LOGIN“Kau tidak akan menerimanya, kan?”
Elara yang mulanya menatap kosong ke arah taman gelap di hadapannya menoleh dan menemukan Nathan berdiri tidak jauh dari posisinya. Ia tersenyum getir, menepuk kursi sebelahnya yang kosong.
“Kita bicara sambil duduk,” jawab Elara. Nathan mengangguk pelan kemudian duduk di sebelahnya. Keduanya tidak ada yang membuka obrolan, sejenak menikmati udara sejuk malam ini.
Elara memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya sedikit berantakan karena hembusan angin. Udara malam ini tidak terlalu dingin, sangat menenangkan. “Kau juga belum tahu soal perjodohan ini?” tanyanya tanpa menoleh ke arah Nathan.
“Aku tidak tahu kalau acara keluarga malam ini adalah makan bersama keluargamu, El,” jawab Nathan singkat sambil terkekeh pelan. Ternyata mereka berdua sama-sama tidak tahu apapun. Mendadak mengadakan makan malam dua keluarga dan mengabarkan jika kedua pihak sudah setuju dengan perjodohan ini. Perjodohan Elara Ainsley dan Nathan Whitmore.
Elara juga terkekeh pelan. “Apakah kita sedang dijebak?” candanya, berusaha untuk sedikit mencairkan suasana. Entah mengapa tiba-tiba mereka menjadi canggung satu sama lain. Mungkin karena kabar perjodohan yang mendadak.
“Menurutmu orang tua kita benar-benar ingin kita menikah?” Elara bertanya lagi, kali ini lebih serius. Walaupun tadi ia sempat bercanda sedikit, tapi jauh dalam benaknya, Elara merasa orang tua mereka tidak sedang main-main. Untuk apa? Kenapa tiba-tiba ada perjodohan konyol ini?
Suasana hening sejenak. Elara menoleh, kening Nathan tampak berkerut. Sepertinya pria itu juga sedang berpikir tentang banyak hal. “Kau juga memikirkan alasannya?” tanyanya.
“Tapi kau akan menolaknya, kan?”
Jawaban sekaligus pertanyaan Nathan membuat Elara makin bingung. Bukankah itu sudah pasti? Jika memang perjodohan ini serius, tentu saja ia akan menolak. “Tentu saja,” jawabanya tegas, kepalanya mengangguk mantap.
“Baguslah kalau begitu, karena aku tidak bisa membantah perintah ayah.”
Elara menangkap suara lemah dalam jawab Nathan. Ia tidak bertanya lagi karena tau alasannya, kenapa Nathan tidak bisa membantah sang ayah. Nathan dan ayahnya, Edward Whitmore tidak pernah benar-benar dekat sejak kecil. Pria paruh baya yang memiliki wajah mirip dengan Nathan itu kerap berlaku kasar, seringnya hanya karena alasan remeh yang Nathan lakukan.
“Sebaiknya kita jangan membicarakan tentang ini di depan yang lain. Aku tidak ingin Keira salah paham,” lanjut Nathan singkat. Nafasnya terdengar teratur. Sepertinya dia sudah tenang dari rasa terkejutnya.
“Tentu saja. Lagipula perjodohan ini juga tidak akan terjadi.” Elara menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. Kepalanya mengangguk pelan, pandangannya menerawang ke depan. Mereka sedang duduk di taman belakang restoran, sejenak meninggalkan keluarga yang masih sibuk menyantap makan malam di dalam.
“Sangat klise, bukan? Dua keluarga yang sudah lama saling mengenal tiba-tiba menjodohkan anak mereka. Bukankah itu terdengar seperti cerita di film?”
Elara tertawa mendengar ucapan Nathan. Memang benar, terdengar klise. Dalam benaknya ada rasa penasaran yang membuncah. Selama ini orang tuanya paham tentang hubungannya dengan Nathan, begitu pula tentang Nathan dan Keira. Orang tuanya dekat dengan semua sahabatnya. Lalu untuk apa perjodohan ini? Sedikit janggal.
