Share

BAB 6

Author: Aara
last update publish date: 2026-09-18 20:19:04

“Kei, jangan pedulikan Elara. Perasaanku tetap sama dan tidak akan pernah berubah.”

Nathan memeluk erat Keira. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus kepala sang wanita. Sudah berhari-hari Keira menolak bertemu dengannya. Syukurnya hari ini dan dengan sedikit paksaan, Keira membuka pintu rumahnya untuk Nathan.

“Nathan. Kenapa kau tega padaku?! Kenapa Elara tega melakukan ini!” Keira berteriak kencang sampai tubuhnya bergetar hebat. Kedua matanya deras oleh air mata, membuat Nathan tidak sampai hati melihat wanitanya begitu tersakiti.

“Kei, babe. Tenanglah … tenang ….”

“Bagaimana aku bisa tenang sementara kekasihku menikahi sahabat dekatku sendiri?!” 

Air mata Keira semakin deras. Wanita itu berteriak kencang dengan bibir bergetar, seolah sedang menumpahkan segala kemarahannya yang sempat tertahan. Penampilan Keira yang selama ini selalu rapi juga terlihat berbeda hari ini, tampak berantakan. Sangat tidak menggambarkan seorang Keira Bennett.

Babe –”

“Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi. Kau sekarang milik orang lain,” lirih Keira di sela tangisnya. Nafas wanita itu terdengar pendek karena telah menangis dalam waktu lama.

Nathan tidak sanggup melihat wanitanya tersakiti. Sekali lagi ia membawa Keira dalam pelukannya. Pelukan yang lama dan hangat. Sesekali ia elus punggung dan rambut Keira sambil terus bergumam kata maaf. Walaupun Nathan sadar diri jika kata maaf saja tidak akan pernah cukup. Kesalahan yang ia lakukan fatal.

Selama hampir satu jam penuh Nathan bersabar menunggu Keira tenang. Ia perlu bicara tentang sesuatu, tapi tidak bisa jika Keira masih menangis. Tentang pernikahannya dengan Elara? Sungguh Nathan tidak menganggap Elara sebagai istrinya. Bahkan ia sempat berpikir untuk membeli sebuah apartemen supaya bisa terpisah dari Elara. Namun itu mustahil karena orang tuanya pasti dengan cepat mengetahuinya.

“Kei … sudah lebih tenang?” tanya Nathan, nadanya sangat hati-hati seraya melirik wajah Keira yang menunduk. Tidak ada respon, tapi Nathan lega tatkala mendapati nafas Keira sudah kembali normal.

“Kei, kau perlu mendengar penjelasanku.”

Masih diam, Keira tidak merespon. Nathan mengusap kasar wajahnya sambil memejamkan kedua mata sejenak. Otaknya berusaha merangkai kata-kata yang sekiranya cocok dan tidak melukai hati Keira lebih dalam lagi.

“Keira Bennett. Listen ….” Nathan berucap, memiringkan tubuhnya ke arah Keira.

“Maafkan aku. Ini semua murni kesalahanku karena tidak bisa tegas menolak perintah ayah. Statusku memang menikah dengan Elara, tapi hatiku sampai kapan pun tidak akan berubah,” lanjut Nathan, tenggorokannya sedikit tercekat. Tidak yakin apakah apa yang ia ucapkan sudah benar atau tidak.

Perlahan Nathan menggenggam kedua tangan Keira, membuat tubuh wanita itu terpaksa menghadap padanya. “Aku mencintaimu, dan selamanya akan begitu. Elara? Aku bahkan tidak menganggapnya ada. Elara memang sahabatku, tapi itu dulu ….”

Keira mengangkat kepalanya, sorot matanya kini bertemu langsung dengan tatapan Nathan yang penuh rasa bersalah. Genggaman Nathan semakin erat, seolah berusaha menguatkan Keira.

“Apa yang kau ingin jelaskan padaku?” Keira bertanya, sedikit berbisik sampai Nathan harus memajukan tubuhnya untuk bisa mendengarnya.

“Yang ingin kubilang padamu adalah ….”

Nathan menarik nafas dan menghembuskannya panjang. Bola mata coklat gelapnya tampak tulus dan yakin menatap Keira. “Tetaplah di sisiku,” lanjutnya. Suaranya melemah dan pertahanannya hampir runtuh. 

Keira mengembangkan senyumnya. “Lalu bagaimana dengan Elara?” tanyanya.

“Anggap Elara tidak pernah ada. Aku mencintaimu, Keira Bennett.”

