Share

Chapter 5

Author: M. Sevian F
last update publish date: 2026-10-15 11:27:24

Lian baru menyadari betapa buruknya keadaan ketika penjaga di depan kamarnya mengganti posisi untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setengah jam.

Dua orang berdiri di depan pintu. Seorang lagi berjaga di ujung lorong. Di luar jendela, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di balik pagar kayu.

Kalau mereka menambahkan rantai dan menggantung papan bertuliskan *Jangan Diberi Makan*, pikir Lian, tempat ini akan cocok dijadikan kandang binatang langka.

Sayangnya, binatang langka yang dimaksud tampaknya adalah dirinya.

Ia duduk di tepi ranjang, memijat pergelangan tangan yang masih terasa panas sejak kemunculan penyusup malam sebelumnya. Kitab Api Hitam Penembus Dosa tergeletak di atas meja. Sampulnya yang gelap tampak biasa saja, seolah benda itu tidak baru saja membuat hidupnya jauh lebih rumit.

Lian menyentuh sudut kitab.

“Kalau kau punya penjelasan, sekarang waktu yang bagus.”

Tidak ada jawaban.

“Petunjuk? Sedikit saja?”

Sampul kitab bergetar halus.

Lian langsung menarik tangannya.

Beberapa detik kemudian, tidak terjadi apa-apa.

“Hebat. Bahkan benda mati pun tahu cara mempermainkan orang.”

Ketukan terdengar dari pintu.

“Lian,” panggil suara Mo Jian. “Keluar. Ada pemeriksaan lanjutan.”

Lian memandang pintu dengan tatapan kosong. “Kalau aku bilang sedang sakit?”

“Kau memang terluka. Tabib sudah memeriksamu.”

“Kalau aku bilang sedang merenungkan makna kehidupan?”

“Lima napas. Setelah itu aku masuk.”

Lian berdiri sambil menghela napas. “Orang ini benar-benar tidak punya selera humor.”

Ia membuka pintu sebelum Mo Jian menepati ancamannya.

Mo Jian berdiri dengan pakaian putih Balai Pedang Putih yang bersih tanpa noda. Pedang di pinggangnya tidak pernah jauh dari jangkauan. Di belakangnya ada Yue Ning, membawa sebuah kotak kayu kecil dan gulungan kain.

“Kami menemukan sesuatu di tempat penyusup itu menghilang,” kata Yue Ning.

Lian langsung menatap kotak tersebut. “Makanan?”

“Bukan.”

“Kalau begitu, aku kecewa.”

Yue Ning tidak tersenyum, tetapi sudut matanya bergerak sedikit. “Kau selalu bercanda ketika sedang terpojok?”

“Tidak. Kadang-kadang aku juga mengeluh.”

Mo Jian berdeham. “Ikut kami.”

“Ke mana?”

“Ruang pemeriksaan.”

“Apakah ada kursi?”

“Ada.”

“Makanan?”

“Tidak.”

“Tempat ini makin tidak manusiawi.”

Mo Jian berbalik tanpa menanggapi. Lian mengikuti mereka, dengan dua penjaga berjalan di belakangnya. Ia tidak menyukai pengawalan itu, tetapi belum punya alasan kuat untuk melawan. Melarikan diri dari pos pemeriksaan dengan tubuh setengah pulih dan kitab yang bahkan belum dipahaminya bukan rencana yang layak disebut rencana.

Ruang pemeriksaan berada di bangunan utama, tepat di sebelah tempat penyimpanan alat pendeteksi energi spiritual. Sebuah meja batu memenuhi bagian tengah ruangan. Di atasnya terletak pecahan lempeng spiritual yang digunakan untuk menguji Lian sehari sebelumnya.

Di sampingnya terdapat benda berbentuk setengah lingkaran, terbuat dari logam abu-abu.

Lian berhenti di ambang pintu.

Bentuknya hampir sama dengan benda yang dibawa penyusup.

“Ditemukan di luar jendelamu?” tanyanya.

“Tidak persis,” jawab Yue Ning. “Benda ini ditemukan di bawah lantai kayu dekat dinding belakang. Kami memeriksa area itu setelah penjaga ditemukan pingsan.”