“Aku akan bicara dengan mom dan dad untuk membatalkan perjodohan kita. Jangan khawatir, Nathan.”
“Terima kasih, El.”
***
“Sayang, perjodohan ini harus terjadi.”
Elara membelalakkan kedua matanya. Ia bergantian menatap ayah dan ibunya dengan tampang tidak percaya. “Memangnya kenapa? Mom dan dad tahu kalau Nathan dan Keira sepasang kekasih, kan?”
Kedua orang tuanya mengangguk, membuat Elara sedikit lega. Namun kelegaan itu tidak bertahan lama setelah sang ayah dengan tegas menolak permintaan Elara. Suara ayahnya sedikit meninggi, membuat Elara terperanjat.
“Dad, kenapa aku harus menerima perjodohan ini? Aku dan Nathan adalah sahabat dekat dan aku tidak mungkin menghancurkan hubungannya dengan Keira.”
“Dad tidak mau tahu. Kalian berdua akan menikah dalam waktu dekat!”
“Dad, aku sudah bilang tidak mau!” Elara berucap dengan tegas.
“Kalian akan menikah dalam waktu dekat.”
Tubuh Elara bereaksi, ia berdiri dan menatap tajam sang ayah. Untuk pertama kalinya ia merasa semarah ini. “Tidak! Kenapa dad memaksaku?!” ujarnya penuh amarah. Matanya mulai berkaca-kaca.
Richard Ainsley tidak langsung menjawab, ia menghela nafasnya panjang. “Jangan banyak bertanya. Perintah dad yang satu ini tidak bisa dibantah!” jawabnya tegas, suaranya meninggi dan membuat Elara hampir meneteskan air matanya.
“Dad … tapi –”
Ucapan Elara terhenti karena sang ayah beranjak dari duduknya dan langsung melangkah pergi tanpa mempedulikan dirinya yang pipinya kini sudah basah oleh buliran bening. Mulutnya bergetar dan tubuhnya lemas. Ia terduduk lagi di sofa dengan tangan memukul pelan dadanya. Tidak habis pikir dengan semua ini.
“Sayang, dad tidak bermaksud untuk marah,” lirih sang ibu, Diana Ainsley. Tangis Elara semakin keras ketika Diana membawanya dalam pelukan. Dari ekor matanya, ia dapat melihat kakaknya, Alex berdiri tidak jauh dari sana. Pria itu tampak bimbang sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik dinding.
Perlahan Elara berusaha menetralkan rasa amarah campur bingung yang melandanya. Ia melepas pelukan dan membalas tatapan Diana. Ternyata sang ibu juga menangis seperti dirinya. “Mom jangan menangis ikut menangis,” tuturnya. Kedua tangannya mengusap pelan pipi Diana Ainsley sebelum pamit untuk pergi ke kamar.
Elara melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Namun, pandangannya jatuh pada pintu kamar kakaknya yang tertutup rapat. Alex sejak tadi tidak mengatakan apapun, bahkan tidak berkomentar tentang perjodohan konyol ini. Pria itu pasti tahu sesuatu.
“Alex? Bisa buka pintunya? Aku ingin bicara,” teriaknya sambil mengetuk pintu kamar sang kakak. Tidak ada jawaban apapun. Elara mengetuknya lagi dan tetap sama, tidak ada respon. Kedua bola matanya berputar kesal.
“Alex! Buka pintunya atau aku akan teriak! Aku tahu kau belum tidur,” papar Elara, setiap katanya penuh penekanan. Barulah setelah itu terdengar bunyi kunci pintu dibuka dan muncullah Alex dari baliknya.
“Kenapa?” tanya Alex malas, namun rautnya terlihat was-was.
“Minggir, aku mau masuk.”
Tanpa menunggu jawaban Alex, Elara menyerobot masuk begitu saja dan duduk di sofa kecil samping ranjang. Ia memicingkan matanya curiga. “Kau tahu sesuatu, kan? Cepat bilang!” desaknya tanpa basa-basi.
