Share

Kekasih Rahasia Suamiku
Kekasih Rahasia Suamiku
Author: Aara

BAB 1

Author: Aara
last update publish date: 2026-09-08 20:24:12

“Bisakah kalian menahan diri? Jangan bermesraan di depan kami,” ujar Luca seraya menyeruput americano pertamanya hari ini, setidaknya itu yang dikatakannya.

Elara tertawa keras sambil memegangi perutnya, cukup sakit karena harus meredam paksa tawanya. Sekarang mereka sedang berada di Chapter One Coffee milik Luca. Kepalanya mengangguk keras menyetujui ucapan sahabatnya.

“Itu karena kalian iri. Sebagai sahabat baik, kusarankan kalian cepat mencari kekasih. Bukankah begitu, babe?” Keira mengangkat kedua alisnya sambil menoleh ke samping, seolah meminta persetujuan dari Nathan, kekasihnya.

Elara dan Luca harus berusaha sekuat mungkin menahan tawa sebelum ada pengunjung lain yang terganggu. Elara meraih segelas hot caramel latte dan meneguknya perlahan, sesekali meniup pelan untuk sedikit meredam panasnya. Ekor matanya menangkap Nathan yang hanya tersenyum menanggapi sang kekasih.

“Tapi aku kagum. Kalian sudah bersama sejak masih sekolah dan bertahan sampai sekarang. Kei, tidakkah kau muak dengan sifat Nathan?”

“Apa maksudmu?” potong Nathan cepat, tatapannya menusuk Luca.

Elara tersenyum tipis dan mengangguk lagi. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Luca. Mereka berempat saling mengenal sejak masih sekolah. Dan ya, jika dibandingkan dengan lainnya, sifat Nathan memang terkesan paling dingin.

“Nathan sangat perhatian. Kau tahu itu, Luc,” jawab Keira cepat, sebelah tangannya bergelayut manja pada Nathan. Pemandangan yang membuat tatapan Elara langsung beralih pada hal lain.

Luca dan Keira kembali beradu mulut cukup lama. Elara memilih diam menyimak dan sesekali ikut tertawa, seperti biasanya. Nathan? Sama dengan Elara, pria itu juga hanya diam, lengannya masih bertaut dengan Keira. Sesekali pria itu terlihat mengelus lembut puncak kepala Keira, ketika wanita itu bertingkah lucu.

Tanpa sadar kedua ujung bibir Elara terangkat tipis. Ia tersenyum getir. Tentu saja melihat kedua sahabat terbaiknya bahagia, ia turut merasakan itu. Namun masih ada secuil dalam hatinya yang terasa sama. Perih, sangat perih. Walaupun Elara sudah ratusan kali berusaha meyakinkan dirinya, tetapi nama pria itu masih terukir cantik di lubuk hatinya.

“Kau kurang tidur, ya?”

Suara rendah Nathan menyeruak ke dalam pendengaran Elara dan membuatnya sedikit tersentak dari lamunan. “Eh, iya. Eh, apa kau bilang tadi? Maaf, aku agak kurang fokus hari ini,” jawabnya cepat, berusaha menetralkan suaranya supaya terdengar normal.

Tidak langsung menjawab, Nathan justru menunjuk gelas yang sedari tadi Elara pegang sambil terkekeh pelan. “Kau mengaduk minumanmu tanpa henti. Dan matamu ... kantong bawah matamu sebesar bola.”

Tangan Elara sontak menyentuh wajahnya, terutama matanya. Ia sedikit gugup karena itu berarti Nathan memperhatikannya sejak tadi. Ada sedikit rasa bahagia dalam benaknya namun segera ia lupakan karena seharusnya tidak boleh begitu.

“Ah, iya. Benarkah? Kurasa begitu. Pekerjaan kantor akhir-akhir ini sangat banyak.”

Elara menjawab singkat, tatapannya jatuh pada gelas minumnya. Sudah bertahun-tahun lamanya dan ia masih belum bisa menatap lebih dari satu menit pada kedua bola mata cokelat gelap milik Nathan.

Luca dan Keira yang mendengar itu segera menoleh. “Ada masalah apa di perusahaan ayahmu?” tanya Keira cepat hampir tanpa jeda.

Hembusan nafas panjang keluar dari mulut Elara. Ia menatap bergantian ke arah sahabatnya sambil tersenyum tipis, bukan senyum bahagia. Ada masalah cukup serius di perusahaan keluarganya. Selama ini Elara berusaha menutupi itu dari Luca, Keira, dan Nathan. Menurutnya, itu akan membuat mereka semua khawatir.

