LOGINLian baru berjalan sekitar seratus langkah ketika suara lonceng terdengar dari arah desa.
Tiga kali.
Bunyinya berat dan tergesa-gesa, disusul teriakan orang-orang yang saling memanggil. Dari balik pepohonan, beberapa penduduk berlari menuju jalan utama. Ada yang membawa tombak bambu, ada yang menggenggam cangkul, dan seorang lelaki tua bahkan mengangkat kursi kayu seolah benda itu bisa mengusir iblis.
Lian berhenti.
“Jangan-jangan mereka mau mengadakan pesta penyambutan.”
Ia melirik telapak tangannya. Bekas nyala hitam tadi sudah lenyap, tetapi rasa panasnya masih menjalar sampai ke siku. Jari-jarinya gemetar setiap kali ia mencoba mengepalkannya.
“Kalau pestanya buat orang yang hampir mati, aku izin pulang dulu.”
Ia baru hendak melanjutkan langkah ketika seorang perempuan berlari melewatinya. Wajahnya pucat, napasnya tersengal.
“Kau! Kau yang tadi di tebing!”
Lian menunjuk dirinya sendiri. “Kalau yang dimaksud orang tampan dan kurang beruntung, mungkin benar.”
Perempuan itu tidak tertawa.
“Jangan mendekat ke desa!”
“Kenapa?”
“Anakku sudah bercerita semuanya. Kami tahu apa yang kau lakukan.”
Lian mengembuskan napas lega. “Oh, bagus. Berarti dia sudah sadar. Aku tadi takut dia masih pingsan.”
“Kau mengeluarkan api hitam dari tubuhmu!” Perempuan itu mundur selangkah. “Bayangan bertanduk itu... matanya merah! Orang seperti apa yang memiliki kekuatan semacam itu?”
Lian kehilangan senyumnya.
Ia ingin menjelaskan bahwa ia sendiri tidak tahu dari mana api itu berasal. Bahwa beberapa saat sebelumnya, ia hanya seorang murid sekte kecil yang sedang melewati jalan pegunungan. Bahwa kalau bukan karena anak itu tergelincir, ia mungkin tidak akan pernah mengeluarkan kekuatan aneh tersebut.
Namun, melihat cara perempuan itu mencengkeram lengan bajunya, Lian sadar bahwa penjelasan panjang tidak akan mengubah apa pun.
“Anakmu selamat,” katanya. “Itu yang penting.”
Perempuan itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tetapi ketakutan di wajahnya tidak berkurang.
“Pergi.”
Lian mengangguk kecil.
“Baiklah. Semoga anakmu lekas pulih.”
Ia berjalan melewati perempuan itu tanpa menunggu jawaban.
Di belakangnya, lonceng kembali berbunyi.
Kali ini, empat kali.
***
Ketika Lian tiba di gerbang Desa Qinghe, belasan penduduk telah berkumpul di sana.
Anak yang diselamatkannya duduk di atas gerobak, dibalut selimut tebal. Seorang tabib sedang memeriksa kakinya. Luka-lukanya tidak terlihat parah, meskipun wajahnya masih pucat.
Lian sempat merasa lega.
Setidaknya, usahanya tidak sia-sia.
Kemudian anak itu melihatnya.
Tubuh kecil itu langsung menegang. Tangannya mencengkeram pakaian ibunya, lalu ia menunjuk Lian dengan jari gemetar.
“Itu dia! Ibu, itu iblisnya!”
Suasana mendadak sunyi.
Lian berhenti tepat di luar gerbang.
Seseorang menjatuhkan tombak bambunya. Seorang lelaki lain mengangkat cangkul dengan kedua tangan, tetapi ia sendiri tampak tidak yakin harus berbuat apa.
“Dia mengikuti anak itu sampai ke sini?”
“Bukankah api hitam adalah pertanda kultivator sesat?”
“Panggil penjaga desa!”
“Apa kalian tidak mencium baunya?”
Lian mengendus udara secara refleks.
Bau belerang yang tadi menyelimuti tubuhnya ternyata belum benar-benar hilang. Ada aroma logam yang samar, seperti darah lama pada senjata yang tidak pernah dibersihkan.
Ia mengerutkan kening.
*Hebat. Sekarang aku bukan cuma terlihat seperti penjahat. Aku juga berbau seperti penjahat.*
Seorang pria bertubuh besar maju dari kerumunan. Bekas luka melintang di dagunya, sementara pedang pendek tergantung di pinggangnya.
“Siapa namamu?”
“Lian.”
