共有

Chapter 4

作者: M. Sevian F
last update 公開日: 2026-10-14 17:17:26

Lian terbangun karena suara seseorang mengetuk pintu.

Bukan ketukan sopan. Orang di luar mengetuk tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk lagi seolah pintu itu punya utang kepadanya.

Lian menarik selimut sampai menutupi kepala.

“Kalau aku sudah mati, silakan masuk. Kalau belum, datang lagi besok.”

“Buka pintunya, Lian.”

Ia mengenali suara Yue Ning.

Lian duduk sambil mengusap wajah. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di tebing dan pemeriksaan lempeng spiritual. Ia sempat tertidur tanpa makan malam, sesuatu yang biasanya tidak akan ia lakukan bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun.

“Sebentar.”

“Sekarang.”

“Kalau semua orang di tempat ini selalu terburu-buru, kapan mereka sempat menikmati hidup?”

“Lima detik.”

Lian membuka pintu.

Yue Ning berdiri di lorong dengan sebuah bungkusan kain di tangannya. Ia masih mengenakan jubah biru muda, tetapi rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, lorong pos pengawas tampak sepi.

“Kau belum makan,” katanya.

Lian menatap bungkusan itu. “Aku mulai menyukai tempat ini.”

“Jangan terlalu cepat. Aku hanya tidak ingin kau pingsan saat diperiksa lagi.”

“Perhatianmu mengharukan.”

“Kalau kau terus bicara, makanannya kubawa kembali.”

Lian segera menyingkir dari pintu.

“Silakan masuk. Rumah ini rumahmu.”

Yue Ning masuk dengan ekspresi yang mengatakan bahwa ia menyesal datang.

Kamar tamu itu sederhana. Ada ranjang kayu, meja kecil, kendi air, dan jendela sempit yang menghadap halaman belakang. Tidak ada jeruji besi, tetapi penjaga di ujung lorong memastikan Lian tidak bisa keluar tanpa diketahui.

Yue Ning meletakkan makanan di atas meja. Nasi hangat, sayuran tumis, dan semangkuk sup bening.

Lian duduk dan mulai makan tanpa basa-basi.

“Pelan-pelan,” kata Yue Ning.

“Aku sudah makan dengan pelan.”

“Kau baru saja memasukkan tiga suap sekaligus.”

“Itu strategi. Kalau makanan ini dirampas, setidaknya aku sudah menyelamatkan sebagian.”

Yue Ning menggeleng, tetapi kali ini senyumnya benar-benar muncul, meski hanya sebentar.

Lian menyadari sesuatu. Gadis itu terlihat lebih lelah daripada saat mereka tiba. Ada bayangan gelap di bawah matanya, dan ujung lengan jubahnya bernoda tinta.

“Kau tidak tidur?” tanyanya.

“Aku membaca laporan.”

“Laporan tentang aku?”

“Laporan tentang gangguan spiritual di Desa Qinghe.”

Lian berhenti mengunyah.

“Dan?”

“Catatan resminya tidak lengkap.”

“Seberapa tidak lengkap?”

“Cukup untuk membuatku tidak nyaman.”

“Itu bukan ukuran yang sangat jelas.”

Yue Ning duduk di seberangnya. Ia mengeluarkan selembar kertas kecil dari lengan jubah, tetapi tidak langsung menyerahkannya.

“Laporan pertama menyebutkan tiga hal. Gangguan energi spiritual di sisi timur desa, hilangnya dua penjaga yang ditugaskan memeriksa daerah itu, dan ditemukannya bekas formasi di sebuah gudang tua.”

“Penjaga yang hilang?”

“Tidak ditemukan jasad mereka.”

“Lalu kenapa laporan itu menyebut ritual terlarang?”

“Karena seseorang menambahkan kesimpulan tersebut setelah pemeriksaan awal.”

Lian meletakkan sumpitnya.

“Siapa?”

“Itulah masalahnya. Nama pemeriksa di catatan pertama berbeda dari nama yang tercantum pada laporan akhir.”

Ia menyerahkan kertas kecil itu.

Di sana terdapat dua nama, dua tanggal, dan sebuah cap merah yang sebagian tintanya telah luntur. Lian tidak mengenal nama-nama tersebut, tetapi ia melihat bahwa tanggal pemeriksaan akhir tercatat satu hari setelah laporan itu disahkan.

