LOGIN“Aku tidur di kamarku sendiri, kau terserah di mana. Ada banyak kamar di sini.”
Elara mengangguk paham dan membiarkan Nathan melangkah menjauh. Pria itu naik ke lantai dua. Ia memandang sekeliling dan bergumam kagum. Ini adalah rumah pribadi Nathan yang sudah pria itu tempati sekitar dua tahun. Sebenarnya Elara pernah berkunjung, tapi hanya sekali. Ia tidak terlalu mengingat detail rumah ini karena waktu itu hanya mampir sebentar untuk menjemput Nathan.
“Nyonya, mau kamar di lantai satu atau dua? Semuanya sudah kami rapikan.”
Suara seorang pelayan wanita membuat Elara menoleh. “Lantai satu saja. Aku harus memanggilmu siapa?” tanya Elara seraya melempar senyuman manisnya. Sepertinya wanita di hadapannya itu adalah kepala pelayan yang mengurus rumah ini. Umurnya sekitar pertengahan empat puluh, jika Elara tidak salah menduga.
“Martha. Anda bisa memanggil saya Martha.”
Elara tersenyum lalu mengangguk paham. “Baiklah, Martha. Terima kasih sudah menyambutku. Semoga kita bisa akrab.”
Setelah itu, Elara diantarkan menuju kamar oleh Martha. Rumah Nathan sangat luas. Sebenarnya rumah keluarga Ainsley juga besar, tapi masih jauh lebih besar rumah Nathan. Memiliki gaya arsitektur modern yang menurut Elara sangat khas seorang Nathan Whitmore. Langkahnya sampai di lorong terakhir dan sampai di depan pintu kamar.
“Terima kasih, Martha,” ucap Elara sopan. Ia memperbolehkan Martha pergi sebelum memasuki kamarnya. Kesan pertama yang Elara rasakan adalah mewah. Kamar ini kesannya sangat mewah dengan dominasi warna putih dan abu-abu. Tepat di posisi tengah, ada ranjang berukuran king size. Di sisi kanan, ada kamar mandi serta walk-in closet besar yang sudah dipenuhi pakaian dan aksesoris.
Setelah membersihkan diri Elara berniat istirahat sejenak. Sebelum benar-benar terlena oleh empuknya ranjang, Elara melirik jam dinding. Ternyata sudah hampir pukul tujuh malam, ia harus menyiapkan makan malam. Tubuh lelahnya ia paksakan untuk bangkit lagi.
Melangkah cepat menuju dapur yang entah berada di mana, Elara hanya melangkah dan berharap sebentar lagi akan menemukannya. Rumah ini terlalu membingungkan baginya. Beruntung Elara menemukan Martha tidak jauh dari posisinya, sedang membersihkan tanaman di ruang keluarga.
“Martha. Dapur di mana?”
Elara ikut menyentakkan tubuhnya ketika melihat Martha terkejut oleh suaranya. “Oh, maaf aku membuatmu kaget,” lanjutnya dengan raut bersalah.
“Tidak masalah, Nyonya. Dapur ada di sebelah kanan, dekat taman belakang,” jawab Martha sopan sambil menunjuk dengan tangannya. Elara mengikuti arahan Martha, mengucapkan terima kasih dan melanjutkan langkahnya. Kebetulan ia memang belum melihat ke area ini. Tenyata dapurnya agak di belakang.
“Nyonya? Apa yang Anda lakukan di sini?”
Elara spontan mundur selangkah. Gerombolan pelayan menatapnya terkejut. Bukan gerombolan, tepatnya sekitar lima pelayan. “Aku ingin memasak …?” Elara menjawab dengan ragu.
“Ya ampun. Nyonya tidak perlu memasak, sudah ada kami,” jawab salah satu pelayan yang sepertinya paling muda. Sontak kening Elara berkerut heran, sedikit tidak menyangka karena ternyata pelayan rumah ini lebih banyak dari perkiraannya.
“Tapi … aku perlu memasak untuk Nathan,” jawab Elara lagi, masih penuh keraguan. Sebenarnya Elara terbiasa dengan pelayan karena rumah orang tuanya juga punya beberapa pelayan, walaupun tidak sebanyak ini. Tapi ibunya, Diana Ainsley selalu memasak sendiri untuk makan keluarga.
