LOGINJalan menuju pos pengawas melewati ladang kering dan sebuah kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lian berusaha mengabaikan buku hitam yang terasa berat di balik pakaiannya.
Usahanya gagal.
Setiap kali ia mengingat tulisan yang muncul di halaman buku, telapak tangannya kembali terasa panas.
**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**
Catatan apa?
Siapa yang memanipulasinya?
Dan yang paling penting, kenapa sebuah buku tua bisa bertingkah seperti orang cerewet yang tahu terlalu banyak?
“Berhenti mengerutkan kening,” kata Yue Ning di sampingnya.
Lian menoleh. “Aku sedang berpikir.”
“Wajahmu seperti orang yang baru menyadari utangnya jatuh tempo.”
“Kalau aku punya utang, setidaknya aku tahu siapa yang harus kuhindari.”
Yue Ning menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kau selalu bercanda ketika berada dalam masalah?”
“Tidak selalu. Kadang-kadang aku juga panik.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku sedang mempertimbangkan pilihan ketiga.”
“Apa itu?”
“Pingsan. Sayangnya, sepertinya tidak ada yang mau menggendongku.”
Yue Ning hampir tersenyum, tetapi segera kembali menatap jalan.
Di depan mereka, Mo Jian berjalan tanpa banyak bicara. Sejak menerima surat dari pos pengawas, sikapnya berubah. Tangannya sesekali menyentuh gagang pedang, bukan seperti orang yang bersiap menyerang, melainkan seperti seseorang yang sedang memastikan senjatanya masih ada.
Lian memperhatikan perubahan itu.
Pemuda tersebut tampaknya tidak menganggapnya sekadar kultivator mencurigakan lagi. Ada hal lain yang mengganggunya.
Sayangnya, Mo Jian bukan tipe orang yang akan menjelaskan masalah hanya karena seseorang penasaran.
Lian memutuskan untuk tidak bertanya.
Ia sudah cukup sering membuat keadaan lebih buruk dengan membuka mulut.
***
Pos pengawas Desa Qinghe ternyata bukan bangunan besar. Tempat itu berdiri di atas bukit rendah, dikelilingi pagar batu dan dua menara kayu. Di halaman depan terdapat sebuah prasasti putih dengan lambang pedang yang menembus lingkaran.
Empat penjaga berdiri di gerbang.
Begitu melihat Mo Jian, mereka segera memberi hormat. Namun, ketika pandangan mereka jatuh kepada Lian, sikap mereka berubah. Salah seorang penjaga bahkan menarik napas pendek sambil mengamati tangannya.
“Apakah ini orang yang dilaporkan?” tanyanya.
“Benar,” jawab Mo Jian. “Siapkan ruang pemeriksaan.”
Penjaga itu ragu. “Ruang pemeriksaan biasa?”
“Ruang pemeriksaan biasa.”
“Tapi laporan dari desa menyebutkan bahwa dia menggunakan api hitam.”
Mo Jian menoleh tajam. “Aku mendengar laporan itu.”
Penjaga tersebut langsung menunduk.
Lian memperhatikan pertukaran singkat itu. Ada kegelisahan yang terasa tidak wajar. Seolah nama Api Hitam bukan sekadar istilah bagi sebuah teknik, melainkan sesuatu yang pernah membuat orang-orang di tempat ini kehilangan banyak hal.
Ia baru hendak bertanya ketika Mo Jian mengisyaratkan agar mereka masuk.
Ruang pemeriksaan berada di bangunan utama. Di dalamnya terdapat meja panjang, tiga kursi, sebuah tungku kecil, dan lempeng batu bundar yang dipenuhi ukiran rumit.
Lian menatap lempeng itu.
“Benda apa?”
“Lempeng pengukur energi spiritual,” jawab Yue Ning. “Ia dapat membaca aliran energi seseorang dan mendeteksi jejak teknik yang tertinggal di tubuh.”
“Apakah bisa membaca pikiran?”
“Tidak.”
“Bagus. Aku baru saja memikirkan hal buruk tentang kalian.”
“Kami tidak perlu lempeng untuk mengetahui itu.”