“Dari sekte mana?”
“Sekte Awan Hijau.”
Beberapa orang saling pandang. Nama sekte itu rupanya tidak asing, tetapi tidak cukup terkenal untuk membuat mereka merasa aman.
Pria itu menyipitkan mata. “Apa tujuanmu datang ke desa kami?”
“Melewati jalan pegunungan.”
“Lalu menyelamatkan anak itu?”
“Dia jatuh dari tebing. Aku menariknya.”
“Dengan api hitam?”
Lian terdiam sesaat.
“Bagian itu agak sulit dijelaskan.”
Pria tersebut langsung mencabut pedangnya.
“Jadi kau mengaku menggunakan ilmu sesat!”
“Tidak. Aku bilang sulit dijelaskan. Dua kalimat itu berbeda.”
“Berani-beraninya kau mempermainkan kami!”
“Aku sedang berusaha menjawab pertanyaanmu.”
“Cukup!”
Pria itu mengangkat pedangnya. Beberapa penduduk di belakangnya ikut bergerak, membentuk setengah lingkaran yang menutup jalan menuju desa.
Lian menatap mereka satu per satu.
Ia tidak ingin bertarung. Tubuhnya bahkan belum pulih dari penggunaan api hitam. Jika kekuatan itu kembali lepas kendali, orang-orang yang berdiri di hadapannya bisa terluka.
Namun, ia juga tidak berniat membiarkan seseorang menusuknya hanya karena orang itu takut.
“Dengar,” katanya, kali ini tanpa nada bercanda. “Aku tidak tahu apa yang kalian lihat tadi. Aku juga tidak tahu kenapa kekuatan itu muncul. Tapi aku tidak datang untuk menyakiti siapa pun.”
“Semua kultivator sesat berkata begitu.”
“Kalau begitu, mungkin kalian sebaiknya berhenti mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah kalian tentukan sendiri.”
Wajah pria itu memerah.
Ia melangkah maju.
Lian bersiap menghindar, tetapi sebelum pedang itu terayun, suara seorang perempuan memotong ketegangan.
“Paman Zhao, tunggu.”
Seorang gadis berjubah biru muda keluar dari kerumunan. Usianya mungkin sebaya dengan Lian, atau sedikit lebih muda. Rambut hitamnya diikat rapi, dan sebuah lambang awan hijau terpasang di dadanya.
Lian mengenali lambang itu.
Sekte Awan Hijau.
Gadis tersebut menatapnya sebentar, kemudian mengalihkan pandangan kepada pria yang memegang pedang.
“Anak itu masih hidup, bukan?”
“Justru karena dia masih hidup, kita harus memastikan makhluk ini tidak membahayakan desa!”
“Kalau dia memang ingin membunuh anak itu, mengapa dia menyelamatkannya?”
“Bisa saja itu bagian dari rencananya.”
Gadis itu menghela napas. “Rencana yang sangat merepotkan. Menyelamatkan seseorang dari tebing, lalu mengumumkan keberadaan sendiri dengan menciptakan bayangan raksasa di depan puluhan saksi?”
Lian mengangkat telunjuk.
“Untuk pembelaan diri, aku ingin mengatakan bahwa bayangan raksasa itu bukan bagian dari rencanaku.”
Gadis itu menoleh kepadanya.
“Dan kau sebaiknya diam dulu.”
Lian menurunkan telunjuknya.
“Baik.”
Anehnya, ia menurut.
Gadis itu berjongkok di depan anak yang terluka. “Kau melihatnya menyentuhmu sebelum api itu muncul?”
Anak tersebut mengangguk cepat.
“Apakah dia melukaimu?”
“Tidak.”
“Apakah dia meminta sesuatu darimu?”
Anak itu menggeleng.
“Lalu kenapa kau menyebutnya iblis?”
Anak itu mulai menangis. “Karena... karena ada monster besar di belakangnya!”
Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia mengamati wajah anak tersebut, lalu memeriksa perban di kakinya.
“Dia ketakutan,” katanya akhirnya. “Kalian semua juga ketakutan. Itu bisa dimengerti. Tetapi rasa takut bukan bukti bahwa seseorang bersalah.”
Paman Zhao mendengus.
“Ucapanmu terdengar bagus karena kau belum melihat kekuatannya.”
“Kalau begitu, jelaskan apa yang kau lihat tanpa menambahkan dugaanmu sendiri.”
Pria itu membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Lian diam-diam mulai menyukai gadis ini.
