LOGIN
“Bisakah kalian menahan diri? Jangan bermesraan di depan kami,” ujar Luca seraya menyeruput americano pertamanya hari ini, setidaknya itu yang dikatakannya.
Elara tertawa keras sambil memegangi perutnya, cukup sakit karena harus meredam paksa tawanya. Sekarang mereka sedang berada di Chapter One Coffee milik Luca. Kepalanya mengangguk keras menyetujui ucapan sahabatnya.
“Itu karena kalian iri. Sebagai sahabat baik, kusarankan kalian cepat mencari kekasih. Bukankah begitu, babe?” Keira mengangkat kedua alisnya sambil menoleh ke samping, seolah meminta persetujuan dari Nathan, kekasihnya.
Elara dan Luca harus berusaha sekuat mungkin menahan tawa sebelum ada pengunjung lain yang terganggu. Elara meraih segelas hot caramel latte dan meneguknya perlahan, sesekali meniup pelan untuk sedikit meredam panasnya. Ekor matanya menangkap Nathan yang hanya tersenyum menanggapi sang kekasih.
“Tapi aku kagum. Kalian sudah bersama sejak masih sekolah dan bertahan sampai sekarang. Kei, tidakkah kau muak dengan sifat Nathan?”
“Apa maksudmu?” potong Nathan cepat, tatapannya menusuk Luca.
Elara tersenyum tipis dan mengangguk lagi. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Luca. Mereka berempat saling mengenal sejak masih sekolah. Dan ya, jika dibandingkan dengan lainnya, sifat Nathan memang terkesan paling dingin.
“Nathan sangat perhatian. Kau tahu itu, Luc,” jawab Keira cepat, sebelah tangannya bergelayut manja pada Nathan. Pemandangan yang membuat tatapan Elara langsung beralih pada hal lain.
Luca dan Keira kembali beradu mulut cukup lama. Elara memilih diam menyimak dan sesekali ikut tertawa, seperti biasanya. Nathan? Sama dengan Elara, pria itu juga hanya diam, lengannya masih bertaut dengan Keira. Sesekali pria itu terlihat mengelus lembut puncak kepala Keira, ketika wanita itu bertingkah lucu.
Tanpa sadar kedua ujung bibir Elara terangkat tipis. Ia tersenyum getir. Tentu saja melihat kedua sahabat terbaiknya bahagia, ia turut merasakan itu. Namun masih ada secuil dalam hatinya yang terasa sama. Perih, sangat perih. Walaupun Elara sudah ratusan kali berusaha meyakinkan dirinya, tetapi nama pria itu masih terukir cantik di lubuk hatinya.
“Kau kurang tidur, ya?”
Suara rendah Nathan menyeruak ke dalam pendengaran Elara dan membuatnya sedikit tersentak dari lamunan. “Eh, iya. Eh, apa kau bilang tadi? Maaf, aku agak kurang fokus hari ini,” jawabnya cepat, berusaha menetralkan suaranya supaya terdengar normal.
Tidak langsung menjawab, Nathan justru menunjuk gelas yang sedari tadi Elara pegang sambil terkekeh pelan. “Kau mengaduk minumanmu tanpa henti. Dan matamu ... kantong bawah matamu sebesar bola.”
Tangan Elara sontak menyentuh wajahnya, terutama matanya. Ia sedikit gugup karena itu berarti Nathan memperhatikannya sejak tadi. Ada sedikit rasa bahagia dalam benaknya namun segera ia lupakan karena seharusnya tidak boleh begitu.
“Ah, iya. Benarkah? Kurasa begitu. Pekerjaan kantor akhir-akhir ini sangat banyak.”
Elara menjawab singkat, tatapannya jatuh pada gelas minumnya. Sudah bertahun-tahun lamanya dan ia masih belum bisa menatap lebih dari satu menit pada kedua bola mata cokelat gelap milik Nathan.
Luca dan Keira yang mendengar itu segera menoleh. “Ada masalah apa di perusahaan ayahmu?” tanya Keira cepat hampir tanpa jeda.
Hembusan nafas panjang keluar dari mulut Elara. Ia menatap bergantian ke arah sahabatnya sambil tersenyum tipis, bukan senyum bahagia. Ada masalah cukup serius di perusahaan keluarganya. Selama ini Elara berusaha menutupi itu dari Luca, Keira, dan Nathan. Menurutnya, itu akan membuat mereka semua khawatir.
“Tidak apa-apa,” balas Elara seraya menggeleng pelan.