Lian menunjuknya. “Nah, itu jawaban yang mulai terdengar seperti ancaman.”
Mo Jian meletakkan surat yang diterimanya di atas meja.
“Duduk.”
Lian duduk.
Yue Ning berdiri di sisi meja, sementara Mo Jian mengambil posisi di hadapannya. Dua penjaga berjaga di dekat pintu.
“Pemeriksaan ini bertujuan memastikan asal energi yang kau gunakan,” kata Mo Jian. “Letakkan tangan kananmu di atas lempeng.”
Lian menurut.
Batu itu dingin.
Ukiran di permukaannya menyala samar ketika telapak tangannya menyentuh bagian tengah. Cahaya biru menjalar melalui garis-garis tipis, membentuk lingkaran yang berputar perlahan.
Kemudian cahaya itu berhenti.
Mo Jian mengerutkan kening.
“Ulangi,” katanya kepada penjaga yang mengoperasikan lempeng.
Penjaga itu mengalirkan energi spiritual ke dalam batu. Ukiran kembali menyala, kali ini lebih terang. Lempeng bergetar pelan, lalu mengeluarkan bunyi berdenting.
Sebuah pola muncul di permukaannya.
Lian tidak mengenali pola tersebut. Bentuknya menyerupai akar pohon yang membelit sebuah lingkaran, dengan beberapa garis terputus di bagian tepi.
Yue Ning membungkuk untuk melihat lebih jelas.
“Ini bukan pola energi iblis yang biasa.”
Mo Jian tidak menjawab.
Penjaga yang mengoperasikan lempeng tampak pucat. Ia menyentuh ukiran di tepi batu, lalu mencoba mengalirkan energi sekali lagi.
Lempeng itu mendadak memancarkan cahaya hitam.
Semua orang mundur.
Lian refleks menarik tangannya. Batu tersebut mengeluarkan bunyi retak, dan garis hitam menjalar dari bagian tengah hingga ke pinggir.
Salah satu penjaga langsung mencabut pedangnya.
“Jangan bergerak!”
Lian mengangkat kedua tangan. “Aku bahkan tidak tahu apa yang baru saja kulakukan!”
“Energi itu berasal dari tubuhmu!”
“Kalau begitu, tubuhku juga ingin tahu kenapa batu kalian rusak!”
“Diam!” bentak Mo Jian.
Lian menutup mulut.
Mo Jian mendekati lempeng yang retak. Ia tidak menyentuhnya, hanya mengamati pola hitam yang perlahan memudar.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
Yue Ning menatapnya. “Kau mengenali pola itu?”
“Bukan pola yang seharusnya muncul di sini.”
“Itu bukan jawaban.”
“Dan ini bukan tempat untuk membicarakannya.”
Mo Jian berbalik kepada para penjaga. “Kosongkan ruangan. Tidak seorang pun boleh menyentuh lempeng ini sampai petugas arsip tiba.”
Salah seorang penjaga tampak hendak membantah, tetapi urung setelah melihat ekspresinya.
Ketika pintu tertutup, hanya Lian, Mo Jian, dan Yue Ning yang tersisa.
Mo Jian menarik kursi, lalu duduk di hadapan Lian.
“Sekarang, aku ingin jawaban yang jujur.”
Lian menghela napas. “Kalau aku tahu jawabannya, aku sudah mengatakannya sejak tadi.”
“Dari mana kau mendapatkan teknik itu?”
Lian terdiam.
Ingatan tentang tiga hari lalu muncul kembali. Hujan deras, jalan berlumpur, dan seorang tetua yang terbaring di bawah pohon tumbang. Lian menemukannya saat hendak kembali ke sekte setelah menyelesaikan tugas pengumpulan bahan obat.
Orang tua itu hampir tidak bernapas. Pakaiannya robek, tubuhnya dipenuhi luka, dan energi spiritualnya kacau. Lian tidak mengenalnya, tetapi ia tidak sanggup meninggalkan seseorang dalam keadaan seperti itu.
Ia telah menggunakan pil pemulih terakhir miliknya. Pil itu seharusnya cukup untuk menstabilkan seorang kultivator tingkat rendah, tetapi tetua tersebut berada jauh di atas tingkatnya. Lian hanya bisa membantu menjaga napasnya sampai pertolongan datang.