Nathan dan Keira saling menatap dalam kebisuan. Cukup lama mereka terdiam, namun nafas keduanya semakin memburu. Tangan Nathan yang mulanya menggenggam jemari Keira kini perlahan naik untuk mengelus pipi wanita itu.

“Nathan ….”

“Keira ….”

Nafas keduanya semakin memburu. Tangan Nathan kini bukan hanya mengelus pipi, tapi merambah ke telinga sampai leher. Tatapan Nathan tidak lagi tenang, perlahan berubah lapar. Aroma wangi tubuh Keira seakan merasuk mempengaruhi akal sehatnya.

“Kei … bolehkah?” bisik Nathan tepat di telinga Keira. Lidahnya menggoda dengan menjilat daun telinga wanita itu. Tubuh Keira bergetar, kali ini bukan karena tangisan, melainkan nafsu yang membuncah.

I’m yours, Nathan,” balas Keira tidak kalah menggoda. Tanpa banyak menunggu lagi, Nathan menangkup kedua pipi Keira dan mencium bibirnya. Ciumannya sedikit kasar namun memabukkan. Hal itu terlihat dari respon Keira yang malah menutup kedua matanya.

Seolah mendapat lampu hijau, Nathan semakin berani. Kedua tangannya menyelinap masuk dalam baju Keira. Dalam benaknya ia bersyukur wanita itu hanya mengenakan kaos longgar sehingga memudahkan aksinya.

“Jangan di sini,” lirih Keira sambil mendorong pelan dada Nathan.

“Hm?” 

Nathan kehilangan fokusnya. Ia tidak lagi mampu mencerna ucapan Keira. Ketika wanita itu menarik tangannya untuk masuk ke kamar, kedua ujung bibir Nathan tertarik ke atas. Ia menyeringai senang. Ini akan menjadi malam yang panjang.

***

“Penampilanmu sangat berantakan,” tutur Elara begitu melihat kedatangan Nathan.

“Bukan urusanmu,” Nathan membalas singkat sambil sedikit mendorong tubuh Elara menjauh. Ini masih belum pukul lima pagi, tapi Elara sudah bangun. Nathan sengaja pulang sangat pagi demi menghindari Elara, tapi ternyata gagal.

“Kau dari mana saja semalaman tidak pulang?” 

Kali ini Nathan benar-benar muak. Ia membalikkan badan dan langsung menyingkirkan kasar tangan Elara yang hendak meraihnya. “JANGAN BANYAK TANYA!” bentaknya frustasi. 

Tubuh Elara membeku namun langkahnya mundur. Wanita itu terlihat ketakutan. Entah apa yang merasuki Nathan, tapi ia menikmatinya. Ia menikmati melihat Elara seperti ini. Menyenangkan.

“Kenapa? Kenapa mundur? Mendekatlah padaku,” perintah Nathan. Kekehan kecil terdengar. Membuat tubuh mungil Elara semakin membeku. 

“Takut?” 

Langkah Nathan perlahan maju, Elara semakin mundur sampai akhirnya menabrak dinding. Nathan tersenyum miring, kedua tangannya mengunci pergerakan Elara. “Tatap mataku!”

Elara memejamkan kedua mata dan mengalihkan pandangannya ke samping. Nathan tidak membiarkannya dan langsung mencengkeram dagu Elara erat. Memaksa wanita itu untuk menatapnya. Ide busuk tiba-tiba muncul dalam kepalanya.

Tatapan Nathan menelisik wajah sang istri dan jatuh pada bibirnya. Pink. Bibir Elara pink. Kening Nathan berkerut singkat kemudian pandangannya beralih ke pipi. Ada rona kemerahan di sana. Apakah Elara memakai riasan?

“Na – Nathan, aku mau ke kamar saja,” bisik Elara, berusaha keras lepas dari cengkeraman Nathan namun gagal.

Nathan menelan ludahnya kasar. Baru saja ia tidur dengan Keira, kenapa sekarang nafsunya membuncah lagi ketika melihat Elara? Ia masih betah menelisik setiap inci wajah Elara. Masih jauh dibawah Keira, pikirnya.

Ada desakan dalam tubuh Nathan yang seolah memberontak. Jika bersama Keira Nathan merasakan nafsu karena cinta, lalu bagaimana dengan Elara? Kenapa tiba-tiba bibir bergetar sang istri terasa begitu menggoda?

“Nathan, aku –”

Nathan mencium kasar bibir Elara. Tangannya menangkup erat kedua pipi wanita itu. Ia merasakan tubuh Elara berontak, tapi berhasil mengatasinya. Mau sekeras apapun usahanya, kekuatan Nathan tetap jauh lebih besar.

