Share

Chapter 6

Author: M. Sevian F
last update publish date: 2026-10-16 12:19:20

Gudang tua di sisi timur Desa Qinghe ternyata lebih buruk daripada yang Lian bayangkan.

Atapnya miring, beberapa papan dinding sudah lapuk, dan rumput liar tumbuh di antara batu-batu fondasi. Dari jalan, bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun, jejak kaki di tanah basah menceritakan hal berbeda. Ada terlalu banyak tapak baru untuk sebuah gudang yang konon tidak digunakan siapa pun.

Lian berhenti di belakang Mo Jian.

“Kalau tempat ini benar-benar kosong, kenapa jejak kakinya lebih ramai daripada halaman sekteku?”

Mo Jian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.

Dua murid Balai Pedang Putih bergerak ke sisi bangunan. Yue Ning berjongkok di dekat pagar roboh, memeriksa bekas goresan pada tanah. Lian sendiri diminta tetap berada di belakang garis batu yang ditandai Mo Jian dengan pedangnya.

Ia mematuhi perintah itu.

Bukan karena ia mendadak menjadi murid teladan, melainkan karena lengannya masih terasa nyeri setiap kali ia mengingat nyala hitam yang muncul di ruang pemeriksaan.

“Ada bekas roda,” kata Yue Ning. “Kereta kecil, mungkin. Jejaknya menuju pintu belakang.”

“Seberapa baru?” tanya Mo Jian.

“Semalam atau pagi ini. Hujan menghapus sebagian besar tepinya.”

Lian memandang tanah di sekitar gudang. Hujan memang turun menjelang fajar, tetapi sebuah cekungan di dekat dinding masih menampung air keruh. Di dalamnya, ia melihat sepotong kain putih tersangkut pada paku berkarat.

Ia menunjuknya. “Itu juga baru?”

Yue Ning mengikuti arah jarinya.

Kain tersebut memiliki bekas jahitan di salah satu sisinya. Bagian tengahnya robek, menyisakan serat benang yang belum sepenuhnya terurai.

Mo Jian mengambilnya menggunakan sepasang penjepit dari tas perlengkapan.

“Potongan jubah,” katanya.

“Jubah putih?” tanya Lian.

“Bisa saja. Banyak orang memakai pakaian berwarna putih.”

“Benar. Tapi tidak banyak orang yang sengaja menghapus lambang dari dada jubahnya, kalau penglihatanku kemarin bukan sekadar omong kosong.”

Mo Jian menoleh kepadanya. “Kita belum tahu apakah penglihatanmu akurat.”

“Aku juga belum tahu. Makanya kita memeriksa tempat ini, bukan langsung menangkap orang yang kebetulan memakai baju putih.”

Salah satu murid di belakang mereka menahan senyum. Mo Jian tidak.

“Jaga ucapanmu, Lian.”

“Sedang kujaga. Kalau tidak, sejak tadi aku sudah mengeluh soal perjalanan.”

Yue Ning berdiri sebelum percakapan itu berubah menjadi pertengkaran. “Ada sesuatu di dalam.”

Ia menunjuk celah di bawah pintu belakang. Sebuah garis hitam tipis terlihat di antara papan, terlalu pekat untuk sekadar bayangan.

Mo Jian memberi isyarat kepada kedua muridnya. Mereka mengambil posisi, lalu mendorong pintu dengan ujung senjata.

Kayu berderit panjang.

Bau tanah lembap, minyak lampu, dan sesuatu yang asam menyambut mereka. Bagian dalam gudang dipenuhi peti kosong serta rak patah. Debu menutupi sebagian besar lantai, kecuali sebuah lingkaran di tengah ruangan yang tampak baru saja dibersihkan.

Di sekeliling lingkaran itu terdapat enam bekas goresan.

Lian langsung merasakan panas di pergelangan tangannya.

Kitab yang tersimpan di dalam tas kainnya bergerak.

Ia menekan tas itu dengan telapak tangan, berusaha menahan reaksinya.

“Jangan mendekat,” kata Mo Jian.

“Aku bahkan belum bergerak.”

“Bagus. Pertahankan.”

Mo Jian berlutut di luar lingkaran dan memeriksa salah satu goresan tanpa menyentuhnya. Yue Ning mengeluarkan batu pendeteksi kecil. Permukaannya menyala redup ketika didekatkan ke lantai.

“Energi spiritualnya sudah hampir habis,” katanya. “Tapi masih ada sisa yang tertahan di bawah permukaan.”

“Formasi apa?” tanya Mo Jian.

“Belum bisa ditentukan.”

