Keheningan mematikan seketika turun menyelimuti meja. Bu Rahma dan Dinda menahan napas.“Annisa telah menyerahkan seluruh pengelolaan butik itu padaku, Paman,” jawab Ilham, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil, meski cengkeramannya di paha Annisa kian mengeras, memaksa wanita itu bungkam.Annisa mendongak. Tatapannya dan Salman bertemu sesaat. Mata pria itu seolah mampu menembus ketakutan yang ia sembunyikan. Ia cepat-cepat menunduk, menggigit bibir dalam-dalam menahan ringis kesakitan.“Ilham benar, Paman,” cicit Annisa akhirnya, menyerah pada rasa sakit di pahanya.Salman terdiam sejenak. Sorot matanya berubah dingin saat ia mengangguk pelan.“Kalau begitu, besok aku akan mengunjungi tokonya untuk melihat seberapa besar potensi pasarnya,” jawab Salman.Setelah jamuan selesai, Annisa lekas menyingkir ke dapur, membereskan tumpukan piring kotor sendirian. Namun, sayup-sayup obrolan dari ruang tengah merambat masuk, memaksanya menajamkan pendengaran.“Kenapa bukan Annisa sendiri
Last Updated : 2026-09-29 Read more