Share

Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam
Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam
Penulis: M. Sevian F

Chapter 1

Penulis: M. Sevian F
last update Tanggal publikasi: 2026-10-12 16:28:07

“Pegang tanganku!”

Lian meraih pergelangan tangan bocah itu tepat ketika tanah di bawah kakinya runtuh.

Batu-batu kecil berjatuhan ke jurang. Debu beterbangan, bercampur dengan jeritan orang-orang yang berdiri beberapa langkah dari tepi tebing. Di bawah sana, kabut menutupi dasar lembah. Tak ada yang tahu seberapa dalam jurang itu, tetapi suara batu yang menghantam sesuatu di kejauhan cukup membuat siapa pun enggan mencari tahu.

Bocah itu menangis sambil mencengkeram lengan Lian.

“Kakak, aku takut!”

“Bagus. Berarti otakmu masih bekerja.” Lian mengatupkan gigi, berusaha mempertahankan pijakannya. “Sekarang, kalau kamu sudah selesai menangis, tarik tanganmu ke atas.”

“Aku tidak bisa!”

“Kalau begitu, kita punya masalah besar.”

Lian melirik tanah di bawah lututnya. Retakan tipis menjalar dari tepi tebing menuju tempatnya berlutut. Tanahnya gembur, terlalu gembur untuk menahan beban dua orang. Sementara itu, lengan bocah tersebut semakin licin oleh keringat.

Di belakang mereka, seorang perempuan berteriak histeris.

“Selamatkan anakku! Tolong, siapa saja!”

Dua pria dewasa berdiri di dekatnya. Salah satunya sudah menghunus pedang, tetapi bukan untuk membantu. Ia sibuk mengamati retakan tanah, seolah sedang menimbang apakah ada kemungkinan menyelamatkan bocah itu tanpa ikut mempertaruhkan nyawanya.

Lian tidak menyalahkannya.

Ia juga tidak ingin mati hari ini.

Sejujurnya, ia bahkan belum makan siang.

“Dengar,” katanya kepada bocah itu. “Aku akan menarikmu. Begitu kakimu menyentuh tanah, langsung merangkak menjauh. Jangan berdiri. Jangan berlari. Jangan melakukan hal bodoh. Mengerti?”

Bocah itu mengangguk cepat.

Lian mengubah posisi lututnya, mencari pijakan yang lebih stabil. Ia merasakan energi spiritual mengalir di dalam tubuhnya, tipis dan tersendat seperti aliran air melalui bambu yang tersumbat.

Sejak menemukan kitab tua itu tiga hari lalu, ia mulai merasakan perubahan aneh pada energi spiritualnya. Kadang mengalir lancar, kadang menghilang tanpa alasan. Setiap kali ia mencoba memahami teknik di dalam kitab, dadanya terasa panas.

Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan warisan misterius.

Lian menarik napas.

“Pegang erat-erat.”

Ia menghentakkan kaki, menarik bocah itu dengan seluruh tenaga.

Tubuh kecil itu terangkat beberapa jengkal. Untuk sesaat, Lian mengira mereka akan berhasil.

Lalu tanah di bawah lututnya ambles.

“Ah, sial!”

Dunia mendadak miring. Lian terjatuh ke depan, bahunya menghantam tanah. Bocah itu menjerit. Jari-jari kecilnya terlepas satu demi satu.

Lian meraih tangan bocah itu lagi, tetapi ujung jarinya hanya menyentuh kuku.

Terlambat.

Sesuatu di dalam dadanya berdenyut.

Panas.

Bukan panas seperti demam atau api biasa. Rasanya seperti ada bara yang selama ini terkubur jauh di dalam tulangnya, tiba-tiba membuka mata.

Kitab yang tersimpan di balik jubahnya bergetar.

Lian bahkan tidak sempat mengutuk.

Energi spiritual meledak dari telapak tangannya.

Api hitam menyembur keluar.

Tidak ada cahaya keemasan yang menyilaukan. Tidak ada suara merdu yang biasa digambarkan dalam kisah-kisah tentang kultivator legendaris. Api itu muncul tanpa suara pada awalnya, pekat dan gelap, seolah seseorang telah membakar sepotong malam.

Kemudian nyala itu menjalar di sepanjang lengan Lian.

Rasa sakit menyambar dari telapak tangan hingga bahunya. Ia menggertakkan gigi, tetapi tidak melepaskan bocah itu.

Api hitam melilit pergelangan tangan anak tersebut.

Lian menariknya sekuat tenaga.

Kali ini, bocah itu terlempar ke atas tebing. Tubuhnya menghantam tanah beberapa langkah dari tepi jurang, berguling dua kali sebelum berhenti.