Lian menahan keinginan untuk bertanya apakah semua orang di tempat ini dibayar untuk mengatakan belum tahu.

Kemudian ia mendengar suara.

Sangat pelan.

Tok.

Tok. Tok.

Bukan dari pintu. Bukan pula dari atap.

Suara itu datang dari bawah lantai.

Lian menoleh ke arah tumpukan peti di sudut gudang. Salah satu peti bergeser sedikit, lalu kembali diam.

“Kalian dengar itu?”

Mo Jian mengangkat kepala. “Apa?”

Tok. Tok.

Kali ini semua orang mendengarnya.

Kedua murid Balai Pedang Putih segera menghunus pedang. Mo Jian berdiri dan mendekati peti, sementara Yue Ning mengitari sisi lainnya agar tidak menghalangi jalan keluar.

“Siapa di sana?” seru Mo Jian.

Tidak ada jawaban.

Ia mengangkat tangan, lalu menebas tali yang mengikat peti. Tutupnya terlempar ke belakang.

Di dalamnya tergeletak seorang pria dengan tangan terikat.

Pria itu kurus, wajahnya pucat, dan bibirnya pecah-pecah. Ada luka di atas alisnya yang sudah mengering, sementara napasnya terdengar pendek dan tidak teratur. Ketika cahaya masuk, ia berusaha mundur, tetapi tubuhnya terlalu lemah.

“Jangan...” bisiknya. “Jangan bawa aku kembali.”

Yue Ning segera berlutut di samping peti. “Kami bukan orang yang menculikmu. Siapa namamu?”

Pria itu menatap lambang di pakaian mereka. Begitu melihat jubah putih Mo Jian, ia justru semakin ketakutan.

“Tidak. Tidak, aku tidak mau bicara lagi.”

Mo Jian menyarungkan pedangnya dan berlutut agar sejajar dengan pria tersebut.

“Dengarkan aku. Aku Mo Jian dari Balai Pedang Putih. Kami sedang menyelidiki hilangnya dua penjaga desa. Jika kau salah satu dari mereka, kami bisa membawamu ke tempat aman.”

Pria itu menggeleng keras.

“Mereka juga bilang begitu.”

Kalimat itu membuat semua orang terdiam.

Lian tidak menyukai cara pria itu memandang mereka. Bukan tatapan seseorang yang sedang bingung memilih siapa yang harus dipercaya. Itu tatapan orang yang sudah belajar bahwa meminta pertolongan hanya akan membuatnya terluka lagi.

Yue Ning memotong ikatan di pergelangan tangannya.

“Kami tidak akan memaksamu menjawab sekarang,” katanya. “Tapi kau harus keluar dari peti itu. Kau bisa mati kalau terus berada di sini.”

Pria itu mencoba bangkit, lalu hampir jatuh. Lian bergerak refleks untuk menangkap bahunya.

Saat tangannya menyentuh kulit pria tersebut, panas menyengat pergelangan Lian.

Kitab di dalam tasnya bergetar keras.

Pria itu menjerit.

Bukan karena sentuhan Lian, melainkan karena sebuah garis hitam muncul di bawah kulit lehernya. Garis itu menjalar seperti akar tipis, berakhir tepat di bawah rahang.

Mo Jian segera menarik Lian menjauh.

“Jangan sentuh dia!”

“Aku cuma membantu berdiri!”

Garis hitam itu berdenyut. Pria tersebut terbatuk, dan darah mengalir dari sudut mulutnya.

Yue Ning memeriksa lehernya tanpa menyentuh tanda itu. “Ada sesuatu yang ditanamkan ke dalam tubuhnya.”

“Racun?” tanya salah satu murid.

“Belum tentu. Polanya tidak seperti racun biasa.”

Lian merasakan kitabnya semakin panas. Ia bisa membiarkannya begitu saja. Tidak ada seorang pun yang meminta bantuannya, dan Mo Jian sudah jelas melarangnya menyentuh apa pun.

Namun, pria di hadapannya mulai kejang.

Napasnya tersendat, sementara garis hitam itu merambat ke arah dadanya.

“Kalau kalian punya cara menghentikannya, sekarang waktu yang tepat,” kata Lian.

Yue Ning mengeluarkan jarum perak dan menekan dua titik di lengan pria tersebut. Tidak ada perubahan. Mo Jian mengalirkan energi spiritual ke telapak tangannya, tetapi begitu energi itu mendekati tanda hitam, ia terpental dan membuat pria tersebut menjerit lebih keras.

“Energinya menolak teknik penstabil,” kata Mo Jian.

