Share

BAB 4

Author: Aara
last update publish date: 2026-09-08 20:45:00

“Aku tidur di kamarku sendiri, kau terserah di mana. Ada banyak kamar di sini.”

Elara mengangguk paham dan membiarkan Nathan melangkah menjauh. Pria itu naik ke lantai dua. Ia memandang sekeliling dan bergumam kagum. Ini adalah rumah pribadi Nathan yang sudah pria itu tempati sekitar dua tahun. Sebenarnya Elara pernah berkunjung, tapi hanya sekali. Ia tidak terlalu mengingat detail rumah ini karena waktu itu hanya mampir sebentar untuk menjemput Nathan.

“Nyonya, mau kamar di lantai satu atau dua? Semuanya sudah kami rapikan.”

Suara seorang pelayan wanita membuat Elara menoleh. “Lantai satu saja. Aku harus memanggilmu siapa?” tanya Elara seraya melempar senyuman manisnya. Sepertinya wanita di hadapannya itu adalah kepala pelayan yang mengurus rumah ini. Umurnya sekitar pertengahan empat puluh, jika Elara tidak salah menduga.

“Martha. Anda bisa memanggil saya Martha.”

Elara tersenyum lalu mengangguk paham. “Baiklah, Martha. Terima kasih sudah menyambutku. Semoga kita bisa akrab.”

Setelah itu, Elara diantarkan menuju kamar oleh Martha. Rumah Nathan sangat luas. Sebenarnya rumah keluarga Ainsley juga besar, tapi masih jauh lebih besar rumah Nathan. Memiliki gaya arsitektur modern yang menurut Elara sangat khas seorang Nathan Whitmore. Langkahnya sampai di lorong terakhir dan sampai di depan pintu kamar. 

“Terima kasih, Martha,” ucap Elara sopan. Ia memperbolehkan Martha pergi sebelum memasuki kamarnya. Kesan pertama yang Elara rasakan adalah mewah. Kamar ini kesannya sangat mewah dengan dominasi warna putih dan abu-abu. Tepat di posisi tengah, ada ranjang berukuran king size. Di sisi kanan, ada kamar mandi serta walk-in closet besar yang sudah dipenuhi pakaian dan aksesoris. 

Setelah membersihkan diri Elara berniat istirahat sejenak. Sebelum benar-benar terlena oleh empuknya ranjang, Elara melirik jam dinding. Ternyata sudah hampir pukul tujuh malam, ia harus menyiapkan makan malam. Tubuh lelahnya ia paksakan untuk bangkit lagi. 

Melangkah cepat menuju dapur yang entah berada di mana, Elara hanya melangkah dan berharap sebentar lagi akan menemukannya. Rumah ini terlalu membingungkan baginya. Beruntung Elara menemukan Martha tidak jauh dari posisinya, sedang membersihkan tanaman di ruang keluarga.

“Martha. Dapur di mana?”

Elara ikut menyentakkan tubuhnya ketika melihat Martha terkejut oleh suaranya. “Oh, maaf aku membuatmu kaget,” lanjutnya dengan raut bersalah.

“Tidak masalah, Nyonya. Dapur ada di sebelah kanan, dekat taman belakang,” jawab Martha sopan sambil menunjuk dengan tangannya. Elara mengikuti arahan Martha, mengucapkan terima kasih dan melanjutkan langkahnya. Kebetulan ia memang belum melihat ke area ini. Tenyata dapurnya agak di belakang.

“Nyonya? Apa yang Anda lakukan di sini?”

Elara spontan mundur selangkah. Gerombolan pelayan menatapnya terkejut. Bukan gerombolan, tepatnya sekitar lima pelayan. “Aku ingin memasak …?” Elara menjawab dengan ragu. 

“Ya ampun. Nyonya tidak perlu memasak, sudah ada kami,” jawab salah satu pelayan yang sepertinya paling muda. Sontak kening Elara berkerut heran, sedikit tidak menyangka karena ternyata pelayan rumah ini lebih banyak dari perkiraannya.

“Tapi … aku perlu memasak untuk Nathan,” jawab Elara lagi, masih penuh keraguan. Sebenarnya Elara terbiasa dengan pelayan karena rumah orang tuanya juga punya beberapa pelayan, walaupun tidak sebanyak ini. Tapi ibunya, Diana Ainsley selalu memasak sendiri untuk makan keluarga.