Ia selamat.

Lian belum sempat merasa lega ketika suara retakan lain terdengar di belakangnya.

Sebongkah batu besar terlepas dari dinding tebing.

Batu itu jatuh tepat ke arahnya.

Lian mengangkat tangan secara refleks.

Api hitam berkumpul di depannya, membentuk sesuatu yang menyerupai telapak tangan raksasa. Bentuk itu tidak sepenuhnya padat. Tepiannya bergetar seperti asap, tetapi ketika batu menghantamnya, terdengar dentuman keras yang mengguncang tanah.

Batu tersebut terpental.

Lian terlempar ke belakang dan jatuh telentang.

Beberapa detik berlalu sebelum ia mampu bernapas dengan benar.

“Uhuk! Uhuk!”

Debu memenuhi mulutnya. Bahunya terasa seperti baru dihantam palu godam, sementara telapak tangannya mati rasa.

Ia mengangkat kepala.

Bocah itu sudah berada dalam pelukan ibunya.

Bagus. Setidaknya, ada satu hal yang berjalan sesuai rencana.

Lian mencoba bangkit. Namun, begitu ia bertumpu pada tangan kanannya, rasa sakit menusuk lengannya. Ia meringis dan memegangi pergelangan tangan.

“Sepertinya aku harus beristirahat beberapa hari.”

Ia baru saja selesai menggumamkan kalimat itu ketika seseorang menjerit.

“IBLIS!”

Lian menoleh.

Pria yang tadi menghunus pedang kini mundur dengan wajah pucat. Pedangnya terlepas dari tangan dan jatuh ke tanah.

Lian mengikuti arah pandang pria itu.

Di belakangnya, api hitam masih berkumpul.

Nyala itu menjulang tinggi, membentuk siluet makhluk bertubuh besar dengan tanduk melengkung dan dua mata merah yang menyala di tengah kegelapan. Wujudnya tidak sempurna, lebih menyerupai bayangan yang dipaksa keluar dari tubuh Lian. Namun, bagi orang-orang yang menyaksikannya, bentuk itu cukup jelas untuk membangkitkan ketakutan.

Angin berembus melewati tebing.

Bau menyengat menyerupai belerang dan darah memenuhi udara.

Seorang perempuan jatuh terduduk.

“Teknik iblis...”

“Dia menggunakan teknik iblis untuk menyelamatkan anak itu?” seseorang berbisik.

“Jangan tertipu! Kultivator sesat bisa melakukan apa saja untuk menyesatkan orang!”

Lian berkedip.

Ia memandang bayangan raksasa itu, lalu melihat tangannya sendiri.

Api hitam berdenyut di sela-sela jarinya.

“Apa-apaan ini?”

Bayangan bertanduk di belakangnya bergerak mengikuti tubuhnya.

Lian mengangkat tangan.

Bayangan itu ikut mengangkat tangan.

Ia menurunkannya.

Bayangan itu melakukan hal yang sama.

“Hebat,” gumamnya. “Sekarang aku punya masalah baru yang bisa membuat hidupku semakin merepotkan.”

Tidak ada yang tertawa.

Ibu bocah itu justru memeluk anaknya lebih erat dan mundur beberapa langkah.

Lian mencoba berdiri dengan perlahan. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya sendiri tidak memahami apa yang baru saja terjadi. Ia hanya ingin menyelamatkan anak itu. Tidak lebih.

Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, perempuan itu menarik anaknya menjauh.

“Jangan mendekat!”

Lian berhenti.

“Aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun.”

“Pembohong!” teriak pria bersenjata tadi. “Kalau kau bukan kultivator iblis, mengapa auramu seperti itu?”

“Aku juga ingin tahu.”

Jawaban jujur itu rupanya tidak membantu.

Pria tersebut mengambil pedangnya kembali. Tangannya gemetar, tetapi ia tetap mengarahkan ujung bilah ke arah Lian.

“Siapa gurumu? Sekte mana yang mengajarimu teknik terlarang?”

Lian menghela napas.

“Kalau aku tahu jawabannya, aku pasti sudah memberitahumu.”

“Berhenti berpura-pura!”

Api hitam di sekitar tubuh Lian mendadak bergejolak.

Ia tidak mengendalikannya. Bahkan, ia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.

Rasa panas merambat ke dada, lalu menjalar ke leher. Sesaat kemudian, pandangannya menggelap di bagian tepi. Ia merasakan sesuatu di dalam tubuhnya terkuras, seolah api itu meminum energi spiritualnya sedikit demi sedikit.

