공유

Bab 6. Kontrak

작가: Hare Ra
last update 게시일: 2026-10-01 21:13:43

“Tidak perlu tegang,” bisik Salman.

Annisa mengangguk pelan, ia reflek menarik tangannya. Tapi, genggaman Salma begitu erat. Bahkan, saat ini Salman mengelus lembut punggung tangan Annisa, memberikan sedikit kehangatan.

“Duduk dulu, hilangkan rasa gugupmu,” sambung Salman membimbing Annisa untuk duduk pada sofa beludru yang ada di sudut studio.

Annisa mengangguk, ia menerima satu botol air mineral yang ditawarkan oleh Salman. Tegukan dingin itu sedikit meredam rasa gugupnya.

Ini memang pertama kalinya ia berada di depan kamera setelah sekian lama. Dulu, ia sempat ikut beberapa kali pemotretan saat di sekolah model dan juga saat lulus sempat ikut juga dalam sebuah agensi dan melakukan pemotretan.

Berhubung orang tuanya juga memiliki bisnis di bagian fashion, ia juga sempat menjadi model beberapa produk di butiknya. Namun, saat itu Ilham datang dengan segala aturannya. Sehingga akhirnya semua mimpinya di dunia permodelan itu harus dikubur.

“Sudah rileks?” tanya Salman yang tiba-tiba saja berdiri di belakangnya dan mengurut pundaknya yang tegang. Tangan kekar Salman bergerak pelan, sentuhan itu pelan dan perlahan berubah menjadi elusan yang halus membuat bulu kuduk Annisa meremang.

Darah Annisa berdesir hangat, jantungnya berdetak hebat. Ia ingin menolak, tapi tubuhnya yang bertahun-tahun merindukan kehangatan itu malah diam.

Terlebih pakaian yang dikenakan oleh Annisa adalah gaun panjang dengan potongan bahu terbuka dan belahan panjang hingga ke paha. Bahkan bagian dadanya setengah terbuka. Telapak tangan Salman bersentuhan langsung dengan kulit telanjangnya.

“Kenapa kamu tidak menjadi model? Kamu sangat cantik,” tanya Salman, tangannya masih berada di pundak Annisa, dan suaranya tepat di dekat telinga Annisa.

“Mas Ilham tidak boleh,” jawab Annisa serak.

“Sebelum menikah?”

“Sempat sebentar,” jawab Annisa.

Tangan Salman kembali meremas bahu Annisa, perlahan jemarinya turun menyusuri tulang selangka. Sensasi panas itu semakin menjadi-jadi membuat Annisa tersentak. Ia merasa tidak nyaman karena sadar posisi ini terlalu berbahaya, ia segera berdiri.

“Paman, bagaimana kalau kita mulai?”

Salman tidak marah, ia justru tersenyum seolah menikmati riak kepanikan di mata Annisa. “Boleh. Ayo.”

Annisa kembali bergaya di depan kamera, aura kecantikannya memancar bersinar. Bahkan, Salman yang memegang kamera sejak tadi begitu kagum.

Salman hanya perlu mengarahkan sedikit gaya, dan Annisa sudah mampu bereksplorasi. Bahkan, foto-foto itu terlihat lebih bagus daripada seorang model profesional yang memiliki jam terbang tinggi.

Seolah lensa kamera Salman menjadi cermin yang mengembalikan jati diri Annisa yang selama ini padam di dapur rumah Ilham.

“Cantik sekali,” puji Salman lagi menatap gambar Annisa yang tertangkap kameranya.

Untuk pemotretan hari ini, Salman memang sengaja melakukannya sendiri. Padahal sebenarnya, ia memiliki beberapa orang tim yang bekerja di studionya.

“Untuk yang ini sudah selesai, sekarang kamu ganti baju dulu,” ujar Salman.

“Baik, Paman.”

“Kalau hanya kita berdua seperti ini, kamu tidak perlu memanggilku seperti itu, Annisa. Umur kita tidak terlalu jauh berbeda, dan juga aku hanyalah paman tiri dari suamimu,” ujar Salman sambil tersenyum.

