Menanti Kabut dan Awan Berpaling
"Dia memujimu karena desainmu bagus, dia bilang kamu adalah idolanya. Apa salahnya kalau dia mau barang yang sama?"
Aku tidak bisa berkata-kata lagi.
Kupikir aku seharusnya marah, seharusnya mengamuk seperti dulu, dan bertengkar hebat dengannya hingga tidak ada ujungnya.
Namun, hatiku rasanya sudah menjadi seperti genangan air mati.
Biar bagaimanapun angin berembus, tidak akan ada riak yang tercipta sedikit pun.
"Ya, kamu benar." Aku mengangguk.