Sebelum kehilangan kesadaran, sang tetua menyerahkan sebuah buku hitam kepadanya.
“Jangan biarkan mereka menentukan dosa siapa yang pantas dibakar.”
Lian masih mengingat tatapan orang tua itu. Bukan tatapan seorang guru yang hendak mewariskan ilmu, melainkan tatapan seseorang yang tahu bahwa ia tidak akan sempat memperbaiki kesalahannya sendiri.
“Aku mendapatkannya dari seorang tetua yang terluka,” jawab Lian akhirnya. “Dia memberikannya sebelum kami berpisah.”
“Siapa namanya?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau menerima kitab teknik dari orang asing yang tidak kau kenal, lalu menggunakannya tanpa mengetahui isinya?”
“Kalau kau mengatakannya seperti itu, kedengarannya memang bodoh.”
“Karena memang bodoh.”
“Terima kasih. Penilaianmu sangat membantu.”
Yue Ning menyilangkan tangan. “Apakah tetua itu menjelaskan isi kitabnya?”
“Tidak. Dia hanya menyuruhku menyimpannya.”
“Dan kau tidak membukanya sampai sekarang?”
Lian ragu sejenak.
Ia bisa saja berbohong. Buku itu bukan sesuatu yang ingin ia tunjukkan kepada orang-orang yang sudah menganggapnya iblis. Namun, ia juga mulai menyadari bahwa menyembunyikan semuanya tidak akan membuatnya lebih aman.
“Aku membukanya setelah kejadian di tebing,” katanya. “Sebelumnya, tidak ada tulisan yang bisa kubaca di dalamnya.”
“Sekarang apa yang tertulis?” tanya Mo Jian.
“Api Hitam.”
Keduanya terdiam.
Kali ini, bahkan Yue Ning tidak segera mengajukan pertanyaan lanjutan.
Mo Jian berdiri dan berjalan menuju jendela. Ia memeriksa halaman di luar sebelum kembali menatap Lian.
“Dengarkan aku baik-baik. Apa pun yang kau lihat atau baca dalam kitab itu, jangan tunjukkan kepada orang lain.”
Lian mengerutkan kening. “Bukankah kau sedang memeriksa apakah aku pengguna ilmu terlarang?”
“Aku sedang memeriksa sesuatu yang belum kupahami.”
“Bukankah itu tujuan pemeriksaan?”
“Jangan memelintir ucapanku.”
“Sulit. Ucapanmu sering berputar sendiri.”
Yue Ning menghela napas. “Lian.”
“Baik, baik. Aku diam.”
Mo Jian menatapnya beberapa saat sebelum berbicara lagi.
“Ada catatan lama mengenai teknik yang memiliki ciri serupa. Catatan itu disimpan di arsip pusat Aliansi Sekte Lurus. Namun, bagian yang menjelaskan asal-usulnya telah disegel.”
“Disegel oleh siapa?”
“Pihak yang berwenang.”
“Nama yang sangat jelas.”
“Cukup.”
Mo Jian mengambil surat dari meja dan membukanya kembali. Ia membaca bagian yang tadi disembunyikannya, lalu meletakkannya di hadapan Yue Ning.
Gadis itu membaca cepat. Wajahnya berubah ketika sampai di baris terakhir.
“Ini laporan dari Desa Qinghe?”
“Bukan hanya laporan desa,” jawab Mo Jian. “Ada catatan tambahan dari petugas yang datang sebelum kita.”
Yue Ning mengangkat pandangan. “Maksudmu, mereka sudah mengetahui adanya energi ini sebelum Lian tiba?”
“Sepertinya begitu.”
Lian memandangi mereka bergantian.
“Bisakah seseorang akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Mo Jian tidak segera menjawab.
Yue Ning mengetuk kertas itu dengan ujung jari. “Tiga hari lalu, seseorang melaporkan adanya gangguan spiritual di sekitar Qinghe. Menurut catatan resmi, sumbernya adalah sebuah ritual terlarang yang dilakukan di dekat desa.”
“Ritual apa?”
