홈 / Young Adult / Aturan Nomor Satu: Dilarang Jatuh Cinta! / Bab 44: Undangan Wawancara yang Terlalu Rapi

공유

Bab 44: Undangan Wawancara yang Terlalu Rapi

작가: Laygraph
last update 게시일: 2026-09-28 21:27:58

"Jangan diklik," kata gue, dan itu keluar lebih cepat dari yang gue rencanain. "Apa pun yang ada di email itu, jangan disentuh dulu."

Jempol Elang berhenti tepat di atas layar. Dia menatap gue, alisnya naik separuh. "Gue hacker, Nar. Gue tau aturan dasar soal link mencurigakan."

"Lo juga tau aturan dasar soal jangan nyium bau amis, tapi tetep nyemplung ke got tiap kali ada tantangan," balas gue. Telapak tangan gue lembap, jadi gue lap diam-diam ke rok abu-abu sebelum ada yang sempat nyadar. "Ca
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Aturan Nomor Satu: Dilarang Jatuh Cinta!   Bab 59: Aset Tanpa Liabilitas

    Tiga minggu setelah GOR Harian Surabaya jadi trending topic nasional karena skandal Hendra Setyawan, lorong SMA Nusantara akhirnya balik normal—meski "normal" versi sekarang jauh beda dari yang gue kenal dulu.Lobi sekolah dipenuhi lemari kaca baru berisi tiga piala kemenangan turnamen basket, mengkilap kena sorot lampu, dengan foto tim berjejer di sampingnya—termasuk satu foto besar Elang lagi ngelempar bola dengan ekspresi setengah gila yang entah kenapa dijadiin foto utama humas sekolah.Gue jalan santai ngelewatin lorong itu pagi ini, tanpa ngecek notifikasi WhatsApp dari Bang Jali, tanpa jantung deg-degan tiap kali ada nomor nggak dikenal nelepon. Bahkan buku catatan kecil gue—yang dulu isinya cuma daftar utang dan proyeksi cicilan—sekarang halamannya lebih banyak kosong daripada penuh.Neraca keuangan keluarga gue, buat pertama kalinya seumur hidup gue, seimbang.Begitu kasus Hendra masuk penyidikan resmi, seluruh klaim utang dari "Cakrawala Finansial" otomatis dibekukan pengadi

  • Aturan Nomor Satu: Dilarang Jatuh Cinta!   Bab 58: Bukan Pacar Pura-Pura

    Kekacauan di GOR Harian Surabaya berlangsung selama yang terasa seperti berjam-jam, padahal jam digital di sudut layar konsol gue cuma nunjukin tiga menit lewat empat puluh detik.Hendra Setyawan berusaha kabur lewat pintu darurat tribun VIP, tapi baru tiga langkah, dua orang berjas hitam—bukan orang suruhannya, tapi anak buah Baskoro sendiri—udah mengapit kedua lengannya dari kiri-kanan. Di belakang mereka, empat polisi berseragam lengkap muncul dari pintu masuk utama, radio di pinggang mereka masih berdengung."Gibran," gue bergumam sendiri, ngerti sekarang kenapa tadi dia nanya soal enkripsi, bukan cuma buat jaga-jaga. Dia udah nyiapin ini semua sejak semalam.Baskoro berdiri dari kursinya dengan tenang—terlalu tenang buat orang yang baru aja tahu tangan kanannya sendiri jadi dalang di balik penderitaan anaknya selama berbulan-bulan. Dia melangkah mendekati Hendra yang udah dikepung, suaranya rendah tapi cukup keras buat mikrofon wartawan lokal yang udah menyerbu ikut menangkapnya.

  • Aturan Nomor Satu: Dilarang Jatuh Cinta!   Bab 57: Titik Buta

    Gedung GOR Harian Surabaya bergetar. Bukan metafora—gue bisa ngerasain lantai bilik kontrol ikut berdenyut tiap kali ribuan penonton serempak menghentakkan kaki dan berteriak nama sekolah masing-masing. Kuarter pertama baru aja selesai dengan skor 22-20 buat lawan, dan gue duduk di kursi plastik sempit ini dengan laptop Elang menyala di pangkuan, jari gemetar di atas trackpad, mata gue nggak lepas dari jam digital di sudut layar.Lewat kaca bilik kontrol yang buram, gue bisa liat Elang di lapangan. Dia main kayak orang kesurupan.Setiap rebound direbut kasar. Setiap tembakan tiga angka dilepas dengan rahang mengeras, seolah tiap bola yang masuk ring adalah cara dia muntahin semua amarah yang udah dia tahan sejak Bab 26—sejak amplop 75 juta, sejak ancaman London, sejak Arya diikat di gudang, sejak nama "Hendra Setyawan" muncul di layar laptop semalam. Kuarter kedua baru jalan tiga menit dan dia udah nyumbang sepuluh poin sendirian."Nara." Suara di earpiece bikin gue kaget. Suara Gibran