“Jadi penyusup itu meninggalkan hadiah.”

“Jangan menyentuhnya,” kata Mo Jian.

Lian mengangkat kedua tangan. “Aku belum melakukan apa-apa.”

“Kau memiliki teknik yang belum teridentifikasi. Untuk sementara, semua benda yang mungkin berhubungan dengannya harus diperiksa lebih dahulu.”

“Masuk akal.” Lian menarik kursi dan duduk. “Walaupun akan lebih masuk akal kalau kalian menjelaskan apa yang sedang terjadi.”

Mo Jian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan sebuah lembar laporan di meja, lalu menunjuk simbol yang digambar di bagian bawahnya.

Lingkaran terputus. Tiga garis melengkung di bagian dalam. Sebuah titik hitam tepat di tengah.

Lian mengenali bentuk itu.

Simbol yang sama pernah muncul di halaman kitabnya.

Yue Ning memperhatikan perubahan ekspresinya. “Kau pernah melihatnya?”

“Di kitab.”

“Apakah bentuknya persis sama?”

“Tidak tahu. Yang di kitab lebih rumit. Tapi bagian tengahnya sama.”

Mo Jian menyilangkan tangan. “Itulah sebabnya kami mengadakan pemeriksaan lanjutan. Benda ini meninggalkan sisa energi yang mirip dengan pola pada lempeng kemarin.”

“Mirip dengan energiku?”

“Mirip dengan pola yang muncul ketika energimu diuji,” koreksi Mo Jian. “Kami belum memastikan bahwa sumbernya sama.”

Lian mengangguk pelan. Setidaknya orang ini masih bisa membedakan dugaan dari bukti.

Yue Ning membuka kotak kayu yang dibawanya. Di dalamnya terdapat tiga keping batu tipis berwarna putih kusam.

“Ini diambil dari gudang tua di sisi timur Desa Qinghe,” katanya. “Kami menemukan bekas formasi di sana. Bukan formasi pemanggilan biasa, meskipun seseorang berusaha membuatnya terlihat seperti itu.”

Lian teringat laporan yang mereka tunjukkan sebelumnya. Gangguan energi dari timur, sementara ia menyelamatkan anak itu di tebing sebelah barat.

“Gudang itu tempat dua penjaga menghilang?”

Yue Ning mengangguk.

“Dan kalian menemukan bukti bahwa ada orang yang sengaja mengubah laporan?”

“Kami menemukan ketidaksesuaian,” jawabnya. “Itu belum cukup untuk menyimpulkan siapa yang mengubahnya.”

“Bagus. Setidaknya masih ada orang yang mau mengatakan belum tahu.”

Mo Jian meliriknya. “Kau tampak kecewa karena kami tidak langsung menuduh seseorang.”

“Tidak. Aku hanya sudah cukup sering dituduh tanpa penjelasan.”

Ucapan itu membuat ruangan sejenak hening.

Lian sendiri tidak tahu mengapa ia mengatakannya dengan nada lebih tajam daripada yang dimaksudkan. Mungkin karena lelah. Mungkin karena setiap orang yang ditemuinya sejak menyelamatkan anak itu selalu memandang tangannya seolah api hitam bisa muncul kapan saja dan membakar mereka semua.

Atau mungkin ia hanya ingin satu hari tanpa harus membuktikan bahwa dirinya bukan monster.

Yue Ning menggeser salah satu batu putih ke tengah meja.

“Kami ingin melihat bagaimana kitabmu bereaksi terhadap sisa formasi ini. Kau tidak harus mengaktifkan teknik apa pun. Cukup letakkan kitab di dekatnya.”

“Dan kalau meledak?”

“Kami akan menghentikan pemeriksaan.”

“Jawaban yang sangat menenangkan.”

Lian mengambil kitabnya dari tas kain yang dibawanya. Ia sempat ragu sebelum meletakkannya di meja, beberapa jari dari batu putih.

Awalnya tidak ada perubahan.

Kemudian simbol pada batu itu menyala redup.

Kitab terasa hangat di bawah telapak tangan Lian. Ia buru-buru mengangkat tangannya, tetapi halaman depan sudah terbuka sendiri.