“Tidak dijelaskan.”
“Pelakunya?”
“Tidak diketahui.”
Lian menatap kertas tersebut. “Jadi, kalian sudah mencari pengguna ilmu terlarang sebelum aku muncul?”
Mo Jian mengangguk tipis.
“Dan sekarang aku menjadi tersangka yang paling mudah.”
“Kau memang menunjukkan teknik yang cocok dengan sebagian ciri dalam laporan.”
“Sebagian?”
Yue Ning memandangnya. “Ada sesuatu yang tidak cocok. Laporan awal menyebutkan bahwa gangguan itu berasal dari sisi timur desa. Tebing tempat kau menyelamatkan anak itu berada di sisi barat.”
“Berarti ada dua sumber gangguan?”
“Mungkin. Atau salah satu catatan itu keliru.”
Lian merasakan tengkuknya menegang.
Buku hitam di balik pakaiannya kembali terasa hangat.
Ia menunduk sedikit, berpura-pura memperbaiki posisi duduk. Dalam benaknya, tulisan tadi muncul lagi.
**[Sumber: Desa Qinghe.]**
**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**
Lian tidak tahu apakah buku itu merujuk pada laporan resmi, jejak energi di lempeng, atau sesuatu yang sama sekali berbeda.
Namun, sekarang ia memiliki alasan untuk mencurigai bahwa seseorang sedang menyembunyikan sesuatu di Desa Qinghe.
Seseorang yang mungkin telah melakukannya jauh sebelum ia datang.
“Kalau begitu, aku ingin melihat laporan aslinya,” kata Lian.
Mo Jian langsung menggeleng. “Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena laporan itu bukan milikmu.”
“Namaku bahkan belum tercantum di dalamnya ketika laporan itu dibuat. Aku tidak meminta membawanya pulang. Aku hanya ingin membacanya.”
“Informasi arsip tidak bisa diberikan kepada orang yang sedang diperiksa.”
“Jadi aku cukup penting untuk dituduh, tetapi tidak cukup penting untuk mengetahui alasan tuduhannya?”
Mo Jian menegang.
Yue Ning tidak menyela kali ini. Ia memandang surat di meja dengan alis berkerut, seolah baru menyadari sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatiannya.
Lian bangkit dari kursinya.
“Kalau kalian tidak bisa membuktikan bahwa aku melakukan ritual itu, aku ingin diizinkan kembali ke sekteku.”
“Pemeriksaan belum selesai,” kata Mo Jian.
“Dan aku tidak akan tinggal di sini selamanya hanya karena kalian belum menemukan jawaban.”
Mo Jian berdiri pula. Untuk sesaat, tangan kanannya bergerak mendekati gagang pedang.
Lian melihat gerakan itu, tetapi tidak mundur.
Ia lelah. Tubuhnya masih sakit. Ia takut pada kekuatan yang tidak bisa dikendalikannya, dan lebih takut lagi pada kemungkinan bahwa suatu hari kekuatan itu akan melukai orang yang hendak ditolongnya.
Tetapi ia tidak akan mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya hanya agar orang lain merasa tenang.
Akhirnya, Mo Jian menurunkan tangannya.
“Kau akan tetap berada di bawah pengawasan sampai pemeriksaan berikutnya.”
Lian tertawa pendek tanpa kegembiraan.
“Setidaknya sekarang kau menyebutnya pengawasan, bukan pemeriksaan.”
Mo Jian memanggil seorang penjaga untuk mengantar Lian ke kamar tamu di sisi timur bangunan. Yue Ning tetap tinggal bersama Mo Jian.
Saat Lian mencapai pintu, ia mendengar suara gadis itu dari dalam ruangan.
“Mo Jian, ada yang aneh dengan laporan itu.”
Langkah Lian melambat.
“Jangan membuat kesimpulan sebelum bukti lengkap,” jawab Mo Jian.
“Aku tidak membuat kesimpulan. Aku hanya mengatakan bahwa waktunya tidak cocok.”
Pintu mulai tertutup.
Sebelum celahnya menghilang, Lian mendengar Mo Jian mengucapkan satu kalimat yang membuatnya berhenti bernapas sesaat.