“Takut tidak sopan.”

Salman hanya tertawa menatap Annisa yang kini sudah menghilang masuk ke dalam ruang ganti. Ia kembali menatap layar kameranya, Annisa terlihat begitu sempurna.

Akhirnya, setelah seharian pemotretan itu berakhir. Annisa menghela nafas lega, ia tidak tahu bagaimana hasilnya nanti, tapi menurut Salman semua fotonya bagus.

“Biar aku antarkan kamu pulang,” ujar Salman setelah merapikan peralatan pemotretan hari ini.

Annisa yang baru saja memesan taksi online segera menolaknya. “Tidak perlu, Paman.”

“Kenapa? Apakah Ilham marah?”

“Tidak. Tapi, aku sudah memesan taksi online. Ini sudah dapat drivernya,” jawab Annisa menunjukkan ponselnya.

“Batalkan saja.”

“Kasihan, Paman.”

“Boleh aku pinjam ponselnya?” tanya Salman.

Dengan ragu Annisa memberikan ponselnya kepada Salman. Namun, sedetik kemudian, matanya membelalak kaget saat melihat jari Salman bergerak cepat di layarnya. 

Siapa sangka, ternyata Salman membatalkan pesanan Annisa pada aplikasi. Ia memberikan ganti rugi kepada Driver dengan langsung mentransfer uang kompensasinya.

“Paman, apa yang kamu lakukan?” tanya Annisa. Nada suaranya tanpa sadar meninggi, jantungnya berdegup cepat. 

Tindakan Salman yang seenaknya merebut kendali ini membangkitkan alarm di kepalanya, mengingatkannya pada bagaimana Ilham selalu memaksakan kehendak suaminya itu pada dirinya.

“Gapapa, orangnya sudah setuju kok. Sekarang, ayo,” jawab Salman santai, mengembalikan ponsel itu ke tangan Annisa.

Annisa terdiam. Tubuhnya menegang, bersiap untuk membantah, tapi tatapan Salman sama sekali tidak menyiratkan ancaman atau amarah seperti suaminya. Pria itu hanya menatapnya dengan raut tenang yang tak terbantahkan.

 Mau tidak mau akhirnya Annisa hanya mengekor di belakang Salman. Ia tidak punya pilihan lain, taksi yang ia pesan sudah dibatalkan oleh Salman.

“Sebelum pulang, kita makan dulu, oke,” ujar Salman setelah keduanya duduk di dalam mobil.

Annisa menggelengkan kepalanya. Ia teringat dengan pesan dari sang ibu mertua yang memintanya segera pulang, di rumah tidak ada yang menyiapkan makan malam. Kalau ia pergi makan bersama Salman, ia takut mertuanya akan marah.

‘Ingat pulang ke rumah. Jangan mentang-mentang sudah mendapatkan pekerjaan kau tidak ingat pulang. Ingatlah, seorang istri wajib melayani suami, menyambut suami pulang dan menyiapkan makan. Pastikan perut suami dalam keadaan kenyang, agar ia tidak mencari makan dengan wanita lain.’

Begitulah pesan dari Bu Rahma yang Annisa terima. Wanita paruh baya itu selalu menggunakan nasihat yang terdengar begitu baik, padahal sebenarnya itu adalah cara mengekang dan mengurung sang menantu dan menjadikannya sebagai pesuruh gratisan.

“Tidak perlu, Paman.”

“Annisa, kamu itu modelku. Aku tidak akan membiarkan tim ku kelaparan setelah seharian bekerja,” ujar Salman.

“Aku akan makan di rumah, Paman.”

“Tenang saja, aku sudah meminta izin Ilham dan ia mengizinkan kamu pergi denganku. Lagian juga, ada beberapa hal yang harus kita bahas tentang jadwal pemotretan kita,” jawab Salman.

“Bukankah, aku hanya menjadi model untuk produk paman saja?” tanya Annisa terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Salman.