Tulisan hitam muncul di atas kertas yang sebelumnya kosong.

[Jejak karma asing terdeteksi.]

[Sumber: tidak lengkap.]

[Hubungan dengan Api Hitam: belum dapat dipastikan.]

Lian membaca tulisan itu dua kali.

“Kitab ini biasanya lebih suka berbicara ketika aku sedang sendirian.”

“Kitabmu bisa menulis sendiri?” tanya Yue Ning.

“Sayangnya.”

“Apakah tulisan ini selalu muncul dalam bentuk yang sama?”

“Tidak. Kadang-kadang ia memberikan peringatan. Kadang-kadang hanya membuatku penasaran tanpa menjelaskan apa pun.”

Mo Jian mendekat, tetapi tidak menyentuh halaman. “Bacakan semuanya.”

Lian melakukannya.

Ketika ia selesai, Yue Ning menatap batu putih itu dengan alis berkerut. “Jejak karma asing. Jadi kitab ini tidak sedang mendeteksi energi spiritual biasa.”

“Kelihatannya begitu.”

“Jangan terburu-buru menyimpulkan,” kata Mo Jian. “Kita belum tahu apakah istilah yang digunakan kitab itu memiliki arti yang sama dengan catatan kuno.”

“Catatan kuno tentang Balai Penghakiman Karma?” tanya Lian.

Mo Jian menatapnya tajam.

Yue Ning yang menjawab. “Aku hanya pernah melihat nama itu dalam beberapa salinan arsip. Lembaga tersebut konon bertugas mencatat pelanggaran terhadap hukum karma. Sebagian besar catatannya hilang, dan keberadaannya dianggap tidak relevan setelah runtuhnya beberapa dinasti lama.”

“Dan simbol ini milik mereka?”

“Bisa jadi. Aku belum yakin.”

Lian menunduk menatap kitab. “Jadi benda ini mungkin milik lembaga yang sudah lama menghilang, bereaksi terhadap formasi mencurigakan di desa, sementara seseorang menyelinap ke kamarku untuk meninggalkan alat yang sama.”

Ia mengangkat kepala.

“Apakah ada bagian dari cerita ini yang tidak merepotkan?”

“Belum ditemukan,” jawab Yue Ning.

Kali ini Lian hampir tertawa sungguhan.

Lalu batu putih di atas meja retak.

Suara kecil itu segera memadamkan suasana.

Garis hitam merambat dari tengah batu, membelah permukaannya hingga membentuk pola yang sama dengan simbol pada kitab. Udara di sekitar meja mendadak terasa berat. Lian merasakan panas menjalar dari pergelangan tangannya menuju siku.

Kitab terbuka lebih lebar.

Api hitam muncul di antara halaman, kecil seperti nyala lilin. Tidak ada asap, tetapi bau belerang samar memenuhi ruangan.

Mo Jian mencabut pedangnya setengah jengkal.

“Lian, kendalikan energimu.”

“Aku tidak sedang melakukan apa-apa!”

Nyala itu berkedip. Sesuatu yang menyerupai benang tipis merambat keluar dari batu putih, melayang ke arah kitab. Saat keduanya hampir bersentuhan, Lian melihat kilasan gambar di dalam pikirannya.

Gudang kayu.

Lantai berlumur cairan gelap.

Dua orang berdiri di depan lingkaran formasi. Salah satunya mengenakan jubah putih, tetapi bagian lambang di dadanya telah dihapus. Orang kedua memegang sebuah lempeng abu-abu.

Kemudian terdengar suara.

Bukan suara yang benar-benar ia dengar, melainkan gema yang terasa di belakang matanya.

*Catatan harus diselesaikan sebelum saksi ditemukan.*

Gambar itu lenyap.

Lian tersentak. Api hitam padam seketika, meninggalkan rasa nyeri tajam di lengan kanannya. Ia menggenggam pergelangan tangan, menahan napas sampai rasa sakitnya sedikit mereda.

Yue Ning sudah berada di samping meja. “Apa yang kau lihat?”

Lian menatap batu yang retak.

Ia bisa saja menjawab bahwa dirinya tidak tahu. Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Kilasan tadi terlalu singkat untuk dipahami.