“Nyonya. Anda tidak perlu repot-repot. Semuanya sudah dilakukan oleh pelayan. Anda bisa istirahat saja. Akan kami panggil jika makan malam sudah siap.”

Elara menatap bergantian semua pelayan di hadapannya. Ada lima pelayan hanya untuk dapur? Menurutnya itu berlebihan. Hanya Nathan yang tinggal di rumah ini. “Kalian semua bertugas di dapur? Lima orang?” tanya Elara penuh keheranan.

“Tidak, Nyonya. Sebenarnya hanya saya dan kakak saya saja. Kebetulan yang lain sudah selesai dengan pekerjaannya dan membantu di sini.”

“Baiklah, kalau begitu. Terima kasih. Aku akan menunggu di –”

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Ucapan Elara terpotong oleh suara rendah seseorang. Siapa lagi kalau bukan Nathan. Ia sangat hafal apapun tentang pria itu. “Aku tadinya mau masak, tapi sepertinya sudah ada pelayan,” jawabnya singkat seraya menyunggingkan senyum kaku. 

Elara memperhatikan raut Nathan yang terlihat kesal. “Aku bisa menunggu di ruang makan,” lanjutnya lagi, berusaha menghindar. Ia tidak nyaman dengan sikap dingin dan tatapan penuh dendam Nathan.

Di luar dugaannya, ternyata Nathan mengikutinya ke meja makan dan duduk tepat di seberangnya. Misi menghindari Nathan terpaksa gagal karena Elara tidak mungkin langsung pergi beberapa detik setelah duduk. 

“Kita harus bicara,” ucap Nathan tiba-tiba.

Elara membulatkan kedua matanya. “Di sini?” tanyanya cepat setelah memperhatikan sekeliling. Tempat ini terlalu terbuka, banyak pelayan berlalu-lalang. Walaupun tidak tahu apa yang akan Nathan bicarakan, tapi perasaan Elara mengatakan kalau ini pasti berhubungan dengan kelangsungan pernikahan mereka. Hal sensitif yang menurut Elara tidak perlu didengar orang lain.

“Menurutmu?” 

Bukannya menjawab, Nathan malah balik bertanya dengan sebelah alis terangkat. Tatapannya sinis. Membuat nyali Elara langsung menciut. Ia pun mengangguk pasrah, mempersilahkan Nathan membahasnya.

“Kau tahu wanita yang kucintai adalah Keira, kan?” tanya Nathan. Elara mengangguk ragu. Tentu saja ia tahu tentang itu, bukan hal baru baginya.

Nathan tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kita memang sudah menikah, tapi ingat … aku tidak mencintaimu, dan tidak akan pernah!”

Elara menelan ludahnya kasar. Nathan menyelesaikan kalimatnya tepat saat seorang pelayan masuk dan menaruh makanan di atas meja. Sepertinya Nathan tidak berniat menyembunyikan pernikahan yang menurutnya terkutuk ini. Sebentar lagi, seluruh pelayan rumah akan mengetahui semuanya.

“Anggap saja kita adalah orang asing yang tinggal satu rumah. Jangan mencariku kecuali ada urusan penting menyangkut keluarga kita. Selain itu, aku tidak mau melihatmu.”

Perkataan singkat Nathan tepat menembus hati Elara. Rasanya sakit dan asing. Asing karena selama bertahun-tahun mereka bersahabat baik dan harus berakhir seperti sekarang. Namun yang lebih menyakitkan adalah tentang bagaimana kelanjutan hidup Elara di tengah rumah mewah ini sendirian?

“Nathan –”

“Satu lagi. Selamanya aku tidak akan memaafkanmu karena sudah menyakiti Keira!”

Elara membisu, tatapannya terkunci oleh mata tajam Nathan. Kedua bola mata coklat gelap yang selama ini membiusnya, kini menatapnya jijik. Tanpa sadar sebelah tangan Elara terangkat mengelus pelan dadanya yang terasa perih. Ini semua menyakitkan.

Nathan bangkit dari duduknya dan mulai melangkah menjauh, membuat kening Elara berkerut heran. Ini sudah waktunya makan malam, tidakkah pria itu lapar setelah seharian menyapa banyak tamu di pesta pernikahan?

