LOGIN“Mas, bulan ini... aku minta laporan keuangan butik,” ujar Annisa pelan, memberanikan diri memecah keheningan di meja makan.
Sejak subuh tadi, Annisa sudah bangun dengan dada yang berat dan menyiapkan makan demi keluarga suaminya itu, hanya karena ketakutan dihakimi sebagai istri tak berguna.
Brak!
Ilham langsung menggebrak meja hingga cangkir kopinya terguncang hebat.
“Kau ini benar-benar tidak tahu diri! Apa kau pikir kau yang bekerja? Bisa-bisanya kau menuntut laporan padaku!” bentak Ilham. “Kau bukan atasanku, aku tidak berhak memberikan laporan kepadamu!".
Annisa terdiam. Tangannya diam-diam meremas ujung daster yang ia kenakan, menyembunyikan getar jemarinya. Dadanya bergemuruh perih.
Bagaimana mungkin ia tidak berhak? Butik itu adalah peninggalan almarhum kedua orang tuanya. Bahkan, kemewahan rumah yang kini dipijak Ilham adalah hasil penjualan rumah masa kecil Annisa.
Namun, Ilham perlahan menggerogoti habis haknya, mengurungnya di dapur, dan mengambil alih segalanya.
"Ingatlah, butik itu menjadi seperti sekarang karenaku!” tukas Ilham, menatap Annisa dengan sorot mengancam.
Suasana tegang itu mendadak pecah oleh suara langkah santai dari arah tangga.
“Paman Salman mau pulang ke Indonesia,” ujar Bu Rahma yang baru saja muncul bersama Dinda, mengabaikan Annisa yang masih mematung menahan nafas di dekat meja.
Kening Ilham berkerut. “Paman Salman? Maksud Mama, adik tiri almarhum Ayah yang konglomerat itu?”
“Selama ini Paman Salman tinggal di luar negeri dan tidak pernah menganggap kita keluarga. Kok tiba-tiba mau datang?” selidik Dinda sambil menarik kursi makan. Matanya berkilat penuh minat.
“Gak tahu. Tapi katanya ingin bertemu Ilham. Dia tertarik dengan bisnis butikmu,” jawab Bu Rahma dengan senyum lebar.
“Wah, kesempatan bagus tuh! Siapa tahu dia mau menambah modal dari gurita bisnisnya. Kan sekarang butik sedang krisis…”
Uhuk!
Ilham terbatuk keras. Bu Rahma buru-buru menendang kaki Dinda di bawah meja.
Annisa yang sedang membereskan piring kotor hanya diam. Telinganya menangkap jelas kepanikan itu.
Ia tahu betul siapa Salman. Meski hanya berstatus paman tiri, pria itu adalah pewaris bisnis raksasa yang menikahi Vita, seorang pebisnis kelas atas, murni demi bisnis. Keluarga Ilham yang selalu gila hormat jelas melihat ini sebagai peluang emas.
“Annisa!” bentak Ilham, sengaja meninggikan suara untuk mengalihkan kecanggungan. “Siapkan makan malam minggu depan! Undang Paman Salman. Masak yang enak-enak!”
Baru saja Annisa hendak menunduk patuh, dering ponsel di atas meja membelah udara. Nama 'Paman Salman' berkedip di layar.
Wajah Ilham yang semula garang mendadak kaku. Ia berdehem, buru-buru memencet layar ponselnya.
"Halo, Paman? ... Apa?" Mata Ilham membelalak lebar. "Hari ini? Tapi, bukankah rencananya minggu depan? Oh... urusan bisnis mendadak. B-baik, Paman. Tentu saja kami siap. Kami tunggu malam ini."
Panggilan ditutup. Keheningan selama dua detik pecah oleh kepanikan yang meledak.
"Malam ini?!" jerit Dinda, kursinya sampai terdorong ke belakang. "Ma! Bagaimana ini? Rumah masih berantakan! Aku belum ke salon!"
"Ilham, kenapa kau biarkan dia datang malam ini?!" Bu Rahma ikut panik, menatap sekeliling rumah dengan waswas.
"Mama pikir aku berani menolak orang yang mau menyelamatkan butik kita?" desis Ilham tegang. Ia lalu berbalik menatap Annisa dengan mata melotot, menunjuk wajah istrinya.
"Annisa! Lupakan minggu depan. Paman Salman datang malam ini! Bersihkan seluruh ruangan, siapkan hidangan mewah sekarang juga! Jangan sampai ada debu sedikit pun! Jika sampai Paman Salman kecewa, kau yang menanggung akibatnya!"