“Justru itu masalahnya. Laporan ini sudah disahkan tiga hari lalu, tetapi tanda tangan pemeriksaannya baru diberikan kemarin.”
Pintu tertutup.
Lian berdiri diam di lorong.
Tiga hari lalu, ia menemukan tetua yang terluka.
Tiga hari lalu, laporan tentang ritual terlarang di Desa Qinghe dibuat.
Dan sekarang, seseorang telah memanipulasi catatan yang bahkan tidak seharusnya berkaitan dengannya.
Dari balik pakaiannya, buku hitam itu kembali terasa panas.
Kali ini, ia tidak perlu membukanya untuk mengetahui bahwa sesuatu telah berubah.
Sebuah suara samar terdengar di dalam kepalanya, bukan seperti suara manusia, melainkan bisikan yang datang dari tempat sangat jauh.
**[Jejak karma pertama telah terhubung.]**
Lian mengepalkan tangan.
Di ujung lorong, penjaga yang mengantarnya sedang membuka pintu kamar tamu. Di luar jendela, matahari mulai tenggelam di balik perbukitan.
Lian seharusnya merasa lega karena belum ditangkap atau dipaksa bertarung.
Sebaliknya, ia justru merasa baru saja melangkah masuk ke dalam masalah yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak memperoleh kitab itu, ia mulai bertanya-tanya apakah tetua yang memberikannya benar-benar kebetulan ditemukan di pinggir jalan.
Atau apakah sejak awal, seseorang telah membawanya ke jalan yang sama.
Anak panah kedua menghantam kusen pintu sebelum Mo Jian sempat memerintahkan siapa pun bergerak.Kali ini tidak ada pesan yang diikatkan padanya. Ujung panahnya berwarna hijau kusam, dan asap tipis keluar dari bagian logam yang menancap di kayu.“Menjauh dari panah itu!” seru Yue Ning.Kedua murid Balai Pedang Putih segera menarik Han Rui menjauh dari peti. Mo Jian berdiri di antara pintu dan orang-orang di dalam gudang, pedangnya terhunus. Ia tidak langsung mengejar penyerang. Matanya menyapu atap, jendela, dan celah-celah dinding, mencari arah tembakan berikutnya.Lian berusaha berdiri dengan bantuan meja tua.Kakinya masih lemas akibat penggunaan Api Hitam. Lengan kanannya terasa seperti dipenuhi semut yang menggigit dari dalam. Kalau penyerang memutuskan masuk sekarang, kontribusinya dalam pertempuran mungkin hanya menjadi penghalang jalan.“Berapa orang?” bisiknya.“Belum diketahui,” jawab Mo Jian.“Bagus. Aku takut jawabannya terlalu menyenangkan.”Mo Jian meliriknya. “Kalau kau
Gudang tua di sisi timur Desa Qinghe ternyata lebih buruk daripada yang Lian bayangkan.Atapnya miring, beberapa papan dinding sudah lapuk, dan rumput liar tumbuh di antara batu-batu fondasi. Dari jalan, bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun, jejak kaki di tanah basah menceritakan hal berbeda. Ada terlalu banyak tapak baru untuk sebuah gudang yang konon tidak digunakan siapa pun.Lian berhenti di belakang Mo Jian.“Kalau tempat ini benar-benar kosong, kenapa jejak kakinya lebih ramai daripada halaman sekteku?”Mo Jian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.Dua murid Balai Pedang Putih bergerak ke sisi bangunan. Yue Ning berjongkok di dekat pagar roboh, memeriksa bekas goresan pada tanah. Lian sendiri diminta tetap berada di belakang garis batu yang ditandai Mo Jian dengan pedangnya.Ia mematuhi perintah itu.Bukan karena ia mendadak menjadi murid teladan, melainkan karena lengannya masih terasa nyeri setiap kali ia mengingat nya