“Nathan, kau tidak makan malam?” Elara bertanya setelah mengumpulkan keberanian. Jujur, ia sedikit takut dengan sikap Nathan yang sangat memusuhinya.

“Kau pikir aku sudi makan bersama denganmu?”

Lagi-lagi kalimat Nathan menggores hati kecil Elara. Suara pria itu sangat datar, tapi menusuk. Ia menghembuskan nafasnya pelan kemudian berusaha menyunggingkan senyum singkat. “Seharian ini kita sibuk di acara pernikahan. Apa kau tidak kelaparan? Kurasa, kita bisa makan bersama kali ini saja. Wajahmu terlihat sangat –”

“Diam! Jangan membuatku semakin membencimu!”

Elara tidak meneruskan kalimatnya. Ia memandang punggung Nathan yang menjauh dan perlahan hilang di balik dinding besar ruang makan. Kepala Elara menunduk lemas, kedua matanya memanas, dan tubuhnya gemetar hebat. Beberapa pelayan terlihat memandang iba padanya. Akankah ini akan menjadi neraka baginya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 75

    Elara memutar pena di jarinya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tahu seberapa besar masalah yang dihadapi perusahaan Whitmore, Nathan pasti kewalahan. Sudah seminggu Nathan tidak membalas pesannya yang sekedar bertanya kabar. “Kau memikirkan Nathan?” Suara Luca membuat Elara tersentak. Matanya kembali pada dokumen berserakan di meja dan Luca yang duduk berseberangan dengannya. Tersadar jika ia sedang diskusi tentang rencana kerja sama dengan Winslow Group. “Maaf,” jawab Elara penuh rasa bersalah. Sangat tidak profesional ia memikirkan urusan pribadi di saat Aster sedang butuh dirinya. Apalagi sekarang Elara hanya berdua dengan Luca, hubungan mereka masih belum baik-baik saja. “Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena beberapa hari belakangan bersikap kasar padamu.” Elara sontak menggeleng. “Tidak, tidak. Itu semua bukan salahmu, memang aku sendiri penyebabnya.” Luca tidak langsung menjawab, ia menaruh dokumen yang sedari tadi ada di pangkuannya ke meja lalu menatap Elara. “

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 74

    Bel pintu bunyi hampir bersamaan dengan ponsel Elara yang juga bergetar di dalam saku. Nathan tampak berusaha menormalkan napasnya, sedangkan Elara langsung memeriksa ponselnya. Ada pesan anonim lagi dari nomor biasanya. [Kau baik-baik saja di dalam kamar? Nathan tidak kurang ajar padamu, kan?] Isi pesan itu membuat kening Elara berkerut. Siapa sebenarnya orang dibalik pesan ini sampai tahu detail keberadaan Elara? “Sophia. Ada apa?” Elara menutup ponselnya, menoleh ke arah Nathan yang sudah membuka pintu. “Maaf mengganggu, Tuan. Ada sesuatu terjadi di kantor Whitmore dan cukup mendesak,” jawab Sophia sambil menyerahkan tablet ke Nathan. Elara mendekat, sedikit mengintip karena penasaran. “Ada masalah?” bisik Elara. Tidak lupa ia juga menyapa Sophia yang sudah dikenalnya sejak lama. Wanita itu juga tersenyum ramah padanya. Nathan menggeleng, mengembalikan tablet Sophia, lalu menoleh ke Elara lagi sambil tersenyum tenang. “Tidak ada. Hanya masalah kecil,” jawabnya. Nathan Whit

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 73

    Elara mengikuti Nathan duduk di salah satu sofa lobi hotel. Panas matahari sangat terik dan membuat kepalanya pening, menunggu di dalam memang keputusan terbaik. Lagi pula ia juga tidak tahu berapa lama orang bengkel itu akan datang. “Sial!” Elara menoleh dan menemukan Nathan mengusap kasar wajahnya. “Kenapa. Nath?” “Aku mau menunjukkan sesuatu padamu, tapi ketinggalan di kamar.” Elara mengerjap. “Kamarmu?” Nathan berdehem sekilas, kepalanya terangkat menatap Elara. “Kau keberatan naik ke kamar dulu?” Diam sebentar, Elara mengamati raut Nathan yang tampak menyesal. “Boleh,” jawabnya kemudian sambil mengangguk. Setelah itu Elara langsung beranjak mengikuti langkah Nathan memasuki lift. Akal sehatnya mulai bisa berpikir jernih. Kenapa ia harus ikut naik, padahal bisa tetap menunggu di lobi, kan? Elara mengumpat dalam hati, tidak bisa protes karena ikut ke kamar Nathan adalah keputusannya sendiri.“Silahkan masuk.”Elara tersadar saat Nathan membuka lebar pintu di depannya. “Teri

