LOGIN“Kei, jangan pedulikan Elara. Perasaanku tetap sama dan tidak akan pernah berubah.”
Nathan memeluk erat Keira. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus kepala sang wanita. Sudah berhari-hari Keira menolak bertemu dengannya. Syukurnya hari ini dan dengan sedikit paksaan, Keira membuka pintu rumahnya untuk Nathan.
“Nathan. Kenapa kau tega padaku?! Kenapa Elara tega melakukan ini!” Keira berteriak kencang sampai tubuhnya bergetar hebat. Kedua matanya deras oleh air mata, membuat Nathan tidak sampai hati melihat wanitanya begitu tersakiti.
“Kei, babe. Tenanglah … tenang ….”
“Bagaimana aku bisa tenang sementara kekasihku menikahi sahabat dekatku sendiri?!”
Air mata Keira semakin deras. Wanita itu berteriak kencang dengan bibir bergetar, seolah sedang menumpahkan segala kemarahannya yang sempat tertahan. Penampilan Keira yang selama ini selalu rapi juga terlihat berbeda hari ini, tampak berantakan. Sangat tidak menggambarkan seorang Keira Bennett.
“Babe –”
“Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi. Kau sekarang milik orang lain,” lirih Keira di sela tangisnya. Nafas wanita itu terdengar pendek karena telah menangis dalam waktu lama.
Nathan tidak sanggup melihat wanitanya tersakiti. Sekali lagi ia membawa Keira dalam pelukannya. Pelukan yang lama dan hangat. Sesekali ia elus punggung dan rambut Keira sambil terus bergumam kata maaf. Walaupun Nathan sadar diri jika kata maaf saja tidak akan pernah cukup. Kesalahan yang ia lakukan fatal.
Selama hampir satu jam penuh Nathan bersabar menunggu Keira tenang. Ia perlu bicara tentang sesuatu, tapi tidak bisa jika Keira masih menangis. Tentang pernikahannya dengan Elara? Sungguh Nathan tidak menganggap Elara sebagai istrinya. Bahkan ia sempat berpikir untuk membeli sebuah apartemen supaya bisa terpisah dari Elara. Namun itu mustahil karena orang tuanya pasti dengan cepat mengetahuinya.
“Kei … sudah lebih tenang?” tanya Nathan, nadanya sangat hati-hati seraya melirik wajah Keira yang menunduk. Tidak ada respon, tapi Nathan lega tatkala mendapati nafas Keira sudah kembali normal.
“Kei, kau perlu mendengar penjelasanku.”
Masih diam, Keira tidak merespon. Nathan mengusap kasar wajahnya sambil memejamkan kedua mata sejenak. Otaknya berusaha merangkai kata-kata yang sekiranya cocok dan tidak melukai hati Keira lebih dalam lagi.
“Keira Bennett. Listen ….” Nathan berucap, memiringkan tubuhnya ke arah Keira.
“Maafkan aku. Ini semua murni kesalahanku karena tidak bisa tegas menolak perintah ayah. Statusku memang menikah dengan Elara, tapi hatiku sampai kapan pun tidak akan berubah,” lanjut Nathan, tenggorokannya sedikit tercekat. Tidak yakin apakah apa yang ia ucapkan sudah benar atau tidak.
Perlahan Nathan menggenggam kedua tangan Keira, membuat tubuh wanita itu terpaksa menghadap padanya. “Aku mencintaimu, dan selamanya akan begitu. Elara? Aku bahkan tidak menganggapnya ada. Elara memang sahabatku, tapi itu dulu ….”
Keira mengangkat kepalanya, sorot matanya kini bertemu langsung dengan tatapan Nathan yang penuh rasa bersalah. Genggaman Nathan semakin erat, seolah berusaha menguatkan Keira.
“Apa yang kau ingin jelaskan padaku?” Keira bertanya, sedikit berbisik sampai Nathan harus memajukan tubuhnya untuk bisa mendengarnya.
“Yang ingin kubilang padamu adalah ….”
Nathan menarik nafas dan menghembuskannya panjang. Bola mata coklat gelapnya tampak tulus dan yakin menatap Keira. “Tetaplah di sisiku,” lanjutnya. Suaranya melemah dan pertahanannya hampir runtuh.
Keira mengembangkan senyumnya. “Lalu bagaimana dengan Elara?” tanyanya.
“Anggap Elara tidak pernah ada. Aku mencintaimu, Keira Bennett.”
Nathan dan Keira saling menatap dalam kebisuan. Cukup lama mereka terdiam, namun nafas keduanya semakin memburu. Tangan Nathan yang mulanya menggenggam jemari Keira kini perlahan naik untuk mengelus pipi wanita itu.