Namun, ia juga tahu bahwa jika menyembunyikannya, mereka mungkin akan kehilangan petunjuk yang tidak akan muncul lagi.

“Aku melihat gudang itu,” katanya. “Dua orang sedang melakukan sesuatu pada sebuah formasi. Salah satunya memakai jubah putih, tapi lambangnya sudah dihapus.”

Mo Jian menegang.

“Apakah kau mengenali mereka?”

“Tidak.”

“Apakah kau melihat wajah mereka?”

“Tidak jelas.”

“Dan kau mendengar suara?”

Lian mengangguk, lalu mengulangi kalimat yang didengarnya.

Ketika ia selesai, Mo Jian tidak langsung berbicara. Tatapannya beralih ke laporan di atas meja, tepat pada bagian yang menyebutkan bahwa ritual terlarang telah ditemukan di gudang timur.

Yue Ning mengambil laporan itu. “Kalimat ini tidak ada dalam catatan awal.”

“Penglihatan bukan bukti,” kata Mo Jian.

“Aku tahu,” jawab Yue Ning. “Tapi sekarang kita memiliki tiga hal yang perlu diperiksa. Formasi di gudang, laporan yang berubah, dan seseorang yang berusaha mengawasi Lian.”

“Empat,” sela Lian.

Mereka menoleh kepadanya.

“Dua penjaga yang hilang. Kalau mereka masih hidup, mungkin mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Mo Jian mengembalikan pedangnya ke sarung.

“Aku akan mengirim orang ke gudang dan memeriksa daftar penjaga. Tidak seorang pun memasuki tempat itu tanpa izin. Sampai kita memahami hubungan antara kitabmu dan formasi tersebut, kau tetap berada di bawah pengawasan.”

“Bahkan kalau aku tidak melakukan apa-apa?”

“Terutama karena kita belum tahu apa yang sedang terjadi.”

Lian ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya bukan tahanan, bukan tersangka yang sudah terbukti bersalah, dan bukan alat untuk menyelesaikan masalah orang lain.

Namun, rasa panas yang masih tertinggal di lengannya mengingatkannya pada satu kenyataan yang sulit disangkal. Ia memang belum menguasai kekuatan itu. Jika api hitam tadi menyambar orang lain, ia tidak yakin bisa menghentikannya.

“Baik,” katanya akhirnya. “Tapi aku ikut ketika kalian memeriksa gudang.”

“Tidak.”

“Kalau penglihatan tadi berasal dari kitabku, aku mungkin bisa membantu mengenali sesuatu.”

“Atau kau bisa kehilangan kendali di tengah pemeriksaan.”

“Kalau aku tetap di sini, kalian juga tidak akan mendapatkan jawaban.”

Mo Jian menatapnya lama. Keduanya sama-sama keras kepala, dan Lian mulai menduga bahwa percakapan ini tidak akan selesai sebelum salah satu dari mereka kehilangan kesabaran.

Yue Ning akhirnya angkat bicara.

“Biarkan dia ikut sampai batas luar gudang. Dua penjaga akan mendampinginya. Jika energinya bereaksi, pemeriksaan dihentikan.”

Mo Jian tampak tidak menyukai usulan itu. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa petunjuk paling jelas sejauh ini muncul dari kitab milik Lian.

“Batas luar saja,” putusnya. “Kau tidak menyentuh formasi tanpa izin. Kau tidak mengaktifkan teknik. Dan jika aku menyuruhmu mundur, kau mundur.”

Lian mengangkat telunjuk. “Boleh satu permintaan tambahan?”

“Tidak.”

“Aku belum mengatakannya.”

“Jawabannya tetap tidak.”

“Baiklah. Aku hanya ingin mencatat bahwa kalian memperlakukan tamu dengan sangat buruk.”

“Kalau kau tamu,” kata Mo Jian, “berhentilah membuat tempat yang kau kunjungi terbakar.”

Lian melirik kitabnya.

“Percayalah, aku juga ingin tahu cara menghentikannya.”

Mereka meninggalkan ruang pemeriksaan menjelang sore. Dua penjaga diperintahkan menyiapkan perlengkapan untuk perjalanan singkat ke gudang timur. Yue Ning membawa salinan laporan, sementara Mo Jian pergi menemui kepala pos untuk meminta izin resmi.

