Partager

Bab 4. Jadi Model

Auteur: Hare Ra
last update Date de publication: 2026-09-30 16:22:28

Ilham tidak langsung menjawab. Ia gamang, haruskah ia membiarkan Annisa menjadi model produknya Salman? Dan bagaimana kalau Annisa terkenal?

“Aku akan berikan kamu tiga miliar,” sambung Salman seolah tahu letak kelemahan Ilham.

Ilham mendongak, matanya membulat sempurna mendengar angka miliaran yang akan digelontorkan oleh Salman. Terbayang di kepalanya kalau ia berhasil mendapatkan dana itu, ia bisa kembali membangkitkan butik itu dan ada beberapa kebutuhannya yang tertunda bisa ia lanjutkan.

“Bagaimana?” tanya Salman.

“Aku akan tanyakan dulu pada Annisa, Paman. Soalnya, selama ini dia tidak mau bekerja,” jawab Ilham.

“Hanya pemotretan saja. Tidak setiap hari juga.”

“Iya, Paman.”

Salman tersenyum. Ia sudah mendengar banyak hal tentang Annisa dan Ilham, dan katanya keluarga Ilham yang begitu taat mengekang Annisa dengan beberapa dalih disangkutpautkan dengan keimanan. Sehingga mereka terlihat suci, padahal mereka hanya membungkus keburukan dengan sesuatu yang dianggap suci.

“Aku tunggu kabar secepatnya, paling lama seminggu. Kalau tidak bisa, aku akan pulang dan batal menanamkan modal di butik kamu.”

Setelah mengatakan itu, Salman meninggalkan butik tanpa menoleh.

***

Sore harinya, Ilham pulang ke rumah. Saat itu, Annisa sedang menyiapkan makan malam. Tubuhnya penuh peluh. Di rumah ini, semua pekerjaan dilakukan oleh Annisa.

Bukan mereka tidak mampu membayar jasa pembantu, hanya saja mereka beralasan tidak nyaman dengan adanya orang lain di rumah. Dan kembali lagi dengan sistem keluarga mereka yang brandingnya penuh ketaatan. Katanya, istri akan mendapatkan pahala kalau melayani suami dengan baik. Dan pekerjaan rumah mereka anggap sebagai pelayanan istri untuk suami.

“Annisa, aku mau bicara,” ujar Ilham saat tiba di rumah.

“Ada apa, Mas?” tanya Annisa sambil mengelap tangannya ke daster.

Ilham hanya mendengkus kesal melihat penampilan Annisa, tubuh penuh keringat, bau bawang dan rambut berantakan. Penampilan Annisa itu sama sekali sangat tidak menarik di matanya.

“Bisa gak sih kalau suami pulang, kamu itu sedikit rapi? Kenapa semakin lama kamu itu semakin jelek dan berantakan, Annisa?” tanya Ilham kesal.

“Maaf, Mas. Hari ini pekerjaan sangat banyak, Mama meminta masak kue yang banyak untuk acara arisan besok,” jawab Annisa menunduk.

Ia pun merasa tidak percaya diri berhadapan dengan sang suami. Sejak pagi ia sudah berkutat di dapur dan membersihkan semua bagian rumah. Dan itu, hanya dikerjakan seorang diri. Bu Rahma dan Dinda hanya bisa memerintah saja, mereka bertindak seperti majikan dan Annisa seperti pembantu.

“Alasan saja! Kamu aja yang gak bisa mengatur waktu!” ketus Ilham.

“Dia mau ngadu sih, mau bilang Mama yang menyuruhnya,” sahut Dinda.

Annisa tidak menjawab, ia hanya menunduk dan meraih tas Ilham, lalu membantu melepaskan sepatu suaminya.

Seperti itulah setiap harinya, Annisa harus menyambut Ilham pulang kerja, meletakkan tas kerjanya di kamar. Bahkan sepatu Ilham pun Annisa yang melepaskannya.

Setelah itu, Annisa menyiapkan kopi panas untuk sang suami yang kini duduk di meja makan sambil menatapnya dengan tajam.

Annisa bertanya-tanya dalam hati, apakah ia berbuat salah. “Ada apa, Mas?”

“Paman Salman meminta kamu untuk menjadi model produknya,” ujar Ilham datar.

“Apa?” tanya Bu Rahma dan Dinda secara bersamaan.

Tentu saja keduanya terkejut mendengarnya, padahal Dinda lah yang sudah mencoba menarik perhatian Salman secara maksimal, malah Annisa yang diminta untuk menjadi model.

Annisa pun terkejut, tapi ia hanya mendongak menatap Ilham tidak percaya.

