Di sudut pikiranku yang lebih tua dan suka ngumpulin cerita, ada perbedaan praktis antara keduanya: 'priceless' cenderung idiomatik dan fleksibel, 'tak ternilai' cenderung tegas dan emosional. Dalam dunia barang antik, istilah 'priceless' sering dipakai media internasional untuk menandai benda yang hampir tak bisa dijual karena nilainya luar biasa—di Indonesia kita lebih sering pakai 'tak ternilai' dengan tambahan keterangan seperti 'tak ternilai secara historis' atau 'tak ternilai harganya'.
Selain itu ada soal nuansa budaya; orang Inggris atau Amerika bisa bilang "His face was priceless" untuk menceritakan momen humor singkat, sedangkan di sini aku lebih suka terjemahan yang menjaga rasa, misalnya 'ekspresinya nggak ternilai' atau langsung jelaskan 'sangat lucu'. Secara ringkas, keduanya sama-sama menunjuk nilai di luar uang, tapi pilihan kata pantas disesuaikan dengan suasana dan audiens. Buatku, 'tak ternilai' selalu terdengar hangat dan serius—lebih cocok untuk kenangan dan benda yang kuberi tempat khusus di rak memoriku.
Percakapan ringan yang sering kutemui bikin aku sadar satu hal: 'priceless' dan 'tak ternilai' memang saudara dekat, tapi bukan selalu tukar-pakai. Dalam bahasa Inggris, kata 'priceless' fleksibel—bisa serius, bisa lucu. Contoh serius: "The painting is priceless" = lukisan itu benar-benar tidak dapat dinilai harganya. Contoh lucu: "That joke was priceless" = lelucon itu sangat mengocok perut. Di Indonesia, kalau kita bilang 'tak ternilai' orang otomatis menganggapnya serius dan penuh rasa, jarang dipakai untuk menggambarkan humor.
Kalau menerjemahkan dari bahasa Inggris, aku sering menyesuaikan nuansa: kalau konteksnya sentimental atau formal, pakai 'tak ternilai' atau 'tidak ternilai harganya'; kalau konteksnya santai dan bermaksud lucu, lebih pas pakai frasa seperti 'sangat lucu', 'kocak sekali', atau bahkan tetap pakai 'priceless' dalam percakapan gaul. Selain itu ada sinonim lain yang berguna: 'invaluable' sering sejajar dengan 'tak ternilai' dalam arti positif dan resmi. Dari pengalaman pribadi, orang-orang lebih 'ngeh' kalau terjemahan menjaga rasa konteks—kalau terjemahan kaku, pesan jadi terasa janggal. Aku suka bermain-main dengan pilihan kata itu supaya nuansa asli tetap hidup.
Kalau disuruh bilang beda paling dasar, aku biasanya jelasin begini: kata 'priceless' dalam bahasa Inggris sering dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang nilainya tidak bisa diukur dengan uang, sama seperti 'tak ternilai' dalam bahasa Indonesia. Namun perbedaan kecil muncul di nuansa dan penggunaan sehari-hari. 'Priceless' bisa berarti sangat berharga atau memang tak bisa ditaksir harganya, sedangkan 'tak ternilai' lebih literal—sering dipakai dalam konteks formal atau emosional untuk menegaskan bahwa sesuatu benar-benar melampaui harga.
Dalam praktik, 'priceless' kadang dipakai secara idiomatik untuk hal-hal yang lucu atau ekspresi yang amat berharga dalam momen tertentu: misalnya "his reaction was priceless" yang artinya reaksinya sangat lucu atau tak terlupakan. Kalau diterjemahkan langsung jadi 'reaksinya tak ternilai' terasa agak canggung di bahasa Indonesia; lebih alami mengatakan 'reaksinya priceless' (dipinjam kata bahasa Inggris) atau 'reaksinya benar-benar kocak'. Sebaliknya, 'tak ternilai' sering muncul di kalimat seperti "kenangan itu tak ternilai harganya" atau "karya seni itu tak ternilai", menekankan nilai emosional, historis, atau budaya.