“Nathan ….”
“Keira ….”
Nafas keduanya semakin memburu. Tangan Nathan kini bukan hanya mengelus pipi, tapi merambah ke telinga sampai leher. Tatapan Nathan tidak lagi tenang, perlahan berubah lapar. Aroma wangi tubuh Keira seakan merasuk mempengaruhi akal sehatnya.
“Kei … bolehkah?” bisik Nathan tepat di telinga Keira. Lidahnya menggoda dengan menjilat daun telinga wanita itu. Tubuh Keira bergetar, kali ini bukan karena tangisan, melainkan nafsu yang membuncah.
“I’m yours, Nathan,” balas Keira tidak kalah menggoda. Tanpa banyak menunggu lagi, Nathan menangkup kedua pipi Keira dan mencium bibirnya. Ciumannya sedikit kasar namun memabukkan. Hal itu terlihat dari respon Keira yang malah menutup kedua matanya.
Seolah mendapat lampu hijau, Nathan semakin berani. Kedua tangannya menyelinap masuk dalam baju Keira. Dalam benaknya ia bersyukur wanita itu hanya mengenakan kaos longgar sehingga memudahkan aksinya.
“Jangan di sini,” lirih Keira sambil mendorong pelan dada Nathan.
“Hm?”
Nathan kehilangan fokusnya. Ia tidak lagi mampu mencerna ucapan Keira. Ketika wanita itu menarik tangannya untuk masuk ke kamar, kedua ujung bibir Nathan tertarik ke atas. Ia menyeringai senang. Ini akan menjadi malam yang panjang.
***
“Penampilanmu sangat berantakan,” tutur Elara begitu melihat kedatangan Nathan.
“Bukan urusanmu,” Nathan membalas singkat sambil sedikit mendorong tubuh Elara menjauh. Ini masih belum pukul lima pagi, tapi Elara sudah bangun. Nathan sengaja pulang sangat pagi demi menghindari Elara, tapi ternyata gagal.
“Kau dari mana saja semalaman tidak pulang?”
Kali ini Nathan benar-benar muak. Ia membalikkan badan dan langsung menyingkirkan kasar tangan Elara yang hendak meraihnya. “JANGAN BANYAK TANYA!” bentaknya frustasi.
Tubuh Elara membeku namun langkahnya mundur. Wanita itu terlihat ketakutan. Entah apa yang merasuki Nathan, tapi ia menikmatinya. Ia menikmati melihat Elara seperti ini. Menyenangkan.
“Kenapa? Kenapa mundur? Mendekatlah padaku,” perintah Nathan. Kekehan kecil terdengar. Membuat tubuh mungil Elara semakin membeku.
“Takut?”
Langkah Nathan perlahan maju, Elara semakin mundur sampai akhirnya menabrak dinding. Nathan tersenyum miring, kedua tangannya mengunci pergerakan Elara. “Tatap mataku!”
Elara memejamkan kedua mata dan mengalihkan pandangannya ke samping. Nathan tidak membiarkannya dan langsung mencengkeram dagu Elara erat. Memaksa wanita itu untuk menatapnya. Ide busuk tiba-tiba muncul dalam kepalanya.
Tatapan Nathan menelisik wajah sang istri dan jatuh pada bibirnya. Pink. Bibir Elara pink. Kening Nathan berkerut singkat kemudian pandangannya beralih ke pipi. Ada rona kemerahan di sana. Apakah Elara memakai riasan?
“Na – Nathan, aku mau ke kamar saja,” bisik Elara, berusaha keras lepas dari cengkeraman Nathan namun gagal.
Nathan menelan ludahnya kasar. Baru saja ia tidur dengan Keira, kenapa sekarang nafsunya membuncah lagi ketika melihat Elara? Ia masih betah menelisik setiap inci wajah Elara. Masih jauh dibawah Keira, pikirnya.
Ada desakan dalam tubuh Nathan yang seolah memberontak. Jika bersama Keira Nathan merasakan nafsu karena cinta, lalu bagaimana dengan Elara? Kenapa tiba-tiba bibir bergetar sang istri terasa begitu menggoda?
“Nathan, aku –”
Nathan mencium kasar bibir Elara. Tangannya menangkup erat kedua pipi wanita itu. Ia merasakan tubuh Elara berontak, tapi berhasil mengatasinya. Mau sekeras apapun usahanya, kekuatan Nathan tetap jauh lebih besar.