Alex mengusap kasar wajahnya dan duduk di sisi ranjangnya, berhadapan dengan Elara. “Apa yang kau maksud?” tanyanya datar, tatapannya sama sekali tidak ke arah Elara.
“Jangan bohong! Kalau kau tidak bilang, aku akan membocorkan pada kekasihmu kalau kemarin kau ke club sampai dini hari!”
Ancaman Elara terbukti ampuh. Sang kakak membulatkan kedua matanya dan langsung memohon, membuat Elara tersenyum miring. Ancaman seperti ini selalu berhasil membuat Alex ketakutan.
“Apa yang ingin kau tau?” tanya Alex akhirnya menyerah.
“Kenapa dad memaksaku menerima perjodohan ini?”
Elara memutar pena di jarinya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tahu seberapa besar masalah yang dihadapi perusahaan Whitmore, Nathan pasti kewalahan. Sudah seminggu Nathan tidak membalas pesannya yang sekedar bertanya kabar. “Kau memikirkan Nathan?” Suara Luca membuat Elara tersentak. Matanya kembali pada dokumen berserakan di meja dan Luca yang duduk berseberangan dengannya. Tersadar jika ia sedang diskusi tentang rencana kerja sama dengan Winslow Group. “Maaf,” jawab Elara penuh rasa bersalah. Sangat tidak profesional ia memikirkan urusan pribadi di saat Aster sedang butuh dirinya. Apalagi sekarang Elara hanya berdua dengan Luca, hubungan mereka masih belum baik-baik saja. “Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena beberapa hari belakangan bersikap kasar padamu.” Elara sontak menggeleng. “Tidak, tidak. Itu semua bukan salahmu, memang aku sendiri penyebabnya.” Luca tidak langsung menjawab, ia menaruh dokumen yang sedari tadi ada di pangkuannya ke meja lalu menatap Elara. “
Bel pintu bunyi hampir bersamaan dengan ponsel Elara yang juga bergetar di dalam saku. Nathan tampak berusaha menormalkan napasnya, sedangkan Elara langsung memeriksa ponselnya. Ada pesan anonim lagi dari nomor biasanya. [Kau baik-baik saja di dalam kamar? Nathan tidak kurang ajar padamu, kan?] Isi pesan itu membuat kening Elara berkerut. Siapa sebenarnya orang dibalik pesan ini sampai tahu detail keberadaan Elara? “Sophia. Ada apa?” Elara menutup ponselnya, menoleh ke arah Nathan yang sudah membuka pintu. “Maaf mengganggu, Tuan. Ada sesuatu terjadi di kantor Whitmore dan cukup mendesak,” jawab Sophia sambil menyerahkan tablet ke Nathan. Elara mendekat, sedikit mengintip karena penasaran. “Ada masalah?” bisik Elara. Tidak lupa ia juga menyapa Sophia yang sudah dikenalnya sejak lama. Wanita itu juga tersenyum ramah padanya. Nathan menggeleng, mengembalikan tablet Sophia, lalu menoleh ke Elara lagi sambil tersenyum tenang. “Tidak ada. Hanya masalah kecil,” jawabnya. Nathan Whit
Elara mengikuti Nathan duduk di salah satu sofa lobi hotel. Panas matahari sangat terik dan membuat kepalanya pening, menunggu di dalam memang keputusan terbaik. Lagi pula ia juga tidak tahu berapa lama orang bengkel itu akan datang. “Sial!” Elara menoleh dan menemukan Nathan mengusap kasar wajahnya. “Kenapa. Nath?” “Aku mau menunjukkan sesuatu padamu, tapi ketinggalan di kamar.” Elara mengerjap. “Kamarmu?” Nathan berdehem sekilas, kepalanya terangkat menatap Elara. “Kau keberatan naik ke kamar dulu?” Diam sebentar, Elara mengamati raut Nathan yang tampak menyesal. “Boleh,” jawabnya kemudian sambil mengangguk. Setelah itu Elara langsung beranjak mengikuti langkah Nathan memasuki lift. Akal sehatnya mulai bisa berpikir jernih. Kenapa ia harus ikut naik, padahal bisa tetap menunggu di lobi, kan? Elara mengumpat dalam hati, tidak bisa protes karena ikut ke kamar Nathan adalah keputusannya sendiri.“Silahkan masuk.”Elara tersadar saat Nathan membuka lebar pintu di depannya. “Teri