Hari itu seketika berubah menjadi neraka tak berujung bagi Annisa. Dengan sisa tenaga dan tulang punggung yang masih ngilu akibat tidur di lantai, ia dipaksa bergerak layaknya robot tanpa henti.
Memasak, menyikat lantai, hingga menata meja makan, semua ia kerjakan sendirian sementara mertua dan adik iparnya sibuk mendandani diri.
Hingga akhirnya, malam itu tiba.
Makan malam itu tampak seperti perjamuan keluarga yang harmonis.
Bu Rahma tak henti tersenyum, sementara Dinda sengaja mengenakan gaun berbelahan dada rendah demi mencari perhatian Salman, padahal semua tahu Salman sudah menikah tahun lalu.
Namun bagi Annisa, meja makan ini adalah ruang sidang yang menghimpitnya.
Berulang kali, ekor matanya menangkap tatapan Salman yang menyorot tajam ke arahnya, seolah sedang menguliti sisa-sisa kelelahannya di balik riasan tipis.
“Annisa, aku dengar butik yang dikelola Ilham sebenarnya milik keluargamu?” suara bariton Salman tiba-tiba membelah obrolan basa-basi. “Kebetulan agensiku sedang mencari mitra lokal untuk memasukkan satu merk premium baru. Apakah kamu bisa menerima produk itu untuk dijual di butikmu?”
Annisa tersentak. Belum sempat bibirnya terbuka, Ilham langsung menyela.
“Tentu saja bisa, Paman,” sahut Ilham cepat. Bersamaan dengan senyum ramah yang dipaksakan itu, tangan kiri Ilham menyusup ke bawah taplak meja, mencubit paha Annisa dengan penuh ancaman.
Salman tidak membalas senyum itu. Mata elangnya menatap Annisa lekat. “Aku bertanya pada Annisa.”
“Tapi, Paman—““Aku hanya membantu kamu agar segera sembuh, Annisa,” potong Salman cepat.Annisa tidak bisa lagi membantah, tubuhnya terasa semakin dingin. Dan memang, ketika kulit Salman menyentuh kulitnya, ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.Annisa bisa merasakan embusan nafas Salman, juga jantungnya yang berdetak cepat dan ia bisa mencium wangi tubuh Salman dalam jarak sedekat ini. Wangi yang cukup lembut tapi tegas, seperti sifat Salman.“Masih dingin?” tanya Salman setelah beberapa saat.Annisa tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.Salman mengeratkan pelukannya, tangannya mengelus pundak Annisa lembut. Pun dengan Annisa, ia membalas pelukan Salman.Saat ini, Annisa tidak lagi memikirkan hubungan antara Paman dan keponakan ipar juga model dan fotografer. Tubuhnya terasa begitu menggigil.Dari pelukan Salman, Annisa merasakan kehangatan. Pelan-pelan Annisa merasakan kehangatan mengaliri darahnya, mengantarkan rasa nyaman ke seluruh tubuhnya.Dalam hatinya
“Annisa!” panggil Salman.Lelaki itu berlari mendekat, mencoba menahan tubuh Annisa yang limbung. Hanya saja terlambat, Annisa sudah jatuh ke lantai.Salman meraih tubuh Annisa, mengangkatnya menuju sofa yang ada di studio. “Ada apa? Kamu sakit?” tanya Salman.Annisa tidak menjawab, ia mendengar tapi ia tidak kuat untuk menjawab. Lidahnya terasa kelu, kepalanya sangat pusing dan tubuhnya lemah.Salman meraba kening Annisa, panas sekali. Ia mulai terlihat panik.“Annisa, kamu sakit? Kita ke dokter ya.”Salman benar-benar tidak tega melihat keadaan Annisa. Ia meraih kunci mobil dan siap menggendong Annisa. Pikirannya saat ini, apapun harus ia lakukan untuk membantu Annisa.“Paman…” suara Annisa lirih dan tangannya menahan tangan Salman.“Iya, Annisa.”“Tidak perlu ke rumah sakit, izinkan aku istirahat sebentar saja. Setelah agak baikan, kita bisa lanjutkan pemotretannya.” Akhirnya Annisa mengeluarkan suaranya, meskipun kelu dan lemah.Ia tidak ingin ke rumah sakit, ia tahu itu akan mere
