Bibirnya sama, Sari. Persis sama. Sialnya, Saka lega yang ngerem duluan itu Mbak Sarah, soalnya kalau nunggu Saka, remnya bisa blong.Pemuda itu menegakkan punggung dan menatap pagar seberang, tempat lampu gang menyala kuning. Di balik celana jinnya, badan ini sudah bereaksi tanpa izin, jadi ia menarik handuk dari bahu Sarah dan menaruhnya di pangkuannya sendiri dengan gerakan yang dibuat santai."Nggak boleh, Mbak. Aku setuju," kata Saka dengan suara serak. "Anggap aja barusan angin malam yang salah alamat.""Angin nggak bisa nyium orang, Saka," sahut Sarah."Angin di rumah ini bisa, Mbak. Nadia aja percaya manga, masa Mbak nggak percaya angin?"Perempuan itu tertawa sambil menangis, lalu menekan kedua telapak tangan ke matanya. Bahunya berguncang, tetapi kali ini isakannya lebih ringan daripada saat Saka naik tangga tadi.Adik tirinya itu membiarkan Sarah tertawa dan menangis sampai napasnya kembali teratur. Sambil menunggu, ia menghitung jepit kayu di tali jemuran, ada sebelas, lal
Last Updated : 2026-10-29 Read more