เข้าสู่ระบบ“Aku tidak mau tahu, pokoknya kau yang menjadi model produknya Paman Salman. Itu juga toh nantinya untuk keperluan butik kok, produknya akan dijual di butik sendiri!” ujar Ilham memutuskan.
Ia bahkan tidak memberikan ruang kepada Annisa untuk protes.
“Besok kau ikut aku menemui Paman untuk menandatangani kontrak model dengannya,” sambung Ilham.
“Iya, Mas,” jawab Annisa pelan.
Annisa memang sering mengeluh pada sang suami kalau ia ingin bekerja, terserah bekerja apa saja. Bahkan, hanya sekedar membantu beres-beres di butik pun tidak masalah. Yang penting ia memiliki kegiatan diluar rumah selain melakukan pekerjaan rumah yang terasa melelahkan.
Tapi, Ilham selalu begitu. Ia tidak membiarkan Annisa bekerja. Jangankan untuk bekerja, untuk keluar rumah saja dibatasi. Annisa dilarang keluar kalau tidak bersama Ilham.
“Jangan banyak protes lagi!” ucap Ilham sembari menuju ke halaman belakang, seperti biasa setiap pulang ke rumah, ia akan menghabiskan tiga puluh menit atau satu jam di halaman belakang merokok sambil bermain dengan burung peliharaannya.
Ilham memang suka memelihara burung, ada beberapa sangkar burung disana. Dan yang ia pelihara juga bukanlah sembarangan, suara burung-burung itu merdu. Dan saat ini, Ilham sedang melatih seekor anak burung beo.
“Besar kepala dia mau dijadikan model,” ujar Dinda sinis kepada Annisa.
Dinda dan Bu Rahma menyusul Ilham ke halaman belakang, sementara Annisa kembali sibuk berkutat di dapur menyelesaikan masak untuk makan malam.
“Kicau… kicau…”
Ilham melatih burung beo kecil itu untuk mengikuti suaranya sambil ia menyuapkan makanan ke mulut beo itu.
“Kamu kenapa sih mengizinkan Annisa menjadi model. Seharusnya kamu melarangnya dan bisa meyakinkan Salman agar Dinda saja yang menjadi modelnya,” ujar Bu Rahma marah ketika sudah tiba di halaman belakang.
“Iya Kak Ilham jahat sama aku. Kalau aku dikontrak Paman Salman kan pasti mahal, aku gak perlu ikut event kesana kemari agar dikenal orang,” rajuk Dinda.
Ilham menoleh, ia meletakkan kembali makanan burung itu di dalam kotaknya dan memindai ke sekeliling seolah takut kalau pembicaraan mereka di dengar oleh orang lain.
“Aman, wanita mandul itu sedang masak,” ucap Bu Rahma seolah paham dengan maksud Ilham.
Ilham menghela nafas berat. “Aku sudah menawarkan Dinda kepada Paman, tapi dia menolak. Dan dia bersikeras maunya Annisa yang menjadi modelnya.”
“Kenapa?”
“Gak tahu. Katanya, karena Annisa yang memang lulusan sekolah model.”
“Tapi, Annisa tidak pernah menjadi model. Sekalipun dia sekolah model, itu juga sudah lama. Kalau aku kan memang pengalaman disana,” kesal Dinda.
Ilham mengangguk. “Paman maunya Annisa ya kita bisa apa.”
“Apa sih istimewanya?”
“Paman mau memberikan modal tiga miliar untuk menyelamatkan butik,” jawab Ilham.
“Hah? Serius?” tanya Bu Rahma dan Dinda bersamaan.
“Iya.”
“Tetap saja sih bikin aku kesal. Tapi, ya sudahlah kalau dia bisa menghasilkan uang sebanyak itu.”
Mereka tidak sadar kalau sejak tadi Annisa mendengar pembicaraan mereka dari bilik jendela, dan sekarang Annisa tahu kalau ternyata butik itu memang sedang mengalami masalah. Tapi, Ilham menutupinya.
