LOGINAnak panah kedua menghantam kusen pintu sebelum Mo Jian sempat memerintahkan siapa pun bergerak.
Kali ini tidak ada pesan yang diikatkan padanya. Ujung panahnya berwarna hijau kusam, dan asap tipis keluar dari bagian logam yang menancap di kayu.
“Menjauh dari panah itu!” seru Yue Ning.
Kedua murid Balai Pedang Putih segera menarik Han Rui menjauh dari peti. Mo Jian berdiri di antara pintu dan orang-orang di dalam gudang, pedangnya terhunus. Ia tidak langsung mengejar penyerang. Matanya menyapu atap, jendela, dan celah-celah dinding, mencari arah tembakan berikutnya.
Lian berusaha berdiri dengan bantuan meja tua.
Kakinya masih lemas akibat penggunaan Api Hitam. Lengan kanannya terasa seperti dipenuhi semut yang menggigit dari dalam. Kalau penyerang memutuskan masuk sekarang, kontribusinya dalam pertempuran mungkin hanya menjadi penghalang jalan.
“Berapa orang?” bisiknya.
“Belum diketahui,” jawab Mo Jian.
“Bagus. Aku takut jawabannya terlalu menyenangkan.”
Mo Jian meliriknya. “Kalau kau masih sanggup bercanda, berarti kau masih sanggup berjalan. Bawa Han Rui ke belakang.”
Lian tidak membantah. Ia membantu Yue Ning memapah penjaga itu menuju bagian gudang yang lebih terlindung. Han Rui hampir tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri. Setiap kali suara kayu berderit dari luar, jari-jarinya mencengkeram pakaian Yue Ning seolah seseorang sedang berusaha menariknya kembali ke dalam peti.
“Tenang,” kata Yue Ning. “Kami akan membawamu keluar.”
“Tidak bisa,” gumam Han Rui. “Mereka sudah menunggu.”
“Siapa?”
Han Rui tidak menjawab.
Lian memperhatikan wajahnya. Pria itu bukan sekadar ketakutan pada orang yang berada di luar. Ada sesuatu yang lebih buruk, sesuatu yang membuatnya percaya bahwa melarikan diri hanya akan menunda kematian.
“Han Rui,” panggil Lian pelan. “Dengar, aku tidak tahu siapa mereka. Aku juga tidak tahu apakah kami bisa mengalahkan mereka. Tapi kalau kau terus diam, kami bahkan tidak tahu ke arah mana harus melindungimu.”
Mata Han Rui bergerak ke arah kitab yang terselip di pinggang Lian.
“Api itu,” bisiknya.
Lian menunduk. “Apa?”
“Api hitam yang kau gunakan untuk mengeluarkan benda itu dari tubuhku.”
Yue Ning dan Lian saling pandang.
Han Rui menelan ludah. “Mereka bilang api seperti itu akan muncul lagi. Mereka bilang siapa pun yang mewarisinya akan membawa bencana.”
Lian merasakan tengkuknya menegang.
“Siapa yang mengatakan itu?”
Sebelum Han Rui sempat menjawab, suara benturan keras terdengar dari depan gudang.
Mo Jian bergerak.
“Yue Ning, bawa mereka ke pintu samping. Kalian berdua ikut aku!”
Ia menerjang keluar melewati pintu depan. Dua murid mengikutinya, pedang terangkat. Dari celah dinding, Lian sempat melihat sosok berjubah kelabu melompat turun dari pagar dan berlari ke arah kebun bambu.
Mo Jian mengejar tanpa ragu.
Lian hampir mengikuti mereka, tetapi Han Rui mendadak mencengkeram lengannya.
“Jangan lewat sana!”
Lian berhenti. “Kenapa?”
“Pintu samping. Mereka memasang sesuatu di tanah.”
Yue Ning segera memberi isyarat kepada kedua murid yang tersisa agar tidak mendekati pintu itu. Ia mengambil batu kecil dari kantongnya, lalu melemparkannya melewati ambang.
Begitu batu menyentuh tanah di luar, garis merah menyala di antara rumput.