“Nat – than … aku –”

“Ssstt. Diam!” Nathan membungkam lagi mulut Elara. Kali ini sebelah tangannya tidak lagi di pipi, melainkan leher Elara. Kemudian ciumannya beralih ke telinga, bahkan menggigitnya dan menimbulkan suara desahan tertahan Elara.

“HENTIKAN!”

Suara nyaring terdengar ketika Elara berhasil melepaskan diri dan langsung menampar pipi Nathan. Sontak Nathan memegang ujung bibirnya yang sedikit perih, ternyata kekuatan Elara cukup besar. 

“Kenapa? Kau marah, hah? Bukankah ini yang kau mau?” 

Nathan menatap remeh ke arah Elara. Tatapan tajam wanita itu sama sekali tidak mengganggu, justru menghiburnya. Sikap Nathan kesetanan, seolah melupakan begitu saja fakta bahwa sebelumnya mereka adalah sabahat baik.

Persetan dengan sahabat. Yang ada di hadapannya kali ini adalah Elara Ainsley yang egois dan pengkhianat. Pipi wanita itu basah oleh air mata. Puas sekali rasanya Nathan melihat pemandangan itu.

“Dasar wanita murahan!” umpat Nathan sebelum melangkah menjauh, meninggalkan Elara sendirian yang masih menangis di ruang tengah. Semakin hari melihat wajah Elara Ainsley membuat rasa bencinya membuncah. Jika saja saat itu Elara menolak perjodohan mereka, pasti ini semua tidak akan terjadi. 

Pikiran Nathan berkecamuk hebat ketika mengingat Keira, wanita yang sudah ia sakiti begitu dalam. Beruntung wanita itu masih bersedia memaafkan dan menerimanya kembali. Elara tidak menjadi halangan baginya untuk tetap bersama Keira Bennett.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 7

    “Nathan, kau tidak waras!” ujar Luca penuh penekanan. Setelah berhari-hari Nathan sibuk, akhirnya pria itu bisa bertemu dengannya. Sebenarnya amarah sudah memenuhi benak Luca mengingat tentang perlakuan kasar yang Nathan lakukan pada Elara, tapi sebisa mungkin ia tahan. “Apa maksudmu?” tanya Nathan acuh. Sebelah tangannya mengambil cangkir dari meja dan menyeruputnya pelan. Americano di kafe ini memang yang terbaik, pikirnya. “Elara sahabatmu, dan sekarang dia adalah istrimu.” Luca mengepalkan tangannya karena melihat sikap Nathan yang terlampau tenang. Tidak ada raut bersalah di wajahnya, padahal Luca yakin jika pria itu memahami maksud ucapannya barusan. “Nathan!” “Kenapa kau tiba-tiba marah?!” teriak Nathan tidak kalah keras, membuat seisi manusia di Chapter One Coffee menatap ke arah mereka. Luca mengusap kasar wajahnya, rahangnya mengeras, dan kemarahannya semakin membuncah. “Kita pindah ke ruanganku saja,” perintahnya. Sebelum beranjak dari posisinya, Luca memanggil seor

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 6

    “Kei, jangan pedulikan Elara. Perasaanku tetap sama dan tidak akan pernah berubah.” Nathan memeluk erat Keira. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus kepala sang wanita. Sudah berhari-hari Keira menolak bertemu dengannya. Syukurnya hari ini dan dengan sedikit paksaan, Keira membuka pintu rumahnya untuk Nathan. “Nathan. Kenapa kau tega padaku?! Kenapa Elara tega melakukan ini!” Keira berteriak kencang sampai tubuhnya bergetar hebat. Kedua matanya deras oleh air mata, membuat Nathan tidak sampai hati melihat wanitanya begitu tersakiti. “Kei, babe. Tenanglah … tenang ….” “Bagaimana aku bisa tenang sementara kekasihku menikahi sahabat dekatku sendiri?!” Air mata Keira semakin deras. Wanita itu berteriak kencang dengan bibir bergetar, seolah sedang menumpahkan segala kemarahannya yang sempat tertahan. Penampilan Keira yang selama ini selalu rapi juga terlihat berbeda hari ini, tampak berantakan. Sangat tidak menggambarkan seorang Keira Bennett. “Babe –” “Jangan memanggilku deng