“Jadi apa yang harus kita lakukan?” Lian menatapnya. “Membiarkannya mati sambil menunggu izin dari orang yang lebih tinggi?”

Rahang Mo Jian mengeras. “Aku sedang mencari cara.”

“Dia tidak punya banyak waktu.”

Lian berlutut di samping peti. Kali ini ia tidak langsung menyentuh pria itu. Ia membuka tas, mengeluarkan kitab, lalu menatap Yue Ning.

“Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil. Kalau apinya mulai menyebar, tarik aku menjauh.”

“Lian, tunggu,” kata Mo Jian.

“Kalau kau punya pilihan yang lebih baik, katakan sekarang.”

Mo Jian tidak menjawab.

Lian membuka kitab. Halaman-halamannya bergerak sendiri hingga berhenti pada simbol Api Hitam. Di bawahnya, sebuah baris baru muncul.

[Jejak tercemar terdeteksi.]

[Intervensi memungkinkan.]

[Peringatan: kegagalan dapat menyebabkan kerusakan meridian.]

Lian menelan ludah.

“Bagian peringatannya selalu lengkap,” gumamnya. “Bagian petunjuknya selalu hilang.”

Ia meletakkan dua jari di dekat tanda hitam pada leher pria itu. Tidak menyentuh kulit, hanya cukup dekat untuk merasakan denyut energi yang tidak wajar.

Api hitam muncul di ujung jarinya.

Kecil. Jauh lebih kecil daripada nyala yang menyelamatkan anak di tebing.

Lian mengarahkan api itu ke garis hitam, berusaha menahan dorongan untuk mengalirkan lebih banyak energi. Api tersebut tidak membakar kulit. Ia menyusup ke pola gelap itu seperti bara yang menemukan celah di tumpukan arang.

Pria itu menggeliat.

Lian merasakan sesuatu menarik balik dari dalam tanda tersebut. Bukan kekuatan besar, tetapi tekanan tajam yang seolah berusaha merobek aliran spiritualnya. Rasa sakit menjalar dari jari menuju siku.

“Lian!” seru Yue Ning.

“Aku tahu!”

Ia hampir menghentikan tekniknya. Namun, garis hitam itu sudah berhenti merambat. Di bawah nyala api, bentuknya terlihat lebih jelas: bukan akar, melainkan serangkaian karakter kecil yang saling terhubung.

Tulisan.

Lian tidak bisa membacanya. Ia bahkan tidak yakin itu bahasa manusia.

Kitabnya bergetar sekali.

Api hitam menyala lebih terang, lalu menelan satu bagian dari pola tersebut.

Pria itu terbatuk hebat. Gumpalan darah gelap keluar dari mulutnya dan jatuh ke lantai. Garis hitam di lehernya menyusut, berhenti di bawah telinga, kemudian memudar menjadi noda kelabu.

Lian segera memadamkan api.

Lengan kanannya kehilangan tenaga. Ia terpaksa menopang tubuh dengan satu tangan agar tidak jatuh ke samping peti.

Yue Ning menangkap bahunya.

“Kau terluka?”

“Cuma sedikit.”

“Jari-jarimu gemetar.”

“Sedikit sekali.”

Mo Jian memeriksa pria itu. Napasnya masih lemah, tetapi lebih teratur. Warna pucat di wajahnya perlahan berkurang.

“Dia masih hidup,” kata Yue Ning.

Lian menjatuhkan punggungnya ke dinding gudang. “Bagus. Aku mulai khawatir kita harus menjelaskan kepada keluarganya kenapa dia mati di dalam peti.”

Mo Jian menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Kau baru saja menggunakan teknik yang belum teridentifikasi pada seseorang yang mungkin terkena kutukan.”

“Dan dia masih hidup.”

“Itu tidak membuktikan bahwa tindakanmu aman.”

“Benar. Tapi tadi juga tidak ada pilihan yang aman.”

Untuk beberapa saat, Mo Jian tampak ingin membantah. Akhirnya ia mengalihkan perhatian kepada pria yang baru mereka selamatkan.

“Namamu siapa?”

Pria itu membuka mata dengan susah payah.

“Han... Han Rui.”

“Apakah kau penjaga Desa Qinghe?”

Ia mengangguk kecil.

“Di mana penjaga yang satunya?”

Han Rui menutup mata. Tubuhnya mulai gemetar lagi, kali ini bukan karena tanda hitam di lehernya.

“Mereka membawanya ke bawah.”

Yue Ning menoleh ke arah lantai gudang. “Ada ruang bawah tanah?”

Han Rui mengangkat tangan dengan susah payah dan menunjuk lingkaran formasi di tengah ruangan.

