Dendam Sang Pewaris Leluhur
YANNkata kata rumahkukata rintik seducat rumah depanlirik serasa galih dan ratna
Angin berhembus kencang, membuat dedaunan bergoyang seperti tangan-tangan yang menuntun arah.
Arga berhenti sejenak di tepi jurang, memandang ke bawah. Dari sini, hamparan hutan Sukamerta tampak seperti lautan hijau yang berombak pelan.
Ia menatap kompas kecil di tangannya jarumnya berputar cepat, tak stabil.
“Angin di sini aneh. Kompasnya bahkan tak mau diam,” gumamnya.
Ratna menatap sekeliling, matanya menyipit. “Tempat ini bukan sekadar tebing biasa. Rasakan baik-baik, anginnya seperti... hidup.”
Hot Chapters