Sebuah ledakan pendek mengguncang dinding. Serpihan tanah dan kayu berhamburan ke dalam gudang.
Lian menjatuhkan diri sambil melindungi kepala Han Rui. Debu memenuhi udara. Telinganya berdenging, dan rasa sakit menjalar dari siku hingga bahu.
Ketika ia mengangkat kepala, lubang menganga di dekat pintu samping. Tidak besar, tetapi cukup untuk merobohkan seseorang yang melewatinya.
Yue Ning menatap bekas ledakan itu dengan wajah pucat.
“Perangkap pembatas energi,” katanya. “Mereka tidak ingin kita keluar lewat jalur itu.”
“Berarti mereka ingin kita tetap di sini,” kata Lian.
“Bukan hanya itu.” Yue Ning memeriksa tanah di sekitar lubang. “Mereka ingin kita memilih jalan yang sudah mereka siapkan.”
Lian mengingat posisi pintu depan, pintu samping, dan lorong sempit di belakang gudang. Semua jalur keluar tampak mudah diawasi. Jika mereka memaksa keluar, penyerang bisa menyerang dari kebun bambu atau meledakkan perangkap lainnya.
Seseorang sudah mempelajari bangunan ini sebelum mereka tiba.
Dan seseorang tahu bahwa mereka akan membawa Han Rui keluar.
“Apakah ada jalan lain?” tanya Lian.
Yue Ning memandang tumpukan peti di sudut ruangan.
“Han Rui bilang ada lorong di bawah lantai.”
Mereka segera kembali ke lingkaran formasi. Yue Ning dan dua murid menggeser peti-peti yang menutupi sebagian lantai. Di bawah lapisan papan lapuk, mereka menemukan cincin besi kecil.
Lian membantu menariknya dengan tangan kiri. Papan lantai terangkat, memperlihatkan tangga sempit menuju kegelapan.
Udara dingin mengalir dari bawah. Baunya seperti batu basah dan logam tua.
Han Rui mulai gemetar lebih hebat.
“Jangan turun,” katanya.
“Kenapa?” tanya Yue Ning.
“Di bawah sana... mereka membawa penjaga kedua.”
“Apakah dia masih hidup?”
Han Rui memejamkan mata.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu sudah cukup.
Yue Ning mengambil lampu minyak dari rak. “Kita harus memeriksanya.”
“Dan masuk ke tempat yang mungkin dipenuhi perangkap?” Lian menatap tangga itu. “Aku tidak menentang keberanian, tapi aku lebih suka keberanian yang punya peluang hidup.”
“Kita tidak bisa meninggalkan orang di bawah sana.”
“Aku tidak bilang kita harus meninggalkannya.”
Lian berjongkok di tepi lubang, memperhatikan dinding batu. Di antara dua anak tangga, ada goresan panjang yang terlalu teratur untuk terbentuk karena usia. Ia mengulurkan tangan kiri, menyentuh tepi batu, lalu segera menariknya kembali.
Ada aliran udara yang bergerak dari bawah ke atas.
“Lorong ini punya ventilasi,” katanya. “Kalau ada orang yang membuatnya, pasti ada jalur udara lain. Kita tidak perlu turun lewat tangga utama.”
Yue Ning mendekat. “Kau bisa melihat jalur lain?”
“Tidak. Tapi aku bisa merasakan udara bergerak. Lihat debu di sisi kanan. Ada celah di balik batu itu.”
Ia mengambil sepotong kayu dan mengetuk dinding. Sebagian besar menghasilkan bunyi padat. Satu bagian terdengar kosong.
Kedua murid membantu menyingkirkan batu-batu kecil. Di baliknya ditemukan lorong sempit, cukup lebar untuk satu orang merangkak. Jejak gesekan terlihat pada lantainya.
“Ini jalur pengangkutan,” kata Yue Ning. “Mungkin digunakan untuk membawa barang tanpa melewati pintu utama.”
“Bagus,” gumam Lian. “Akhirnya ada seseorang yang membangun sesuatu dengan masuk akal.”