Salman menganggukkan kepalanya. “Iya benar. Tapi, produkku banyak. Dan juga, surat perjanjian yang kita buat kemarin itu jelas tertulis kalau kamu adalah model yang kini berada dibawah agensiku. Dan, kamu adalah model khusus. Persyaratan dari Ilham kemarin hanya aku yang bisa menjadi fotografer kamu.”

“Paman—“

“Apakah kamu tidak membaca dokumen yang ditandatangani kemarin?” potong Salman.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 13. Paman, Jangan!

    “Jangan ditahan,” bisik Salman ketika Annisa tampak menahan dirinya agar tidak mengeluarkan desahannya.Annisa memejamkan matanya saat ciuman Salman semakin dalam dan menuntut, perlahan ciuman itu menurun ke leher jenjang Annisa. Bahkan, tangan Salman bergerak cepat membuka kancing kemeja yang dikenakan Annisa.“Paman …” lirih Annisa pelan.“Iya,” jawab Salman terus mencumbu Annisa, ciumannya menyusuri telinga Annisa membuat Annisa semakin mengeratkan pelukannya.Salman begitu paham bagian-bagian sensitif yang bisa membangkitkan hasrat Annisa. Begitupun dengan Annisa yang selama ini sudah jarang disentuh oleh Ilham. Reflek seluruh bagian tubuhnya merespon ketika sentuhan lembut Salman mengenai kulitnya.Tanpa sadar, kemeja yang dikenakan oleh Annisa sudah terlepas, Salman terdiam menatap tubuh putih mulus Annisa yang begitu indah di depan matanya.Dua keindahan bagian atas tampak membusung memenuhi bra merah yang dikenakan Annisa. “Kamu sangat cantik,” puji Salman.Annisa masih memeja

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 12. Pelukan Hangat

    “Tapi, Paman—““Aku hanya membantu kamu agar segera sembuh, Annisa,” potong Salman cepat.Annisa tidak bisa lagi membantah, tubuhnya terasa semakin dingin. Dan memang, ketika kulit Salman menyentuh kulitnya, ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.Annisa bisa merasakan embusan nafas Salman, juga jantungnya yang berdetak cepat dan ia bisa mencium wangi tubuh Salman dalam jarak sedekat ini. Wangi yang cukup lembut tapi tegas, seperti sifat Salman.“Masih dingin?” tanya Salman setelah beberapa saat.Annisa tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.Salman mengeratkan pelukannya, tangannya mengelus pundak Annisa lembut. Pun dengan Annisa, ia membalas pelukan Salman.Saat ini, Annisa tidak lagi memikirkan hubungan antara Paman dan keponakan ipar juga model dan fotografer. Tubuhnya terasa begitu menggigil.Dari pelukan Salman, Annisa merasakan kehangatan. Pelan-pelan Annisa merasakan kehangatan mengaliri darahnya, mengantarkan rasa nyaman ke seluruh tubuhnya.Dalam hatinya

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 11. Dingin... Paman

    “Annisa!” panggil Salman.Lelaki itu berlari mendekat, mencoba menahan tubuh Annisa yang limbung. Hanya saja terlambat, Annisa sudah jatuh ke lantai.Salman meraih tubuh Annisa, mengangkatnya menuju sofa yang ada di studio. “Ada apa? Kamu sakit?” tanya Salman.Annisa tidak menjawab, ia mendengar tapi ia tidak kuat untuk menjawab. Lidahnya terasa kelu, kepalanya sangat pusing dan tubuhnya lemah.Salman meraba kening Annisa, panas sekali. Ia mulai terlihat panik.“Annisa, kamu sakit? Kita ke dokter ya.”Salman benar-benar tidak tega melihat keadaan Annisa. Ia meraih kunci mobil dan siap menggendong Annisa. Pikirannya saat ini, apapun harus ia lakukan untuk membantu Annisa.“Paman…” suara Annisa lirih dan tangannya menahan tangan Salman.“Iya, Annisa.”“Tidak perlu ke rumah sakit, izinkan aku istirahat sebentar saja. Setelah agak baikan, kita bisa lanjutkan pemotretannya.” Akhirnya Annisa mengeluarkan suaranya, meskipun kelu dan lemah.Ia tidak ingin ke rumah sakit, ia tahu itu akan mere

