Sabitah
Setelahnya, Reandra mengambil roti panggang dan kemudian meluncur menuju ke perpustakaan dengan papan luncur usang miliknya.
Semilir angin menyapa selama Reandra dalam perjalanan. Papan luncur yang pemuda itu kendarai bergerak stabil. Sesekali kaki Reandra bergerak untuk menambah laju dari papan luncur. Walau demikian, pemuda itu tetap merasa nyaman mengendarai teknologi lampau yang sudah terlupakan begitu saja.
Brukkk
"Ah, maafkan saya. Saya sedang buru-buru dan tidak melihat jalanan," ujar seorang pemuda yang tanpa sengaja tertabrak oleh papan luncur Reandra saat melintas.
Hot Chapters