Jadi intinya: terjemahan dasar sama—keduanya menyatakan sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang—tapi pilih kata sesuai konteks. Untuk karya seni atau benda bersejarah gunakan 'tak ternilai', untuk komentar ringan atau ungkapan humor sering pakai 'priceless' atau terjemahan bebas agar tetap natural. Aku sendiri suka kehalusan kata 'tak ternilai' untuk momen-momen sentimental; bunyinya lebih puitis dan pas buat kenangan.
2026-02-06 17:46:20
18
すべての回答を見る
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
関連書籍
The Mafia's Priced Possession
Michaela Gates
10
9.2K
Antonio Rodriguez reigns as the ice-cold mafia king, a man whose heart is locked away behind walls built by betrayal and ambition.
But when Isabella Albero finds herself auctioned to him by her own father, her life is thrust into chaos.
Desperate to reclaim her freedom, she forms a plan to buy herself back, unaware of Antonio's obsession with her.
Isabella is not naive—she’s fierce, resilient, and unwilling to be anyone’s possession.
As their paths intertwine, the tension between obligation and desire escalates, awakening feelings neither saw coming.
Just as Isabella begins to crack the icy armor around Antonio’s heart, her vengeful ex emerges from the shadows, determined to reclaim what he believes is rightfully his.
Will Isabella shatter the chains of her past? Or will she uncover a truth that could tear her and Antonio apart?
***
"I own you, Isabella. Every little part of you has my name on it," Antonio taunted me. "If I see you with another man again, I will make you watch as I slit his throat."
Ruchee had long forgotten what it meant to live for herself.
Since the day life stole both parents from her and left a fragile little sister in her trembling hands, she became everything at once, mother, father, shield, and sacrifice. She built her world from sleepless nights, ruthless decisions, and endless risks, caring for no one beyond the thin line of blood that tied her to the only family she had left.
People were distractions. Friendship was unnecessary. Love was a luxury she could never afford.
For Ruchee, survival was simple: keep moving, keep fighting, and never let anyone close enough to become another weakness.
Until one night, everything was ripped away.
Abducted without warning, Ruchee woke up inside a world she never knew existed, a lavish empire drenched in money, sin, and human desperation. There, beneath crystal chandeliers and behind the smiles of monsters dressed in silk, she was no longer a woman.
She was merchandise.
A rare prize.
One of the highest-valued items in the most notorious underground auction where the powerful came not to bid for possessions, but for people.
Men with blood-stained fortunes and godlike influence watched her like hungry predators, each number called dragging her closer to a fate worse than death.
But among them stood one man.
An extraordinary billionaire feared even by the underworld itself. Untouchable. Merciless. A collector of dangerous things.
And the moment his eyes settled on her, Ruchee realized the auction was only the beginning.
Will she find a way to escape before her freedom is sold to the highest bidder?
Or will she become the most prized possession of the one man no one dares to refuse?
□•□•□•□•□•□•□•□•□•□•□•□•□•□•□
5 Ace Series[ Third book ]
******
Mistakes are bound to happen; there is no existing entity who hasn't committed a mistake once. But are all mistakes forgivable?
******
In the third book of my novel series The 5 Ace, I present in front of you all a tale of a knight and his precious. The Knight knowingly committed a mistake, a mistake so grave that he hurt the person he loves in the process, his precious. What will his precious do? Will she be able to forgive her knight or will give him the punishment he wouldn't have even thought of?
******
Well, the story doesn't only revolve around the knight, his precious, and the grave mistake but also around the evil who had already played the cards. The evil has been leading ever since the game started, and getting an inch closer to his win with every move. Will the knight and his precious be able to fight back or will get played?
Tune in to the mystery-thriller and romantic journey of The Knight And His Precious to be mindful of all the answers.
For the love for your life, are you willing to give up the love of your life?
When one has everything, one does not see what she is missing. Caress Aragon, epitome of beauty, abundant of wealth and pampered with love. In the brink of losing everything, she traded something she never realized the true value to her. Now, she must face the consequences of her choices including the ones she made in the past. Against fate, mystical beings and foes, will she still get a happy ending?
Love that comes with a lot of expectations doesn't stay long.
When you expect nothing but the other person to be happy.
And that love is priceless.
Love someone without expecting anything from them, it'll be peaceful.
~~~~~~~
Maria Ross lives with her five years old daughter, Mara. But the unfortunate events lead her to live under the same roof with her ex and Mara's father.