“Bukan ruang bawah tanah biasa. Ada lorong di bawah sana. Mereka menyuruh kami menjaga pintu, lalu memaksa kami menandatangani laporan bahwa ritual terlarang dilakukan oleh seorang kultivator iblis.”

Lian merasakan darahnya menjadi dingin.

“Siapa yang menyuruh kalian?”

Han Rui membuka mulut, tetapi suara yang keluar hanya desahan serak. Ia menatap lambang di dada Mo Jian sekali lagi, lalu mencengkeram lengan Yue Ning.

“Orang-orang berjubah putih,” bisiknya. “Mereka bilang semua ini demi menjaga kemurnian dunia kultivasi.”

Mo Jian tidak bergerak.

Di luar gudang, angin bertiup melewati celah dinding. Sebuah papan berderit pelan, disusul suara langkah kaki yang tidak berasal dari rombongan mereka.

Yue Ning langsung berdiri.

Mo Jian mencabut pedangnya.

Lian berusaha bangkit, tetapi lengannya terlalu lemah untuk menopang tubuh. Ia hanya sempat melihat bayangan melintas di balik celah pintu.

Lalu sebuah anak panah menembus dinding kayu dan menghantam peti tepat di samping kepala Han Rui.

Pada ujung anak panah terikat selembar kertas kecil.

Mo Jian merobeknya dengan ujung pedang.

Hanya ada satu kalimat di sana.

**Serahkan saksi itu, atau seluruh Desa Qinghe akan menanggung akibatnya.**

Han Rui membaca tulisan tersebut dan mulai menangis tanpa suara.

Lian memandang anak panah, lalu kitab di tangannya. Tulisan baru perlahan muncul di halaman yang terbuka.

[Jejak karma terhubung.]

[Saksi telah ditemukan.]

[Ancaman terhadap saksi: aktif.]

Lian menutup kitabnya.

Ia datang ke gudang itu untuk mencari jawaban. Sekarang ia tahu bahwa ada orang yang sengaja memalsukan tuduhan, menyiksa penjaga desa, dan bersembunyi di balik nama keadilan.

Namun, mereka juga tahu bahwa Han Rui masih hidup.

Dan jika Lian salah mengambil langkah berikutnya, pria itu mungkin tidak akan selamat untuk menceritakan siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 7

    Anak panah kedua menghantam kusen pintu sebelum Mo Jian sempat memerintahkan siapa pun bergerak.Kali ini tidak ada pesan yang diikatkan padanya. Ujung panahnya berwarna hijau kusam, dan asap tipis keluar dari bagian logam yang menancap di kayu.“Menjauh dari panah itu!” seru Yue Ning.Kedua murid Balai Pedang Putih segera menarik Han Rui menjauh dari peti. Mo Jian berdiri di antara pintu dan orang-orang di dalam gudang, pedangnya terhunus. Ia tidak langsung mengejar penyerang. Matanya menyapu atap, jendela, dan celah-celah dinding, mencari arah tembakan berikutnya.Lian berusaha berdiri dengan bantuan meja tua.Kakinya masih lemas akibat penggunaan Api Hitam. Lengan kanannya terasa seperti dipenuhi semut yang menggigit dari dalam. Kalau penyerang memutuskan masuk sekarang, kontribusinya dalam pertempuran mungkin hanya menjadi penghalang jalan.“Berapa orang?” bisiknya.“Belum diketahui,” jawab Mo Jian.“Bagus. Aku takut jawabannya terlalu menyenangkan.”Mo Jian meliriknya. “Kalau kau

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 6

    Gudang tua di sisi timur Desa Qinghe ternyata lebih buruk daripada yang Lian bayangkan.Atapnya miring, beberapa papan dinding sudah lapuk, dan rumput liar tumbuh di antara batu-batu fondasi. Dari jalan, bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun, jejak kaki di tanah basah menceritakan hal berbeda. Ada terlalu banyak tapak baru untuk sebuah gudang yang konon tidak digunakan siapa pun.Lian berhenti di belakang Mo Jian.“Kalau tempat ini benar-benar kosong, kenapa jejak kakinya lebih ramai daripada halaman sekteku?”Mo Jian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.Dua murid Balai Pedang Putih bergerak ke sisi bangunan. Yue Ning berjongkok di dekat pagar roboh, memeriksa bekas goresan pada tanah. Lian sendiri diminta tetap berada di belakang garis batu yang ditandai Mo Jian dengan pedangnya.Ia mematuhi perintah itu.Bukan karena ia mendadak menjadi murid teladan, melainkan karena lengannya masih terasa nyeri setiap kali ia mengingat nya

