Sang Petir Terakhir

Sang Petir Terakhir

By:  ilmalaila22  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
4Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Terdapat kehidupan lain selain di bumi. Jai mengira dirinya akan mati setelah didorong ke sungai oleh pacar mantannya. Ajaibnya, Jai selamat dan terbangun di dunia asing yang memiliki dua bulan kembar. Suatu malam, seorang arwah muncul di mimpi Jai dan menyuruhnya untuk membunuh Naga Putih yang telah melakukan pembunuhan massal di masa lalu. Bukan hanya itu, Jai tiba-tiba saja mempunyai kemampuan untuk mengendalikan elemen petir. Saat Miria, gadis cantik yang membiarkan Jai tinggal di rumahnya, tiba-tiba jatuh sakit, Jai pun mengikuti sebuah turnamen di kerajaan Aeronvein demi menyembuhkan Miria. Bisakah Jai memenangkan turnamen dan mendapatkan obat untuk menyembuhkan Miria? Bagaimana caranya Jai bisa bertahan di dunia barunya?

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
4 chapters
001 - Tidak Termaafkan
Pernahkah kau berpikir kalau di alam semesta yang tidak berujung ini terdapat kehidupan lain selain di bumi? Sebuah kehidupan yang penuh dengan orang-orang kuat dengan kemampuan sihir yang berasal dari alam. Para pengguna element.Alam dengan sendirinya memilih siapa orang terpilih yang bisa melintasi ruang dan waktu untuk hidup di dunianya yang lain. Sebuah dunia yang penuh dengan pertarungan dan perjuangan.Ya, itulah kisahnya. Kisah Jai Waetford. Seorang anak manusia yang terpilih sebagai pengguna elemen petir terakhir di dunianya yang baru.Semuanya itu berawal dari sini...**Manhattan, New York. 21 Februari 2016.Bicara soal kehidupan. Apa yang lebih menyakitkan selain melihat kekasih hati terang-terangan berselingkuh bersama pria lain tepat di hari ulang tahunmu? Dan itulah yang dirasakan oleh Jai saat ini. Dia teramat kesal karena melihat pacarnya bermesraan di depan umum.“Megan, apa yang kau lakukan?!” tanya Jai
Read more
002 - Rempeyek
Kepala Jai berdenyut-denyut seperti orang gila, dan dia seharusnya mengatasinya terlebih dahulu daripada berlari ke sumber teriakan dari seseorang yang tidak dikenal. Dia melihat bulan terbelah menjadi dua! Tunggu, itu terdengar salah. Masa bodo!Jai mendengar kucing seputih salju itu mengeong, dia pun segera memeluknya dengan erat ke dada sebelum mempercepat langkahnya. Melewati berbagai pohon-pohon mati di sisinya, dia pun tiba di jalan setapak yang membentang ke samping. Tanahnya kini berbeda, karena berwarna abu-abu dan tampak lebih kokoh ketimbang tanah merah yang dia tapaki sebelumnya. Jai sedikit mengerucutkan bibirnya.'Ke mana sekarang?' Pikirnya.Tidak lama kemudian Jai mendengar tawa samar dari sebelah kanannya. Suara itu terdengar cukup jauh. Dia pun berlari ke kanannya.Tidak butuh waktu lama bagi Jai untuk tiba di tempat kejadian. Dia bisa melihat beberapa pria bersenjata mengelilingi seorang pria tua di tanah tanpa senjata, dan di sebelah k
Read more
003 - Obrolan Kecil tentang Kegilaan
Jai dengan santai menarik gerobak yang ada di belakangnya. Dia berjalan dengan penuh semangat, seolah-olah Jai tidak baru saja melawan delapan pria yang mencoba merampok seorang kakek tua. Batin sang kakek yang saat ini sedang duduk di gerobak yang sedang Jai tarik, menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Di pangkuannya ada seekor anak kucing putih yang sedang tertidur tanpa peduli dengan dunia sekitarnya. Mereka sudah berjalan selama hampir satu jam lamanya dan Jai pun telah berusaha mengobrol dengan sang kakek. Jai dengan hati-hati bertanya siapa dia, bagaimana perasaan sang kakek tua itu saat ini, apa yang ada di gerobak, atau siapa orang-orang yang telah menyerangnya itu. Hal-hal semacam itu. Kakek tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Barun. Dia memiliki seorang cucu perempuan bernama Miria, dan mereka tinggal di sebuah desa bernama Letush. Letush adalah desa kecil yang terletak di barat daya Kerajaan Aeronvein. 
Read more
004 - Rumah Barun dan Miria
Barun mengarahkan Jai melewati gerbang. Mereka melewati beberapa rumah kecil dan juga beberapa gudang lumbung. Setelah itu mereka sampai di sebuah halaman kecil dengan sumur batu di tengahnya.Jai melihat seorang gadis sedang duduk di tepi sumur, wajahnya menunduk ke bawah. Jai menyadari kalau gadis itu mengerutkan kening saat mereka berjalan mendekat. Tidak berapa lama, Barun yang ada di belakangnya memanggil, "Miria!"Gadis itu mendongak dan ekspresinya langsung berubah menjadi sangat gembira."Kakek!" seru Miria. Dia pun lekas berlari ke arah Jai dan Barun dengan gembira."Apa yang kamu lakukan di sini, cucuku? Kenapa memakai pakaian seperti itu?” tanya Barun, nada khawatir terselip di suaranya.“A-Aku menunggumu, kakek… aku khawatir…” Miria membela dirinya. Dia tersenyum meminta maaf kepada sang kakek.Sekarang gadis itu hanya berjarak dua kaki dari Jai, dia bisa melihatnya dengan lebih baik. Gadis itu mem
Read more
DMCA.com Protection Status