Lian baru menyadari betapa buruknya keadaan ketika penjaga di depan kamarnya mengganti posisi untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setengah jam.Dua orang berdiri di depan pintu. Seorang lagi berjaga di ujung lorong. Di luar jendela, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di balik pagar kayu.Kalau mereka menambahkan rantai dan menggantung papan bertuliskan *Jangan Diberi Makan*, pikir Lian, tempat ini akan cocok dijadikan kandang binatang langka.Sayangnya, binatang langka yang dimaksud tampaknya adalah dirinya.Ia duduk di tepi ranjang, memijat pergelangan tangan yang masih terasa panas sejak kemunculan penyusup malam sebelumnya. Kitab Api Hitam Penembus Dosa tergeletak di atas meja. Sampulnya yang gelap tampak biasa saja, seolah benda itu tidak baru saja membuat hidupnya jauh lebih rumit.Lian menyentuh sudut kitab.“Kalau kau punya penjelasan, sekarang waktu yang bagus.”Tidak ada jawaban.“Petunjuk? Sedikit saja?”Sampul kitab bergetar halus.Lian langsung menarik ta
Lian terbangun karena suara seseorang mengetuk pintu.Bukan ketukan sopan. Orang di luar mengetuk tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk lagi seolah pintu itu punya utang kepadanya.Lian menarik selimut sampai menutupi kepala.“Kalau aku sudah mati, silakan masuk. Kalau belum, datang lagi besok.”“Buka pintunya, Lian.”Ia mengenali suara Yue Ning.Lian duduk sambil mengusap wajah. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di tebing dan pemeriksaan lempeng spiritual. Ia sempat tertidur tanpa makan malam, sesuatu yang biasanya tidak akan ia lakukan bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun.“Sebentar.”“Sekarang.”“Kalau semua orang di tempat ini selalu terburu-buru, kapan mereka sempat menikmati hidup?”“Lima detik.”Lian membuka pintu.Yue Ning berdiri di lorong dengan sebuah bungkusan kain di tangannya. Ia masih mengenakan jubah biru muda, tetapi rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, lorong pos pengawas tampak sepi.“Kau belum makan,” katanya.Lian menatap bungkusan
Jalan menuju pos pengawas melewati ladang kering dan sebuah kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lian berusaha mengabaikan buku hitam yang terasa berat di balik pakaiannya.Usahanya gagal.Setiap kali ia mengingat tulisan yang muncul di halaman buku, telapak tangannya kembali terasa panas.**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**Catatan apa?Siapa yang memanipulasinya?Dan yang paling penting, kenapa sebuah buku tua bisa bertingkah seperti orang cerewet yang tahu terlalu banyak?“Berhenti mengerutkan kening,” kata Yue Ning di sampingnya.Lian menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Wajahmu seperti orang yang baru menyadari utangnya jatuh tempo.”“Kalau aku punya utang, setidaknya aku tahu siapa yang harus kuhindari.”Yue Ning menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kau selalu bercanda ketika berada dalam masalah?”“Tidak selalu. Kadang-kadang aku juga panik.”“Sekarang?”“Sekarang aku sedang mempertimbangkan pilihan ketiga.”“Apa itu?”“Pingsan. Sayangnya,
Lian baru berjalan sekitar seratus langkah ketika suara lonceng terdengar dari arah desa.Tiga kali.Bunyinya berat dan tergesa-gesa, disusul teriakan orang-orang yang saling memanggil. Dari balik pepohonan, beberapa penduduk berlari menuju jalan utama. Ada yang membawa tombak bambu, ada yang menggenggam cangkul, dan seorang lelaki tua bahkan mengangkat kursi kayu seolah benda itu bisa mengusir iblis.Lian berhenti.“Jangan-jangan mereka mau mengadakan pesta penyambutan.”Ia melirik telapak tangannya. Bekas nyala hitam tadi sudah lenyap, tetapi rasa panasnya masih menjalar sampai ke siku. Jari-jarinya gemetar setiap kali ia mencoba mengepalkannya.“Kalau pestanya buat orang yang hampir mati, aku izin pulang dulu.”Ia baru hendak melanjutkan langkah ketika seorang perempuan berlari melewatinya. Wajahnya pucat, napasnya tersengal.“Kau! Kau yang tadi di tebing!”Lian menunjuk dirinya sendiri. “Kalau yang dimaksud orang tampan dan kurang beruntung, mungkin benar.”Perempuan itu tidak ter







