Home / Fantasi / Cukup, Aku Gak Tahan! / Ciuman untuk Mbak Sarah

Share

Ciuman untuk Mbak Sarah

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-10-28 15:58:55

Ponsel di saku celana Saka bergetar, dan pesan pendek itu muncul di layarnya. Pengirimnya Sarah, yang duduk tidak sampai sejengkal di sebelahnya dengan ibu jari yang masih menempel di layar ponselnya sendiri.

"Mbak, aku di sebelah Mbak, lho. Ngapain pakai chat segala? Pulsaku nanti dikira dipakai pacaran sama tetangga," protes Saka sambil mengangkat layarnya ke depan wajah Sarah.

Kakak tirinya itu menurunkan ponsel ke pangkuan dan menatap blazer yang tergantung di tali jemuran. "Mbak nggak kuat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Malam jumat di apartemen

    Bahu Sarah turun sekaligus, dan tangisnya pecah tanpa suara. Air matanya jatuh ke pangkuan rok span abu-abunya, sementara kedua tangannya menutup wajah dan bahunya berguncang di bawah telapak tangan Saka.Adik tirinya tidak menarik tangan. Ia berdiri tegak di belakang kursi itu dan membiarkan Sarah menangis sampai napasnya teratur lagi.Nangis aja, Mbak. Berhari-hari Mbak nahan semuanya sendirian, dan baru kali ini ada yang ngeringanin."Maaf, Bu. Saya permisi ke toilet sebentar," kata Sarah dengan suara serak, lalu berdiri dan keluar ruangan dengan kepala tertunduk.Pintu menutup di belakangnya. Bu Laksmi bersandar di kursinya dan menatap Saka dari ujung sepatu sampai ke wajah, perlahan dan tanpa malu sedikit pun."Kamu adiknya Sarah. Kerja apa?""Sopir, Bu. Sama tukang urut, sama koordinator keamanan kompleks," jawab Saka sambil menghitung dengan jari.Bu Laksmi tertawa kecil, dan sudut matanya yang tadi kaku berkerut ramah. "Tiga pekerjaan, dan semuanya pakai tangan. Punggung saya

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Rekaman CCTV

    Saka menatap satpam kurus itu tanpa berkedip. Di belakang Pak Darso, Pak Eko pura-pura sibuk merapikan buku tamu, tetapi telinganya jelas condong ke arah mereka."Rekaman apa, Pak?" tanya Saka dengan suara yang ikut ia turunkan.Pak Darso melirik ke arah lift sekali lagi, lalu merogoh saku kemeja seragamnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk hitam yang sudah kusam. "Lobi sama lorong lantai tujuh, Mas. Lantai tempat ruangannya Pak Hendra.""Isinya?"Pak Darso menunduk sebentar, lalu memaksa dirinya menatap Saka lagi. "Tangan beliau, Mas. Megang pinggang, megang punggung, ada yang sampai ke bawah. Mbak Sarah juga ada di situ, waktu Mbak Sarah kram dan beliau nganter sampai lobi."Rahang Saka mengeras. Siang itu ia sendiri yang melihat tangan Pak Hendra bertengger di punggung bawah Sarah, dan kakaknya terlalu lemas untuk sekadar menepis.Si Klimis ini ternyata bukan cuma licin di chat. Tangannya juga licin ke mana-mana, kayak belut yang lupa jalan pulang."Kenapa Bapak mau ngasih ini ke s

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kepleset sabun

    Saka memunguti pecahan gelas bunga matahari itu satu per satu dengan tangan kosong. Kepingan yang besar ia bungkus dengan koran bekas, serpihan yang kecil ia sapu ke pengki, lalu lantai keramik itu ia pel sampai tidak ada lagi air yang tersisa.Gelas itu cuma Mbak Sarah yang pakai, dan cuma Mbak Sarah yang tiap pagi naruh gelas itu tegak di rak. Jadi yang lari ke tangga tadi…Saka tidak meneruskan pikiran itu. Bungkusan koran berisi pecahan gelas itu ia masukkan ke kantong sampah, dan simpul kantongnya ia ikat dua kali.***Selasa pagi, meja makan sudah penuh ketika Saka masuk dari pintu samping. Nasi goreng sisa semalam dipanaskan ulang, telur dadar dipotong empat, dan teko teh berdiri di tengah meja.Sarah duduk di kursinya dengan blazer abu-abu dan rambut yang dicepol rapi. Ia minum teh dari cangkir putih polos, bukan dari gelas bunga matahari, dan matanya tidak naik dari piring sejak Saka duduk."Pagi, Mbak.""Pagi." Sarah menjawab tanpa menoleh, lalu menyuap nasinya dengan geraka

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Ibu sudah tahu?