“Bisa jadi kesalahan penyalinan,” katanya.

“Bisa.”

“Kau tidak terdengar yakin.”

“Karena aku juga menemukan bekas penghapusan di salinan arsip.”

Lian bersandar.

“Jadi, seseorang mengubah laporan tentang gangguan spiritual, menambahkan dugaan ritual terlarang, lalu menghubungkan semua itu dengan teknik yang belum kalian pahami.”

“Belum ada yang menghubungkanmu secara resmi dengan kasus itu.”

“Tapi kalian menahanku di sini.”

“Di bawah pengawasan,” koreksi Yue Ning.

“Benar. Kata-kata memang bisa membuat kurungan terasa lebih nyaman.”

Yue Ning menerima sindiran itu tanpa membalas. Ia tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Aku ingin melihat kitab yang kau terima dari tetua itu.”

Lian langsung menegang.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat. Yue Ning menyadarinya.

“Aku tidak berniat mengambilnya.”

“Aku juga tidak berniat menyerahkannya.”

“Kalau kitab itu berkaitan dengan kasus ini, menyembunyikannya bisa membuat keadaan lebih buruk.”

“Dan kalau aku menyerahkannya kepada orang yang belum tahu apakah aku bersalah, aku mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi.”

Yue Ning terdiam.

Lian melanjutkan makan, meski nafsu makannya sudah berkurang.

Ia tidak tahu apakah gadis itu bisa dipercaya. Yue Ning memang tampak lebih masuk akal dibandingkan Paman Zhao atau para penjaga yang langsung menghunus senjata. Namun, ia tetap bagian dari organisasi yang mengurungnya. Kebaikan seseorang tidak otomatis berarti ia akan melawan seluruh sistem demi orang asing.

“Aku tidak meminta kepercayaanmu,” kata Yue Ning akhirnya. “Aku hanya ingin tahu apakah kitab itu memiliki lambang yang sama dengan pola pada lempeng.”

Lian menatapnya.

“Pola apa?”

“Pola akar yang membelit lingkaran.”

Ia teringat gambar di halaman kitab. Simbol hitam yang muncul setelah ia menyelamatkan anak di tebing.

“Mirip,” jawabnya. “Aku tidak tahu apakah sama.”

“Boleh kulihat lambangnya saja?”

Lian mengusap wajahnya.

“Kalau aku menunjukkannya, kau tidak akan langsung memanggil semua orang untuk menangkapku?”

“Aku tidak bisa menjanjikan apa yang akan dilakukan Mo Jian.”

“Setidaknya kau jujur.”

“Aku akan berusaha memastikan pemeriksaan berjalan adil.”

“Itu juga bukan janji yang menenangkan.”

“Lian.”

Ia menghela napas. “Baik. Tapi tidak ada yang menyentuh kitabnya.”

Lian mengeluarkan buku hitam dari balik jubahnya. Sampulnya kasar, tanpa judul, dan terasa lebih dingin daripada seharusnya. Ia meletakkannya di atas meja, tetapi tetap menahan satu tangan di atas sampul.

Yue Ning tidak langsung mendekat.

Ia mengamati buku itu dengan hati-hati, lalu menunjuk bagian tengah sampul yang nyaris tak terlihat. Di sana terdapat ukiran tipis, hampir menyatu dengan warna hitam kulitnya.

“Itu,” bisiknya.

Lian mengangkat buku sedikit agar terkena cahaya lampu.

Ukiran itu terlihat lebih jelas. Sebuah lingkaran yang terbelah, dikelilingi garis menyerupai akar. Sama seperti pola pada lempeng spiritual.

Wajah Yue Ning kehilangan warna.

“Kau mengenalinya?” tanya Lian.

“Aku pernah melihatnya.”

“Di mana?”

“Di sebuah salinan arsip lama. Simbol itu berada di samping catatan tentang Balai Penghakiman Karma.”

Nama tersebut terdengar asing bagi Lian.

“Balai apa?”

“Lembaga kuno yang konon mencatat pelanggaran terhadap hukum karma. Menurut catatan resmi, lembaga itu telah lenyap berabad-abad lalu.”

“Dan apa hubungannya dengan api hitam?”

Yue Ning menatap buku itu, bukan Lian.

“Dalam catatan yang kubaca, simbol itu disebut sebagai lambang penjaga jejak. Tapi bagian yang menjelaskan maksudnya sudah hilang.”

