로그인Tiga minggu setelah GOR Harian Surabaya jadi trending topic nasional karena skandal Hendra Setyawan, lorong SMA Nusantara akhirnya balik normal—meski "normal" versi sekarang jauh beda dari yang gue kenal dulu.Lobi sekolah dipenuhi lemari kaca baru berisi tiga piala kemenangan turnamen basket, mengkilap kena sorot lampu, dengan foto tim berjejer di sampingnya—termasuk satu foto besar Elang lagi ngelempar bola dengan ekspresi setengah gila yang entah kenapa dijadiin foto utama humas sekolah.Gue jalan santai ngelewatin lorong itu pagi ini, tanpa ngecek notifikasi WhatsApp dari Bang Jali, tanpa jantung deg-degan tiap kali ada nomor nggak dikenal nelepon. Bahkan buku catatan kecil gue—yang dulu isinya cuma daftar utang dan proyeksi cicilan—sekarang halamannya lebih banyak kosong daripada penuh.Neraca keuangan keluarga gue, buat pertama kalinya seumur hidup gue, seimbang.Begitu kasus Hendra masuk penyidikan resmi, seluruh klaim utang dari "Cakrawala Finansial" otomatis dibekukan pengadi
Kekacauan di GOR Harian Surabaya berlangsung selama yang terasa seperti berjam-jam, padahal jam digital di sudut layar konsol gue cuma nunjukin tiga menit lewat empat puluh detik.Hendra Setyawan berusaha kabur lewat pintu darurat tribun VIP, tapi baru tiga langkah, dua orang berjas hitam—bukan orang suruhannya, tapi anak buah Baskoro sendiri—udah mengapit kedua lengannya dari kiri-kanan. Di belakang mereka, empat polisi berseragam lengkap muncul dari pintu masuk utama, radio di pinggang mereka masih berdengung."Gibran," gue bergumam sendiri, ngerti sekarang kenapa tadi dia nanya soal enkripsi, bukan cuma buat jaga-jaga. Dia udah nyiapin ini semua sejak semalam.Baskoro berdiri dari kursinya dengan tenang—terlalu tenang buat orang yang baru aja tahu tangan kanannya sendiri jadi dalang di balik penderitaan anaknya selama berbulan-bulan. Dia melangkah mendekati Hendra yang udah dikepung, suaranya rendah tapi cukup keras buat mikrofon wartawan lokal yang udah menyerbu ikut menangkapnya.
Gedung GOR Harian Surabaya bergetar. Bukan metafora—gue bisa ngerasain lantai bilik kontrol ikut berdenyut tiap kali ribuan penonton serempak menghentakkan kaki dan berteriak nama sekolah masing-masing. Kuarter pertama baru aja selesai dengan skor 22-20 buat lawan, dan gue duduk di kursi plastik sempit ini dengan laptop Elang menyala di pangkuan, jari gemetar di atas trackpad, mata gue nggak lepas dari jam digital di sudut layar.Lewat kaca bilik kontrol yang buram, gue bisa liat Elang di lapangan. Dia main kayak orang kesurupan.Setiap rebound direbut kasar. Setiap tembakan tiga angka dilepas dengan rahang mengeras, seolah tiap bola yang masuk ring adalah cara dia muntahin semua amarah yang udah dia tahan sejak Bab 26—sejak amplop 75 juta, sejak ancaman London, sejak Arya diikat di gudang, sejak nama "Hendra Setyawan" muncul di layar laptop semalam. Kuarter kedua baru jalan tiga menit dan dia udah nyumbang sepuluh poin sendirian."Nara." Suara di earpiece bikin gue kaget. Suara Gibran
"Jadi gini," Gibran menyandarkan diri di meja kerjanya, menatap kami berdua dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah serius—jauh dari gaya santainya yang biasa, "gue udah cek denah GOR Harian Surabaya. Bilik kontrol audio dan layar LED-nya ada di lantai dua, deket area VIP. Aksesnya dijaga, tapi—""Tapi gue Bendahara OSIS yang ngurusin logistik acara," gue motong, menyeruput air mineral yang tadi disodorin Gibran, "yang berarti gue punya lanyard akses ke semua area teknis, termasuk bilik kontrol. Nggak ada yang bakal curiga liat gue bolak-balik bawa tas ransel isi kabel."Elang mengangguk, jarinya masih sibuk ngetik di laptopnya sendiri, layar penuh baris kode yang udah dia susun ulang sejak semalam. "Gue bikin skrip otomatis. Timer-nya gue set pas di menit terakhir jeda half-time, pas kamera media biasanya ngarah ke tribun VIP buat nyorot sponsor. Begitu layar LED utama nyala, dokumen kepemilikan PT Cakrawala bakal muncul, lengkap sama nama Hendra Setyawan.""Dan lo tinggal masukin fla
"Bicara, ELANG!" Suara Baskoro udah kedengeran bahkan sebelum ponsel itu nyampe ke kuping Elang, keras banget sampai gue yang berdiri di sebelahnya juga bisa denger tiap kata. "Bapak bilang jam satu! Sekarang jam berapa? Kamu pikir bapak main-main?!"Elang menghela napas, tapi suaranya tetap tenang—terlalu tenang, kontras banget sama teriakan di seberang sana. "Arya aman, Pak. Dia lagi diperiksa dokter sekarang.""Saya nggak mau dengar 'aman' dari mulut kamu! Saya mau dengar sendiri dari mulut dia, atau saya kirim seluruh tim keamanan saya ke titik terakhir GPS kamu!"Gue dan Elang saling pandang sekilas. Nggak ada pilihan lain. Kami bergegas masuk ke ruang tengah, di mana Arya udah terbaring dengan perban di lengan dan kompres di kepala, dokter Gibran baru aja selesai memeriksa denyut nadinya.Elang menyodorkan ponsel. "Bang Arya, tolong—""Pak Baskoro," suara Arya lemah tapi jelas, "saya baik-baik saja. Bocah-bocah ini yang menyelamatkan saya. Tolong jangan..." dia berhenti sejenak
Apartemen Gibran ternyata bukan apartemen biasa. Begitu pintu lift terbuka langsung ke unit penthouse-nya—tanpa lorong, tanpa tetangga, privat total—gue langsung ngerti kenapa dia bilang tempat ini "nggak gampang dilacak". Interiornya minimalis, dominan abu-abu dan kayu gelap, kaca jendela sebesar dinding yang menampilkan pemandangan kota Surabaya dari ketinggian, sepi banget sampai suara langkah kami sendiri kedengaran jelas menggema."Dokter gue lagi ke sini," kata Gibran, ponsel masih nempel di telinga sambil menuntun Arya ke sofa panjang. "Dokter pribadi keluarga, bukan yang bakal lapor polisi atau nanya macem-macem. Sepuluh menit lagi sampai."Arya merebahkan diri, mengerang pelan begitu punggungnya menyentuh bantalan sofa yang empuk. "Makasih, Dik Gibran. Saya... saya nggak tau harus balas budi ini gimana.""Nggak usah dipikirin sekarang. Istirahat aja dulu." Gibran menepuk bahu Arya sekilas, lalu berbalik ke arah gue dengan senyum yang tiba-tiba berubah jadi ramah sempurna—kont