“Nyonya. Anda tidak perlu repot-repot. Semuanya sudah dilakukan oleh pelayan. Anda bisa istirahat saja. Akan kami panggil jika makan malam sudah siap.”
Elara menatap bergantian semua pelayan di hadapannya. Ada lima pelayan hanya untuk dapur? Menurutnya itu berlebihan. Hanya Nathan yang tinggal di rumah ini. “Kalian semua bertugas di dapur? Lima orang?” tanya Elara penuh keheranan.
“Tidak, Nyonya. Sebenarnya hanya saya dan kakak saya saja. Kebetulan yang lain sudah selesai dengan pekerjaannya dan membantu di sini.”
“Baiklah, kalau begitu. Terima kasih. Aku akan menunggu di –”
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Ucapan Elara terpotong oleh suara rendah seseorang. Siapa lagi kalau bukan Nathan. Ia sangat hafal apapun tentang pria itu. “Aku tadinya mau masak, tapi sepertinya sudah ada pelayan,” jawabnya singkat seraya menyunggingkan senyum kaku.
Elara memperhatikan raut Nathan yang terlihat kesal. “Aku bisa menunggu di ruang makan,” lanjutnya lagi, berusaha menghindar. Ia tidak nyaman dengan sikap dingin dan tatapan penuh dendam Nathan.
Di luar dugaannya, ternyata Nathan mengikutinya ke meja makan dan duduk tepat di seberangnya. Misi menghindari Nathan terpaksa gagal karena Elara tidak mungkin langsung pergi beberapa detik setelah duduk.
“Kita harus bicara,” ucap Nathan tiba-tiba.
Elara membulatkan kedua matanya. “Di sini?” tanyanya cepat setelah memperhatikan sekeliling. Tempat ini terlalu terbuka, banyak pelayan berlalu-lalang. Walaupun tidak tahu apa yang akan Nathan bicarakan, tapi perasaan Elara mengatakan kalau ini pasti berhubungan dengan kelangsungan pernikahan mereka. Hal sensitif yang menurut Elara tidak perlu didengar orang lain.
“Menurutmu?”
Bukannya menjawab, Nathan malah balik bertanya dengan sebelah alis terangkat. Tatapannya sinis. Membuat nyali Elara langsung menciut. Ia pun mengangguk pasrah, mempersilahkan Nathan membahasnya.
“Kau tahu wanita yang kucintai adalah Keira, kan?” tanya Nathan. Elara mengangguk ragu. Tentu saja ia tahu tentang itu, bukan hal baru baginya.
Nathan tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kita memang sudah menikah, tapi ingat … aku tidak mencintaimu, dan tidak akan pernah!”
Elara menelan ludahnya kasar. Nathan menyelesaikan kalimatnya tepat saat seorang pelayan masuk dan menaruh makanan di atas meja. Sepertinya Nathan tidak berniat menyembunyikan pernikahan yang menurutnya terkutuk ini. Sebentar lagi, seluruh pelayan rumah akan mengetahui semuanya.
“Anggap saja kita adalah orang asing yang tinggal satu rumah. Jangan mencariku kecuali ada urusan penting menyangkut keluarga kita. Selain itu, aku tidak mau melihatmu.”
Perkataan singkat Nathan tepat menembus hati Elara. Rasanya sakit dan asing. Asing karena selama bertahun-tahun mereka bersahabat baik dan harus berakhir seperti sekarang. Namun yang lebih menyakitkan adalah tentang bagaimana kelanjutan hidup Elara di tengah rumah mewah ini sendirian?
“Nathan –”
“Satu lagi. Selamanya aku tidak akan memaafkanmu karena sudah menyakiti Keira!”
Elara membisu, tatapannya terkunci oleh mata tajam Nathan. Kedua bola mata coklat gelap yang selama ini membiusnya, kini menatapnya jijik. Tanpa sadar sebelah tangan Elara terangkat mengelus pelan dadanya yang terasa perih. Ini semua menyakitkan.
Nathan bangkit dari duduknya dan mulai melangkah menjauh, membuat kening Elara berkerut heran. Ini sudah waktunya makan malam, tidakkah pria itu lapar setelah seharian menyapa banyak tamu di pesta pernikahan?