Lian menunggu penjelasan lebih lanjut.

Tidak ada.

“Tentu saja,” gumamnya. “Kenapa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menjelaskan sesuatu sampai selesai?”

Buku itu mendadak bergetar.

Lian segera menarik tangannya, tetapi sampulnya telah terbuka sendiri. Halaman-halamannya bergerak cepat, seolah diterpa angin yang tidak dirasakan siapa pun di ruangan itu.

Yue Ning berdiri.

“Jangan sentuh!”

“Aku tidak menyentuhnya!”

Halaman berhenti pada lembar kosong. Tinta hitam muncul perlahan, membentuk simbol yang sama dengan ukiran pada sampul.

Lalu tulisan baru muncul di bawahnya.

**[Jejak karma asing terdeteksi.]**

**[Kesesuaian: tidak lengkap.]**

**[Peringatan: pengamatan eksternal sedang berlangsung.]**

Lian merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.

Yue Ning membaca tulisan itu dengan suara pelan. “Pengamatan eksternal?”

Sebelum Lian sempat menjawab, lampu minyak di meja padam.

Kamar itu menjadi gelap.

Dari arah jendela terdengar suara gesekan halus.

Lian berdiri, menyelipkan buku ke balik jubahnya, lalu bergerak ke sisi dinding. Yue Ning mengeluarkan pedang pendek dari sarung di pinggangnya. Gerakannya cepat dan terlatih.

Seseorang berada di luar.

Bayangan melintas di balik jendela.

“Penjaga!” Yue Ning berseru.

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara benda pecah dari lorong.

Lian melirik pintu. “Apa itu biasa terjadi di tempat ini?”

“Tidak.”

“Bagus. Aku mulai khawatir tempat ini terlalu membosankan.”

Yue Ning memberi isyarat agar ia tetap diam, lalu mendekati jendela dengan langkah hati-hati. Ia menyibak tirai sedikit.

Sosok berjubah gelap berdiri di halaman belakang, tepat di bawah pohon tua. Wajahnya tertutup kain. Di tangannya terdapat lempeng kecil berwarna kelabu yang memancarkan cahaya redup.

Orang itu mengangkat lempeng tersebut ke arah kamar mereka.

Buku di balik jubah Lian mendadak panas.

Rasa sakit menyengat telapak tangannya. Ia menggertakkan gigi, berusaha menahan suara.

Yue Ning menoleh.

“Lian?”

Sosok di luar tiba-tiba memiringkan kepala, seolah mendengar sesuatu yang tidak mungkin terdengar dari halaman.

Kemudian ia berbalik dan melompat melewati pagar batu.

Yue Ning membuka jendela.

“Berhenti!”

Ia melompat ke ambang jendela dan bersiap mengejar, tetapi Lian meraih lengannya.

“Jangan!”

Yue Ning menatapnya tajam. “Lepaskan.”

“Lihat tanahnya.”

Di bawah jendela, tepat di tempat sosok itu berdiri, terdapat garis-garis hitam tipis yang membentuk setengah lingkaran. Garis itu perlahan menghilang ke dalam batu, meninggalkan bau belerang yang sama dengan aroma api hitam Lian.

Yue Ning tidak bergerak.

“Dia meninggalkan formasi?”

“Entahlah. Tapi kalau kau mengejarnya sendirian, kita mungkin akan kehilangan satu orang lagi.”

Kalimat itu membuat Yue Ning menegang. Dua penjaga yang hilang. Bekas formasi di gudang tua. Gangguan spiritual di sisi timur desa.

Semuanya mungkin terhubung.

Dari lorong, suara langkah kaki mulai mendekat. Kali ini disertai teriakan penjaga dan bunyi pedang yang beradu.

Yue Ning segera menutup jendela.

“Buku itu,” katanya. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Lian mengeluarkannya kembali. Halaman yang tadi menampilkan tulisan kini kosong, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Namun, di sudut bawah halaman terdapat satu baris tambahan yang belum pernah ia lihat.

**[Jejak ditemukan.]**

**[Pemilik jejak: tidak teridentifikasi.]**

**[Peringatan: jangan percaya pada catatan yang telah disahkan.]**

Lian membaca kalimat terakhir dua kali.