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 5

    “Kau pulang sangat larut hari ini. Sudah makan malam? Aku tadi masak sesuatu, mungkin kau bisa mencobanya,” ujar Elara. Ia mengikuti langkah Nathan yang baru masuk rumah, sebelah tangannya terulur mengambil jas yang baru saja Nathan lempar ke sofa ruang tengah. “Nathan?” panggil Elara lagi setelah cukup lama tidak ada jawaban. Ia masih mengikuti langkah panjang pria itu sampai ke lantai dua. Entah berapa kali ia memanggil nama Nathan, tapi suaminya itu sama sekali tidak menoleh. “Kenapa kau mengikutiku?!” Elara tersentak, tubuhnya mundur selangkah. Bentakan Nathan cukup mengagetkan. Ia baru sadar kalau kini keduanya sudah berdiri di depan pintu hitam besar, kamar Nathan. Sepertinya Elara terlalu fokus mengejar suaminya tanpa memperhatikan sekitar. “Sudah makan malam?” tanya Elara lagi, kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Matanya berkedip lucu sambil menatap Nathan yang jauh lebih tinggi darinya. “El, jangan bersikap seperti seorang istri. Aku benci itu!” L

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 4

    “Aku tidur di kamarku sendiri, kau terserah di mana. Ada banyak kamar di sini.” Elara mengangguk paham dan membiarkan Nathan melangkah menjauh. Pria itu naik ke lantai dua. Ia memandang sekeliling dan bergumam kagum. Ini adalah rumah pribadi Nathan yang sudah pria itu tempati sekitar dua tahun. Sebenarnya Elara pernah berkunjung, tapi hanya sekali. Ia tidak terlalu mengingat detail rumah ini karena waktu itu hanya mampir sebentar untuk menjemput Nathan. “Nyonya, mau kamar di lantai satu atau dua? Semuanya sudah kami rapikan.” Suara seorang pelayan wanita membuat Elara menoleh. “Lantai satu saja. Aku harus memanggilmu siapa?” tanya Elara seraya melempar senyuman manisnya. Sepertinya wanita di hadapannya itu adalah kepala pelayan yang mengurus rumah ini. Umurnya sekitar pertengahan empat puluh, jika Elara tidak salah menduga. “Martha. Anda bisa memanggil saya Martha.” Elara tersenyum lalu mengangguk paham. “Baiklah, Martha. Terima kasih sudah menyambutku. Semoga kita bisa akrab.”

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 3

    “Maafkan mom dan dad ya, sayang.” Elara mendongak dan membalas tatapan sang ibu. Ia tidak merespon dan kembali memandang dirinya lewat cermin di hadapannya. Penampilannya sudah rapi dengan gaun pengantin putih sederhana dan make up tipis di wajahnya. Pernikahan ini bahkan hanya memerlukan waktu kurang dari satu bulan persiapan. “Tidak apa-apa, mom. Aku yang minta maaf karena sempat egois dan menolak perjodohan ini.” “Tidak, sayang. Kau anak yang baik. Justru kami yang bersalah padamu.” Elara terdiam lagi. Ia menatap ibunya, Diana Ainsley lewat pantulan cermin. Sang ibu tampak jelas sedang menahan air matanya. Hal itu membuat Elara memalingkan wajahnya lagi, berusaha tidak menangis. Pernikahan ini adalah demi perusahaan Ainsley. Keputusan Elara sudah benar. “Sayang. Mom benar-benar minta maaf. Jika saja perusahaan baik-baik saja, kita tidak perlu meminta bantuan keluarga Whitmore dan kau –” “Sudahlah, mom. Aku baik-baik saja, sungguh. Jangan khawatir,” potong Elara cepat tanpa me

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 2

    “Kau tidak akan menerimanya, kan?”Elara yang mulanya menatap kosong ke arah taman gelap di hadapannya menoleh dan menemukan Nathan berdiri tidak jauh dari posisinya. Ia tersenyum getir, menepuk kursi sebelahnya yang kosong.“Kita bicara sambil duduk,” jawab Elara. Nathan mengangguk pelan kemudian duduk di sebelahnya. Keduanya tidak ada yang membuka obrolan, sejenak menikmati udara sejuk malam ini.Elara memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya sedikit berantakan karena hembusan angin. Udara malam ini tidak terlalu dingin, sangat menenangkan. “Kau juga belum tahu soal perjodohan ini?” tanyanya tanpa menoleh ke arah Nathan.“Aku tidak tahu kalau acara keluarga malam ini adalah makan bersama keluargamu, El,” jawab Nathan singkat sambil terkekeh pelan. Ternyata mereka berdua sama-sama tidak tahu apapun. Mendadak mengadakan makan malam dua keluarga dan mengabarkan jika kedua pihak sudah setuju dengan perjodohan ini. Perjodohan Elara Ainsley dan Nathan Whitmore.Elara juga terkekeh pela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status