Langit sore terlihat syahdu di mata Elara. Ia menatap bergantian ketiga sahabatnya yang sedang asyik bercanda sambil sesekali ikut menimpali. Hampir sebelas tahun lamanya dan mereka masih sama. Selalu membuat hari-hari Elara penuh warna.
Mulut Elara mendesis pelan ketika tidak sengaja melihat jam dinding di salah satu dinding kafe. “Sepertinya aku harus pulang sekarang. Ada acara nanti malam,” ujarnya sambil merapikan tas hitam kecilnya.
“Aku akan mengantarmu. Tidak bawa mobil, kan?”
Elara menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh ke arah Luca. Senyumnya sontak mengembang, Luca memang sahabat yang sangat bisa diandalkan. Tanpa banyak berpikir, ia mengangguk cepat.
“Aku dan Keira juga sebentar lagi pulang. Kalian hati-hati di jalan, ya,” sahut Nathan singkat yang mendapat anggukan setuju dari Keira.Setelah berpamitan singkat, Elara dan Luca beranjak keluar menuju mobil Luca. Perjalanan dari kafe Luca menuju rumahnya memang cukup jauh, sekitar satu jam lebih dengan mobil. Saat berangkat ke kafe tadi, Elara memilih taksi daripada mengendarai mobilnya sendiri karena semalam ia kurang tidur.
“Ada masalah di perusahaan?” tanya Luca ketika mereka sudah di dalam mobil. Elara menoleh sekilas dan kembali memusatkan pandangannya ke jalan. Dalam benaknya ia heran jalanan begitu padat.
“Tidak ada. Tadi aku sudah bilang di kafe,” jawabnya singkat.
“Aku tidak percaya. Kau hanya tidak ingin kami khawatir, kan?”
Kening Elara berkerut, tatapannya memandang Luca penuh takjub. “Kau bukan orang biasa, ya? Diam-diam bisa membaca pikiran orang lain. Katakan padaku sejak kapan kau punya kemampuan luar biasa itu. Aku juga mau belajar.”
Elara dan Luca sejenak saling bertatap mata sebelum tertawa bersama. Di antara mereka semua, Luca memang sering tiba-tiba peka. Walaupun lebih sering peka dalam hal remeh dan menjengkelkan. Namun itulah yang menjadi daya tarik Luca.
“Aku sudah terlahir begini. Kau saja yang tidak tahu.”
Balasan Luca semakin membuat suasana macet jalanan terasa tidak membosankan. Elara selalu tertawa dengan ucapan-ucapan spontan yang sering Luca lontarkan. Ia menjadi salah satu mood booster terbaik dalam pertemanan mereka.
“Hanya sedikit masalah. Tidak ada yang serius,” jawab Elara akhirnya sambil masih tertawa ringan. Ia melihat Luca mengangguk sebagai respon dan tidak bertanya lebih lanjut, membuatnya sedikit lega.
***
“Memangnya kita makan malam dengan siapa? Kenapa harus berdandan rapi?” bisik Elara pada kakaknya, Alexander. Keduanya duduk di kursi belakang mobil. Elara hanya tahu kalau mereka ada makan malam sangat penting yang akan menentukan kelanjutan perusahaan keluarga.
“Mom, Dad, kalian belum bilang pada Elara?”
Bukannya menjawab pertanyaan Elara, Alex malah balik bertanya pada kedua orang tuanya yang juga semobil dengan mereka. Hal itu semakin membuat Elara bingung dan merasa ada yang janggal. Tidak biasanya ia merasa tersisihkan seperti ini.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Elara, kali ini pada kedua orang tuanya. Ia menunggu sampai beberapa detik dan tetap tidak ada jawaban. Ada yang tidak beres.
“Dad, mom ... kenapa diam saja?” Elara menyentuh pundak Diana Ainsley, ibunya. Berharap akan mendapat jawaban, tapi ternyata tidak. Suasana mendadak menjadi hening. Ayahnya, Richard Ainsley tampak fokus di balik kemudi tanpa mengeluarkan satu kata pun.
Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil mereka memasuki halaman luas sebuah restoran yang sudah familiar bagi Elara. Keluarga mereka sering makan di sini. Keningnya berkerut ketika pandangannya tidak sengaja melihat salah satu mobil yang terparkir di sana. Mobil keluarga Nathan?
“Kita makan malam dengan keluarga Nathan?” tanya Elara, masih berusaha menemukan jawaban dari segala keanehan keluarganya. Ia susah payah mengikuti langkah besar sang ayah.
“Dad ....”