Yue Ning juga melihatnya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya berdiri diam, mendengarkan keributan di luar kamar.

“Aku tidak tahu siapa yang menulis itu,” kata Lian. “Aku juga tidak tahu apakah buku ini bisa dipercaya.”

“Kalau begitu, kita tidak boleh menganggapnya sebagai kebenaran.”

Lian menatapnya.

Itu jawaban yang masuk akal. Tidak ada keyakinan buta, tidak ada tuduhan yang terburu-buru. Hanya pengakuan bahwa mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang belum dipahami.

Ia menutup buku itu.

“Untuk pertama kalinya malam ini, seseorang mengatakan sesuatu yang tidak membuat kepalaku semakin sakit.”

Yue Ning menyarungkan pedangnya. “Jangan terbiasa.”

Pintu kamar mendadak terbuka keras.

Mo Jian berdiri di ambang pintu bersama dua penjaga. Pedangnya sudah terhunus. Matanya langsung tertuju pada buku hitam di tangan Lian, lalu beralih kepada Yue Ning.

“Apa yang terjadi di sini?”

Yue Ning menjelaskan dengan cepat tentang sosok berjubah gelap, lempeng kelabu, dan jejak formasi di bawah jendela. Mo Jian mendengarkan tanpa menyela. Ketika ia selesai, rahang pemuda itu mengeras.

“Penjaga di lorong ditemukan pingsan,” katanya. “Tidak ada yang melihat penyusup masuk.”

“Dia tidak masuk melalui pintu,” jawab Yue Ning.

Mo Jian mendekati jendela, memeriksa garis hitam yang tersisa di tanah. Wajahnya semakin suram.

“Ini bukan formasi biasa.”

Lian mengangkat tangan. “Sebelum kalian memutuskan untuk menyalahkanku, aku ingin menunjukkan bahwa aku juga hampir diserang.”

Mo Jian menatapnya. “Aku belum menuduhmu.”

“Belum. Kata yang menenangkan.”

Mo Jian mengabaikan sindiran itu. Ia menoleh kepada para penjaga dan memerintahkan agar seluruh pos pengawas diperiksa. Setelah mereka pergi, ia kembali menatap buku di tangan Lian.

“Mulai sekarang, kau tidak boleh meninggalkan kamar tanpa pengawalan.”

Lian menatapnya tidak percaya.

“Penyusup baru saja mencoba melakukan sesuatu di jendelaku, dan kesimpulanmu adalah mengurungku lebih ketat?”

“Penyusup itu datang ketika kitabmu terbuka.”

“Karena kitabku bereaksi terhadapnya!”

“Dan aku harus mempercayai perkataanmu begitu saja?”

Lian hendak membalas, tetapi Yue Ning maju selangkah.

“Mo Jian, aku melihat tulisannya sendiri. Buku itu memperingatkan bahwa ada pengamatan eksternal. Sosok di luar membawa alat yang bereaksi terhadap kitab.”

Mo Jian memandang Yue Ning. Ada keraguan di wajahnya, tetapi ia tidak langsung membantah.

“Aku akan melaporkan kejadian ini kepada atasanku,” katanya. “Sampai ada keputusan, tidak seorang pun boleh membawa kitab itu keluar dari pos pengawas.”

Lian memeluk buku tersebut ke dadanya.

“Tidak.”

Mo Jian mengangkat dagu. “Apa katamu?”

“Kalau kau ingin memeriksanya, lakukan di hadapanku. Aku tidak akan menyerahkannya kepada orang yang bahkan belum bisa menjelaskan kenapa aku ditahan.”

“Ini perintah.”

“Dan itu jawabanku.”

Udara di ruangan mendadak menegang.

Untuk sesaat, Lian mengira Mo Jian akan menghunus pedangnya. Namun, pemuda itu hanya menatapnya dengan dingin, lalu memasukkan pedangnya kembali ke sarung.

“Baik. Simpan kitab itu. Tetapi jika kau menggunakan tekniknya tanpa izin, aku sendiri yang akan menghentikanmu.”

Ia berbalik dan meninggalkan kamar.

Yue Ning mengikuti, tetapi berhenti sebentar di ambang pintu.

“Jangan buka kitab itu sendirian malam ini,” katanya.

Lian mengangkat alis. “Itu saran atau perintah?”

“Saran.”

“Kalau begitu, akan kupikirkan.”

