Desah Di Kamar Sebelah
Ternyata kehidupan istrinya yang sekarang malah lebih mewah.
“Ina, aku akan memberimu lipstik yang warna bata juga. Ini cantik sekali. Baru juga. Belum pernah kupakai. Satunya lagi ada juga. Mereknya sama, hanya warnanya berbeda. Dia pink, cuma agak mendekati merah. Tepatnya mungkin magenta kali, ya? Tiga-tiganya untukmu.” Nami memberikanku dua lipstik lagi yang semuanya memiliki tempat berwarna gold mengkilap. Mereknya tak main-main. Lagi-lagi berasa dari kota fashion sana, Paris.
Kuhela napas pelan. Aku harus terlihat tegar. Aku harus tampak baik-baik saja di depan Nami. Jangan sampai dia mengendus aroma kecemburuan yang sebenarnya sudah menguar di batinku.