“Nathan, kau tidak makan malam?” Elara bertanya setelah mengumpulkan keberanian. Jujur, ia sedikit takut dengan sikap Nathan yang sangat memusuhinya.
“Kau pikir aku sudi makan bersama denganmu?”
Lagi-lagi kalimat Nathan menggores hati kecil Elara. Suara pria itu sangat datar, tapi menusuk. Ia menghembuskan nafasnya pelan kemudian berusaha menyunggingkan senyum singkat. “Seharian ini kita sibuk di acara pernikahan. Apa kau tidak kelaparan? Kurasa, kita bisa makan bersama kali ini saja. Wajahmu terlihat sangat –”
“Diam! Jangan membuatku semakin membencimu!”
Elara tidak meneruskan kalimatnya. Ia memandang punggung Nathan yang menjauh dan perlahan hilang di balik dinding besar ruang makan. Kepala Elara menunduk lemas, kedua matanya memanas, dan tubuhnya gemetar hebat. Beberapa pelayan terlihat memandang iba padanya. Akankah ini akan menjadi neraka baginya?
“Nathan, kau tidak waras!” ujar Luca penuh penekanan. Setelah berhari-hari Nathan sibuk, akhirnya pria itu bisa bertemu dengannya. Sebenarnya amarah sudah memenuhi benak Luca mengingat tentang perlakuan kasar yang Nathan lakukan pada Elara, tapi sebisa mungkin ia tahan. “Apa maksudmu?” tanya Nathan acuh. Sebelah tangannya mengambil cangkir dari meja dan menyeruputnya pelan. Americano di kafe ini memang yang terbaik, pikirnya. “Elara sahabatmu, dan sekarang dia adalah istrimu.” Luca mengepalkan tangannya karena melihat sikap Nathan yang terlampau tenang. Tidak ada raut bersalah di wajahnya, padahal Luca yakin jika pria itu memahami maksud ucapannya barusan. “Nathan!” “Kenapa kau tiba-tiba marah?!” teriak Nathan tidak kalah keras, membuat seisi manusia di Chapter One Coffee menatap ke arah mereka. Luca mengusap kasar wajahnya, rahangnya mengeras, dan kemarahannya semakin membuncah. “Kita pindah ke ruanganku saja,” perintahnya. Sebelum beranjak dari posisinya, Luca memanggil seor
“Kei, jangan pedulikan Elara. Perasaanku tetap sama dan tidak akan pernah berubah.” Nathan memeluk erat Keira. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus kepala sang wanita. Sudah berhari-hari Keira menolak bertemu dengannya. Syukurnya hari ini dan dengan sedikit paksaan, Keira membuka pintu rumahnya untuk Nathan. “Nathan. Kenapa kau tega padaku?! Kenapa Elara tega melakukan ini!” Keira berteriak kencang sampai tubuhnya bergetar hebat. Kedua matanya deras oleh air mata, membuat Nathan tidak sampai hati melihat wanitanya begitu tersakiti. “Kei, babe. Tenanglah … tenang ….” “Bagaimana aku bisa tenang sementara kekasihku menikahi sahabat dekatku sendiri?!” Air mata Keira semakin deras. Wanita itu berteriak kencang dengan bibir bergetar, seolah sedang menumpahkan segala kemarahannya yang sempat tertahan. Penampilan Keira yang selama ini selalu rapi juga terlihat berbeda hari ini, tampak berantakan. Sangat tidak menggambarkan seorang Keira Bennett. “Babe –” “Jangan memanggilku deng
“Kau pulang sangat larut hari ini. Sudah makan malam? Aku tadi masak sesuatu, mungkin kau bisa mencobanya,” ujar Elara. Ia mengikuti langkah Nathan yang baru masuk rumah, sebelah tangannya terulur mengambil jas yang baru saja Nathan lempar ke sofa ruang tengah. “Nathan?” panggil Elara lagi setelah cukup lama tidak ada jawaban. Ia masih mengikuti langkah panjang pria itu sampai ke lantai dua. Entah berapa kali ia memanggil nama Nathan, tapi suaminya itu sama sekali tidak menoleh. “Kenapa kau mengikutiku?!” Elara tersentak, tubuhnya mundur selangkah. Bentakan Nathan cukup mengagetkan. Ia baru sadar kalau kini keduanya sudah berdiri di depan pintu hitam besar, kamar Nathan. Sepertinya Elara terlalu fokus mengejar suaminya tanpa memperhatikan sekitar. “Sudah makan malam?” tanya Elara lagi, kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Matanya berkedip lucu sambil menatap Nathan yang jauh lebih tinggi darinya. “El, jangan bersikap seperti seorang istri. Aku benci itu!” L