Mereka mengikat Han Rui pada tandu sederhana dari dua batang kayu dan kain tebal. Salah satu murid tetap di gudang untuk menjaga pintu masuk, sementara Yue Ning memimpin Lian dan seorang penjaga lain melewati lorong sempit.
Lian merangkak di belakangnya. Batu-batu kasar menggesek punggungnya. Ia harus menahan napas setiap kali lorong menyempit, dan lengan kanannya berdenyut setiap kali ia bertumpu pada siku.
Setelah beberapa puluh langkah, mereka mendengar suara batuk.
Yue Ning memadamkan lampu minyak dan memberi isyarat agar mereka berhenti.
Di depan, lorong berakhir pada celah yang ditutupi papan. Dari baliknya terdengar suara seseorang mengerang.
Lian mendekat dan mengintip.
Sebuah ruangan kecil terbentang di bawah gudang. Di tengahnya terdapat kursi kayu dengan seorang pria terikat di atasnya. Wajahnya bengkak, salah satu matanya tertutup darah kering. Di dekatnya berdiri dua orang berjubah putih.
Lambang di dada mereka telah dihapus.
Salah satu dari mereka memegang lempeng abu-abu, benda yang bentuknya sama dengan alat yang ditemukan di dekat kamar Lian.
“Catatan terakhir sudah disiapkan,” kata orang pertama. “Begitu saksi itu mati, kita bisa menyelesaikan laporan.”
“Dan kultivator muda itu?”
“Biarkan dia menjadi tersangka. Api Hitam sudah muncul kembali. Tidak akan sulit membuat orang percaya bahwa dia terlibat.”
Lian merasakan darahnya berdesir.
Mereka tidak sedang berusaha membersihkan nama siapa pun. Mereka sedang membangun cerita, lalu mencari seseorang yang cukup cocok untuk dijadikan penjahatnya.
Yue Ning menatapnya dari samping. Wajahnya tetap tenang, tetapi jari-jarinya mencengkeram gagang pedang.
Salah satu orang di ruangan bawah mengangkat lempeng abu-abu. Permukaannya berkilau, lalu sebuah cahaya tipis menjalar ke arah pria yang terikat.
Pria itu menjerit.
Lian tidak bisa melihat apa yang dilakukan alat tersebut, tetapi ia mengenali pola energi yang muncul di leher Han Rui. Tanda hitam yang tadi mereka padamkan.
Mereka sedang menanamkan jejak yang sama kepada penjaga kedua.
“Kalau kita menunggu, dia akan mati,” bisik Lian.
Yue Ning mengangguk. “Aku mengalihkan perhatian mereka. Kau bebaskan tahanan itu.”
“Dengan lengan seperti ini?”
“Kau punya rencana lebih baik?”
“Banyak. Sayangnya, sebagian besar melibatkan tidur dan makan.”
Yue Ning tidak menanggapi. Ia mengambil sebuah batu kecil, lalu melemparkannya ke sudut ruangan. Batu itu menghantam rak logam dan menimbulkan bunyi nyaring.
Kedua orang berjubah putih menoleh.
Yue Ning menerobos celah papan, mendarat di lantai ruangan bawah, dan menghunus pedang.
“Atas nama Balai Pedang Putih, letakkan senjata kalian!”
Salah satu pria tertawa pendek.
“Kau datang lebih cepat dari perkiraan.”
Ia mengayunkan lempeng abu-abu. Cahaya hitam menyebar di lantai, membentuk lingkaran yang langsung menutup jalur keluar.
Yue Ning berhenti tepat sebelum menyentuhnya.
Lian tidak punya waktu untuk mengagumi jebakan itu. Ia menyelinap lewat celah, jatuh berlutut di samping tahanan, dan mulai memotong tali dengan pisau kecil dari ikat pinggangnya.
Pria itu membuka mata.
“Kau siapa?”
“Orang yang berharap kau bisa berjalan setelah ini.”
“Jangan... jangan biarkan mereka mengambil catatan.”
“Catatan apa?”
