Ciri Ciri Riya Dan Sum'ah

ABO Personality Quiz
Take a quick quiz to find out whether you‘re Alpha, Beta, or Omega.
Scent
Personality
Ideal Love Pattern
Secret Desire
Your Dark Side
Start Test

Related Books

Suamiku Mualaf Kaya Raya

Suamiku Mualaf Kaya Raya

Hinaan selalu diterima Rahma saat memilih menikahi Yudha, si mualaf miskin dibandingkan anak juragan beras kampung sebelah. Bahkan, cercaan itu paling banyak datang dari keluarganya sendiri. Siapa sangka suami yang terlihat miskin itu, ternyata bukan orang biasa dan berasal dari keluarga konglomerat! Haruskah Rahma membuka mata mereka bahwa roda berputar?
8.2 150 Chapters
Mahar Untuk Risa

Mahar Untuk Risa

Risa tidak menyangka bisa bertemu dengan sosok laki-laki yang bisa menerima segala kekurangannya dan menjadi pelengkap untuk Risa. Randi lelaki bertanggung jawab nan cuek namun sangat menyayangi Risa. Pertemuan yang tidak di sengaja antara keduanya membuat hubungan mereka semakin dekat, Randi tahu bahwa Risa adalah perempuan rumahan yang hobi membaca novel sambil berkhayal bahwa ia adalah pemeran dalam novel tersebut. Karena Randi yang sangat mencintai Risa dan sangat ingin membuat gadis itu bahagia, Randi berniat untuk membuatkan sebuah novel yang menceritakan perjalanam cinta mereka dari awal pertemuan hingga akhir, dan novel itu akan di jadikan mahar ketika ia melamar Risa nantinya. "Kamu tidak perlu berkhayal lagi untuk menjadi seorang pemeran dalam sebuah novel, karena tanpa perlu berkhayal kamu sudah menjadi pemeran utama dalam buku perjalanan cinta kita." -RANDI-
0 5 Chapters
AKIBAT SUMPAH AL-QUR'AN

AKIBAT SUMPAH AL-QUR'AN

Kisah janda muda bernama Asti bersama kedua anaknya yang didzalimi oleh saudaranya sendiri. Hanya demi sepetak tanah,atas dasar kebohongan kedua lelaki bernama Bahri dan Bahrul itu berani bersumpah mengatasnamakan Al-Qur'an. Hal yang seharusnya tidak dia lakukan, karena dengan begitu dia sudah mempermainkan sumpah Allah. Tak hanya itu, Asti juga didzalimi dan diperlakukan tidak sepantasnya, dengan tujuan supaya tidak betah dan meninggalkan rumahnya. Dengan begitu, Bahri dan Bahrul bisa merebut rumah Asti juga. Hingga kemudian, lambat laun Bahrul dan Bahri menerima balasannya.
10 63 Chapters
SUAMI DAN MERTUA DARI SYURGA

SUAMI DAN MERTUA DARI SYURGA

Ana, seorang janda yang diceraikan oleh Burhan, karena difitnah tidak perawan saat malam pertama pulang ke rumah ayah nya, tapi ternyata dia diusir oleh ibu tirinya. Ana terbawa trust issues dan menutup hatinya selama lima tahun sampai akhirnya bertemu dengan Ahmad yang menikahinya dan mengajaknya tinggal dengan sang ibu. awalnya Ana takut jika akan disia - siakan oleh mertua keduanya, tapi ternyata Ana salah. Suami dan mertua keduanya sangat baik padanya sehingga Ana mengira telah mendapatkan suami dan mertua dari syurga.
0 75 Chapters
Ketulusan Cinta Rania