Bukan karena ia membelanya. Gadis itu tidak benar-benar membela dirinya. Ia hanya berusaha memisahkan apa yang terjadi dari apa yang orang-orang yakini telah terjadi.
Itu sudah lebih baik daripada sebagian besar orang yang pernah Lian temui.
Sayangnya, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Dari jalan sebelah utara, seorang pemuda berjubah putih melangkah mendekat. Pedang panjang tergantung di punggungnya, dan lambang matahari keemasan menghiasi bagian dada jubahnya.
Beberapa penduduk segera memberi jalan.
“Seorang murid Aliansi Sekte Lurus!”
“Syukurlah. Sekarang kita bisa menangkapnya!”
Pemuda itu tidak memedulikan kerumunan. Pandangannya tertuju pada Lian, seolah ia telah mengetahui siapa yang sedang dicarinya.
“Namamu Lian?”
Lian mulai merasa hari itu terlalu banyak orang menanyakan namanya.
“Benar.”
“Aku Mo Jian, murid dari Balai Pedang Putih. Aku menerima laporan tentang kemunculan energi spiritual yang tidak wajar di sekitar tebing.”
“Laporannya cepat sekali.”
“Jarak desa ini dengan pos pengawas tidak jauh.”
Mo Jian mengamati tangan Lian. Tatapannya berhenti pada kulit yang memerah di sekitar telapak, lalu turun ke lengan yang sedikit gemetar.
“Kau terluka?”
“Sedikit.”
“Akibat menggunakan api hitam?”
Lian tidak menjawab.
Mo Jian menganggap diamnya sebagai jawaban yang cukup. Ia meletakkan tangan di gagang pedang, tetapi belum mencabutnya.
“Api yang kau gunakan memiliki sifat yang tidak biasa. Energinya meninggalkan jejak dingin sekaligus panas. Ada pula aroma seperti belerang.”
“Kalau begitu, kita punya satu kesamaan.”
“Apa?”
“Aku juga tidak menyukai baunya.”
Yue Ning, gadis berjubah biru tadi, memijat pelipisnya.
Mo Jian tidak tertawa.
“Ilmu semacam itu pernah tercatat dalam arsip mengenai teknik terlarang. Aku perlu membawamu ke pos pengawas untuk diperiksa.”
“Diperiksa atau ditangkap?”
“Jika kau tidak melawan, tidak perlu ada pertumpahan darah.”
Lian memandang pedang di punggungnya.
“Kalimat yang menenangkan. Terutama ketika disampaikan oleh seseorang yang baru saja mengatakan bahwa aku mungkin pengguna ilmu terlarang.”
Mo Jian mengerutkan kening. “Kau bisa bekerja sama, atau membuat keadaan menjadi lebih buruk.”
Lian ingin membalas. Ia punya beberapa jawaban yang cukup menyebalkan, dan biasanya ia senang menggunakannya ketika seseorang terlalu percaya diri.
Namun, telapak tangannya kembali berdenyut.
Api hitam itu telah menghabiskan terlalu banyak tenaga. Jika Mo Jian benar-benar menyerangnya, Lian tidak yakin bisa bertahan. Lebih buruk lagi, ia tidak tahu apakah api itu akan muncul lagi dan melukai orang-orang di sekitar mereka.
Melarikan diri mungkin bisa dilakukan.
Tetapi jika ia berlari, semua orang akan semakin yakin bahwa dirinya bersalah.
Lian membenci pilihan semacam itu. Pilihan yang membuat seseorang harus membayar, apa pun keputusan yang diambilnya.
“Aku akan ikut ke pos pengawas,” katanya. “Tapi aku ingin anak itu diperiksa sampai benar-benar aman, dan aku tidak mau dibelenggu seperti penjahat.”
Mo Jian memandangnya lama.
“Permintaan pertama masuk akal. Permintaan kedua akan dipertimbangkan.”
“Wah. Baik sekali.”
“Jangan menguji kesabaranku.”
“Aku bahkan belum mulai.”
Yue Ning menoleh tajam kepada Lian. Ia akhirnya mengerti mengapa Mo Jian mulai tampak kesal.
***
Sebelum mereka berangkat, seorang lelaki kurus berlari dari arah balai desa sambil membawa selembar kertas.
“Saudara Mo! Ada kabar dari pos pengawas!”
Mo Jian menerima kertas itu. Begitu membaca isinya, wajahnya berubah serius.
“Apa yang tertulis?” tanya Yue Ning.
Mo Jian tidak langsung menjawab. Ia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam lengan jubah.
“Kasus ini bukan lagi urusan desa.”