Pria itu berusaha menunjuk ke meja di dekat dinding. Di atasnya tergeletak beberapa lembar kertas, sebagian telah dibasahi tinta hitam. Lian melihat nama Desa Qinghe pada salah satu lembar, disusul daftar orang yang dituduh terlibat ritual terlarang.
Di bagian bawah tercantum nama Lian.
Di sebelahnya tertulis: *Penerus Api Hitam. Ancaman terhadap kemurnian.*
Lian menahan umpatan.
“Setidaknya mereka bisa mengeja namaku dengan benar.”
Tali terakhir terputus. Ia menarik tahanan itu berdiri, tetapi pria tersebut langsung terjatuh. Kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya.
Di belakang mereka, benturan pedang terdengar bertubi-tubi. Yue Ning bertahan, tetapi lingkaran hitam di lantai perlahan menyusut, memaksanya mundur.
Lian menatap pria yang baru dibebaskannya, lalu meja berisi catatan.
Ia hanya punya satu kesempatan.
Jika membawa orang itu, mereka mungkin kehilangan bukti. Jika mengambil catatan, tahanan itu akan tertinggal di tengah ruangan yang sebentar lagi dipenuhi energi hitam.
Lian mengumpat pelan, lalu menyampirkan lengan pria itu ke bahunya.
“Jangan pingsan dulu. Aku sedang melakukan sesuatu yang sangat tidak bijaksana demi menyelamatkanmu.”
Ia menyeret pria itu menuju celah lorong. Dengan tangan kirinya, ia meraih lembar teratas dari meja, menggulungnya, lalu menyelipkannya ke balik baju.
Saat ia mencapai lorong, lempeng abu-abu di tangan lawan Yue Ning menyala terang.
Garis hitam di lantai menyambar ke arah mereka.
Lian tidak sempat berpikir. Ia mengangkat tangan kanannya.
Api Hitam muncul, kecil dan bergetar.
Ia mengarahkannya ke garis yang merambat di lantai, bukan ke orang yang mengendalikannya. Api itu membakar satu bagian formasi. Lingkaran hitam terputus sesaat, cukup bagi Yue Ning untuk menerobos keluar dari jangkauannya.
“Pergi!” teriak Lian.
Mereka berlari tertatih-tatih melewati lorong. Dari belakang, terdengar suara benda pecah, disusul teriakan marah. Lian terus bergerak meski setiap langkah membuat lengannya semakin mati rasa.
Ketika mereka akhirnya keluar dari gudang melalui celah di belakang fondasi, dua murid Balai Pedang Putih sudah menunggu bersama Han Rui. Mo Jian belum kembali dari pengejaran.
Yue Ning segera memeriksa kedua tahanan. “Kita harus membawa mereka ke pos pemeriksaan. Sekarang.”
Lian menyerahkan lembar catatan yang ia ambil.
Yue Ning membukanya. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Semakin jauh ia membaca, semakin pucat wajahnya.
“Ini bukan sekadar laporan palsu,” katanya.
“Apa maksudmu?”
“Nama-nama ini berasal dari tiga desa berbeda. Semuanya dituduh terlibat ritual terlarang dalam waktu dua bulan terakhir.” Ia menunjuk cap merah di bagian bawah dokumen. “Dan setiap laporan disahkan oleh pemeriksa yang sama.”
“Siapa?”
Yue Ning menyebutkan nama itu dengan suara pelan.
Lian tidak mengenal orang tersebut. Namun, ia mengenali lambang kecil di samping cap pengesahan.
Lingkaran terputus dengan tiga garis melengkung.
Simbol yang sama seperti pada kitabnya.
Sebelum mereka sempat membahasnya, suara langkah terdengar dari jalan menuju gudang. Mo Jian muncul dari antara pepohonan, pedangnya berlumur debu. Ia terluka ringan di pipi, tetapi tidak ada tanda bahwa ia berhasil menangkap penyerang.
“Dia melarikan diri,” katanya. “Meninggalkan sesuatu di hutan untuk menghambat pengejaran.”
Tatapannya jatuh pada dua tahanan, lalu pada dokumen di tangan Yue Ning.