Bayangan raksasa di belakangnya semakin besar.

Orang-orang berteriak dan berlarian.

Pria bersenjata itu menjadi orang pertama yang kabur. Dua kultivator lain menyusulnya, sementara beberapa penduduk mengangkat anak-anak mereka dan bergegas menjauh dari tebing.

Bahkan perempuan yang anaknya baru saja diselamatkan Lian ikut berlari.

Bocah itu sempat menoleh sekali.

Mata mereka bertemu.

Lian melihat ketakutan di wajahnya.

Bocah itu membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu kepada penyelamatnya. Namun, ibunya menarik tangannya dan membawanya pergi sebelum sepatah kata pun keluar.

Lian berdiri sendirian di tepi tebing.

Api hitam masih menyala.

“Padahal gue cuma mau bantu...”

Suaranya terdengar kecil di tengah angin.

Ia menatap tangannya cukup lama sebelum akhirnya memaksa dirinya duduk. Napasnya berat. Keringat dingin membasahi punggung. Ketika ia menyentuh telapak tangannya, kulit di sana terasa panas, tetapi tidak terbakar.

Apa pun teknik ini, jelas bukan sesuatu yang bisa ia gunakan sembarangan.

Lian menutup mata dan mencoba menenangkan energi spiritualnya. Ia mengikuti metode pernapasan dasar yang diajarkan di Sekte Awan Hijau, menarik energi sedikit demi sedikit ke pusat tubuh.

Perlahan, api hitam itu meredup.

Bayangan bertanduk di belakangnya menghilang.

Udara kembali normal.

Namun, sesuatu telah berubah.

Di balik jubahnya, kitab tua itu mengeluarkan denyut hangat.

Lian segera mengambilnya.

Sampulnya berwarna hitam kusam, tanpa judul yang bisa dibaca. Tiga hari lalu, kitab itu hanya tampak seperti benda tua yang kebetulan ditinggalkan seorang tetua sekarat di pinggir jalan. Sebelum meninggal, lelaki tua itu sempat mencengkeram lengan Lian dan memaksanya menerima kitab tersebut.

Ia bahkan tidak menjelaskan cara menggunakannya.

Hanya satu kalimat yang diucapkannya dengan suara serak.

*Jangan biarkan mereka menentukan dosa siapa yang pantas dibakar.*

Saat itu, Lian mengira lelaki tua itu sedang mengigau.

Sekarang, ia tidak terlalu yakin.

Kitab itu terbuka sendiri.

Halaman-halaman kosong yang sebelumnya tidak menunjukkan apa pun perlahan dipenuhi garis-garis merah gelap. Garis tersebut membentuk lambang menyerupai lingkaran yang terbelah oleh nyala api.

Di bawah lambang itu, muncul beberapa karakter kuno.

Lian tidak mengenal semuanya, tetapi dua kata masih bisa dibacanya.

**Api Hitam.**

Ia menyentuh halaman tersebut.

Seketika, rasa sakit menjalar ke ujung jari.

Sebuah bayangan muncul di benaknya. Bukan gambaran yang jelas, hanya sekilas pemandangan sebuah aula luas yang terbakar. Pilar-pilar batu runtuh. Sosok-sosok berjubah putih berlutut di antara puing-puing, sementara sesuatu yang hitam menyala di langit.

Lalu suara terdengar.

Jauh. Serak. Hampir seperti bisikan dari dasar sumur.

“Penerus... akhirnya...”

Lian tersentak.

Kitab itu menutup sendiri.

Ia menatap sampulnya dengan wajah masam.

“Tidak. Jangan mulai.”

Benda itu tidak bereaksi.

“Dengar, aku tidak tahu siapa pemilikmu sebelumnya. Aku juga tidak tahu kenapa api aneh itu keluar dari tanganku. Tapi kalau kau berencana membuatku dikejar seluruh dunia, setidaknya beri aku petunjuk yang berguna.”

Tetap tidak ada jawaban.

Lian memasukkan kitab itu kembali ke balik jubahnya.

Ia harus pulang sebelum malam. Bahunya perlu diperiksa, energi spiritualnya hampir habis, dan ia masih punya tugas membersihkan halaman luar sekte besok pagi. Tetua yang bertanggung jawab atas murid luar tidak akan peduli jika ia baru saja menyelamatkan seseorang dari jurang.

Paling-paling, ia akan mendapat tambahan hukuman karena terlambat.

Lian baru berjalan beberapa langkah ketika terdengar suara dari balik pepohonan.

“Apakah kau sudah melihatnya?”

Lian berhenti.