"Kau berani ya?" tanya Dinda. "Kenapa takut?" Annisa yang kini sudah sepenuhnya terbangun menatap Dinda dengan tajam, entah kekuatan dari mana yang ia miliki. Biasanya, ia akan memilih diam dan menurut. "Baru bekerja sehari saja sudah sombong." "Aku bekerja sehari sudah bisa menyelamatkan keuangan butik," jawab Annisa yang membuat Dinda terdiam. Wajah Dinda memucat, ia tidak menyangka kalau ternyata Annisa tahu permasalahan di butik. Akhirnya, gadis itu melenggang pergi kembali ke kamarnya. Annisa menghela nafas berat. "Haacchim!" Annisa bersin-bersin, mungkin karena tubuhnya yang kedinginan akibat guyuran air oleh Ilham tadi. Tapi, sekalipun begitu, Annisa tetap memaksakan diri membersihkan semua yang berantakan. Saat ini, Annisa tahu dan sadar ia dimanfaatkan. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya masih harus mengalah. Surat kepemilikan butik itu masih disimpan oleh Ilham. Setelah dua jam berkutat dengan pekerjaan rumah, akhirnya selesai juga. Kepalanya terasa sangat sakit, be
"Ada apa, Mas?" tanya Annisa dengan setengah sadar. Matanya masih sangat mengantuk. Ia sudah lama tidak berlenggak lenggok di depan kamera, dan hari ini hari pertama ia kembali terkena cahaya kamera, tentu saja ia mengalami culture shock, sehingga ia merasa sangat lelah. Tubuhnya terasa menggigil, tapi ngantuknya tidak bisa ditahan. "Hah? Kau tidak tahu apa salahmu?!" tanya Ilham berteriak. Ilham semakin kesal, apalagi Annisa terlihat hendak kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. "Aku salah apa?" Tanya Annisa. "Kau itu adalah istri, selayaknya sekalipun kau bekerja kau tetap melakukan tugasmu sebagai istri di rumah ini! Kau bukan bos!" Bentak Ilham. Annisa bangun dan menghela nafas berat. "Aku tidak mengerti." Mata Annisa menatap Ilham lekat, bagi Ilham itu adalah sinyal bahaya. Selama ini, Annisa tidak pernah berani menatapnya seperti itu. "Kau lihatlah, rumah ini berantakan. Kau pergi sejak pagi, orang maklum kalau kau tidak sempat beberes pagi hari. Tapi, saat pulang ke
"Apa yang kau katakan?" tanya Bu Rahma.Annisa tersenyum kecut. "Paman membeli ini untuk kalian, agar aku tidak perlu masak. Sebab, besok masih ada pemotretan.""Sombong! Kalau bukan karena Ilham, kau tidak akan kenal Salman!" ketus Bu Rahma."Iya, Ma."Annisa segera berlalu menuju kamarnya setelah meletakkan makanan itu diatas meja. Kata-kata Salman terngiang di kepalanya. 'Penjara'.Satu kata itu tidak bisa ia lupakan. Pernikahan mereka berdua sama-sama seperti penjara.Dan Annisa baru sadar itu sekarang, sebab ternyata selama ini bukan cinta, bukan pula sebuah ketaatan, melainkan Ilham ingin mengurung dirinya agar ia tidak tahu apa-apa.Ia tidak tahu keadaan butik yang sebenarnya, ia hanya menerima laporan lisan yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja, namun nyatanya keadaan butik sedang berdarah-darah.Ketika diimingi dengan uang milyaran rupiah, Ilham langsung membiarkan ia menjadi model."Kau mau kemana?" tanya Bu Rahma menghentikan langkah Annisa yang hampir masuk ke ka
“Hah? Bukan sekali ini saja?” tanya Annisa syok.Salman menggelengkan kepalanya seraya tetap fokus pada jalanan lalu tersenyum. “Kamu tidak membacanya. Apakah Ilham juga tidak menjelaskan apapun padamu?”“Tidak, Mas Ilham menyodorkan lembar terakhir dan langsung memintaku tanda tangan semuanya. Katanya dia sudah memeriksa semuanya dan aman.”“Iya, semuanya memang aman. Isinya seperti yang aku katakan tadi,” jawab Salman.Kepala Annisa terasa berat, bahkan dadanya terasa sesak seperti dihantam beban besar. Ia menyukai pekerjaan ini karena memang ini bagian dari dirinya. Namun, disisi lain ia seperti dijual oleh suaminya sendiri demi mendapatkan suntikan dana dari Salman.Dalam pemotretan ini pun ia tidak menerima pembayaran sepeserpun. Semuanya diatur oleh Ilham, dan uangnya keringatnya ini dialirkan untuk menyelamatkan keuangan butik yang sekarat.“Bagaimana? Kamu mau makan dimana?” tanya Salman lagi.“Terserah Paman saja.”Salman mengangguk, ia kembali melajukan mobilnya dan berhenti