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 5

    Lian baru menyadari betapa buruknya keadaan ketika penjaga di depan kamarnya mengganti posisi untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setengah jam.Dua orang berdiri di depan pintu. Seorang lagi berjaga di ujung lorong. Di luar jendela, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di balik pagar kayu.Kalau mereka menambahkan rantai dan menggantung papan bertuliskan *Jangan Diberi Makan*, pikir Lian, tempat ini akan cocok dijadikan kandang binatang langka.Sayangnya, binatang langka yang dimaksud tampaknya adalah dirinya.Ia duduk di tepi ranjang, memijat pergelangan tangan yang masih terasa panas sejak kemunculan penyusup malam sebelumnya. Kitab Api Hitam Penembus Dosa tergeletak di atas meja. Sampulnya yang gelap tampak biasa saja, seolah benda itu tidak baru saja membuat hidupnya jauh lebih rumit.Lian menyentuh sudut kitab.“Kalau kau punya penjelasan, sekarang waktu yang bagus.”Tidak ada jawaban.“Petunjuk? Sedikit saja?”Sampul kitab bergetar halus.Lian langsung menarik ta

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 4

    Lian terbangun karena suara seseorang mengetuk pintu.Bukan ketukan sopan. Orang di luar mengetuk tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk lagi seolah pintu itu punya utang kepadanya.Lian menarik selimut sampai menutupi kepala.“Kalau aku sudah mati, silakan masuk. Kalau belum, datang lagi besok.”“Buka pintunya, Lian.”Ia mengenali suara Yue Ning.Lian duduk sambil mengusap wajah. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di tebing dan pemeriksaan lempeng spiritual. Ia sempat tertidur tanpa makan malam, sesuatu yang biasanya tidak akan ia lakukan bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun.“Sebentar.”“Sekarang.”“Kalau semua orang di tempat ini selalu terburu-buru, kapan mereka sempat menikmati hidup?”“Lima detik.”Lian membuka pintu.Yue Ning berdiri di lorong dengan sebuah bungkusan kain di tangannya. Ia masih mengenakan jubah biru muda, tetapi rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, lorong pos pengawas tampak sepi.“Kau belum makan,” katanya.Lian menatap bungkusan

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 3

    Jalan menuju pos pengawas melewati ladang kering dan sebuah kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lian berusaha mengabaikan buku hitam yang terasa berat di balik pakaiannya.Usahanya gagal.Setiap kali ia mengingat tulisan yang muncul di halaman buku, telapak tangannya kembali terasa panas.**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**Catatan apa?Siapa yang memanipulasinya?Dan yang paling penting, kenapa sebuah buku tua bisa bertingkah seperti orang cerewet yang tahu terlalu banyak?“Berhenti mengerutkan kening,” kata Yue Ning di sampingnya.Lian menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Wajahmu seperti orang yang baru menyadari utangnya jatuh tempo.”“Kalau aku punya utang, setidaknya aku tahu siapa yang harus kuhindari.”Yue Ning menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kau selalu bercanda ketika berada dalam masalah?”“Tidak selalu. Kadang-kadang aku juga panik.”“Sekarang?”“Sekarang aku sedang mempertimbangkan pilihan ketiga.”“Apa itu?”“Pingsan. Sayangnya,

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 2

    Lian baru berjalan sekitar seratus langkah ketika suara lonceng terdengar dari arah desa.Tiga kali.Bunyinya berat dan tergesa-gesa, disusul teriakan orang-orang yang saling memanggil. Dari balik pepohonan, beberapa penduduk berlari menuju jalan utama. Ada yang membawa tombak bambu, ada yang menggenggam cangkul, dan seorang lelaki tua bahkan mengangkat kursi kayu seolah benda itu bisa mengusir iblis.Lian berhenti.“Jangan-jangan mereka mau mengadakan pesta penyambutan.”Ia melirik telapak tangannya. Bekas nyala hitam tadi sudah lenyap, tetapi rasa panasnya masih menjalar sampai ke siku. Jari-jarinya gemetar setiap kali ia mencoba mengepalkannya.“Kalau pestanya buat orang yang hampir mati, aku izin pulang dulu.”Ia baru hendak melanjutkan langkah ketika seorang perempuan berlari melewatinya. Wajahnya pucat, napasnya tersengal.“Kau! Kau yang tadi di tebing!”Lian menunjuk dirinya sendiri. “Kalau yang dimaksud orang tampan dan kurang beruntung, mungkin benar.”Perempuan itu tidak ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status