**
Waktu pemotretan pun tiba…
Annisa duduk di dalam studio milik Salman, ia seorang diri. Pagi tadi Ilham hanya mengantarkannya kesana, setelah itu lelaki yang berstatus suaminya itu segera pergi ke toko.
Iya, setelah Ilham memberitahukan kalau Annisa bersedia menjadi modelnya, Salman memilih menetap di kota ini, hidup terpisah dengan sang istri yang berada di luar negeri.
Ia membeli sebuah rumah untuk tempat tinggal dan akan dijadikan studio. Salman memang hobi fotografi, ia menjual berbagai macam foto di internet. Itu adalah pekerjaan sampingannya selain mengelola bisnis keluarganya yang menggurita di mana-mana.
“Untuk pemotretan ini aku sendiri yang akan menjadi fotografernya,” ujar Salman masuk ke dalam studio sambil memegang kamera.
“Iya, Paman.”
“Jangan terlalu kaku, Annisa.”
Annisa mengangguk pelan. Ia gugup karena ini adalah pertama kalinya ia berfoto untuk dijadikan model sebuah produk. Banyak ketakutan yang menghantui pikirannya.
Termasuk satu pertanyaan besar yang sejak semalam mengganjal di dadanya: Mengapa harus dirinya?
Pria di hadapannya ini adalah konglomerat dengan perhitungan bisnis yang tajam. Sangat tidak masuk akal jika Salman rela menggelontorkan tiga miliar rupiah untuk butik sekarat hanya demi menjadikan seorang ibu rumah tangga sebagai model utamanya. Pasti ada sesuatu yang lain.
Annisa diam-diam mengamati rahang tegas Salman yang sedang mengatur pencahayaan studio.
Entah kenapa, ingatannya samar-samar terlempar pada sebuah event fashion show beberapa tahun lalu, saat butik almarhum orang tuanya masih berjaya dan menjadi sponsor.
Ia ingat pernah menangkap tatapan Salman dari kejauhan. Pria itu juga menjadi sponsor kala itu. Mereka tak pernah bertukar sapa, namun sorot mata Salman saat itu terasa begitu intens menatapnya.
Lalu... di hari pernikahannya dengan Ilham tiga tahun lalu, saat ia terkejut ternyata pria itu adalah besannya. Annisa ingat betul sorot mata Salman dari bangku tamu undangan. Bukan tatapan bahagia untuk keponakannya, melainkan tatapan tajam yang menyimpan tanda tanya.
Dan kini, di bawah lampu studio, tatapan itu kembali menyelimutinya. Salman tidak memandangnya dengan sorot merendahkan seperti keluarga Ilham.
Pria itu justru menatap lekat pada tubuhnya, satu demi satu. Mulai dari matanya yang menghitam karena kurang istirahat, wajahnya yang kusam, serta perutnya yang tak kunjung membuncit.
Lelaki di depannya ini seolah-olah tahu penderitaan yang selama ini ia hadapi selama ini. Pikiran itu seketika membuat bulu halusnya meremang.
“Kita mulai ya. Kamu silakan berganti pakaian dengan itu,” ujar Salman tiba-tiba, memecah lamunan Annisa sambil menunjuk beberapa pakaian yang terpasang di manekin.
Annisa hanya mengangguk kaku, buru-buru memalingkan wajah.
Dan ternyata, semua pakaian itu begitu pas di tubuh Annisa. Dan ia terlihat seperti wanita yang berkelas dengan riasan sederhana dan pastinya nilai jual untuk produk itu saat dikenakan Annisa langsung melonjak.
“Coba dagu sedikit diangkat, tangan kanan di pinggang dan tangan kiri di atas dekat wajah sambil tersenyum,” ujar Salman, tangannya membantu mengarahkan gaya untuk Annisa, memegang tangan gadis itu dengan jarak tubuh yang sangat dekat.