“Aku tidur di kamarku sendiri, kau terserah di mana. Ada banyak kamar di sini.” Elara mengangguk paham dan membiarkan Nathan melangkah menjauh. Pria itu naik ke lantai dua. Ia memandang sekeliling dan bergumam kagum. Ini adalah rumah pribadi Nathan yang sudah pria itu tempati sekitar dua tahun. Sebenarnya Elara pernah berkunjung, tapi hanya sekali. Ia tidak terlalu mengingat detail rumah ini karena waktu itu hanya mampir sebentar untuk menjemput Nathan. “Nyonya, mau kamar di lantai satu atau dua? Semuanya sudah kami rapikan.” Suara seorang pelayan wanita membuat Elara menoleh. “Lantai satu saja. Aku harus memanggilmu siapa?” tanya Elara seraya melempar senyuman manisnya. Sepertinya wanita di hadapannya itu adalah kepala pelayan yang mengurus rumah ini. Umurnya sekitar pertengahan empat puluh, jika Elara tidak salah menduga. “Martha. Anda bisa memanggil saya Martha.” Elara tersenyum lalu mengangguk paham. “Baiklah, Martha. Terima kasih sudah menyambutku. Semoga kita bisa akrab.”
“Maafkan mom dan dad ya, sayang.” Elara mendongak dan membalas tatapan sang ibu. Ia tidak merespon dan kembali memandang dirinya lewat cermin di hadapannya. Penampilannya sudah rapi dengan gaun pengantin putih sederhana dan make up tipis di wajahnya. Pernikahan ini bahkan hanya memerlukan waktu kurang dari satu bulan persiapan. “Tidak apa-apa, mom. Aku yang minta maaf karena sempat egois dan menolak perjodohan ini.” “Tidak, sayang. Kau anak yang baik. Justru kami yang bersalah padamu.” Elara terdiam lagi. Ia menatap ibunya, Diana Ainsley lewat pantulan cermin. Sang ibu tampak jelas sedang menahan air matanya. Hal itu membuat Elara memalingkan wajahnya lagi, berusaha tidak menangis. Pernikahan ini adalah demi perusahaan Ainsley. Keputusan Elara sudah benar. “Sayang. Mom benar-benar minta maaf. Jika saja perusahaan baik-baik saja, kita tidak perlu meminta bantuan keluarga Whitmore dan kau –” “Sudahlah, mom. Aku baik-baik saja, sungguh. Jangan khawatir,” potong Elara cepat tanpa me
“Kau tidak akan menerimanya, kan?”Elara yang mulanya menatap kosong ke arah taman gelap di hadapannya menoleh dan menemukan Nathan berdiri tidak jauh dari posisinya. Ia tersenyum getir, menepuk kursi sebelahnya yang kosong.“Kita bicara sambil duduk,” jawab Elara. Nathan mengangguk pelan kemudian duduk di sebelahnya. Keduanya tidak ada yang membuka obrolan, sejenak menikmati udara sejuk malam ini.Elara memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya sedikit berantakan karena hembusan angin. Udara malam ini tidak terlalu dingin, sangat menenangkan. “Kau juga belum tahu soal perjodohan ini?” tanyanya tanpa menoleh ke arah Nathan.“Aku tidak tahu kalau acara keluarga malam ini adalah makan bersama keluargamu, El,” jawab Nathan singkat sambil terkekeh pelan. Ternyata mereka berdua sama-sama tidak tahu apapun. Mendadak mengadakan makan malam dua keluarga dan mengabarkan jika kedua pihak sudah setuju dengan perjodohan ini. Perjodohan Elara Ainsley dan Nathan Whitmore.Elara juga terkekeh pela