Ketulusan Cinta Rania

Saat ketulusan sebuah hati terus diterpa ujian yang bertubi-tubi, masih adakah jalan untuk kembali? Masih adakah sebuah langkah yang dapat mengantarkan ke dalam sebuah kebahagiaan? Rania, seorang gadis yatim piatu yang sangat ceria. Awalnya kehidupannya bersama suami dan ibu mertuanya sangatlah bahagia. Namun kebahagiaan itu musnah setelah sebuah kecelakaan merenggut nyawa sang suami. Seluruh keluarga tak ada yang mau menolong dua wanita itu karena masa lalu sang ibu mertua yang sangat negatif di mata seluruh keluarga besarnya. Kehidupan Rania semakin terpuruk dengan kehadiran Bian, sang adik keponakan yang sejak dulu sangat mencintai dirinya. Bian pun tak pernah membiarkan Rania bisa hidup tenang dan bahagia. Air mata Rania menjadi obsesi bagi Bian. Sampai sebuah cahaya pun muncul. Sosok seorang laki-laki dari masa lalunya yang bernama Dimas bersedia memberikan semua kebahagiaannya pada Rania. Akankah Rania bisa hidup bahagia dengan Dimas? Apakah Bian akan diam saja melihat Rania bersama Dimas? Apa rahasia dibalik masa lalu sang ibu mertua sampai Rania pun ditolak oleh keluarga besar sang suami? Apakah semua ujian ketulusan cinta yang dimiliki Rania akan berakhir bahagia?
10 87 Chapters
PEREMPUAN YANG DISEBUT SUAMIKU

PEREMPUAN YANG DISEBUT SUAMIKU

Isna, seorang gadis yang berprofesi sebagai bidan--memilih untuk menjaga diri untuk tidak berpacaran dengan siapapun. Ia sudah bertekad akan memberikan cinta dan tubuhnya hanya kepada orang yang benar-benar halal untuknya. Sampai suatu ketika, orang tuanya menjodohkan dengan Restu, seorang kepala desa muda yang tampan. Isna berpikir bahwa Restu memiliki perasaan yang sama. Namun ternyata, di malam pertama mereka, Restu justru menyebutkan sebuah nama berulangkali saat tidur. Malam yang harusnya diisi dengan kemesraan, tapi malah berujung sebuah sakit hati bagi Isan, kala keesokan harinya, Restu menceritakan sosok yang dia sebut. Marwah, perempuan yang sangat dicintai Restu, yang kini pergi entah kemana. Cinta pertama yang masih belum bisa tergantikan, bahkan oleh Isna sekalipun. Namun, ia berjanji akan belajar mencintai Isna, sebagai sosok yang ditakdirkan untuk menjadi jodohnya. Meski pada awalnya Restu tidak mencintai Isna, tapi kebersamaan mereka mampu menumbuhkan benih-benih cinta dalam hatinya.
10 111 Chapters

Contoh ciri ciri riya dan sum'ah yang sering tidak disadari?

3 Answers2026-05-14 08:10:15
Ada beberapa hal kecil yang sering luput dari perhatian tapi sebenarnya termasuk riya atau sum'ah. Misalnya, ketika seseorang sengaja memposting kegiatan ibadah di media sosial dengan caption yang terlalu 'dramatis'—seolah ingin menunjukkan betapa rajinnya mereka beribadah. Atau, saat seseorang dengan nada 'casual' bilang, 'Akhirnya selesai juga baca Al-Qur'an 30 hari berturut-turut,' padahal jelas itu pamer.

Yang lebih halus lagi adalah ketika seseorang sering mengeluh tentang betapa lelahnya mereka karena membantu orang lain, padahal dalam hati ingin dipuji sebagai 'orang baik'. Atau, saat mereka dengan sengaja menceritakan amal mereka di depan orang lain dengan alasan 'berbagi inspirasi', tapi sebenarnya ingin diakui. Ini kadang sulit dibedakan karena motivasi hati memang tidak terlihat.

Apa saja ciri ciri riya dan sum'ah dalam kehidupan sehari-hari?

3 Answers2026-05-14 23:51:51
Ada satu fenomena menarik yang sering muncul di lingkaran pertemananku: orang yang tiba-tiba rajin posting kegiatan amal di media sosial lengkap dengan tag lokasi dan pose spesifik. Rasanya seperti ada skenario tersembunyi di balik foto donasi ke panti asuhan itu. Riya dan sum'ah itu seperti kentang goreng yang dibungkus foil mengkilap—keliatan wah dari luar, tapi isinya cuma kentang biasa. Misalnya, teman kantor yang tiba-tiba rajin shalat berjamaah di masjid depan kantor cuma saat ada atasan lewat, atau kolega yang selalu 'kebetulan' cerita tentang sedekahnya saat meeting.