“Ayolah, Lex ….” Elara bergelayut manja di lengan sang kakak. “Kau diskusikan dengan Luca dulu. Nanti aku pulang sekitar jam delapan,” jawab Alex, fokusnya masih di ponsel karena ada sedikit masalah di warehouse Aster. Elara mendengus, tapi tidak membantah dan tetap membiarkan Alexander pergi. Sebenarnya ia hendak diskusi tentang konsep Aster yang akan mereka pakai untuk kerja sama hotel Winslow bersama Alex dan Luca. Sudah hampir satu minggu hubungan Elara dan Luca belum membaik. Mereka hanya bertemu di waktu-waktu tertentu, yaitu saat membicarakan pekerjaan saja. Sisanya, Elara hampir tidak pernah berpapasan dengan sang kekasih, bahkan di kantor sekali pun. Sekarang Elara perlu mendiskusikan ide konsepnya bersama Luca dan Alex. Menurutnya, semakin cepat maka semakin baik. Ia tidak ingin membuang banyak waktu sebelum menghadap pihak Winslow Group. Elara melirik jam dinding, sebentar lagi Luca pasti datang. Ia memilih untuk menyandarkan tubuh di sofa ruang tengah sembari bermain
“Jadi, Victor Winslow sendiri yang menawarkan kerja sama ini?” Alex bertanya sambil menyeruput kopi panasnya di sofa empuk ruang kerja Elara. Elara memang sengaja menyuruh Alex mampir ke kantor Aster sebelum ke warehouse. Pria itu sempat menggerutu kecil karena ini masih terlalu pagi untuk mulai bekerja. Elara mengangguk. “Betul. Tuan Victor sedang mencari mitra yang cocok untuk mengelola kedai kopi di hotelnya,” jawabnya sambil menyerahkan beberapa dokumen tentang pengembangan hotel Winslow Group pada sang kakak. “Winslow Group bukan perusahaan kecil,” ujar Alex, membaca dokumen tersebut sambil mengangguk kecil. “Kalau mereka tertarik dengan Aster, itu akan menjadi kesempatan besar bagi kita setelah kerja sama dengan Bellmont Grand Hotel kemarin.” Sesuai perkiraan Elara sebelumnya, Alex pasti juga antusias dengan rencana kerja sama ini. Setelah ia telusuri, hotel ini memang tidak sebesar properti Winslow yang lain. Namun konsepnya menarik dan mereka ingin memiliki kedai kopi deng
“Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?” Luca berdiri di sebelah Elara. Keduanya bersama mengantar Vanessa Winslow sampai masuk mobil dan pergi. Elara menoleh, keningnya sedikit berkerut. “Tentang apa?” “Nessa.” “Bukankah tadi dia sudah menjelaskan semuanya? Dia tertarik padamu, tapi karena sudah tahu tentang hubungan kita, dia berjanji tidak akan mengganggu.” Luca mengusap kasar wajahnya, membuat Elara merasa semakin heran. “Iya, iya. Aku tahu. Nessa menjelaskan semuanya, tapi ada satu yang membuatku bingung.” Luca berhenti sejenak. “Kenapa kau begitu santai menghadapi Nessa?” Napas Elara terdengar panjang. Ia berbalik, melangkah memasuki Aster dengan Luca yang mengikuti dari belakang. “Lalu maksudmu aku harus bagaimana? Mengusir Vanessa dari kantorku, begitu?” tanya Elara. Ting. Pintu lift terbuka dan keduanya masuk, kebetulan tidak ada orang lain di dalam sana. Luca maju satu langkah dan berbalik menghadap Elara. “Bukan itu maksudku, El.” Elara merasakan kedua bahuny







