Bukan Bunga Bakung
Nona Teh Pahitsuara ketukan pintutertutup sudah pintu hatikubunyi pintu terbuka
jelas Retno sambil sekaligus bertanya pada temannya yang juga belum terlampau lama dikenalnya itu.
“Oh, ngaten…”, Ranu mencoba menjelaskan dengan membangun kesan tidak sedang bercanda lagi.
“Memang betul Kepala bahasa Jawanya Endas. Tapi itu tidak elok, saru kalau untuk manusia sehingga biasanya diganti dengan sebutan Sirah, atau Mustaka yang artinya juga kepala. Tapi kok rasanya tua banget. Lagi pula ini bukan Pati, Solo atau Jogja….jadi ya mungkin lebih enak dengan Endahe biar tampak misterius….”terang Ranu yang tetap tampak sembarangan tapi keterangannya itu dianggap cukup luar biasa, setidaknya buat Diandra begitu pula bagi Retno.