Yang lebih halus lagi adalah kebiasaan mengatur ekspresi wajah saat berbuat baik. Pernah lihat orang yang sengaja menghela napas lega setelah membantu nenek menyeberang, lalu melirik sekeliling untuk memastikan ada saksi? Atau tipe yang suka 'membeberkan' jadwal mengajinya di grup WhatsApp keluarga setiap minggu? Ini semua bentuk modern dari penyakit hati yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi—cuma bungkusannya sekarang pakai filter Instagram.

Bagaimana membedakan ciri ciri riya dan sum'ah dalam beramal?

3 Answers2026-05-14 20:49:34
Ada sesuatu yang selalu membuatku penasaran tentang niat di balik perbuatan baik. Riya dan sum'ah itu seperti dua saudara kembar yang licik, sering disangka sama tapi sebenarnya punya 'sidik jari' berbeda. Riya lebih ke pertunjukan visual—kita sengaja memamerkan amal di depan orang, misalnya salat dengan gaya overacting atau sedekah sambil teriak-teriak biar difoto. Sedangkan sum'ah itu pertunjukan audio, kayak orang yang cerita terus tentang donasinya ke panti asuhan sampai semua teman di grup WA tahu. Bedanya? Riya butuh penonton, sum'ah butuh pendengar.

Yang bikin sulit, keduanya bisa pakai 'topeng altruisme'. Pernah lihat influencer yang upload video bantu nenek-nenek sepanjang 15 menit? Itu mah bukan dokumentasi, itu produksi! Tapi jangan langsung judge—kadang kita nggak sadar sudah terjebak. Aku sendiri pernah hampir posting struk donasi ke IG Story, lalu ngeh: 'Ini buat Tuhan atau buat likes?' Sekarang kalau ragu, aku tanya diri: 'Kalau nggak ada yang liat/ dengar, apa masih mau melakukan ini?' Jawabannya sering bikin merinding.

Apa perbedaan riya dan sum'ah dalam Islam?

3 Answers2026-01-30 03:39:49
Mengupas perbedaan antara riya dan sum'ah itu seperti membedakan dua sisi koin yang sama-sama berbahaya di dunia spiritual. Riya lebih tentang 'pamer amal' di depan orang lain agar dilihat sebagai sosok religius—misalnya, shalat dengan khusyuk hanya saat ada audiens. Sedangkan sum'ah adalah kebiasaan 'sombong verbal', di mana seseorang sengaja menceritakan ibadahnya untuk dapat pujian. Bedanya, riya bisa tanpa kata-kata, sementara sum'ah selalu melibatkan lisan.

Contoh konkret? Bayangkan seorang yang bersedekah lalu mengunggahnya di media sosial dengan caption dramatis—itu sum'ah. Tapi jika dia sengaja memilih berjamaah di masjid depan rumah agar tetangga melihatnya rajin shalat, itu riya. Keduanya merusak keikhlasan, tapi riya lebih halus dan bisa jadi kebiasaan bawah sadar.

Apa perbedaan antara riya dan sum'ah dalam agama?

2 Answers2025-12-11 01:25:59
Pernah nggak sih merasa galau karena bingung membedakan riya dan sum'ah? Aku dulu sering banget mikirin ini pas ngaji. Riya itu kayak saat kita beramal tapi demi dilihat orang lain, seperti sholat biar dipuji 'wah khusyu banget'. Rasanya kayak membangun candi di atas pasir, indah di luar tapi rapuh dalamnya. Dulu aku suka posting sedekah di medsos, sampai suatu hari sadar: jangan-jangan niatku sudah tercampur virus likes dan komentar.

Sum'ah lebih halus lagi, ibarat racun slow-acting. Misal ceritain terus-terusan ke teman tentang puasa sunnah atau tilawah Qur'an, seolah ingin didengar kebaikannya. Aku pernah terjebak begini, merasa perlu 'membuktikan' diri sebagai muslim baik. Tapi lama-lama capek juga hidup penuh kepura-puraan. Perbedaan utamanya: riya fokus pada penampilan visual, sedangkan sum'ah lewat verbal. Keduanya bagai dua sisi mata uang yang sama - mencari validasi manusia, bukan ridha Ilahi. Sekarang aku belajar ikhlas pelan-pelan, meski kadang masih khilaf.