“Iya, Paman tadi datang ke butik dan meminta secara langsung kalau Annisa yang harus menjadi modelnya.”

“Kenapa gak tawarkan aku saja?” tanya Dinda.

“Sudah, tapi Paman gak mau.”

“Kenapa sih Paman malah milih Annisa? Apa hebatnya dia?” gerutu Dinda menatap Annisa dengan sinis.

Ilham memberikan kode kepada Bu Rahma dan Dinda agar segera menutup mulutnya. Sehingga ibu dan anak itu terlihat cemberut menahan kesal.

“Kau harus menerima tawaran ini,” desis Ilham menatap Annisa tajam. “Bukankah selama ini kau terus merengek bosan di rumah? Makanya sekarang aku kasih kesempatan keluar. Apalagi ini bersama Paman Salman sendiri.”

“Aku tidak pernah jadi model, Mas,” jawab Annisa pelan. Tangannya tanpa sadar meremas ujung daster yang basah.

“Paman itu fotografer. Dia yang akan mengarahkanmu,” potong Ilham cepat, mengibaskan tangan seolah ketakutan istrinya itu tidak penting. “Tinggal ikuti saja perintahnya, apa susahnya?”

“Tapi Mas…“

Brak!

Ilham memukul meja, membuat bahu Annisa melonjak kaget.

“Kau ini memang tidak pernah tahu cara bersyukur!” bentak Ilham, mencondongkan tubuhnya ke depan, urat di lehernya menonjol. 

“Disuruh diam di rumah, kau mengeluh seperti terpenjara! Giliran kuberi jalan keluar, kau malah banyak protes! Sebenarnya apa maumu, Annisa?!”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 13. Paman, Jangan!

    “Jangan ditahan,” bisik Salman ketika Annisa tampak menahan dirinya agar tidak mengeluarkan desahannya.Annisa memejamkan matanya saat ciuman Salman semakin dalam dan menuntut, perlahan ciuman itu menurun ke leher jenjang Annisa. Bahkan, tangan Salman bergerak cepat membuka kancing kemeja yang dikenakan Annisa.“Paman …” lirih Annisa pelan.“Iya,” jawab Salman terus mencumbu Annisa, ciumannya menyusuri telinga Annisa membuat Annisa semakin mengeratkan pelukannya.Salman begitu paham bagian-bagian sensitif yang bisa membangkitkan hasrat Annisa. Begitupun dengan Annisa yang selama ini sudah jarang disentuh oleh Ilham. Reflek seluruh bagian tubuhnya merespon ketika sentuhan lembut Salman mengenai kulitnya.Tanpa sadar, kemeja yang dikenakan oleh Annisa sudah terlepas, Salman terdiam menatap tubuh putih mulus Annisa yang begitu indah di depan matanya.Dua keindahan bagian atas tampak membusung memenuhi bra merah yang dikenakan Annisa. “Kamu sangat cantik,” puji Salman.Annisa masih memeja

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 12. Pelukan Hangat

    “Tapi, Paman—““Aku hanya membantu kamu agar segera sembuh, Annisa,” potong Salman cepat.Annisa tidak bisa lagi membantah, tubuhnya terasa semakin dingin. Dan memang, ketika kulit Salman menyentuh kulitnya, ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.Annisa bisa merasakan embusan nafas Salman, juga jantungnya yang berdetak cepat dan ia bisa mencium wangi tubuh Salman dalam jarak sedekat ini. Wangi yang cukup lembut tapi tegas, seperti sifat Salman.“Masih dingin?” tanya Salman setelah beberapa saat.Annisa tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.Salman mengeratkan pelukannya, tangannya mengelus pundak Annisa lembut. Pun dengan Annisa, ia membalas pelukan Salman.Saat ini, Annisa tidak lagi memikirkan hubungan antara Paman dan keponakan ipar juga model dan fotografer. Tubuhnya terasa begitu menggigil.Dari pelukan Salman, Annisa merasakan kehangatan. Pelan-pelan Annisa merasakan kehangatan mengaliri darahnya, mengantarkan rasa nyaman ke seluruh tubuhnya.Dalam hatinya

