Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua
“Bantu aku palsukan kematianku dan siapkan identitas baru untukku.”
“Sinta?” Pria itu jelas terkejut. “Kenapa? Andi kan sangat manjakan kamu. Seluruh Sidolang tahu itu.”
“Itu bukan urusanmu. Aku akan pergi dalam lima hari,” potongku dingin.
Aku melangkah keluar dari pasar gelap, sementara layar LED raksasa di alun-alun masih tayangkan rekaman pernikahanku yang mewah dengan Ketua Mafia Andi Pratama tiga tahun lalu, sebuah upacara besar yang habiskan lebih dari 80 triliun.
Semua orang percaya Andi cinta aku dengan sepenuh hati. Dan aku pun pernah percaya dengan hal itu. Sampai siang ini. Pada hari jadi pernikahan kami yang ketiga, aku lebih awal pulang ke Sidolang. Aku sembunyi di ruang istirahat kantor suamiku, Ketua Mafia Andi Pratama, berniat kasih dia kejutan.
Namun yang aku dapat justru sebuah mimpi buruk. Aku lihat sekretarisnya sembunyi di bawah mejanya.
Saat tangan kanannya, Malik sedang laporkan kerugian operasi penyelundupan di dermaga, Intan berlutut di antara kaki Andi, jemarinya lincah buka kancing celananya. Kepalanya bergerak naik turun.
Setelah Malik pergi, Intan tersenyum genit.
“Apa istrimu bisa layani kamu seperti ini saat rapat?”
Suara Andi penuh nafsu. Tangannya meremas dada Intan.
“Sinta terlalu kaku, bikin bosan. Dia nggak ada apa-apanya dibanding kamu, dasar wanita nakal.”
Aku menutup mulutku, hancur sepenuhnya. Namun saat aku benar-benar pergi. Justru Andi yang sebut aku kaku dan membosankan itu adalah orang yang akhirnya runtuh sepenuhnya.