  • Aturan Nomor Satu: Dilarang Jatuh Cinta!   Bab 56: Peluit Pertama

    "Jadi gini," Gibran menyandarkan diri di meja kerjanya, menatap kami berdua dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah serius—jauh dari gaya santainya yang biasa, "gue udah cek denah GOR Harian Surabaya. Bilik kontrol audio dan layar LED-nya ada di lantai dua, deket area VIP. Aksesnya dijaga, tapi—""Tapi gue Bendahara OSIS yang ngurusin logistik acara," gue motong, menyeruput air mineral yang tadi disodorin Gibran, "yang berarti gue punya lanyard akses ke semua area teknis, termasuk bilik kontrol. Nggak ada yang bakal curiga liat gue bolak-balik bawa tas ransel isi kabel."Elang mengangguk, jarinya masih sibuk ngetik di laptopnya sendiri, layar penuh baris kode yang udah dia susun ulang sejak semalam. "Gue bikin skrip otomatis. Timer-nya gue set pas di menit terakhir jeda half-time, pas kamera media biasanya ngarah ke tribun VIP buat nyorot sponsor. Begitu layar LED utama nyala, dokumen kepemilikan PT Cakrawala bakal muncul, lengkap sama nama Hendra Setyawan.""Dan lo tinggal masukin fla

  • Aturan Nomor Satu: Dilarang Jatuh Cinta!   Bab 55: Algoritma Pengkhianatan

    "Bicara, ELANG!" Suara Baskoro udah kedengeran bahkan sebelum ponsel itu nyampe ke kuping Elang, keras banget sampai gue yang berdiri di sebelahnya juga bisa denger tiap kata. "Bapak bilang jam satu! Sekarang jam berapa? Kamu pikir bapak main-main?!"Elang menghela napas, tapi suaranya tetap tenang—terlalu tenang, kontras banget sama teriakan di seberang sana. "Arya aman, Pak. Dia lagi diperiksa dokter sekarang.""Saya nggak mau dengar 'aman' dari mulut kamu! Saya mau dengar sendiri dari mulut dia, atau saya kirim seluruh tim keamanan saya ke titik terakhir GPS kamu!"Gue dan Elang saling pandang sekilas. Nggak ada pilihan lain. Kami bergegas masuk ke ruang tengah, di mana Arya udah terbaring dengan perban di lengan dan kompres di kepala, dokter Gibran baru aja selesai memeriksa denyut nadinya.Elang menyodorkan ponsel. "Bang Arya, tolong—""Pak Baskoro," suara Arya lemah tapi jelas, "saya baik-baik saja. Bocah-bocah ini yang menyelamatkan saya. Tolong jangan..." dia berhenti sejenak

  • Aturan Nomor Satu: Dilarang Jatuh Cinta!   Bab 54: Senjata yang Nggak Kelihatan

    Apartemen Gibran ternyata bukan apartemen biasa. Begitu pintu lift terbuka langsung ke unit penthouse-nya—tanpa lorong, tanpa tetangga, privat total—gue langsung ngerti kenapa dia bilang tempat ini "nggak gampang dilacak". Interiornya minimalis, dominan abu-abu dan kayu gelap, kaca jendela sebesar dinding yang menampilkan pemandangan kota Surabaya dari ketinggian, sepi banget sampai suara langkah kami sendiri kedengaran jelas menggema."Dokter gue lagi ke sini," kata Gibran, ponsel masih nempel di telinga sambil menuntun Arya ke sofa panjang. "Dokter pribadi keluarga, bukan yang bakal lapor polisi atau nanya macem-macem. Sepuluh menit lagi sampai."Arya merebahkan diri, mengerang pelan begitu punggungnya menyentuh bantalan sofa yang empuk. "Makasih, Dik Gibran. Saya... saya nggak tau harus balas budi ini gimana.""Nggak usah dipikirin sekarang. Istirahat aja dulu." Gibran menepuk bahu Arya sekilas, lalu berbalik ke arah gue dengan senyum yang tiba-tiba berubah jadi ramah sempurna—kont

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status