Lian menatapnya. “Kalimat seperti itu biasanya membuat urusan sederhana menjadi jauh lebih buruk.”
Mo Jian mengabaikannya.
Ia menoleh kepada Paman Zhao dan memerintahkan agar warga tidak mendekati tebing sampai petugas tiba. Setelah itu, ia meminta dua orang pengawal desa menemani mereka menuju pos pengawas.
Lian mulai berjalan di antara Mo Jian dan Yue Ning.
Ia baru melewati gerbang ketika buku hitam di balik pakaiannya mendadak terasa panas.
Langkahnya terhenti.
“Kenapa?” tanya Yue Ning.
“Tidak apa-apa.”
Itu bohong. Bukan karena ia ingin menyembunyikan sesuatu dari gadis itu, melainkan karena ia sendiri belum memahami apa yang sedang terjadi.
Di dalam pakaiannya, halaman buku yang tadi menampilkan simbol Api Hitam terbuka tanpa disentuh. Sebuah baris tulisan muncul perlahan, seolah tinta merembes dari kertas tua.
**[Jejak karma asing terdeteksi.]**
Lian menahan napas.
Tulisan kedua muncul di bawahnya.
**[Sumber: Desa Qinghe.]**
Kemudian, setelah jeda singkat, muncul baris ketiga.
**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**
Panas di telapak tangannya lenyap.
Lian memandang desa di belakangnya. Penduduk masih berdiri di dekat gerbang, sebagian mengawasinya dengan takut, sebagian lagi berbisik sambil menunjuk-nunjuk.
Ia tidak tahu apa maksud buku itu. Tidak tahu catatan apa yang dimaksud, siapa yang memanipulasinya, atau apakah peringatan itu berkaitan dengan api hitam yang kini membuatnya diburu.
Namun, satu hal menjadi jelas.
Anak yang diselamatkannya bukan satu-satunya alasan orang-orang di desa itu ketakutan.
Ada sesuatu yang mereka tidak ketahui.
Atau sesuatu yang sengaja tidak diberitahukan kepada mereka.
Lian menghela napas panjang, lalu mempercepat langkah untuk menyusul Mo Jian dan Yue Ning.
“Sepertinya,” gumamnya, “rencana hidup tenangku baru saja mati sebelum sempat dimulai.”
Anak panah kedua menghantam kusen pintu sebelum Mo Jian sempat memerintahkan siapa pun bergerak.Kali ini tidak ada pesan yang diikatkan padanya. Ujung panahnya berwarna hijau kusam, dan asap tipis keluar dari bagian logam yang menancap di kayu.“Menjauh dari panah itu!” seru Yue Ning.Kedua murid Balai Pedang Putih segera menarik Han Rui menjauh dari peti. Mo Jian berdiri di antara pintu dan orang-orang di dalam gudang, pedangnya terhunus. Ia tidak langsung mengejar penyerang. Matanya menyapu atap, jendela, dan celah-celah dinding, mencari arah tembakan berikutnya.Lian berusaha berdiri dengan bantuan meja tua.Kakinya masih lemas akibat penggunaan Api Hitam. Lengan kanannya terasa seperti dipenuhi semut yang menggigit dari dalam. Kalau penyerang memutuskan masuk sekarang, kontribusinya dalam pertempuran mungkin hanya menjadi penghalang jalan.“Berapa orang?” bisiknya.“Belum diketahui,” jawab Mo Jian.“Bagus. Aku takut jawabannya terlalu menyenangkan.”Mo Jian meliriknya. “Kalau kau
Gudang tua di sisi timur Desa Qinghe ternyata lebih buruk daripada yang Lian bayangkan.Atapnya miring, beberapa papan dinding sudah lapuk, dan rumput liar tumbuh di antara batu-batu fondasi. Dari jalan, bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun, jejak kaki di tanah basah menceritakan hal berbeda. Ada terlalu banyak tapak baru untuk sebuah gudang yang konon tidak digunakan siapa pun.Lian berhenti di belakang Mo Jian.“Kalau tempat ini benar-benar kosong, kenapa jejak kakinya lebih ramai daripada halaman sekteku?”Mo Jian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.Dua murid Balai Pedang Putih bergerak ke sisi bangunan. Yue Ning berjongkok di dekat pagar roboh, memeriksa bekas goresan pada tanah. Lian sendiri diminta tetap berada di belakang garis batu yang ditandai Mo Jian dengan pedangnya.Ia mematuhi perintah itu.Bukan karena ia mendadak menjadi murid teladan, melainkan karena lengannya masih terasa nyeri setiap kali ia mengingat nya