Dua orang berbicara tidak jauh dari jalan setapak. Mereka tidak menyadari keberadaannya karena tertutup semak-semak dan bebatuan.

“Melihat apa?”

“Api itu. Bentuknya sama seperti catatan yang disegel di Balai Penghakiman.”

Ada jeda.

“Kau yakin?”

“Tidak sepenuhnya. Manifestasinya terlalu lemah untuk dibandingkan dengan catatan asli. Tapi lambangnya... aku tidak mungkin salah mengenali lambang itu.”

Lian perlahan menunduk, berusaha tidak membuat suara.

Orang kedua berbicara lebih pelan.

“Kalau benar, kita harus segera melapor kepada Guru. Bukankah semua pewaris teknik itu sudah dibasmi ratusan tahun lalu?”

“Seharusnya.”

“Lalu siapa pemuda tadi?”

“Aku tidak tahu. Yang jelas, dia tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan.”

Langkah kaki terdengar menjauh.

Lian tetap diam sampai suara mereka benar-benar menghilang.

Ia tidak mendengar seluruh percakapan itu. Namun, beberapa kata sudah cukup membuat kepalanya sakit.

*Dibasmi ratusan tahun lalu.*

*Tidak boleh dibiarkan tumbuh.*

Ia mengusap wajah.

“Hebat. Baru saja menyelamatkan satu anak, sekarang aku mungkin masuk daftar buronan.”

Dari kejauhan, lonceng kota berdentang tiga kali.

Lian memandang jalan menuju Sekte Awan Hijau. Untuk pertama kalinya sejak menerima kitab tua itu, ia mempertimbangkan kemungkinan membuangnya ke sungai dan berpura-pura tidak pernah melihatnya.

Gagasan itu terasa masuk akal.

Sangat masuk akal.

Sayangnya, tepat ketika ia hendak melangkah pergi, kitab di balik jubahnya kembali berdenyut.

Kali ini, sebuah kalimat muncul di permukaan sampulnya.

**Jejak karma pertama telah terbangun.**

Lian membeku.

Di bawah kalimat itu, tinta merah perlahan membentuk satu baris baru.

**Peringatan: seseorang telah mengenali Api Hitam.**

Angin berhenti bertiup.

Lian menatap tulisan tersebut tanpa berkedip.

Lalu ia mendongak, memandang jalan pulang yang tiba-tiba terasa jauh lebih panjang.

“...Aku benar-benar harus belajar bilang tidak.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 8

    Nama pemeriksa yang telah meninggal tiga tahun lalu itu tercetak jelas di bagian bawah laporan.Mo Jian menatapnya cukup lama hingga nyala lampu minyak di atas meja berkedip dua kali.“Tidak mungkin,” katanya.Lian duduk bersandar pada dinding gudang, lengan kanannya terbungkus kain seadanya. Setiap kali ia menggerakkan jari, rasa nyeri menjalar dari pergelangan hingga siku. Menggunakan Api Hitam untuk merusak formasi tadi memang berhasil menyelamatkan Yue Ning, tetapi tubuhnya seolah masih menagih harga dari keputusan itu.“Kalau namanya benar-benar milik orang mati, mungkin dia sudah bosan beristirahat di kuburan,” gumam Lian. “Sekarang dia bekerja lembur.”Tidak ada yang tertawa.Lian mengembuskan napas. Rupanya leluconnya juga kelelahan.Yue Ning mengambil laporan itu dari tangan Mo Jian, lalu memeriksa cap merah di sudut bawah. Ia membandingkannya dengan cap pada dua lembar lain yang mereka temukan di ruang bawah tanah.“Ketiganya menggunakan nama pemeriksa yang sama,” katanya. “

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 7

    Anak panah kedua menghantam kusen pintu sebelum Mo Jian sempat memerintahkan siapa pun bergerak.Kali ini tidak ada pesan yang diikatkan padanya. Ujung panahnya berwarna hijau kusam, dan asap tipis keluar dari bagian logam yang menancap di kayu.“Menjauh dari panah itu!” seru Yue Ning.Kedua murid Balai Pedang Putih segera menarik Han Rui menjauh dari peti. Mo Jian berdiri di antara pintu dan orang-orang di dalam gudang, pedangnya terhunus. Ia tidak langsung mengejar penyerang. Matanya menyapu atap, jendela, dan celah-celah dinding, mencari arah tembakan berikutnya.Lian berusaha berdiri dengan bantuan meja tua.Kakinya masih lemas akibat penggunaan Api Hitam. Lengan kanannya terasa seperti dipenuhi semut yang menggigit dari dalam. Kalau penyerang memutuskan masuk sekarang, kontribusinya dalam pertempuran mungkin hanya menjadi penghalang jalan.“Berapa orang?” bisiknya.“Belum diketahui,” jawab Mo Jian.“Bagus. Aku takut jawabannya terlalu menyenangkan.”Mo Jian meliriknya. “Kalau kau