Yue Ning menatapnya sejenak sebelum pergi.

Pintu tertutup.

Lian duduk di tepi ranjang, memandangi buku hitam di tangannya. Ia telah menyelamatkan seorang anak, tetapi sekarang dirinya dicurigai. Ia mencoba menjelaskan, tetapi setiap jawaban justru membuka pertanyaan baru. Bahkan di tempat yang seharusnya mencari kebenaran, ada orang yang tampaknya lebih takut pada apa yang mungkin ditemukan.

Ia membuka sampul buku sedikit, hanya untuk memastikan halaman-halamannya benar-benar kosong.

Sebuah garis tipis muncul di tengah kertas.

Lian segera menutupnya lagi.

Namun, sebelum sampul bertemu, ia sempat membaca satu kalimat terakhir yang terbentuk dari tinta hitam.

**[Mereka telah menemukanmu lebih dahulu daripada yang seharusnya.]**

Lian membeku.

Di luar kamar, langkah penjaga menjauh menyusuri lorong.

Di balik jendela, garis-garis hitam pada batu telah lenyap seluruhnya.

Dan jauh di luar pos pengawas, seseorang berdiri di atas bukit, memandangi bangunan itu sambil menggenggam lempeng kelabu yang retak.

“Jadi benar,” bisiknya.

Ia membuka telapak tangan. Di tengah lempeng itu, sebuah simbol hitam berdenyut sekali sebelum padam.

“Api Hitam telah bangkit kembali.”

Sosok itu memasukkan lempeng ke balik jubah, lalu menghilang ke dalam kegelapan.

Sebelum pergi, ia meninggalkan satu pesan yang akan sampai ke tangan orang yang tepat sebelum fajar.

**Penerus telah ditemukan. Jangan biarkan dia mencapai arsip Balai Penghakiman Karma.**

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 8

    Nama pemeriksa yang telah meninggal tiga tahun lalu itu tercetak jelas di bagian bawah laporan.Mo Jian menatapnya cukup lama hingga nyala lampu minyak di atas meja berkedip dua kali.“Tidak mungkin,” katanya.Lian duduk bersandar pada dinding gudang, lengan kanannya terbungkus kain seadanya. Setiap kali ia menggerakkan jari, rasa nyeri menjalar dari pergelangan hingga siku. Menggunakan Api Hitam untuk merusak formasi tadi memang berhasil menyelamatkan Yue Ning, tetapi tubuhnya seolah masih menagih harga dari keputusan itu.“Kalau namanya benar-benar milik orang mati, mungkin dia sudah bosan beristirahat di kuburan,” gumam Lian. “Sekarang dia bekerja lembur.”Tidak ada yang tertawa.Lian mengembuskan napas. Rupanya leluconnya juga kelelahan.Yue Ning mengambil laporan itu dari tangan Mo Jian, lalu memeriksa cap merah di sudut bawah. Ia membandingkannya dengan cap pada dua lembar lain yang mereka temukan di ruang bawah tanah.“Ketiganya menggunakan nama pemeriksa yang sama,” katanya. “

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 7

    Anak panah kedua menghantam kusen pintu sebelum Mo Jian sempat memerintahkan siapa pun bergerak.Kali ini tidak ada pesan yang diikatkan padanya. Ujung panahnya berwarna hijau kusam, dan asap tipis keluar dari bagian logam yang menancap di kayu.“Menjauh dari panah itu!” seru Yue Ning.Kedua murid Balai Pedang Putih segera menarik Han Rui menjauh dari peti. Mo Jian berdiri di antara pintu dan orang-orang di dalam gudang, pedangnya terhunus. Ia tidak langsung mengejar penyerang. Matanya menyapu atap, jendela, dan celah-celah dinding, mencari arah tembakan berikutnya.Lian berusaha berdiri dengan bantuan meja tua.Kakinya masih lemas akibat penggunaan Api Hitam. Lengan kanannya terasa seperti dipenuhi semut yang menggigit dari dalam. Kalau penyerang memutuskan masuk sekarang, kontribusinya dalam pertempuran mungkin hanya menjadi penghalang jalan.“Berapa orang?” bisiknya.“Belum diketahui,” jawab Mo Jian.“Bagus. Aku takut jawabannya terlalu menyenangkan.”Mo Jian meliriknya. “Kalau kau

