Pukul lima pagi, alarm ponsel gue berteriak nyaring.Gue mengucek mata, berjalan gontai keluar kamar menuju dapur. Namun, langkah gue terhenti di ruang tengah. Di atas sofa butut gue, sosok raksasa bernama Elang Mahendra masih tertidur pulas. Selimut fleece kuning bermotif bunga matahari itu melilit tubuhnya, sangat kontras dengan wajah garangnya yang kini terlihat begitu polos saat tidur.Gue berdeham keras, lalu menendang pelan kaki sofa. "Bangun, Biang Kerok. Ayam aja udah nyari makan."Elang mengerang pelan, menarik selimut kuning itu hingga menutupi wajahnya. "Lima menit lagi, Bi Inah...""Gue Nara, bukan Bi Inah! Bangun atau gue siram pakai air cucian beras!" ancam gue sambil menarik paksa selimut PAUD tersebut.Elang akhirnya terduduk dengan rambut berantakan yang mencuat ke segala arah. Dia mengerjap menyesuaikan cahaya, menatap sekeliling ruang tamu gue yang sempit, lalu menghela napas panjang. Realita bahwa dia resmi menjadi gembel elit sepertinya baru saja menghantamnya lag
Dernière mise à jour : 2026-09-20 Read More