“Nat – than … aku –”
“Ssstt. Diam!” Nathan membungkam lagi mulut Elara. Kali ini sebelah tangannya tidak lagi di pipi, melainkan leher Elara. Kemudian ciumannya beralih ke telinga, bahkan menggigitnya dan menimbulkan suara desahan tertahan Elara.
“HENTIKAN!”
Suara nyaring terdengar ketika Elara berhasil melepaskan diri dan langsung menampar pipi Nathan. Sontak Nathan memegang ujung bibirnya yang sedikit perih, ternyata kekuatan Elara cukup besar.
“Kenapa? Kau marah, hah? Bukankah ini yang kau mau?”
Nathan menatap remeh ke arah Elara. Tatapan tajam wanita itu sama sekali tidak mengganggu, justru menghiburnya. Sikap Nathan kesetanan, seolah melupakan begitu saja fakta bahwa sebelumnya mereka adalah sabahat baik.
Persetan dengan sahabat. Yang ada di hadapannya kali ini adalah Elara Ainsley yang egois dan pengkhianat. Pipi wanita itu basah oleh air mata. Puas sekali rasanya Nathan melihat pemandangan itu.
“Dasar wanita murahan!” umpat Nathan sebelum melangkah menjauh, meninggalkan Elara sendirian yang masih menangis di ruang tengah. Semakin hari melihat wajah Elara Ainsley membuat rasa bencinya membuncah. Jika saja saat itu Elara menolak perjodohan mereka, pasti ini semua tidak akan terjadi.
Pikiran Nathan berkecamuk hebat ketika mengingat Keira, wanita yang sudah ia sakiti begitu dalam. Beruntung wanita itu masih bersedia memaafkan dan menerimanya kembali. Elara tidak menjadi halangan baginya untuk tetap bersama Keira Bennett.
Elara memutar pena di jarinya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tahu seberapa besar masalah yang dihadapi perusahaan Whitmore, Nathan pasti kewalahan. Sudah seminggu Nathan tidak membalas pesannya yang sekedar bertanya kabar. “Kau memikirkan Nathan?” Suara Luca membuat Elara tersentak. Matanya kembali pada dokumen berserakan di meja dan Luca yang duduk berseberangan dengannya. Tersadar jika ia sedang diskusi tentang rencana kerja sama dengan Winslow Group. “Maaf,” jawab Elara penuh rasa bersalah. Sangat tidak profesional ia memikirkan urusan pribadi di saat Aster sedang butuh dirinya. Apalagi sekarang Elara hanya berdua dengan Luca, hubungan mereka masih belum baik-baik saja. “Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena beberapa hari belakangan bersikap kasar padamu.” Elara sontak menggeleng. “Tidak, tidak. Itu semua bukan salahmu, memang aku sendiri penyebabnya.” Luca tidak langsung menjawab, ia menaruh dokumen yang sedari tadi ada di pangkuannya ke meja lalu menatap Elara. “
Bel pintu bunyi hampir bersamaan dengan ponsel Elara yang juga bergetar di dalam saku. Nathan tampak berusaha menormalkan napasnya, sedangkan Elara langsung memeriksa ponselnya. Ada pesan anonim lagi dari nomor biasanya. [Kau baik-baik saja di dalam kamar? Nathan tidak kurang ajar padamu, kan?] Isi pesan itu membuat kening Elara berkerut. Siapa sebenarnya orang dibalik pesan ini sampai tahu detail keberadaan Elara? “Sophia. Ada apa?” Elara menutup ponselnya, menoleh ke arah Nathan yang sudah membuka pintu. “Maaf mengganggu, Tuan. Ada sesuatu terjadi di kantor Whitmore dan cukup mendesak,” jawab Sophia sambil menyerahkan tablet ke Nathan. Elara mendekat, sedikit mengintip karena penasaran. “Ada masalah?” bisik Elara. Tidak lupa ia juga menyapa Sophia yang sudah dikenalnya sejak lama. Wanita itu juga tersenyum ramah padanya. Nathan menggeleng, mengembalikan tablet Sophia, lalu menoleh ke Elara lagi sambil tersenyum tenang. “Tidak ada. Hanya masalah kecil,” jawabnya. Nathan Whit
