Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Captured by an Alpha Daddy for Christmas (18+)

Captured by an Alpha Daddy for Christmas (18+)

Warning: Smut! Smut!! Smut!!! Rated 18. Captured by an Alpha Daddy for Christmas contains possessive alpha behavior, forced proximity, age-gap romance, plus-size heroine, daddy-dom dynamics, jealousy, obsessive protectiveness, power imbalance, and holiday-season intimacy. Not suitable for readers under 18. ~~~ Dumped a week before Christmas, Annabelle “Belle” Evans forfeits her plan to spend Christmas with her narcissistic boyfriend in New York, and agrees to travel back home to Big Bear Lake with her perfect model sister and her nerdy brother-in-law. But a funny Christmas wish has other plans for her. When their car breaks down in the middle of nowhere, Belle wanders off for help and finds herself cornered by a wolf in the snowy woods. Just when she thinks she’s about to be torn to pieces, a massive stranger appears—tall, broad, and sinfully hot, his eyes glowing amber in the moonlight. He saves her life… and then claims her as his. He takes her to his secluded cabin deep in the woods, refusing to let her leave until she’s “healed.” But the way his hands linger on her skin, the way he looks at her curves like she’s a meal he needs to taste, Belle starts to realize the wound he really wants to tend to is the one between her thighs. He’s dangerous. He’s dominant. He’s sexy. He’s everything she wished for when she jokingly wrote to Santa for a “hot werewolf boyfriend.” Now she’s trapped in his arms, a prisoner to his touch, his heat, his growl, and the wild, wicked love burning between them might just make this her best Christmas ever.
Romance
1014.0K DibacaTamat
Baca
Tambahkan
Return to the Fateful Day

Return to the Fateful Day

After a century of war between humans and the Otherkin, both sides finally agree to a ceasefire. To preserve peace and coexistence, an intermarriage pact is established—every hundred years, humans and the Otherkin must marry. The first Otherkin to produce an Otherkin child will become the chairman of the Otherkin Alliance. In my last life, I married Kevin Walker, the famously devoted Alpha of the Whitefang pack. One year after our wedding, I gave birth to a wolf pup, and Kevin ascended smoothly to the chairman of the alliance. My sister, Meredith Singer—driven by vanity and a thirst for power—married Simon Lynch, the leader of the vampires. However, she didn't expect his chaotic private life, overflowing with mistresses, to leave her with a disease that robbed her of her ability to bear children. Bitter over her ruined life, Meredith blamed everything on me. She drugged both me and my pup before setting a fire that burned us alive. "Annabelle, everything you have should've been mine! I should be the one married to the Alpha! I should be the chairman's mate! You're nothing!" As the fire roared around us, I clutched my pup tightly in my arms. He sobbed against my chest. "Mom... it hurts..." I couldn't do anything but watch as the flames consumed us both. In the final moments of my life, I saw someone I never expected—the zombie king, Landon Zeller. Without hesitation, he charged into the inferno, cradling me and my pup in his arms, trying desperately to save us. However, it was too late. We'd already taken our last breaths.
Baca
Tambahkan
Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan

Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan

Pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahanku, pengantinnya malah bukan aku. Upacara yang sudah kutunggu selama lima tahun berubah menjadi lelucon ketika Valentina, adik perempuanku, melangkah menyusuri lorong marmer dengan gaun pengantin putih. Lengannya melingkar di lengan Luca, pria yang seharusnya berdiri menungguku di altar. "Maafkan aku, Bianca," kata Valentina pelan. "Tapi hari ini kamu bukan lagi pengantinnya." Kemudian, dia menyentuh perutnya, matanya berkilat penuh kemenangan. "Aku hamil anak Luca." Kata-katanya meledak di dalam kepalaku dan seluruh duniaku seolah-olah mendadak sunyi. Seakan-akan takut aku tak akan memercayainya, dia mengangkat sesuatu yang mengilap ke arah cahaya. Gambar USG hitam putih. Tertulis jelas, usia kehamilan 12 minggu. Mataku terasa panas dan perih. Dengan mata berkaca-kaca, aku menoleh ke arah Luca, mati-matian mencari apa pun. Penyangkalan, penjelasan, ataupun penyesalan. Namun, dia hanya menghela napas, lelah dan pasrah. "Bianca, aku minta maaf," katanya tak berdaya. "Valentina nggak punya banyak waktu lagi. Pernikahan ini ... adalah permintaan terakhirnya." "Aku akan menebusnya," tambahnya. "Kita bisa mengadakan pernikahan lain nanti." Ayahku, Moretti, berdiri di belakangnya dengan ekspresi dingin yang sama seperti yang selalu dia tunjukkan sepanjang hidupku. Aku tak pernah melihatnya tersenyum kepadaku, bahkan sekali pun. "Bianca," katanya tajam. "Adikmu sekarat. Biarkan dia yang menikah hari ini." Kakak laki-lakiku mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun, seolah-olah itu sudah cukup sebagai jawaban yang tegas. Sepanjang hidupku, mereka selalu memilih dia. Air matanya, keinginannya, kebutuhannya, semuanya lebih penting daripada aku. Hari ini pun tidak berbeda. Sesuatu di dalam diriku ada yang retak. Baiklah. Jika tak ada seorang pun di keluarga ini yang peduli padaku, aku akan pergi.
Cerita Pendek · Mafia
7.6K DibacaTamat
Baca
Tambahkan
Kejutan Untuk Suami Sok Alim Ternyata Tukang Kawin

Kejutan Untuk Suami Sok Alim Ternyata Tukang Kawin

Mutiara Sukma
Sebuah pesan masuk ke dalam gawaiku, tak ada firasat apapun saat itu. Dengan santai pesan itu kubuka. Sebuah foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal. Mataku membulat sempurna, tak percaya dengan apa yang kulihat, hingga berkali-kali aku memperhatikan bahkan sampai men-zoom foto itu sedetail mungkin, takut jika mata ini salah menyimpulkan. [Maafkan saya, Bu!] tulis si pengirim foto. Aku tak menghiraukan pesannya, butir demi butir air mengalir dari sudut mata, mengaburkan penglihatan. Menandakan bahwa foto itu membuat luka didalam sana. Sebuah foto resepsi pernikahan yang berlatarkan salah satu pemandangan di Puncak, tertampang nyata, sangat indah begitu pula dengan senyum dari kedua mempelai yang terlihat sempurna dan bahagia. Mas Arya, pengantin laki-laki yang kini sedang bersanding dengan seorang wanita muda dan cantik itu adalah suamiku. Suami yang sudah sepuluh tahun ini kuhaturkan bakti kepadanya. "Ma, Mama kenapa menangis?" cepatku susut air mataku dengan ujung jari, dan mematikan ponselku agar gambar yang begitu mengiris hati itu tak sampai terlihat oleh Alisa, putriku. "Ga, sayang. Mata Mama kelilipan," ungkapku asal. Kuraih tubuh mungil Alisa dalam pelukan, gadis lima tahun ini begitu sangat berarti bagiku. "Kak Alif mana sayang?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Ada, Ma lagi di kamar, muraja'ah," Aku tersenyum getir. 'Mas, kita sudah punya putra dan putri yang begitu membanggakan, aku juga meninggalkan karierku demi berbakti kepadamu, kenapa masih saja curang dibelakang ku?' bisikku dalam hati. "Ma, Ayah kapan pulang?" Alisa bersandar didadaku, tanganku terulur membelai rambut panjang nan hitam milik Alisa. "Baru juga dua hari, Ayah pergi Nak, udah rindu aja," ujarku menggoda sambil menekan emosi dihati. Dua hari yang lalu, Mas Arya pamit akan ke Kalimantan mau mengurus bisnisnya. Aku yang tak begitu mengikuti perkembangan perusahaan, percaya saja padanya. Tak mungkin rasanya, Mas Arya mengkhianatiku dia lelaki yang baik, sholeh, penyayang dan selalu romantis. Namun, apa yang terjadi benar-benar diluar bayanganku
Romansa
1024.7K DibacaTamat
Baca
Tambahkan
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status