Cara menghindari ciri ciri riya dan sum'ah menurut Islam?

3 Answers2026-05-14 01:23:24
Ada satu momen dalam hidup yang bikin aku tersadar tentang bahayanya riya. Waktu itu, aku baru aja selesai ngisi kajian di masjid, trus ada temen yang bilang, 'Wah, kamu keren banget, udah pinter ngaji, bisa ceramah lagi.' Aku langsung ngerasa bangga, tapi kemudian ngeh. Kok kayaknya niat awal aku ngaji bukan buat Allah, tapi biar dipuji orang? Mulai dari situ, aku belajar buat selalu introspeksi niat sebelum berbuat sesuatu. Rasulullah SAW ngajarin kita buat ikhlas lewat hadis, 'Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.' Jadi, kuncinya ada di niat. Aku sekarang selalu tanya ke diri sendiri, 'Buat apa aku melakukan ini? Buat Allah atau buat dilihat orang?'

Selain itu, aku juga belajar buat sembunyikan amal baik. Kayak sedekah, misalnya. Awalnya suka pengen dipamerin di media sosial biar dapat like, tapi sekarang lebih milih ngasih diam-diam. Pas baca Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 271, Allah bilang kalo sedekah yang disembunyiin itu lebih baik. Rasanya lega banget pas bisa ngerasain nikmatnya berbuat baik tanpa perlu diceritain ke orang lain. Intinya, melawan riya itu proses seumur hidup, tapi dengan terus mengingat Allah dan evaluasi diri, Insya Allah kita bisa lebih ikhlas.

Mengapa ciri ciri riya dan sum'ah berbahaya dalam ibadah?

3 Answers2026-05-14 12:06:31
Ada sesuatu yang menggelitik pikiran ketika membahas riya dan sum'ah dalam ibadah. Bayangkan sedang memasak hidangan lezat untuk tamu, tapi alih-alih fokus pada rasa, kita justru sibuk mengatur plating agar difoto dan dipuji. Ibadah pun begitu—esensinya bisa luntur ketika niat awal berubah jadi pamer. Yang bikin ngeri, kedua sifat ini ibarat virus yang merusak dari dalam tanpa disadari. Awalnya mungkin cuma ingin 'sedikit' dilihat orang, lama-lama jadi candu butuh validasi eksternal.

Dampak terbesarnya? Kehampaan spiritual. Ibadah yang seharusnya membangun kedekatan dengan Sang Pencipta berubah jadi pertunjukan theatrikal. Ada teman pernah bercerita, dia merasa 'kosong' usai shalat berjamaah di masjid ramai karena sibuk mengatur suara agar terdengar khusyuk. Miris kan? Padahal, dalam agama manapun, ketulusan adalah jiwa dari setiap ritual.

Apakah ciri ciri riya dan sum'ah bisa muncul di media sosial?

3 Answers2026-05-14 16:49:14
Ada satu fenomena menarik yang sering aku amati di timeline media sosial: orang-orang yang seolah hidup untuk validasi like dan komentar. Riya dan sum'ah itu seperti dua sisi mata uang yang sama-sama berbahaya tapi sering dianggap remeh. Riya, misalnya, terlihat ketika seseorang dengan sengaja memamerkan amal atau kebaikannya demi pujian. Contoh konkret? Posting donasi dengan caption super detail plus tagar #BerbagiKebaikan, tapi tanpa menyembunyikan nominalnya. Sedangkan sum'ah lebih halus—misalnya, curhatan panjang lebar tentang 'betapa lelahnya jadi orang baik' yang sebenarnya adalah cara licik untuk dapat simpati.

Yang bikin miris, platform seperti Instagram atau TikTok malah memfasilitasi budaya ini. Fitur stories yang menghilang dalam 24 jam justru jadi ajang pamer 'kegiatan religius' atau 'kesibukan kerja' yang sekejap. Aku pernah melihat teman yang jarang sholat tiba-tiba rajin update foto pakai mukena setiap Ramadan. Lucunya, setelah Idul Fitri, aktivitas itu lenyap seperti disapu angin. Ini bukti bahwa media sosial bukan cuma wadah ekspresi, tapi juga panggung sandiwara dimana riya dan sum'ah bisa jadi bintang utamanya.