Lian kembali ke kamarnya sebentar untuk mengambil tas kain.

Kitab itu terbuka ketika ia meletakkannya di dalam.

Satu baris tulisan muncul di halaman kosong.

[Jejak karma pertama telah berubah.]

Lian mengerutkan kening.

Di bawahnya, tulisan kedua muncul perlahan.

[Saksi masih hidup.]

Ia membeku.

Saksi siapa?

Dua penjaga yang hilang? Orang yang menyaksikan formasi di gudang? Atau seseorang yang melihat apa yang terjadi sebelum laporan itu diubah?

Sebelum Lian sempat memikirkan kemungkinan lain, tinta hitam merembes di bawah kedua kalimat tersebut, membentuk simbol setengah lingkaran yang sama dengan tanda yang ditemukan di luar jendelanya.

Kemudian muncul peringatan terakhir.

[Jika saksi ditemukan oleh pihak yang salah, jejak ini akan terhapus.]

Lian menutup kitab dengan hati-hati.

Untuk pertama kalinya sejak menerima warisan itu, ia tidak merasa kitab tersebut sekadar menyembunyikan jawaban darinya.

Kitab itu sedang memperingatkannya bahwa seseorang mungkin akan dibungkam sebelum sempat berbicara.

Dan kali ini, jika Lian terlambat bertindak, tidak ada jaminan bahwa api hitamnya bisa menyelamatkan siapa pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 8

    Nama pemeriksa yang telah meninggal tiga tahun lalu itu tercetak jelas di bagian bawah laporan.Mo Jian menatapnya cukup lama hingga nyala lampu minyak di atas meja berkedip dua kali.“Tidak mungkin,” katanya.Lian duduk bersandar pada dinding gudang, lengan kanannya terbungkus kain seadanya. Setiap kali ia menggerakkan jari, rasa nyeri menjalar dari pergelangan hingga siku. Menggunakan Api Hitam untuk merusak formasi tadi memang berhasil menyelamatkan Yue Ning, tetapi tubuhnya seolah masih menagih harga dari keputusan itu.“Kalau namanya benar-benar milik orang mati, mungkin dia sudah bosan beristirahat di kuburan,” gumam Lian. “Sekarang dia bekerja lembur.”Tidak ada yang tertawa.Lian mengembuskan napas. Rupanya leluconnya juga kelelahan.Yue Ning mengambil laporan itu dari tangan Mo Jian, lalu memeriksa cap merah di sudut bawah. Ia membandingkannya dengan cap pada dua lembar lain yang mereka temukan di ruang bawah tanah.“Ketiganya menggunakan nama pemeriksa yang sama,” katanya. “

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 7

    Anak panah kedua menghantam kusen pintu sebelum Mo Jian sempat memerintahkan siapa pun bergerak.Kali ini tidak ada pesan yang diikatkan padanya. Ujung panahnya berwarna hijau kusam, dan asap tipis keluar dari bagian logam yang menancap di kayu.“Menjauh dari panah itu!” seru Yue Ning.Kedua murid Balai Pedang Putih segera menarik Han Rui menjauh dari peti. Mo Jian berdiri di antara pintu dan orang-orang di dalam gudang, pedangnya terhunus. Ia tidak langsung mengejar penyerang. Matanya menyapu atap, jendela, dan celah-celah dinding, mencari arah tembakan berikutnya.Lian berusaha berdiri dengan bantuan meja tua.Kakinya masih lemas akibat penggunaan Api Hitam. Lengan kanannya terasa seperti dipenuhi semut yang menggigit dari dalam. Kalau penyerang memutuskan masuk sekarang, kontribusinya dalam pertempuran mungkin hanya menjadi penghalang jalan.“Berapa orang?” bisiknya.“Belum diketahui,” jawab Mo Jian.“Bagus. Aku takut jawabannya terlalu menyenangkan.”Mo Jian meliriknya. “Kalau kau