    Ipah menunduk dan mencelupkan handuk ke baskom lagi. Ia memerasnya lama sekali, lebih lama daripada perlu, sampai air yang menetes dari handuk itu tinggal satu-satu. "Ibu udah tahu, Saka.""Udah tahu?""Dari tahun lalu. Bapak pulang malam dengan bau parfum yang bukan punya Ibu, terus kemejanya ada bekas lipstik di kerah. Ibu nyuci kemeja itu sendiri, pakai tangan, biar anak-anak nggak lihat." Suara Ipah pecah di kata terakhir.Air mata ibu tirinya jatuh ke baskom. Satu tetes, lalu dua, lalu ia menutup mulutnya dengan punggung tangan dan bahunya berguncang tanpa suara.Pantas tiap pagi Bu Ipah galak sama semua orang. Galaknya itu tembok, dan di balik tembok itu ada perempuan yang nyuci bekas lipstik pakai tangan biar anak-anaknya nggak tahu.Saka meletakkan handuk itu di baskom, lalu menarik ibu tirinya ke dalam pelukan. Ipah tidak menolak. Ia menyandarkan dahi ke dada Saka dan menangis sampai kaus anak tirinya basah.Di sela isaknya, Ipah berkata, "Ibu malu, Saka, malu sama anak-anak,

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kartu AS Pak Hartono

    Pak Hartono menepis tangan istrinya tanpa menoleh.Saka menatap ayah angkatnya beberapa detik. Lalu ia berbalik ke pintu depan dengan langkah biasa. "Bapak mau ngomong sama saya di teras, Pak? Biar Ibu nggak usah dengar."Pak Hartono mengikutinya keluar sambil terus membentak soal anak pungut yang tidak tahu terima kasih. Di teras, Saka berdiri di samping meja rotan tempat Ipah biasa menaruh teh untuk suaminya.Saka merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan plastik klip itu. Ia meletakkannya di atas meja rotan tanpa suara, dan sinar matahari siang jatuh tepat di anting emas serta sobekan bungkus kondom di dalamnya.Pak Hartono berhenti bicara di tengah kalimat. Matanya menatap plastik itu, lalu menatap Saka."Vivi," kata Saka.Hanya satu kata itu. Saka tidak menambahkan apa pun, tidak menjelaskan di mana ia menemukannya, tidak menyebut lapangan golf atau jok belakang mobil keluarga.Wajah Pak Hartono berubah dari merah menjadi pucat dalam tiga tarikan napas. Ia menyambar plasti

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Diusir

    "Perih dikit, tapi enak, kayak habis disuntik terus dikasih permen sama dokternya. Alas ini Nadia simpan, nggak dicuci." Nadia bangkit duduk, lalu menarik alas kelinci itu dari kasur dan memeluknya ke dada."Nggak dicuci? Itu ada darahnya, ada punya Kakak juga! Lagian alas begitu harusnya dicuci sendiri sama laki-lakinya.""Itu aturan Kakak buat Kak Dona. Aturan Nadia beda, tauk, soalnya ini kenang-kenangan." Nadia melipat alas itu kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam laci lemari dengan wajah bangga.Saka tidak punya waktu untuk berdebat. Ia menyambar celana dan kemejanya, berlari ke kamar mandi, mengguyur badan dengan tiga gayung air, lalu berpakaian sambil berjalan ke pintu depan.***Mobil keluarga berhenti di depan lobi kantor dua puluh menit kemudian dari yang dijanjikan. Pak Hartono sudah berdiri di teras dengan tas kerja di tangan dan wajah merah padam."Lima menit, katamu! Ini dua puluh menit lewat dari lima menit! Kamu dorong motornya sampai ke Bekasi?" bentak Pak Hartono s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status