“Apa yang kalian temukan?”
Yue Ning menyerahkan catatan itu.
Mo Jian membaca halaman pertama. Ekspresinya mengeras ketika melihat nama Lian, lalu berubah ketika ia menemukan cap pengesahan.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
“Apakah kau mengenali cap itu?” tanya Lian.
Mo Jian tidak segera menjawab. Ia melipat dokumen dengan hati-hati, seolah kertas itu mendadak menjadi benda berbahaya.
“Aku mengenali nama pemeriksanya.”
“Dan?”
Mo Jian menatap Lian.
“Dia sudah meninggal tiga tahun lalu.”
Angin sore menyapu halaman gudang. Untuk beberapa saat, tak seorang pun berbicara.
Lian menunduk melihat kitab di pinggangnya. Sampul hitam itu terasa hangat, tetapi tidak terbuka. Tidak ada tulisan baru, tidak ada peringatan, tidak ada petunjuk yang bisa ia gunakan.
Hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Jika orang yang mengesahkan laporan itu sudah mati tiga tahun lalu, siapa yang selama ini memakai namanya untuk menghancurkan hidup orang-orang yang tidak bersalah?
Dan mengapa nama Lian sudah tercantum dalam daftar itu sebelum mereka bahkan selesai menyelidiki Api Hitam?
Anak panah kedua menghantam kusen pintu sebelum Mo Jian sempat memerintahkan siapa pun bergerak.Kali ini tidak ada pesan yang diikatkan padanya. Ujung panahnya berwarna hijau kusam, dan asap tipis keluar dari bagian logam yang menancap di kayu.“Menjauh dari panah itu!” seru Yue Ning.Kedua murid Balai Pedang Putih segera menarik Han Rui menjauh dari peti. Mo Jian berdiri di antara pintu dan orang-orang di dalam gudang, pedangnya terhunus. Ia tidak langsung mengejar penyerang. Matanya menyapu atap, jendela, dan celah-celah dinding, mencari arah tembakan berikutnya.Lian berusaha berdiri dengan bantuan meja tua.Kakinya masih lemas akibat penggunaan Api Hitam. Lengan kanannya terasa seperti dipenuhi semut yang menggigit dari dalam. Kalau penyerang memutuskan masuk sekarang, kontribusinya dalam pertempuran mungkin hanya menjadi penghalang jalan.“Berapa orang?” bisiknya.“Belum diketahui,” jawab Mo Jian.“Bagus. Aku takut jawabannya terlalu menyenangkan.”Mo Jian meliriknya. “Kalau kau
Gudang tua di sisi timur Desa Qinghe ternyata lebih buruk daripada yang Lian bayangkan.Atapnya miring, beberapa papan dinding sudah lapuk, dan rumput liar tumbuh di antara batu-batu fondasi. Dari jalan, bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun, jejak kaki di tanah basah menceritakan hal berbeda. Ada terlalu banyak tapak baru untuk sebuah gudang yang konon tidak digunakan siapa pun.Lian berhenti di belakang Mo Jian.“Kalau tempat ini benar-benar kosong, kenapa jejak kakinya lebih ramai daripada halaman sekteku?”Mo Jian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.Dua murid Balai Pedang Putih bergerak ke sisi bangunan. Yue Ning berjongkok di dekat pagar roboh, memeriksa bekas goresan pada tanah. Lian sendiri diminta tetap berada di belakang garis batu yang ditandai Mo Jian dengan pedangnya.Ia mematuhi perintah itu.Bukan karena ia mendadak menjadi murid teladan, melainkan karena lengannya masih terasa nyeri setiap kali ia mengingat nya