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 10. Tidur di Luar

    "Kau berani ya?" tanya Dinda. "Kenapa takut?" Annisa yang kini sudah sepenuhnya terbangun menatap Dinda dengan tajam, entah kekuatan dari mana yang ia miliki. Biasanya, ia akan memilih diam dan menurut. "Baru bekerja sehari saja sudah sombong." "Aku bekerja sehari sudah bisa menyelamatkan keuangan butik," jawab Annisa yang membuat Dinda terdiam. Wajah Dinda memucat, ia tidak menyangka kalau ternyata Annisa tahu permasalahan di butik. Akhirnya, gadis itu melenggang pergi kembali ke kamarnya. Annisa menghela nafas berat. "Haacchim!" Annisa bersin-bersin, mungkin karena tubuhnya yang kedinginan akibat guyuran air oleh Ilham tadi. Tapi, sekalipun begitu, Annisa tetap memaksakan diri membersihkan semua yang berantakan. Saat ini, Annisa tahu dan sadar ia dimanfaatkan. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya masih harus mengalah. Surat kepemilikan butik itu masih disimpan oleh Ilham. Setelah dua jam berkutat dengan pekerjaan rumah, akhirnya selesai juga. Kepalanya terasa sangat sakit, be

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 9. Disiram Tengah Malam

    "Ada apa, Mas?" tanya Annisa dengan setengah sadar. Matanya masih sangat mengantuk. Ia sudah lama tidak berlenggak lenggok di depan kamera, dan hari ini hari pertama ia kembali terkena cahaya kamera, tentu saja ia mengalami culture shock, sehingga ia merasa sangat lelah. Tubuhnya terasa menggigil, tapi ngantuknya tidak bisa ditahan. "Hah? Kau tidak tahu apa salahmu?!" tanya Ilham berteriak. Ilham semakin kesal, apalagi Annisa terlihat hendak kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. "Aku salah apa?" Tanya Annisa. "Kau itu adalah istri, selayaknya sekalipun kau bekerja kau tetap melakukan tugasmu sebagai istri di rumah ini! Kau bukan bos!" Bentak Ilham. Annisa bangun dan menghela nafas berat. "Aku tidak mengerti." Mata Annisa menatap Ilham lekat, bagi Ilham itu adalah sinyal bahaya. Selama ini, Annisa tidak pernah berani menatapnya seperti itu. "Kau lihatlah, rumah ini berantakan. Kau pergi sejak pagi, orang maklum kalau kau tidak sempat beberes pagi hari. Tapi, saat pulang ke

  • Dimanja Pesona Paman Dominan   Bab 8. Pernikahan atau Penjara

    "Apa yang kau katakan?" tanya Bu Rahma.Annisa tersenyum kecut. "Paman membeli ini untuk kalian, agar aku tidak perlu masak. Sebab, besok masih ada pemotretan.""Sombong! Kalau bukan karena Ilham, kau tidak akan kenal Salman!" ketus Bu Rahma."Iya, Ma."Annisa segera berlalu menuju kamarnya setelah meletakkan makanan itu diatas meja. Kata-kata Salman terngiang di kepalanya. 'Penjara'.Satu kata itu tidak bisa ia lupakan. Pernikahan mereka berdua sama-sama seperti penjara.Dan Annisa baru sadar itu sekarang, sebab ternyata selama ini bukan cinta, bukan pula sebuah ketaatan, melainkan Ilham ingin mengurung dirinya agar ia tidak tahu apa-apa.Ia tidak tahu keadaan butik yang sebenarnya, ia hanya menerima laporan lisan yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja, namun nyatanya keadaan butik sedang berdarah-darah.Ketika diimingi dengan uang milyaran rupiah, Ilham langsung membiarkan ia menjadi model."Kau mau kemana?" tanya Bu Rahma menghentikan langkah Annisa yang hampir masuk ke ka

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status