Pada saat kulit mereka bersentuhan, darah Salman berdesir hebat. Kulit Annisa begitu lembut, membangkit sesuatu di dalam dirinya.
Napas Annisa ikut tertahan. Sentuhan itu tidak kasar seperti cengkeraman Ilham, namun justru terasa panas dan mengintimidasi.
“Rileks, Annisa,” ucap Salman sambil menggenggam tangan Annisa dengan lembut, suara baritonnya mengalun terlalu dekat di telinga.
“Apa yang kau inginkan, Vita?” tanya Salman. Nada suaranya berat, terdengar jelas kalau ia sedang menahan emosi.“Aku ingin kau pulang.”“Aku kerja.”“Aku sudah datang ke kantormu. Ada satu model yang kau handle sendiri, tanpa melibatkan tim, kebetulan model itu sekarang sedang naik daun karena kau mendongkraknya dengan sekuat tenaga. Apa kau pikir aku tidak tahu siapa? Namanya Annisa.”Salman menatap Annisa yang sedang berada di pelukannya. Tentu saja ia tidak terima kalau Vita mengusik Annisa.“Hanya makan malam, kan?”“Iya. Sesuai dengan perjanjian kita, saat berada di tanah air, harus akting yang baik. Apa susahnya?”“Baiklah, tunggu aku di rumah. Jam enam aku kesana.”Setelah mendengar jawaban dari Salman, Vita langsung mematikan sambungan telepon itu. Wanita itu benar-benar keras kepala dan semaunya.Sementara itu, Salman menghela napas berat dan kembali mengeratkan pelukannya pada Annisa. Tanpa kata-kata, keduanya seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkan pik
“Paman, apa gak sebaiknya kita pulang?” tanya Annisa.“Kenapa?” Salman tidak menoleh, matanya masih menatap gambar Annisa yang benar-benar membuatnya tergila-gila.“Aku gak enak sama Tante Vita.”Salman kali ini menoleh dan mematikan kameranya. “Dia bahkan tidak kenal dengan kamu. Jangan memikirkan orang yang bahkan tidak memikirkan kamu sedikitpun, Annisa.”“Tapi, apa yang kita lakukan ini salah.”“Aku tahu, tapi apa salahnya kita menemukan kebahagiaan diluar? Dan kita akan sama-sama menyelesaikan rumah tangga kita.”Annisa masih diam, tatapan matanya menerawang menatap ke bawah, embun pagi masih turun dan suasana disana terasa begitu sejuk.“Apakah ini di panen setiap hari, Paman?” tanya Annisa akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka.“Iya, tapi diatur aja tempatnya. Kamu mau lihat?”“Memangnya boleh?”“Boleh. Nanti aku bawa kamu ke bawah untuk melihat mereka panen secara langsung.”Annisa mengangguk pelan, rasanya disini benar-benar tenang. Ia membayangkan seandainya hidupnya bisa
“Aku akan memuaskanmu, Sayang,” bisik Salman yang kembali mencumbu setiap inci kulit Annisa seolah tidak ingin melewatkan sejengkalpun.Annisa memejamkan matanya, tangannya mengelus rambut Salman. Dan seketika, semua perlakuan kasar dan ucapan Ilham yang menyakitkan itu seolah menari di kepalanya.Rasa sakit dan kecewa melebur menjadi satu, dan kini ia merasa mungkin memang seharusnya ia mencari kebahagiaan diluar. Apa salahnya kalau ia menerima apa yang diberikan Salman, karena ia tidak mendapatkannya dari Ilham.Annisa membuka lebar kedua kakinya, memberikan akses kepada Salman untuk memberikan kenikmatan yang tidak pernah ia dapatkan dari Ilham.“Sayang, aku akan mulai ya,” ujar Salman sembari menyatukan kedua tubuh mereka.Gerakan lembut Salman perlahan kecepatannya bertambah dan hentakan demi hentakan itu membuat Annisa berkali-kali mendesah, tangannya mencengkram bahu Salman dengan erat, napasnya turun naik.Peluh membasahi tubuh keduanya, sekalipun kamar ini dilengkapi dengan p