Lian baru menyadari betapa buruknya keadaan ketika penjaga di depan kamarnya mengganti posisi untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setengah jam.Dua orang berdiri di depan pintu. Seorang lagi berjaga di ujung lorong. Di luar jendela, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di balik pagar kayu.Kalau mereka menambahkan rantai dan menggantung papan bertuliskan *Jangan Diberi Makan*, pikir Lian, tempat ini akan cocok dijadikan kandang binatang langka.Sayangnya, binatang langka yang dimaksud tampaknya adalah dirinya.Ia duduk di tepi ranjang, memijat pergelangan tangan yang masih terasa panas sejak kemunculan penyusup malam sebelumnya. Kitab Api Hitam Penembus Dosa tergeletak di atas meja. Sampulnya yang gelap tampak biasa saja, seolah benda itu tidak baru saja membuat hidupnya jauh lebih rumit.Lian menyentuh sudut kitab.“Kalau kau punya penjelasan, sekarang waktu yang bagus.”Tidak ada jawaban.“Petunjuk? Sedikit saja?”Sampul kitab bergetar halus.Lian langsung menarik ta
Lian terbangun karena suara seseorang mengetuk pintu.Bukan ketukan sopan. Orang di luar mengetuk tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk lagi seolah pintu itu punya utang kepadanya.Lian menarik selimut sampai menutupi kepala.“Kalau aku sudah mati, silakan masuk. Kalau belum, datang lagi besok.”“Buka pintunya, Lian.”Ia mengenali suara Yue Ning.Lian duduk sambil mengusap wajah. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di tebing dan pemeriksaan lempeng spiritual. Ia sempat tertidur tanpa makan malam, sesuatu yang biasanya tidak akan ia lakukan bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun.“Sebentar.”“Sekarang.”“Kalau semua orang di tempat ini selalu terburu-buru, kapan mereka sempat menikmati hidup?”“Lima detik.”Lian membuka pintu.Yue Ning berdiri di lorong dengan sebuah bungkusan kain di tangannya. Ia masih mengenakan jubah biru muda, tetapi rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, lorong pos pengawas tampak sepi.“Kau belum makan,” katanya.Lian menatap bungkusan
Jalan menuju pos pengawas melewati ladang kering dan sebuah kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lian berusaha mengabaikan buku hitam yang terasa berat di balik pakaiannya.Usahanya gagal.Setiap kali ia mengingat tulisan yang muncul di halaman buku, telapak tangannya kembali terasa panas.**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**Catatan apa?Siapa yang memanipulasinya?Dan yang paling penting, kenapa sebuah buku tua bisa bertingkah seperti orang cerewet yang tahu terlalu banyak?“Berhenti mengerutkan kening,” kata Yue Ning di sampingnya.Lian menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Wajahmu seperti orang yang baru menyadari utangnya jatuh tempo.”“Kalau aku punya utang, setidaknya aku tahu siapa yang harus kuhindari.”Yue Ning menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kau selalu bercanda ketika berada dalam masalah?”“Tidak selalu. Kadang-kadang aku juga panik.”“Sekarang?”“Sekarang aku sedang mempertimbangkan pilihan ketiga.”“Apa itu?”“Pingsan. Sayangnya,
Lian baru berjalan sekitar seratus langkah ketika suara lonceng terdengar dari arah desa.Tiga kali.Bunyinya berat dan tergesa-gesa, disusul teriakan orang-orang yang saling memanggil. Dari balik pepohonan, beberapa penduduk berlari menuju jalan utama. Ada yang membawa tombak bambu, ada yang menggenggam cangkul, dan seorang lelaki tua bahkan mengangkat kursi kayu seolah benda itu bisa mengusir iblis.Lian berhenti.“Jangan-jangan mereka mau mengadakan pesta penyambutan.”Ia melirik telapak tangannya. Bekas nyala hitam tadi sudah lenyap, tetapi rasa panasnya masih menjalar sampai ke siku. Jari-jarinya gemetar setiap kali ia mencoba mengepalkannya.“Kalau pestanya buat orang yang hampir mati, aku izin pulang dulu.”Ia baru hendak melanjutkan langkah ketika seorang perempuan berlari melewatinya. Wajahnya pucat, napasnya tersengal.“Kau! Kau yang tadi di tebing!”Lian menunjuk dirinya sendiri. “Kalau yang dimaksud orang tampan dan kurang beruntung, mungkin benar.”Perempuan itu tidak ter







