Buatku lagu 'Sign of the Times' terasa seperti sebuah pelukan yang gelap—nyaman sekaligus menyeramkan. Aku sering membayangkan seseorang sedang menenangkan anaknya di tengah kekacauan; baris 'Just stop your crying' seperti suara orang tua yang mencoba memberi keberanian, sementara 'we never learn, we've been here before' menegaskan kalau ini bukan pertama kali umat manusia menghadapi ketakutan yang sama. Musiknya yang megah dan sedikit berbau rock era 70-an membuat pesan itu terasa sinematik, bukan sekadar headline berita.
Kalau dilihat lebih dalam, liriknya bekerja pada dua tingkat: pribadi dan kolektif. Di level pribadi, ada nuansa kehilangan, rasa panik, dan permintaan supaya hidup tetap berlanjut meski dunia bergejolak. Di level kolektif, lagu ini seperti komentar tentang masa-masa politik dan sosial yang membuat orang cemas — yang mungkin berdasar pada suasana publik saat lagu itu dirilis. Aku suka bagaimana vokal penuh emosi Harry membawa keterasingan itu jadi sesuatu yang universal; kita semua pernah merasa kecil di hadapan perubahan besar.
Sebagai penggemar yang suka mengaitkan musik dengan film dan novel, aku sering membayangkan 'Sign of the Times' sebagai soundtrack untuk adegan terakhir sebuah film perang or dystopia, ketika tokoh utama memilih harapan meski segalanya runtuh. Lagu ini bukan hanya soal peristiwa tertentu, tapi juga soal bagaimana kita merespon — bertahan, meratap, atau menemukan cara untuk bahagia sementara. Aku selalu sadar kalau pesan lagunya meninggalkan bekas, dan itu yang bikin aku terus memutarnya ketika butuh keberanian kecil.