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 6

    Gudang tua di sisi timur Desa Qinghe ternyata lebih buruk daripada yang Lian bayangkan.Atapnya miring, beberapa papan dinding sudah lapuk, dan rumput liar tumbuh di antara batu-batu fondasi. Dari jalan, bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun, jejak kaki di tanah basah menceritakan hal berbeda. Ada terlalu banyak tapak baru untuk sebuah gudang yang konon tidak digunakan siapa pun.Lian berhenti di belakang Mo Jian.“Kalau tempat ini benar-benar kosong, kenapa jejak kakinya lebih ramai daripada halaman sekteku?”Mo Jian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.Dua murid Balai Pedang Putih bergerak ke sisi bangunan. Yue Ning berjongkok di dekat pagar roboh, memeriksa bekas goresan pada tanah. Lian sendiri diminta tetap berada di belakang garis batu yang ditandai Mo Jian dengan pedangnya.Ia mematuhi perintah itu.Bukan karena ia mendadak menjadi murid teladan, melainkan karena lengannya masih terasa nyeri setiap kali ia mengingat nya

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 5

    Lian baru menyadari betapa buruknya keadaan ketika penjaga di depan kamarnya mengganti posisi untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setengah jam.Dua orang berdiri di depan pintu. Seorang lagi berjaga di ujung lorong. Di luar jendela, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di balik pagar kayu.Kalau mereka menambahkan rantai dan menggantung papan bertuliskan *Jangan Diberi Makan*, pikir Lian, tempat ini akan cocok dijadikan kandang binatang langka.Sayangnya, binatang langka yang dimaksud tampaknya adalah dirinya.Ia duduk di tepi ranjang, memijat pergelangan tangan yang masih terasa panas sejak kemunculan penyusup malam sebelumnya. Kitab Api Hitam Penembus Dosa tergeletak di atas meja. Sampulnya yang gelap tampak biasa saja, seolah benda itu tidak baru saja membuat hidupnya jauh lebih rumit.Lian menyentuh sudut kitab.“Kalau kau punya penjelasan, sekarang waktu yang bagus.”Tidak ada jawaban.“Petunjuk? Sedikit saja?”Sampul kitab bergetar halus.Lian langsung menarik ta

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 4

    Lian terbangun karena suara seseorang mengetuk pintu.Bukan ketukan sopan. Orang di luar mengetuk tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk lagi seolah pintu itu punya utang kepadanya.Lian menarik selimut sampai menutupi kepala.“Kalau aku sudah mati, silakan masuk. Kalau belum, datang lagi besok.”“Buka pintunya, Lian.”Ia mengenali suara Yue Ning.Lian duduk sambil mengusap wajah. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di tebing dan pemeriksaan lempeng spiritual. Ia sempat tertidur tanpa makan malam, sesuatu yang biasanya tidak akan ia lakukan bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun.“Sebentar.”“Sekarang.”“Kalau semua orang di tempat ini selalu terburu-buru, kapan mereka sempat menikmati hidup?”“Lima detik.”Lian membuka pintu.Yue Ning berdiri di lorong dengan sebuah bungkusan kain di tangannya. Ia masih mengenakan jubah biru muda, tetapi rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, lorong pos pengawas tampak sepi.“Kau belum makan,” katanya.Lian menatap bungkusan

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 3

    Jalan menuju pos pengawas melewati ladang kering dan sebuah kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lian berusaha mengabaikan buku hitam yang terasa berat di balik pakaiannya.Usahanya gagal.Setiap kali ia mengingat tulisan yang muncul di halaman buku, telapak tangannya kembali terasa panas.**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**Catatan apa?Siapa yang memanipulasinya?Dan yang paling penting, kenapa sebuah buku tua bisa bertingkah seperti orang cerewet yang tahu terlalu banyak?“Berhenti mengerutkan kening,” kata Yue Ning di sampingnya.Lian menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Wajahmu seperti orang yang baru menyadari utangnya jatuh tempo.”“Kalau aku punya utang, setidaknya aku tahu siapa yang harus kuhindari.”Yue Ning menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kau selalu bercanda ketika berada dalam masalah?”“Tidak selalu. Kadang-kadang aku juga panik.”“Sekarang?”“Sekarang aku sedang mempertimbangkan pilihan ketiga.”“Apa itu?”“Pingsan. Sayangnya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status