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 11. Dingin... Paman

    “Annisa!” panggil Salman.Lelaki itu berlari mendekat, mencoba menahan tubuh Annisa yang limbung. Hanya saja terlambat, Annisa sudah jatuh ke lantai.Salman meraih tubuh Annisa, mengangkatnya menuju sofa yang ada di studio. “Ada apa? Kamu sakit?” tanya Salman.Annisa tidak menjawab, ia mendengar tapi ia tidak kuat untuk menjawab. Lidahnya terasa kelu, kepalanya sangat pusing dan tubuhnya lemah.Salman meraba kening Annisa, panas sekali. Ia mulai terlihat panik.“Annisa, kamu sakit? Kita ke dokter ya.”Salman benar-benar tidak tega melihat keadaan Annisa. Ia meraih kunci mobil dan siap menggendong Annisa. Pikirannya saat ini, apapun harus ia lakukan untuk membantu Annisa.“Paman…” suara Annisa lirih dan tangannya menahan tangan Salman.“Iya, Annisa.”“Tidak perlu ke rumah sakit, izinkan aku istirahat sebentar saja. Setelah agak baikan, kita bisa lanjutkan pemotretannya.” Akhirnya Annisa mengeluarkan suaranya, meskipun kelu dan lemah.Ia tidak ingin ke rumah sakit, ia tahu itu akan mere

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 10. Tidur di Luar

    "Kau berani ya?" tanya Dinda. "Kenapa takut?" Annisa yang kini sudah sepenuhnya terbangun menatap Dinda dengan tajam, entah kekuatan dari mana yang ia miliki. Biasanya, ia akan memilih diam dan menurut. "Baru bekerja sehari saja sudah sombong." "Aku bekerja sehari sudah bisa menyelamatkan keuangan butik," jawab Annisa yang membuat Dinda terdiam. Wajah Dinda memucat, ia tidak menyangka kalau ternyata Annisa tahu permasalahan di butik. Akhirnya, gadis itu melenggang pergi kembali ke kamarnya. Annisa menghela nafas berat. "Haacchim!" Annisa bersin-bersin, mungkin karena tubuhnya yang kedinginan akibat guyuran air oleh Ilham tadi. Tapi, sekalipun begitu, Annisa tetap memaksakan diri membersihkan semua yang berantakan. Saat ini, Annisa tahu dan sadar ia dimanfaatkan. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya masih harus mengalah. Surat kepemilikan butik itu masih disimpan oleh Ilham. Setelah dua jam berkutat dengan pekerjaan rumah, akhirnya selesai juga. Kepalanya terasa sangat sakit, be

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 9. Disiram Tengah Malam

    "Ada apa, Mas?" tanya Annisa dengan setengah sadar. Matanya masih sangat mengantuk. Ia sudah lama tidak berlenggak lenggok di depan kamera, dan hari ini hari pertama ia kembali terkena cahaya kamera, tentu saja ia mengalami culture shock, sehingga ia merasa sangat lelah. Tubuhnya terasa menggigil, tapi ngantuknya tidak bisa ditahan. "Hah? Kau tidak tahu apa salahmu?!" tanya Ilham berteriak. Ilham semakin kesal, apalagi Annisa terlihat hendak kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. "Aku salah apa?" Tanya Annisa. "Kau itu adalah istri, selayaknya sekalipun kau bekerja kau tetap melakukan tugasmu sebagai istri di rumah ini! Kau bukan bos!" Bentak Ilham. Annisa bangun dan menghela nafas berat. "Aku tidak mengerti." Mata Annisa menatap Ilham lekat, bagi Ilham itu adalah sinyal bahaya. Selama ini, Annisa tidak pernah berani menatapnya seperti itu. "Kau lihatlah, rumah ini berantakan. Kau pergi sejak pagi, orang maklum kalau kau tidak sempat beberes pagi hari. Tapi, saat pulang ke

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 8. Pernikahan atau Penjara

    "Apa yang kau katakan?" tanya Bu Rahma.Annisa tersenyum kecut. "Paman membeli ini untuk kalian, agar aku tidak perlu masak. Sebab, besok masih ada pemotretan.""Sombong! Kalau bukan karena Ilham, kau tidak akan kenal Salman!" ketus Bu Rahma."Iya, Ma."Annisa segera berlalu menuju kamarnya setelah meletakkan makanan itu diatas meja. Kata-kata Salman terngiang di kepalanya. 'Penjara'.Satu kata itu tidak bisa ia lupakan. Pernikahan mereka berdua sama-sama seperti penjara.Dan Annisa baru sadar itu sekarang, sebab ternyata selama ini bukan cinta, bukan pula sebuah ketaatan, melainkan Ilham ingin mengurung dirinya agar ia tidak tahu apa-apa.Ia tidak tahu keadaan butik yang sebenarnya, ia hanya menerima laporan lisan yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja, namun nyatanya keadaan butik sedang berdarah-darah.Ketika diimingi dengan uang milyaran rupiah, Ilham langsung membiarkan ia menjadi model."Kau mau kemana?" tanya Bu Rahma menghentikan langkah Annisa yang hampir masuk ke ka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status