Ada satu kutipan dari novel klasik 'Pride and Prejudice' yang selalu bikin aku merenung, 'Vanity and pride are different things, though the words are often used synonymously. A person may be proud without being vain. Pride relates more to our opinion of ourselves, vanity to what we would have others think of us.' Ini ngena banget karena seringkali kita terjebak dalam pencarian validasi dari orang lain, padahal kebanggaan sejati datang dari dalam.
Di sisi lain, cerita Zen Jepang tentang cangkir teh yang penuh juga mengajarkan hal serupa—kita harus kosongkan diri dulu sebelum bisa menerima hal baru. Kombinasi antara sastra Barat dan filosofi Timur ini bikin aku sadar bahwa kerendahan hati itu seperti tanah subur tempat kebijaksanaan tumbuh.