“Iya, kita makan malam dengan keluarga sahabatmu, Nathan Whitmore,” jawab Richard tanpa menghentikan langkahnya dan tanpa menatap Elara sedikit pun.
Elara yang sudah mendapatkan sedikit jawaban itu merasa cukup puas, walaupun masih banyak hal janggal lain. Sebenarnya keluarganya dan keluarga Ethan memang sudah dekat sejak lama karena pernah menjalin kerja sama bisnis. Yang membuatnya aneh adalah, ibu dan ayahnya yang seakan menutupi sesuatu darinya. Bukankah hal biasa makan bersama keluarga Nathan? Namun kenapa kali ini orang tuanya bahkan kakaknya seolah mempunyai rahasia?
“Nathan!” teriak Elara ketika mereka memasuki ruangan privat dalam restoran yang sepertinya memang sudah dipesan sebelumnya oleh keluarga. Nathan menoleh dan menyambut Elara dengan melambaikan tangan.
Tidak jauh dari posisi Nathan, Elara melihat kedua orang tua Nathan, Edward dan Helena Whitmore sudah berdiri dan siap menyambut mereka. Dengan senang hati Elara menyambut pelukan hangat Helena. “Hello, tante Helena,” ucap Elara di sela pelukan mereka.
“Elara, kau semakin cantik. Beruntung sekali aku mendapatkan calon menantu secantik dirimu, sayang.”
Tubuh Elara menegang. Telinganya tidak salah dengar, bukan? Helena Whitmore berkata Elara adalah menantunya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ketika wanita paruh baya itu melepas pelukannya, ia langsung beralih menatap Nathan dan coba mencari jawaban di kedua mata pria itu. Tidak ada yang aneh dengan sikap dan ekspresi Nathan. Apakah pria itu juga sama seperti dirinya, tidak tahu apa yang sedang terjadi?
Elara memutar pena di jarinya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tahu seberapa besar masalah yang dihadapi perusahaan Whitmore, Nathan pasti kewalahan. Sudah seminggu Nathan tidak membalas pesannya yang sekedar bertanya kabar. “Kau memikirkan Nathan?” Suara Luca membuat Elara tersentak. Matanya kembali pada dokumen berserakan di meja dan Luca yang duduk berseberangan dengannya. Tersadar jika ia sedang diskusi tentang rencana kerja sama dengan Winslow Group. “Maaf,” jawab Elara penuh rasa bersalah. Sangat tidak profesional ia memikirkan urusan pribadi di saat Aster sedang butuh dirinya. Apalagi sekarang Elara hanya berdua dengan Luca, hubungan mereka masih belum baik-baik saja. “Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena beberapa hari belakangan bersikap kasar padamu.” Elara sontak menggeleng. “Tidak, tidak. Itu semua bukan salahmu, memang aku sendiri penyebabnya.” Luca tidak langsung menjawab, ia menaruh dokumen yang sedari tadi ada di pangkuannya ke meja lalu menatap Elara. “
Bel pintu bunyi hampir bersamaan dengan ponsel Elara yang juga bergetar di dalam saku. Nathan tampak berusaha menormalkan napasnya, sedangkan Elara langsung memeriksa ponselnya. Ada pesan anonim lagi dari nomor biasanya. [Kau baik-baik saja di dalam kamar? Nathan tidak kurang ajar padamu, kan?] Isi pesan itu membuat kening Elara berkerut. Siapa sebenarnya orang dibalik pesan ini sampai tahu detail keberadaan Elara? “Sophia. Ada apa?” Elara menutup ponselnya, menoleh ke arah Nathan yang sudah membuka pintu. “Maaf mengganggu, Tuan. Ada sesuatu terjadi di kantor Whitmore dan cukup mendesak,” jawab Sophia sambil menyerahkan tablet ke Nathan. Elara mendekat, sedikit mengintip karena penasaran. “Ada masalah?” bisik Elara. Tidak lupa ia juga menyapa Sophia yang sudah dikenalnya sejak lama. Wanita itu juga tersenyum ramah padanya. Nathan menggeleng, mengembalikan tablet Sophia, lalu menoleh ke Elara lagi sambil tersenyum tenang. “Tidak ada. Hanya masalah kecil,” jawabnya. Nathan Whit
