Share

Bab 6

Author: Anna Smith
Di Swisa.

Begitu aku turun dari pesawat dan menghirup udara Swisa untuk pertama kalinya, aku langsung tahu aku akan jatuh cinta pada negara ini. Indah seperti lukisan, tenang, damai dan sangat jauh dari ayahku, Marco ... dan Luca.

Aku menemukan sebuah apartemen yang nyaman dengan lingkungan yang sepi, lalu menetap di sana. Setelah itu, tibalah urusan mencari pekerjaan.

Selama masa ini, aku tidak berhenti menulis. Aku terus memperbarui blogku dengan kisah-kisah kecil yang kutemui di pesawat dan di sepanjang perjalanan. Tanpa diduga, aku mendapatkan cukup banyak pembaca.

[ Tulisanmu begitu menenangkan. Hangat dengan sentuhan humor. Membacanya membuat hatiku terasa ringan. ]

[ Penulis blog ini kelihatannya lembut sekali. Aku ingin mengenalmu di dunia nyata. ]

Membaca komentar-komentar itu sungguh memperbaiki suasana hatiku.

Seminggu kemudian, sebuah email tiba-tiba masuk ke kotak masukku.

[ Halo, saya editor dari Redaksi Zafir. Saya menemukan blog Anda dan menilai tulisan Anda sangat baik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan   Bab 7

    Apa yang mereka lakukan di sini?Dadaku bergetar hebat. Sebelum aku sempat bereaksi, tatapan Luca sudah mengunci mataku, dan dia melangkah cepat ke arahku."Bianca, akhirnya aku menemukanmu!"Dia menarikku ke dalam pelukan yang erat. Tubuhku menegang. Dengan tenang, aku mendorongnya menjauh.Baru saat itulah Luca menyadari Giamo berdiri di sampingku. Ekspresinya langsung berubah, tajam dan waspada."Siapa dia?""Teman," jawabku datar. "Dan apa yang kamu lakukan di sini?"Luca menatapku tak percaya, seolah-olah dia sama sekali tidak menyangka aku akan bersikap sedingin ini."Bianca, aku tahu kamu sudah banyak menderita. Dengarkan aku, aku sudah tahu semuanya tentang kebohongan Valentina. Kamu nggak bersalah. Pulanglah bersamaku. Kita bisa menikah kapan pun kamu mau. Aku bersumpah, aku akan memberimu pernikahan termegah yang bisa dibayangkan."Mendengar itu, aku hampir tertawa.Hal-hal yang dulu begitu kuinginkan dengan putus asa, dia memberikannya kepada orang lain tanpa ragu.Sekarang,

  • Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan   Bab 6

    Di Swisa.Begitu aku turun dari pesawat dan menghirup udara Swisa untuk pertama kalinya, aku langsung tahu aku akan jatuh cinta pada negara ini. Indah seperti lukisan, tenang, damai dan sangat jauh dari ayahku, Marco ... dan Luca.Aku menemukan sebuah apartemen yang nyaman dengan lingkungan yang sepi, lalu menetap di sana. Setelah itu, tibalah urusan mencari pekerjaan.Selama masa ini, aku tidak berhenti menulis. Aku terus memperbarui blogku dengan kisah-kisah kecil yang kutemui di pesawat dan di sepanjang perjalanan. Tanpa diduga, aku mendapatkan cukup banyak pembaca.[ Tulisanmu begitu menenangkan. Hangat dengan sentuhan humor. Membacanya membuat hatiku terasa ringan. ][ Penulis blog ini kelihatannya lembut sekali. Aku ingin mengenalmu di dunia nyata. ]Membaca komentar-komentar itu sungguh memperbaiki suasana hatiku.Seminggu kemudian, sebuah email tiba-tiba masuk ke kotak masukku.[ Halo, saya editor dari Redaksi Zafir. Saya menemukan blog Anda dan menilai tulisan Anda sangat baik

  • Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan   Bab 5

    Valentina terhempas ke lantai akibat tendangan Luca, rasa nyeri tajam memelintir perutnya. Sambil memegangi perut, dia berusaha mati-matian menjelaskan."Luca, aku mengandung anakmu! Kumohon, demi bayi ini saja, maafkan aku sekali ini!"Luca terkekeh dingin. "Anak? Anak apa? Valentina, jangan lupa, kita bahkan nggak pernah tidur bersama. Bajingan di dalam perutmu itu, apa hubungannya denganku?"Wajah Valentina seketika pucat pasi. Dia tak pernah membayangkan Luca bisa sedingin dan sekejam ini. Dia membuka mulut untuk membela diri, tetapi Luca sudah tak berniat mendengarkan apa pun lagi.Dia mengangkat tangan, dan anak buahnya langsung maju menahan Valentina. "Kurung dia di ruang bawah tanah. Aku akan mengurusnya nanti."Tanpa menoleh lagi, Luca berjalan keluar dari bangsal.Di sisi lain rumah sakit, ayahku akhirnya sadar setelah disadarkan kembali. Begitu membuka mata, dia melihat Marco dan Luca berdiri di samping ranjang. Dengan susah payah dia duduk, lalu menatap Luca sambil menghela

  • Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan   Bab 4

    Di rumah sakit.Luca sedang mengupas apel sambil menatap ponselnya dengan pandangan kosong. Valentina menangkap ketidakfokusan itu dan gelombang kecemasan langsung menyesakkan dadanya."Luca, kamu sedang menunggu telepon dari seseorang?""Nggak."Dia memaksakan senyum, meletakkan ponsel, lalu lanjut mengupas apel. Biasanya, setiap kali Luca menemani Valentina di rumah sakit, aku akan cemburu dan terus mengiriminya pesan, memintanya pulang lebih cepat. Namun hari ini, aku tidak mengirim satu pesan pun.Menatap Luca, rasa gelisah perlahan tumbuh di hati Valentina. Sejak semalam, sikapnya memang terasa aneh.'Apakah dia masih memikirkan Bianca? Nggak, aku nggak boleh membiarkan apa pun di antara mereka hidup kembali,' pikir Valentina."Luca, kepalaku agak sakit, kamu bisa pijat sebentar nggak?"Valentina merangkul lengannya, suaranya lembut dan manja. Luca meletakkan apel itu lalu dengan hati-hati menekan pelipisnya. Memanfaatkan kesempatan, Valentina bersandar ke dadanya dan berbisik, "L

  • Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan   Bab 3

    Sebuah vas terjatuh ke lantai, pecah berkeping-keping, serpihannya melukai lengan dan kakiku. Ayahku, Marco, dan Luca langsung bergegas masuk begitu mendengar suara benturan itu."Valentina!"Marco menjatuhkan diri, berlutut dan memeluknya erat, kepanikan tampak jelas di wajahnya. Ayahku berbalik ke arahku dan menamparku dengan keras, suaranya menggelegar memenuhi ruangan."Bianca! Apa-apaan ini? Kenapa kamu menyakiti Valentina? Kamu sudah membuat ibumu meninggal, dan sekarang kamu mencoba melukai adikmu sendiri dan bayinya?"Kepalaku serasa berputar, telingaku berdenging akibat tamparan itu."Ya, pernikahanmu memang dibatalkan, tapi itu permintaan terakhir Valentina! Kenapa kamu harus sebegitu iri sampai mencoba membunuhnya? Gimana bisa kamu begitu egois?"Aku menutupi wajahku, air mata mengalir deras saat aku berusaha bicara."Ayah, ini bukan ulahku! Dia jatuh sendiri! Dia juga mendorongku turun tangga! Lihat aku, aku terluka sama seperti dia ...."Suaraku pecah. "Dia berbohong selam

  • Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan   Bab 2

    "Jadilah gadis baik, Bianca."Tangan Luca menyelusup ke rambutku, suaranya lembut. "Kamu belum makan seharian, 'kan? Aku akan minta koki membuatkan pasta seafood krim favoritmu. Beristirahatlah dulu. Aku akan meneleponmu saat makan malam siap."Dia pun pergi, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Langkah kakinya menggema dalam keheningan.Tak ada yang bisa kulakukan selain kembali mengemasi koperku.Baru saja aku mencapai ambang pintu, suara lantang terdengar dari ruang kerja, nadanya tajam dan penuh amarah.Itu suara Luca."Pak Moretti. Marco. Kenapa kalian nggak memberi tahu Bianca bahwa pernikahannya dibatalkan?" Suaranya bergetar menahan amarah. "Aku nggak ingin Bianca dipermalukan di depan siapa pun seperti tadi lagi. Ini yang terakhir. Kalau kalian memperlakukannya seperti itu lagi, kalian akan menyesal."Keheningan tegang menyusul."Bos, kami cuma memikirkan Valentina." Marco menghela napas. "Waktunya nggak banyak. Kami cuma ingin keinginannya terpenuhi.""Aku tahu," jawab Luca, suar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status