“Tidak apa-apa,” balas Elara seraya menggeleng pelan.

Langit sore terlihat syahdu di mata Elara. Ia menatap bergantian ketiga sahabatnya yang sedang asyik bercanda sambil sesekali ikut menimpali. Hampir sebelas tahun lamanya dan mereka masih sama. Selalu membuat hari-hari Elara penuh warna.

Mulut Elara mendesis pelan ketika tidak sengaja melihat jam dinding di salah satu dinding kafe. “Sepertinya aku harus pulang sekarang. Ada acara nanti malam,” ujarnya sambil merapikan tas hitam kecilnya.

“Aku akan mengantarmu. Tidak bawa mobil, kan?”

Elara menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh ke arah Luca. Senyumnya sontak mengembang, Luca memang sahabat yang sangat bisa diandalkan. Tanpa banyak berpikir, ia mengangguk cepat.

“Aku dan Keira juga sebentar lagi pulang. Kalian hati-hati di jalan, ya,” sahut Nathan singkat yang mendapat anggukan setuju dari Keira.

Setelah berpamitan singkat, Elara dan Luca beranjak keluar menuju mobil Luca. Perjalanan dari kafe Luca menuju rumahnya memang cukup jauh, sekitar satu jam lebih dengan mobil. Saat berangkat ke kafe tadi, Elara memilih taksi daripada mengendarai mobilnya sendiri karena semalam ia kurang tidur.

“Ada masalah di perusahaan?” tanya Luca ketika mereka sudah di dalam mobil. Elara menoleh sekilas dan kembali memusatkan pandangannya ke jalan. Dalam benaknya ia heran jalanan begitu padat.

“Tidak ada. Tadi aku sudah bilang di kafe,” jawabnya singkat.

“Aku tidak percaya. Kau hanya tidak ingin kami khawatir, kan?”

Kening Elara berkerut, tatapannya memandang Luca penuh takjub. “Kau bukan orang biasa, ya? Diam-diam bisa membaca pikiran orang lain. Katakan padaku sejak kapan kau punya kemampuan luar biasa itu. Aku juga mau belajar.”

Elara dan Luca sejenak saling bertatap mata sebelum tertawa bersama. Di antara mereka semua, Luca memang sering tiba-tiba peka. Walaupun lebih sering peka dalam hal remeh dan menjengkelkan. Namun itulah yang menjadi daya tarik Luca.

“Aku sudah terlahir begini. Kau saja yang tidak tahu.”

Balasan Luca semakin membuat suasana macet jalanan terasa tidak membosankan. Elara selalu tertawa dengan ucapan-ucapan spontan yang sering Luca lontarkan. Ia menjadi salah satu mood booster terbaik dalam pertemanan mereka.

“Hanya sedikit masalah. Tidak ada yang serius,” jawab Elara akhirnya sambil masih tertawa ringan. Ia melihat Luca mengangguk sebagai respon dan tidak bertanya lebih lanjut, membuatnya sedikit lega.

***

“Memangnya kita makan malam dengan siapa? Kenapa harus berdandan rapi?” bisik Elara pada kakaknya, Alexander. Keduanya duduk di kursi belakang mobil. Elara hanya tahu kalau mereka ada makan malam sangat penting yang akan menentukan kelanjutan perusahaan keluarga.

Mom, Dad, kalian belum bilang pada Elara?”

Bukannya menjawab pertanyaan Elara, Alex malah balik bertanya pada kedua orang tuanya yang juga semobil dengan mereka. Hal itu semakin membuat Elara bingung dan merasa ada yang janggal. Tidak biasanya ia merasa tersisihkan seperti ini.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Elara, kali ini pada kedua orang tuanya. Ia menunggu sampai beberapa detik dan tetap tidak ada jawaban. Ada yang tidak beres.

Dad, mom ... kenapa diam saja?” Elara menyentuh pundak Diana Ainsley, ibunya. Berharap akan mendapat jawaban, tapi ternyata tidak. Suasana mendadak menjadi hening. Ayahnya, Richard Ainsley tampak fokus di balik kemudi tanpa mengeluarkan satu kata pun.

Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil mereka memasuki halaman luas sebuah restoran yang sudah familiar bagi Elara. Keluarga mereka sering makan di sini. Keningnya berkerut ketika pandangannya tidak sengaja melihat salah satu mobil yang terparkir di sana. Mobil keluarga Nathan?

“Kita makan malam dengan keluarga Nathan?” tanya Elara, masih berusaha menemukan jawaban dari segala keanehan keluarganya. Ia susah payah mengikuti langkah besar sang ayah.

Dad ....