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 6

    Gudang tua di sisi timur Desa Qinghe ternyata lebih buruk daripada yang Lian bayangkan.Atapnya miring, beberapa papan dinding sudah lapuk, dan rumput liar tumbuh di antara batu-batu fondasi. Dari jalan, bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun, jejak kaki di tanah basah menceritakan hal berbeda. Ada terlalu banyak tapak baru untuk sebuah gudang yang konon tidak digunakan siapa pun.Lian berhenti di belakang Mo Jian.“Kalau tempat ini benar-benar kosong, kenapa jejak kakinya lebih ramai daripada halaman sekteku?”Mo Jian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.Dua murid Balai Pedang Putih bergerak ke sisi bangunan. Yue Ning berjongkok di dekat pagar roboh, memeriksa bekas goresan pada tanah. Lian sendiri diminta tetap berada di belakang garis batu yang ditandai Mo Jian dengan pedangnya.Ia mematuhi perintah itu.Bukan karena ia mendadak menjadi murid teladan, melainkan karena lengannya masih terasa nyeri setiap kali ia mengingat nya

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 5

    Lian baru menyadari betapa buruknya keadaan ketika penjaga di depan kamarnya mengganti posisi untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setengah jam.Dua orang berdiri di depan pintu. Seorang lagi berjaga di ujung lorong. Di luar jendela, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di balik pagar kayu.Kalau mereka menambahkan rantai dan menggantung papan bertuliskan *Jangan Diberi Makan*, pikir Lian, tempat ini akan cocok dijadikan kandang binatang langka.Sayangnya, binatang langka yang dimaksud tampaknya adalah dirinya.Ia duduk di tepi ranjang, memijat pergelangan tangan yang masih terasa panas sejak kemunculan penyusup malam sebelumnya. Kitab Api Hitam Penembus Dosa tergeletak di atas meja. Sampulnya yang gelap tampak biasa saja, seolah benda itu tidak baru saja membuat hidupnya jauh lebih rumit.Lian menyentuh sudut kitab.“Kalau kau punya penjelasan, sekarang waktu yang bagus.”Tidak ada jawaban.“Petunjuk? Sedikit saja?”Sampul kitab bergetar halus.Lian langsung menarik ta

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 4

    Lian terbangun karena suara seseorang mengetuk pintu.Bukan ketukan sopan. Orang di luar mengetuk tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk lagi seolah pintu itu punya utang kepadanya.Lian menarik selimut sampai menutupi kepala.“Kalau aku sudah mati, silakan masuk. Kalau belum, datang lagi besok.”“Buka pintunya, Lian.”Ia mengenali suara Yue Ning.Lian duduk sambil mengusap wajah. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di tebing dan pemeriksaan lempeng spiritual. Ia sempat tertidur tanpa makan malam, sesuatu yang biasanya tidak akan ia lakukan bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun.“Sebentar.”“Sekarang.”“Kalau semua orang di tempat ini selalu terburu-buru, kapan mereka sempat menikmati hidup?”“Lima detik.”Lian membuka pintu.Yue Ning berdiri di lorong dengan sebuah bungkusan kain di tangannya. Ia masih mengenakan jubah biru muda, tetapi rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, lorong pos pengawas tampak sepi.“Kau belum makan,” katanya.Lian menatap bungkusan

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 3

    Jalan menuju pos pengawas melewati ladang kering dan sebuah kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lian berusaha mengabaikan buku hitam yang terasa berat di balik pakaiannya.Usahanya gagal.Setiap kali ia mengingat tulisan yang muncul di halaman buku, telapak tangannya kembali terasa panas.**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**Catatan apa?Siapa yang memanipulasinya?Dan yang paling penting, kenapa sebuah buku tua bisa bertingkah seperti orang cerewet yang tahu terlalu banyak?“Berhenti mengerutkan kening,” kata Yue Ning di sampingnya.Lian menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Wajahmu seperti orang yang baru menyadari utangnya jatuh tempo.”“Kalau aku punya utang, setidaknya aku tahu siapa yang harus kuhindari.”Yue Ning menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kau selalu bercanda ketika berada dalam masalah?”“Tidak selalu. Kadang-kadang aku juga panik.”“Sekarang?”“Sekarang aku sedang mempertimbangkan pilihan ketiga.”“Apa itu?”“Pingsan. Sayangnya,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status