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 6

    Gudang tua di sisi timur Desa Qinghe ternyata lebih buruk daripada yang Lian bayangkan.Atapnya miring, beberapa papan dinding sudah lapuk, dan rumput liar tumbuh di antara batu-batu fondasi. Dari jalan, bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun, jejak kaki di tanah basah menceritakan hal berbeda. Ada terlalu banyak tapak baru untuk sebuah gudang yang konon tidak digunakan siapa pun.Lian berhenti di belakang Mo Jian.“Kalau tempat ini benar-benar kosong, kenapa jejak kakinya lebih ramai daripada halaman sekteku?”Mo Jian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.Dua murid Balai Pedang Putih bergerak ke sisi bangunan. Yue Ning berjongkok di dekat pagar roboh, memeriksa bekas goresan pada tanah. Lian sendiri diminta tetap berada di belakang garis batu yang ditandai Mo Jian dengan pedangnya.Ia mematuhi perintah itu.Bukan karena ia mendadak menjadi murid teladan, melainkan karena lengannya masih terasa nyeri setiap kali ia mengingat nya

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 5

    Lian baru menyadari betapa buruknya keadaan ketika penjaga di depan kamarnya mengganti posisi untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setengah jam.Dua orang berdiri di depan pintu. Seorang lagi berjaga di ujung lorong. Di luar jendela, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di balik pagar kayu.Kalau mereka menambahkan rantai dan menggantung papan bertuliskan *Jangan Diberi Makan*, pikir Lian, tempat ini akan cocok dijadikan kandang binatang langka.Sayangnya, binatang langka yang dimaksud tampaknya adalah dirinya.Ia duduk di tepi ranjang, memijat pergelangan tangan yang masih terasa panas sejak kemunculan penyusup malam sebelumnya. Kitab Api Hitam Penembus Dosa tergeletak di atas meja. Sampulnya yang gelap tampak biasa saja, seolah benda itu tidak baru saja membuat hidupnya jauh lebih rumit.Lian menyentuh sudut kitab.“Kalau kau punya penjelasan, sekarang waktu yang bagus.”Tidak ada jawaban.“Petunjuk? Sedikit saja?”Sampul kitab bergetar halus.Lian langsung menarik ta

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 4

    Lian terbangun karena suara seseorang mengetuk pintu.Bukan ketukan sopan. Orang di luar mengetuk tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk lagi seolah pintu itu punya utang kepadanya.Lian menarik selimut sampai menutupi kepala.“Kalau aku sudah mati, silakan masuk. Kalau belum, datang lagi besok.”“Buka pintunya, Lian.”Ia mengenali suara Yue Ning.Lian duduk sambil mengusap wajah. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di tebing dan pemeriksaan lempeng spiritual. Ia sempat tertidur tanpa makan malam, sesuatu yang biasanya tidak akan ia lakukan bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun.“Sebentar.”“Sekarang.”“Kalau semua orang di tempat ini selalu terburu-buru, kapan mereka sempat menikmati hidup?”“Lima detik.”Lian membuka pintu.Yue Ning berdiri di lorong dengan sebuah bungkusan kain di tangannya. Ia masih mengenakan jubah biru muda, tetapi rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, lorong pos pengawas tampak sepi.“Kau belum makan,” katanya.Lian menatap bungkusan

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 3

    Jalan menuju pos pengawas melewati ladang kering dan sebuah kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lian berusaha mengabaikan buku hitam yang terasa berat di balik pakaiannya.Usahanya gagal.Setiap kali ia mengingat tulisan yang muncul di halaman buku, telapak tangannya kembali terasa panas.**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**Catatan apa?Siapa yang memanipulasinya?Dan yang paling penting, kenapa sebuah buku tua bisa bertingkah seperti orang cerewet yang tahu terlalu banyak?“Berhenti mengerutkan kening,” kata Yue Ning di sampingnya.Lian menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Wajahmu seperti orang yang baru menyadari utangnya jatuh tempo.”“Kalau aku punya utang, setidaknya aku tahu siapa yang harus kuhindari.”Yue Ning menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kau selalu bercanda ketika berada dalam masalah?”“Tidak selalu. Kadang-kadang aku juga panik.”“Sekarang?”“Sekarang aku sedang mempertimbangkan pilihan ketiga.”“Apa itu?”“Pingsan. Sayangnya,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status