“Iya, kita makan malam dengan keluarga sahabatmu, Nathan Whitmore,” jawab Richard tanpa menghentikan langkahnya dan tanpa menatap Elara sedikit pun.

Elara yang sudah mendapatkan sedikit jawaban itu merasa cukup puas, walaupun masih banyak hal janggal lain. Sebenarnya keluarganya dan keluarga Ethan memang sudah dekat sejak lama karena pernah menjalin kerja sama bisnis. Yang membuatnya aneh adalah, ibu dan ayahnya yang seakan menutupi sesuatu darinya. Bukankah hal biasa makan bersama keluarga Nathan? Namun kenapa kali ini orang tuanya bahkan kakaknya seolah mempunyai rahasia?

“Nathan!” teriak Elara ketika mereka memasuki ruangan privat dalam restoran yang sepertinya memang sudah dipesan sebelumnya oleh keluarga. Nathan menoleh dan menyambut Elara dengan melambaikan tangan.

Tidak jauh dari posisi Nathan, Elara melihat kedua orang tua Nathan, Edward dan Helena Whitmore sudah berdiri dan siap menyambut mereka. Dengan senang hati Elara menyambut pelukan hangat Helena. “Hello, tante Helena,” ucap Elara di sela pelukan mereka.

“Elara, kau semakin cantik. Beruntung sekali aku mendapatkan calon menantu secantik dirimu, sayang.”

Tubuh Elara menegang. Telinganya tidak salah dengar, bukan? Helena Whitmore berkata Elara adalah menantunya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ketika wanita paruh baya itu melepas pelukannya, ia langsung beralih menatap Nathan dan coba mencari jawaban di kedua mata pria itu. Tidak ada yang aneh dengan sikap dan ekspresi Nathan. Apakah pria itu juga sama seperti dirinya, tidak tahu apa yang sedang terjadi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 7

    “Nathan, kau tidak waras!” ujar Luca penuh penekanan. Setelah berhari-hari Nathan sibuk, akhirnya pria itu bisa bertemu dengannya. Sebenarnya amarah sudah memenuhi benak Luca mengingat tentang perlakuan kasar yang Nathan lakukan pada Elara, tapi sebisa mungkin ia tahan. “Apa maksudmu?” tanya Nathan acuh. Sebelah tangannya mengambil cangkir dari meja dan menyeruputnya pelan. Americano di kafe ini memang yang terbaik, pikirnya. “Elara sahabatmu, dan sekarang dia adalah istrimu.” Luca mengepalkan tangannya karena melihat sikap Nathan yang terlampau tenang. Tidak ada raut bersalah di wajahnya, padahal Luca yakin jika pria itu memahami maksud ucapannya barusan. “Nathan!” “Kenapa kau tiba-tiba marah?!” teriak Nathan tidak kalah keras, membuat seisi manusia di Chapter One Coffee menatap ke arah mereka. Luca mengusap kasar wajahnya, rahangnya mengeras, dan kemarahannya semakin membuncah. “Kita pindah ke ruanganku saja,” perintahnya. Sebelum beranjak dari posisinya, Luca memanggil seor

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 6

    “Kei, jangan pedulikan Elara. Perasaanku tetap sama dan tidak akan pernah berubah.” Nathan memeluk erat Keira. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus kepala sang wanita. Sudah berhari-hari Keira menolak bertemu dengannya. Syukurnya hari ini dan dengan sedikit paksaan, Keira membuka pintu rumahnya untuk Nathan. “Nathan. Kenapa kau tega padaku?! Kenapa Elara tega melakukan ini!” Keira berteriak kencang sampai tubuhnya bergetar hebat. Kedua matanya deras oleh air mata, membuat Nathan tidak sampai hati melihat wanitanya begitu tersakiti. “Kei, babe. Tenanglah … tenang ….” “Bagaimana aku bisa tenang sementara kekasihku menikahi sahabat dekatku sendiri?!” Air mata Keira semakin deras. Wanita itu berteriak kencang dengan bibir bergetar, seolah sedang menumpahkan segala kemarahannya yang sempat tertahan. Penampilan Keira yang selama ini selalu rapi juga terlihat berbeda hari ini, tampak berantakan. Sangat tidak menggambarkan seorang Keira Bennett. “Babe –” “Jangan memanggilku deng

