Gue menatap tumpukan uang itu selama tiga detik penuh.Lalu, dengan gerakan yang jauh lebih tenang dari yang gue kira bisa gue lakukan, gue mulai memasukkan kembali setiap ikatan uang itu ke dalam amplop cokelatnya, satu per satu, rapi seperti sedang menghitung kas OSIS."Nar, apa yang—" Elang menatap gue bingung."Gue lagi mikir," potong gue singkat, tangan gue masih sibuk merapikan amplop itu sampai penuh lagi.Ibu menatap gue dari kursi rotannya, matanya masih basah, tapi sekarang dipenuhi kebingungan. "Nara, sayang... itu—""Bu." Gue berhenti sebentar, menghela napas panjang, lalu berjongkok di depan Ibu, menggenggam kedua tangannya yang masih dingin. "Ibu inget nggak, dulu waktu Bapak pergi, Ibu bilang ke Nara, 'Kita boleh miskin, tapi kita nggak boleh jadi murahan'?"Ibu terdiam. Bibirnya bergetar."Kalau Nara terima uang ini," lanjut gue, suara gue mulai bergetar juga, tapi gue paksa tetap stabil, "artinya Nara ngizinin orang lain mikir kalau perasaan Nara bisa dibayar pakai tr
Dernière mise à jour : 2026-09-24 Read More