidak tahu kalau acara keluarga malam ini adalah makan bersama keluargamu, El,” jawab Nathan singkat sambil terkekeh pelan. Ternyata mereka berdua sama-sama tidak tahu apapun. Mendadak mengadakan makan malam dua keluarga dan mengabarkan jika kedua pihak sudah setuju dengan perjodohan ini. Perjodohan Elara Ainsley dan Nathan Whitmore.Elara juga terkekeh pela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status