Lian baru menyadari betapa buruknya keadaan ketika penjaga di depan kamarnya mengganti posisi untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setengah jam.Dua orang berdiri di depan pintu. Seorang lagi berjaga di ujung lorong. Di luar jendela, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di balik pagar kayu.Kalau mereka menambahkan rantai dan menggantung papan bertuliskan *Jangan Diberi Makan*, pikir Lian, tempat ini akan cocok dijadikan kandang binatang langka.Sayangnya, binatang langka yang dimaksud tampaknya adalah dirinya.Ia duduk di tepi ranjang, memijat pergelangan tangan yang masih terasa panas sejak kemunculan penyusup malam sebelumnya. Kitab Api Hitam Penembus Dosa tergeletak di atas meja. Sampulnya yang gelap tampak biasa saja, seolah benda itu tidak baru saja membuat hidupnya jauh lebih rumit.Lian menyentuh sudut kitab.“Kalau kau punya penjelasan, sekarang waktu yang bagus.”Tidak ada jawaban.“Petunjuk? Sedikit saja?”Sampul kitab bergetar halus.Lian langsung menarik ta
Lian terbangun karena suara seseorang mengetuk pintu.Bukan ketukan sopan. Orang di luar mengetuk tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk lagi seolah pintu itu punya utang kepadanya.Lian menarik selimut sampai menutupi kepala.“Kalau aku sudah mati, silakan masuk. Kalau belum, datang lagi besok.”“Buka pintunya, Lian.”Ia mengenali suara Yue Ning.Lian duduk sambil mengusap wajah. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di tebing dan pemeriksaan lempeng spiritual. Ia sempat tertidur tanpa makan malam, sesuatu yang biasanya tidak akan ia lakukan bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun.“Sebentar.”“Sekarang.”“Kalau semua orang di tempat ini selalu terburu-buru, kapan mereka sempat menikmati hidup?”“Lima detik.”Lian membuka pintu.Yue Ning berdiri di lorong dengan sebuah bungkusan kain di tangannya. Ia masih mengenakan jubah biru muda, tetapi rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, lorong pos pengawas tampak sepi.“Kau belum makan,” katanya.Lian menatap bungkusan
Jalan menuju pos pengawas melewati ladang kering dan sebuah kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lian berusaha mengabaikan buku hitam yang terasa berat di balik pakaiannya.Usahanya gagal.Setiap kali ia mengingat tulisan yang muncul di halaman buku, telapak tangannya kembali terasa panas.**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**Catatan apa?Siapa yang memanipulasinya?Dan yang paling penting, kenapa sebuah buku tua bisa bertingkah seperti orang cerewet yang tahu terlalu banyak?“Berhenti mengerutkan kening,” kata Yue Ning di sampingnya.Lian menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Wajahmu seperti orang yang baru menyadari utangnya jatuh tempo.”“Kalau aku punya utang, setidaknya aku tahu siapa yang harus kuhindari.”Yue Ning menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kau selalu bercanda ketika berada dalam masalah?”“Tidak selalu. Kadang-kadang aku juga panik.”“Sekarang?”“Sekarang aku sedang mempertimbangkan pilihan ketiga.”“Apa itu?”“Pingsan. Sayangnya,
Lian baru berjalan sekitar seratus langkah ketika suara lonceng terdengar dari arah desa.Tiga kali.Bunyinya berat dan tergesa-gesa, disusul teriakan orang-orang yang saling memanggil. Dari balik pepohonan, beberapa penduduk berlari menuju jalan utama. Ada yang membawa tombak bambu, ada yang menggenggam cangkul, dan seorang lelaki tua bahkan mengangkat kursi kayu seolah benda itu bisa mengusir iblis.Lian berhenti.“Jangan-jangan mereka mau mengadakan pesta penyambutan.”Ia melirik telapak tangannya. Bekas nyala hitam tadi sudah lenyap, tetapi rasa panasnya masih menjalar sampai ke siku. Jari-jarinya gemetar setiap kali ia mencoba mengepalkannya.“Kalau pestanya buat orang yang hampir mati, aku izin pulang dulu.”Ia baru hendak melanjutkan langkah ketika seorang perempuan berlari melewatinya. Wajahnya pucat, napasnya tersengal.“Kau! Kau yang tadi di tebing!”Lian menunjuk dirinya sendiri. “Kalau yang dimaksud orang tampan dan kurang beruntung, mungkin benar.”Perempuan itu tidak ter