Apa contoh riya dan sum'ah dalam kehidupan sehari-hari?

1 Answers2025-12-11 14:38:15
Riya dan sum'ah itu kayak dua saudara kembar yang suka nyelinap di kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Misalnya, nih, ada orang yang rajin posting foto sedekah di media sosial dengan caption super panjang tentang betapa tulusnya mereka membantu. Padahal, mungkin dalam hati ada sedikit harapan dapat pujian atau dianggap dermawan. Nah, itu riya—berbuat baik demi dilihat orang, bukan karena niat tulus. Aku pernah ngobrol sama teman yang cerita, dia gemes banget sama temen kantornya yang selalu pamer ibadah puasa sunnah tapi sengaja biar orang tahu dengan cara bawa bekel super mencolok ke meeting. Lucu sih, tapi sekaligus bikin ngeri karena ternyata kita bisa terjebak dalam hal kayak gitu tanpa sadar.

Sum'ah lebih ke soal 'jualan suara'. Contoh paling gampang? Orang yang sengaja ngobrol keras-keras tentang amal mereka di tempat umum biar dikagumi. Pernah dengar cerita soal seseorang yang dengan bangga bilang, 'Aku tadi shalat tahajud jam 3 lho!' ke semua orang di grup WhatsApp? Itu classic sum'ah. Atau kasus lain yang sering terjadi: seseorang berbagi pencapaian spiritual—kayak hafalan Quran—tapi lebih fokus pada jumlah 'like' daripada makna di baliknya. Aku sendiri pernah hampir terjebak saat mau posting kegiatan bakti sosial, terus tiba-tiba ngeh: 'Wait, ini demi siapa sebenernya?'

Yang bikin menarik, riya dan sum'ah nggak cuma terjadi dalam hal agama. Di dunia kerja juga ada versinya: ada orang yang kerja overtime cuma buat dilihat bos, bukan karena tanggung jawab. Atau mahasiswa yang aktif di organisasi cuma buat nambah CV, bukan beneran peduli pada kegiatan tersebut. Bahkan dalam hobi pun bisa ketularan—misalnya beli merchandise anime limited edition cuma buat dipamerin di Twitter, bukan karena suka beneran sama karakternya. Ini semua bentuk modern dari penyakit hati yang sama.

Dulu aku nggak terlalu aware sampai suatu hari nemu quote dari novel 'Sang Pemimpi': 'Ketika kebaikanmu mulai membutuhkan penonton, ia berubah jadi pertunjukan.' Itu bikin aku mikir panjang. Sekarang kalau mau ngelakuin sesuatu, sering aku cek dulu niatnya: beneran untuk tujuan baik, atau sekadar biar dapat validasi? Soalnya godaannya itu halus banget, apalagi di era media sosial di mana setiap aksi bisa jadi konten. Tapi justru karena itu, melawan riya dan sum'ah jadi latihan mental yang menarik—kayak stealth mode dalam game 'Assassin's Creed', di mana kita berusaha melakukan misi tanpa ketahuan... oleh ego sendiri.

Bagaimana contoh riya dan sum'ah dalam kehidupan sehari-hari?

3 Answers2026-01-30 16:06:00
Ada seorang teman yang selalu memamerkan donasinya di media sosial dengan detail nominal dan foto-foto lengkap. Ia kerap mengunggah screenshot transfer ke panti asuhan disertai caption penuh retorika seperti 'Sedikit rezeki untuk adik-adik kurang beruntung'. Padahal, di kehidupan nyata, ia jarang sekali menyumbang tanpa kamera yang mengabadikannya. Ini adalah contoh klasik riya—berbuat baik demi pujian, bukan ketulusan.

Di kantor, ada juga rekan yang setiap meeting selalu menyelipkan pencapaian pribadi dengan gaya rendah hati palsu. 'Alhamdulillah project kemarin selesai tepat waktu, padahal saya begadang seminggu tanpa bantuan siapa-siapa.' Kalimat seperti ini seringkali disampaikan dengan nada merendah, tapi sebenarnya ingin didengar atasan. Sum'ah semacam ini justru merusak nilai kerja tim yang seharusnya dikolaborasikan.

Related Searches

Popular Searches
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status