Chemistry Chapter
Jantung Zea mencelos melihat coretan tinta hitam yang panjang itu.
"Analisismu di bab ini masih dangkal. Kamu memasukkan pasal yang sudah diamandemen," ucap Dewa tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas. "Tapi..." Dewa menggantung kalimatnya, membalik hingga lembar terakhir, lalu menutup bundel itu dengan ketukan pelan. "Secara keseluruhan, ini jauh lebih baik daripada draf sampah yang kamu bawa kemarin sore. Setidaknya otakmu berfungsi dengan benar semalam."
Zea mengembuskan napas lega, meski dalam hati ia mengumpat karena Dewa masih saja menyelipkan hinaan di akhir pujiannya.