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 72

    “Ayolah, Lex ….” Elara bergelayut manja di lengan sang kakak. “Kau diskusikan dengan Luca dulu. Nanti aku pulang sekitar jam delapan,” jawab Alex, fokusnya masih di ponsel karena ada sedikit masalah di warehouse Aster. Elara mendengus, tapi tidak membantah dan tetap membiarkan Alexander pergi. Sebenarnya ia hendak diskusi tentang konsep Aster yang akan mereka pakai untuk kerja sama hotel Winslow bersama Alex dan Luca. Sudah hampir satu minggu hubungan Elara dan Luca belum membaik. Mereka hanya bertemu di waktu-waktu tertentu, yaitu saat membicarakan pekerjaan saja. Sisanya, Elara hampir tidak pernah berpapasan dengan sang kekasih, bahkan di kantor sekali pun. Sekarang Elara perlu mendiskusikan ide konsepnya bersama Luca dan Alex. Menurutnya, semakin cepat maka semakin baik. Ia tidak ingin membuang banyak waktu sebelum menghadap pihak Winslow Group. Elara melirik jam dinding, sebentar lagi Luca pasti datang. Ia memilih untuk menyandarkan tubuh di sofa ruang tengah sembari bermain

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 71

    “Jadi, Victor Winslow sendiri yang menawarkan kerja sama ini?” Alex bertanya sambil menyeruput kopi panasnya di sofa empuk ruang kerja Elara. Elara memang sengaja menyuruh Alex mampir ke kantor Aster sebelum ke warehouse. Pria itu sempat menggerutu kecil karena ini masih terlalu pagi untuk mulai bekerja. Elara mengangguk. “Betul. Tuan Victor sedang mencari mitra yang cocok untuk mengelola kedai kopi di hotelnya,” jawabnya sambil menyerahkan beberapa dokumen tentang pengembangan hotel Winslow Group pada sang kakak. “Winslow Group bukan perusahaan kecil,” ujar Alex, membaca dokumen tersebut sambil mengangguk kecil. “Kalau mereka tertarik dengan Aster, itu akan menjadi kesempatan besar bagi kita setelah kerja sama dengan Bellmont Grand Hotel kemarin.” Sesuai perkiraan Elara sebelumnya, Alex pasti juga antusias dengan rencana kerja sama ini. Setelah ia telusuri, hotel ini memang tidak sebesar properti Winslow yang lain. Namun konsepnya menarik dan mereka ingin memiliki kedai kopi deng

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 70

    “Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?” Luca berdiri di sebelah Elara. Keduanya bersama mengantar Vanessa Winslow sampai masuk mobil dan pergi. Elara menoleh, keningnya sedikit berkerut. “Tentang apa?” “Nessa.” “Bukankah tadi dia sudah menjelaskan semuanya? Dia tertarik padamu, tapi karena sudah tahu tentang hubungan kita, dia berjanji tidak akan mengganggu.” Luca mengusap kasar wajahnya, membuat Elara merasa semakin heran. “Iya, iya. Aku tahu. Nessa menjelaskan semuanya, tapi ada satu yang membuatku bingung.” Luca berhenti sejenak. “Kenapa kau begitu santai menghadapi Nessa?” Napas Elara terdengar panjang. Ia berbalik, melangkah memasuki Aster dengan Luca yang mengikuti dari belakang. “Lalu maksudmu aku harus bagaimana? Mengusir Vanessa dari kantorku, begitu?” tanya Elara. Ting. Pintu lift terbuka dan keduanya masuk, kebetulan tidak ada orang lain di dalam sana. Luca maju satu langkah dan berbalik menghadap Elara. “Bukan itu maksudku, El.” Elara merasakan kedua bahuny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status