Novel terbaru Kars berjudul 'Bayang-Bayang Rindu' menggali kisah seorang musisi bernama Dira yang terjebak dalam dilema antara mengejar mimpinya di industri musik atau kembali ke kampung halaman untuk merawat ayahnya yang sakit. Setting cerita berlatar belakang kota kecil dengan nuansa nostalgia yang kental, di mana setiap babnya dipenuhi metafora tentang waktu dan kehilangan.
Yang menarik, Kars menyelipkan elemen magis-realisme seperti adegan di mana Dira bisa 'mendengar' warna-warna emosi dari lagu-lagu lamanya. Konflik batinnya diperkuat oleh flashback masa kecil bersama sang ayah yang bekerja sebagai tukang reparasi radio. Novel ini bukan sekadar drama keluarga, tapi juga ode untuk mereka yang terjepit antara tanggung jawab dan passion.
Ada getaran nostalgia setiap kali nama Kars disebut—penulis berbakat yang karyanya sering mengisi rak buku remajaku dulu. Namanya Yusi Avianto Pareanom, seorang sastrawan Indonesia yang menulis 'Kars' pada 2013, novel berlatar Belanda dengan protagonis bernama Kars yang terobsesi pada seni. Karyanya lain termasuk 'Lelaki Harimau' (novel grafis bersama Eka Kurniawan) dan 'Namaku Mata Hari'. Gayanya khas: gelap, filosofis, tapi memikat seperti labirin makna.
Aku pertama kali jatuh cinta pada 'Kars' karena deskripsi visualnya yang cinematic—seolah setiap paragraf adalah frame film noir. Pareanom juga aktif di dunia teater, yang mungkin memengaruhi cara ia membangun dialog dan pacing. Karyanya jarang mainstream, tapi justru di situlah pesonanya; seperti menemukan permata di toko loak.
Novel 'Kars' memang punya daya tarik sendiri bagi penggemar cerita lokal. Setelah ngubek-ngubek forum sastra dan catatan penerbit, kayaknya udah ada 5 seri yang resmi beredar. Yang pertama terbit tahun 2018 dengan judul 'Kars: Batu Pertama', lalu disusul 'Kars: Gua Tak Sempurna' di tahun berikutnya. Seri ketiga agak beda karena eksperimen genre, judulnya 'Kars: Lapisan Waktu' yang lebih ke sci-fi. Tahun kemarin malah double release dengan 'Kars: Mata Air Mati' dan 'Kars: Zona Siluman'.
Yang bikin seru, tiap buku punya alur mandiri meski masih dalam universe yang sama. Penulisnya pinter banget mainin elemen budaya Indonesia dengan twist fantasi. Gue personally suka banget sama world-building di seri keempat yang banyak explore mitologi Jawa bawah tanah.