Elara mengikuti Nathan duduk di salah satu sofa lobi hotel. Panas matahari sangat terik dan membuat kepalanya pening, menunggu di dalam memang keputusan terbaik. Lagi pula ia juga tidak tahu berapa lama orang bengkel itu akan datang. “Sial!” Elara menoleh dan menemukan Nathan mengusap kasar wajahnya. “Kenapa. Nath?” “Aku mau menunjukkan sesuatu padamu, tapi ketinggalan di kamar.” Elara mengerjap. “Kamarmu?” Nathan berdehem sekilas, kepalanya terangkat menatap Elara. “Kau keberatan naik ke kamar dulu?” Diam sebentar, Elara mengamati raut Nathan yang tampak menyesal. “Boleh,” jawabnya kemudian sambil mengangguk. Setelah itu Elara langsung beranjak mengikuti langkah Nathan memasuki lift. Akal sehatnya mulai bisa berpikir jernih. Kenapa ia harus ikut naik, padahal bisa tetap menunggu di lobi, kan? Elara mengumpat dalam hati, tidak bisa protes karena ikut ke kamar Nathan adalah keputusannya sendiri.“Silahkan masuk.”Elara tersadar saat Nathan membuka lebar pintu di depannya. “Teri
“Ayolah, Lex ….” Elara bergelayut manja di lengan sang kakak. “Kau diskusikan dengan Luca dulu. Nanti aku pulang sekitar jam delapan,” jawab Alex, fokusnya masih di ponsel karena ada sedikit masalah di warehouse Aster. Elara mendengus, tapi tidak membantah dan tetap membiarkan Alexander pergi. Sebenarnya ia hendak diskusi tentang konsep Aster yang akan mereka pakai untuk kerja sama hotel Winslow bersama Alex dan Luca. Sudah hampir satu minggu hubungan Elara dan Luca belum membaik. Mereka hanya bertemu di waktu-waktu tertentu, yaitu saat membicarakan pekerjaan saja. Sisanya, Elara hampir tidak pernah berpapasan dengan sang kekasih, bahkan di kantor sekali pun. Sekarang Elara perlu mendiskusikan ide konsepnya bersama Luca dan Alex. Menurutnya, semakin cepat maka semakin baik. Ia tidak ingin membuang banyak waktu sebelum menghadap pihak Winslow Group. Elara melirik jam dinding, sebentar lagi Luca pasti datang. Ia memilih untuk menyandarkan tubuh di sofa ruang tengah sembari bermain
“Jadi, Victor Winslow sendiri yang menawarkan kerja sama ini?” Alex bertanya sambil menyeruput kopi panasnya di sofa empuk ruang kerja Elara. Elara memang sengaja menyuruh Alex mampir ke kantor Aster sebelum ke warehouse. Pria itu sempat menggerutu kecil karena ini masih terlalu pagi untuk mulai bekerja. Elara mengangguk. “Betul. Tuan Victor sedang mencari mitra yang cocok untuk mengelola kedai kopi di hotelnya,” jawabnya sambil menyerahkan beberapa dokumen tentang pengembangan hotel Winslow Group pada sang kakak. “Winslow Group bukan perusahaan kecil,” ujar Alex, membaca dokumen tersebut sambil mengangguk kecil. “Kalau mereka tertarik dengan Aster, itu akan menjadi kesempatan besar bagi kita setelah kerja sama dengan Bellmont Grand Hotel kemarin.” Sesuai perkiraan Elara sebelumnya, Alex pasti juga antusias dengan rencana kerja sama ini. Setelah ia telusuri, hotel ini memang tidak sebesar properti Winslow yang lain. Namun konsepnya menarik dan mereka ingin memiliki kedai kopi deng
“Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?” Luca berdiri di sebelah Elara. Keduanya bersama mengantar Vanessa Winslow sampai masuk mobil dan pergi. Elara menoleh, keningnya sedikit berkerut. “Tentang apa?” “Nessa.” “Bukankah tadi dia sudah menjelaskan semuanya? Dia tertarik padamu, tapi karena sudah tahu tentang hubungan kita, dia berjanji tidak akan mengganggu.” Luca mengusap kasar wajahnya, membuat Elara merasa semakin heran. “Iya, iya. Aku tahu. Nessa menjelaskan semuanya, tapi ada satu yang membuatku bingung.” Luca berhenti sejenak. “Kenapa kau begitu santai menghadapi Nessa?” Napas Elara terdengar panjang. Ia berbalik, melangkah memasuki Aster dengan Luca yang mengikuti dari belakang. “Lalu maksudmu aku harus bagaimana? Mengusir Vanessa dari kantorku, begitu?” tanya Elara. Ting. Pintu lift terbuka dan keduanya masuk, kebetulan tidak ada orang lain di dalam sana. Luca maju satu langkah dan berbalik menghadap Elara. “Bukan itu maksudku, El.” Elara merasakan kedua bahuny