Elara mengikuti Nathan duduk di salah satu sofa lobi hotel. Panas matahari sangat terik dan membuat kepalanya pening, menunggu di dalam memang keputusan terbaik. Lagi pula ia juga tidak tahu berapa lama orang bengkel itu akan datang. “Sial!” Elara menoleh dan menemukan Nathan mengusap kasar wajahnya. “Kenapa. Nath?” “Aku mau menunjukkan sesuatu padamu, tapi ketinggalan di kamar.” Elara mengerjap. “Kamarmu?” Nathan berdehem sekilas, kepalanya terangkat menatap Elara. “Kau keberatan naik ke kamar dulu?” Diam sebentar, Elara mengamati raut Nathan yang tampak menyesal. “Boleh,” jawabnya kemudian sambil mengangguk. Setelah itu Elara langsung beranjak mengikuti langkah Nathan memasuki lift. Akal sehatnya mulai bisa berpikir jernih. Kenapa ia harus ikut naik, padahal bisa tetap menunggu di lobi, kan? Elara mengumpat dalam hati, tidak bisa protes karena ikut ke kamar Nathan adalah keputusannya sendiri.“Silahkan masuk.”Elara tersadar saat Nathan membuka lebar pintu di depannya. “Teri
“Ayolah, Lex ….” Elara bergelayut manja di lengan sang kakak. “Kau diskusikan dengan Luca dulu. Nanti aku pulang sekitar jam delapan,” jawab Alex, fokusnya masih di ponsel karena ada sedikit masalah di warehouse Aster. Elara mendengus, tapi tidak membantah dan tetap membiarkan Alexander pergi. Sebenarnya ia hendak diskusi tentang konsep Aster yang akan mereka pakai untuk kerja sama hotel Winslow bersama Alex dan Luca. Sudah hampir satu minggu hubungan Elara dan Luca belum membaik. Mereka hanya bertemu di waktu-waktu tertentu, yaitu saat membicarakan pekerjaan saja. Sisanya, Elara hampir tidak pernah berpapasan dengan sang kekasih, bahkan di kantor sekali pun. Sekarang Elara perlu mendiskusikan ide konsepnya bersama Luca dan Alex. Menurutnya, semakin cepat maka semakin baik. Ia tidak ingin membuang banyak waktu sebelum menghadap pihak Winslow Group. Elara melirik jam dinding, sebentar lagi Luca pasti datang. Ia memilih untuk menyandarkan tubuh di sofa ruang tengah sembari bermain
“Jadi, Victor Winslow sendiri yang menawarkan kerja sama ini?” Alex bertanya sambil menyeruput kopi panasnya di sofa empuk ruang kerja Elara. Elara memang sengaja menyuruh Alex mampir ke kantor Aster sebelum ke warehouse. Pria itu sempat menggerutu kecil karena ini masih terlalu pagi untuk mulai bekerja. Elara mengangguk. “Betul. Tuan Victor sedang mencari mitra yang cocok untuk mengelola kedai kopi di hotelnya,” jawabnya sambil menyerahkan beberapa dokumen tentang pengembangan hotel Winslow Group pada sang kakak. “Winslow Group bukan perusahaan kecil,” ujar Alex, membaca dokumen tersebut sambil mengangguk kecil. “Kalau mereka tertarik dengan Aster, itu akan menjadi kesempatan besar bagi kita setelah kerja sama dengan Bellmont Grand Hotel kemarin.” Sesuai perkiraan Elara sebelumnya, Alex pasti juga antusias dengan rencana kerja sama ini. Setelah ia telusuri, hotel ini memang tidak sebesar properti Winslow yang lain. Namun konsepnya menarik dan mereka ingin memiliki kedai kopi deng
“Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?” Luca berdiri di sebelah Elara. Keduanya bersama mengantar Vanessa Winslow sampai masuk mobil dan pergi. Elara menoleh, keningnya sedikit berkerut. “Tentang apa?” “Nessa.” “Bukankah tadi dia sudah menjelaskan semuanya? Dia tertarik padamu, tapi karena sudah tahu tentang hubungan kita, dia berjanji tidak akan mengganggu.” Luca mengusap kasar wajahnya, membuat Elara merasa semakin heran. “Iya, iya. Aku tahu. Nessa menjelaskan semuanya, tapi ada satu yang membuatku bingung.” Luca berhenti sejenak. “Kenapa kau begitu santai menghadapi Nessa?” Napas Elara terdengar panjang. Ia berbalik, melangkah memasuki Aster dengan Luca yang mengikuti dari belakang. “Lalu maksudmu aku harus bagaimana? Mengusir Vanessa dari kantorku, begitu?” tanya Elara. Ting. Pintu lift terbuka dan keduanya masuk, kebetulan tidak ada orang lain di dalam sana. Luca maju satu langkah dan berbalik menghadap Elara. “Bukan itu maksudku, El.” Elara merasakan kedua bahuny