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 5

    “Kau pulang sangat larut hari ini. Sudah makan malam? Aku tadi masak sesuatu, mungkin kau bisa mencobanya,” ujar Elara. Ia mengikuti langkah Nathan yang baru masuk rumah, sebelah tangannya terulur mengambil jas yang baru saja Nathan lempar ke sofa ruang tengah. “Nathan?” panggil Elara lagi setelah cukup lama tidak ada jawaban. Ia masih mengikuti langkah panjang pria itu sampai ke lantai dua. Entah berapa kali ia memanggil nama Nathan, tapi suaminya itu sama sekali tidak menoleh. “Kenapa kau mengikutiku?!” Elara tersentak, tubuhnya mundur selangkah. Bentakan Nathan cukup mengagetkan. Ia baru sadar kalau kini keduanya sudah berdiri di depan pintu hitam besar, kamar Nathan. Sepertinya Elara terlalu fokus mengejar suaminya tanpa memperhatikan sekitar. “Sudah makan malam?” tanya Elara lagi, kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Matanya berkedip lucu sambil menatap Nathan yang jauh lebih tinggi darinya. “El, jangan bersikap seperti seorang istri. Aku benci itu!” L

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 4

    “Aku tidur di kamarku sendiri, kau terserah di mana. Ada banyak kamar di sini.” Elara mengangguk paham dan membiarkan Nathan melangkah menjauh. Pria itu naik ke lantai dua. Ia memandang sekeliling dan bergumam kagum. Ini adalah rumah pribadi Nathan yang sudah pria itu tempati sekitar dua tahun. Sebenarnya Elara pernah berkunjung, tapi hanya sekali. Ia tidak terlalu mengingat detail rumah ini karena waktu itu hanya mampir sebentar untuk menjemput Nathan. “Nyonya, mau kamar di lantai satu atau dua? Semuanya sudah kami rapikan.” Suara seorang pelayan wanita membuat Elara menoleh. “Lantai satu saja. Aku harus memanggilmu siapa?” tanya Elara seraya melempar senyuman manisnya. Sepertinya wanita di hadapannya itu adalah kepala pelayan yang mengurus rumah ini. Umurnya sekitar pertengahan empat puluh, jika Elara tidak salah menduga. “Martha. Anda bisa memanggil saya Martha.” Elara tersenyum lalu mengangguk paham. “Baiklah, Martha. Terima kasih sudah menyambutku. Semoga kita bisa akrab.”

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 3

    “Maafkan mom dan dad ya, sayang.” Elara mendongak dan membalas tatapan sang ibu. Ia tidak merespon dan kembali memandang dirinya lewat cermin di hadapannya. Penampilannya sudah rapi dengan gaun pengantin putih sederhana dan make up tipis di wajahnya. Pernikahan ini bahkan hanya memerlukan waktu kurang dari satu bulan persiapan. “Tidak apa-apa, mom. Aku yang minta maaf karena sempat egois dan menolak perjodohan ini.” “Tidak, sayang. Kau anak yang baik. Justru kami yang bersalah padamu.” Elara terdiam lagi. Ia menatap ibunya, Diana Ainsley lewat pantulan cermin. Sang ibu tampak jelas sedang menahan air matanya. Hal itu membuat Elara memalingkan wajahnya lagi, berusaha tidak menangis. Pernikahan ini adalah demi perusahaan Ainsley. Keputusan Elara sudah benar. “Sayang. Mom benar-benar minta maaf. Jika saja perusahaan baik-baik saja, kita tidak perlu meminta bantuan keluarga Whitmore dan kau –” “Sudahlah, mom. Aku baik-baik saja, sungguh. Jangan khawatir,” potong Elara cepat tanpa me

  • Kekasih Rahasia Suamiku   BAB 2

    “Kau tidak akan menerimanya, kan?”Elara yang mulanya menatap kosong ke arah taman gelap di hadapannya menoleh dan menemukan Nathan berdiri tidak jauh dari posisinya. Ia tersenyum getir, menepuk kursi sebelahnya yang kosong.“Kita bicara sambil duduk,” jawab Elara. Nathan mengangguk pelan kemudian duduk di sebelahnya. Keduanya tidak ada yang membuka obrolan, sejenak menikmati udara sejuk malam ini.Elara memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya sedikit berantakan karena hembusan angin. Udara malam ini tidak terlalu dingin, sangat menenangkan. “Kau juga belum tahu soal perjodohan ini?” tanyanya tanpa menoleh ke arah Nathan.“Aku tidak tahu kalau acara keluarga malam ini adalah makan bersama keluargamu, El,” jawab Nathan singkat sambil terkekeh pelan. Ternyata mereka berdua sama-sama tidak tahu apapun. Mendadak mengadakan makan malam dua keluarga dan mengabarkan jika kedua pihak sudah setuju dengan perjodohan ini. Perjodohan Elara Ainsley dan Nathan Whitmore.Elara juga terkekeh pela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status