What will Maria do, when someone is threatening Mara's life? How will she protect her?
What happens when Mara's father finds out that she is his daughter? What will he do?
What happens when her ex gets to know Mara's father is his half brother? What will he do when he realises he still loves her? And can't move on?
Let's find out…
Jewel finally gets the freedom she's been hoping for when she got into a boarding school. Wanting to show everyone that she was all grown up, she falls for someone who in turn hurts her back. Heartbroken and devasted, she runs. What happens when she's back after ten years and meets the one that she has been running away from? What happens when he wants her back and would stop at nothing to win her back?
Kalau aku harus menjelaskan makna 'priceless' ke dalam bahasa Indonesia, aku biasanya mulai dari kata yang paling langsung: 'tak ternilai'. Kata itu terasa pas karena menekankan bahwa nilai sesuatu melampaui ukuran uang. Dalam percakapan sehari-hari aku sering juga menemukannya diterjemahkan sebagai 'sangat berharga', 'amat berharga', atau 'tidak ternilai harganya'. Untuk karya seni atau kenangan, 'tak ternilai' atau 'tidak ternilai' memberi nuansa emosional dan estetik yang kuat.
Namun kata 'priceless' punya lapisan makna lain yang menarik: selain menunjukkan nilai yang tak dapat diukur dengan uang, kadang ia dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang unik atau tak tergantikan — misalnya 'momen yang priceless' bisa diterjemahkan menjadi 'momen yang tak tergantikan' atau 'momen yang sangat berharga'. Di sisi lain, dalam bahasa Inggris sehari-hari 'priceless' juga dipakai secara sarkastik untuk menyatakan sesuatu yang lucu atau ekspresi wajah yang berharga; padanan Indonesianya di konteks itu lebih ke 'lucu banget', 'kocak', atau secara santai 'ekspresi yang priceless' (kalau tetap mau pakai kata bahasa Inggris) untuk mempertahankan rasa humornya.
Secara pribadi aku suka memakai variasi ini tergantung konteks: untuk karya seni atau kenangan aku pilih 'tak ternilai' atau 'tidak ternilai', untuk benda yang jelas nilainya aku bilang 'sangat berharga', dan untuk hal yang menggelitik aku lebih suka 'lucu banget' atau 'kocak'. Kata-kata itu membuat percakapan lebih hidup dan sering membawa nuansa perasaan yang berbeda, jadi aku sering memilih berdasarkan apa yang mau kusampaikan lewat kata itu.
Buat saya, terjemahan 'priceless' di kamus formal paling sering muncul sebagai 'tak ternilai' atau 'tidak ternilai harganya'. Menurut definisi kamus yang formal, kata itu merujuk pada sesuatu yang memiliki nilai begitu besar sehingga sulit atau mustahil untuk ditentukan dalam bentuk uang. Saya suka cara frasa itu terdengar dalam bahasa Indonesia — ada nuansa keagungan dan penghargaan yang serius, bukan cuma stok frase sehari-hari.
Dalam penggunaan, kamus formal biasanya menyertakan penjelasan seperti "amat berharga sehingga nilainya tidak dapat diukur dengan uang" atau "sangat berharga". Saya sering memakai contoh sederhana: a painting described as 'priceless' jadi "lukisan yang tak ternilai harganya," atau "kenangan keluarga yang tak ternilai." Kamus juga mencatat bahwa kata ini adalah kata sifat (adjective) dalam bahasa Inggris, sehingga terjemahan Indonesia biasanya berdiri sebagai frasa sifat: 'tak ternilai', 'amat berharga', atau lebih formal lagi 'sangat berharga yang tidak dapat dinilai dengan uang'.
Kalau saya menilik sinonim dan kontras, kamus formal akan memasangkan 'priceless' dengan sinonim seperti 'inestimable', 'invaluable' dan kadang 'irreplaceable' (meskipun 'irreplaceable' lebih ke tak tergantikan). Antonym yang tercatat bisa berupa 'berharga' yang masih bisa dinilai atau 'murah/harga terjangkau' kalau ingin menunjukkan kebalikan. Saya suka memakai 'tak ternilai' ketika ingin memberi kesan resmi dan kuat, itu terasa pas dalam tulisan atau ucapan yang ingin menghargai sesuatu secara mendalam.