Deg!Hati Annisa benar-benar hancur mendengar apa yang dikatakan oleh Ilham. Lelaki yang katanya begitu taat dan menjunjung tinggi norma, tega mengatakan istrinya seperti pelacur.“Aku pergi dengan Paman Salman, Mas,” jawab Annisa.Salman ingin merebut ponsel itu dari tangan Annisa, tapi Annisa menahannya. Ia ingin mendengarkan jawaban dari Ilham saat mendengar ia pergi dengan Salman.“Aku tahu, atau jangan-jangan kau berselingkuh dengan Paman!” teriak Ilham.“Mas, bukankah kemarin malam kamu sendiri yang memintaku untuk menurut dan baik pada Paman Salman. Dan kenapa sekarang kamu menuduhku selingkuh?” tanya Annisa.Ucapan Ilham itu bertolak belakang dengan apa yang ia katakan pada Annisa di malam sebelumnya. Ia ingin Annisa patuh pada Salman, biar karir Annisa semakin maju. Tapi, sekarang ia malah sibuk menuduh Annisa berselingkuh.Dan kalaupun terjadi perselingkuhan, tidakkah Ilham sadar kalau ia lah yang menjadi alasan utamanya. Sejak awal demi mendapatkan modal dari Salman, ia men
“Dadakan?” tanya Annisa membeo.Salman mengangguk. “Iya.”“Ini terdengar tidak professional. Apa memang biasa seperti ini?” tanya Annisa terus terang.Salman mendongak, ia pastinya tidak menyangka kalau Annisa begitu jujur. “Kalau fotografer lain dari agensi tidak bisa merubah jadwal begitu. Ini karena aku sendiri yang jadi fotografernya dan kamu modelnya, jadi jadwal kita sedikit lebih fleksibel.”“Oh.” Jawaban Annisa begitu singkat dan padat.Ia kembali memindai ke seluruh ruangan, menatap setiap sudutnya. Dan villa ini seperti sebuah ruangan kamar hotel mewah, mungkin karena ini untuk tempat tinggal pribadi Salman ketika ia datang kesini.“Kamu mau mandi?” tanya Salman.“Iya, sebentar lagi.”“Mau aku mandikan?”Annisa menggeleng. “Tidak perlu, Paman. Aku bisa sendiri.”Salman membawa barang-barang yang ada di mobil masuk ke dalam villa, perlengkapan pemotretan dan juga koper pakaian untuk mereka.Malam harinya…Annisa dan Salman duduk di halaman samping villa, pemandangan ke bawah
“Aku tidak peduli dengan keluarga besar. Aku hanya menginginkanmu, Annisa,” ucap Salman sambil menikmati wanginya rambut Annisa.Kini, wangi tubuh Annisa seolah menjadi candu bagi Salman. Ia akan merasa tenang saat menikmati aroma tubuh Annisa.Annisa menghela napas berat. “Bagi Paman mungkin mudah, tapi bagiku itu bukanlah hal yang mudah.”“Maksudnya?”“Kita tidak sekufu, Paman.”Angin sore berembus lembut, membelai wajah Annisa. Rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin, Salman merapikannya kemudian ia memegang rambut Annisa. Bibirnya mencium leher Annisa yang jenjang dan putih mulus.Annisa memejamkan matanya, embusan angin dan embusan napas Salman di lehernya, menimbulkan sensasi yang aneh dalam tubuhnya, rasa nyaman semakin mengikat.“Aku mencintaimu, Annisa. Dan aku tidak pernah memandang status sosial seseorang,” jawab Salman.“Bahkan, bermimpi pun aku takut memikirkannya, Paman.”Annisa tahu, ia dan Salman bagaikan langit dan bumi. Mereka berbeda, dan tidak akan mungki







