Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Nikah Yuk!

Nikah Yuk!

Dinda membela diri. "Alaaah, itu apa tadi gaya-gaya slowmotion yang makin lama makin mendekat? Apalagi kalau bukan mau peluk-pelukan, tangan si Rendra saja sudah mengembang. Kamu pikir Mak gak tahu? Kamu pikir Mak gak pernah muda? Hah?!” "Emang slowmotion itu, apa Mak?" "Hadeeew, dah mau nikah masih juga gak gaul. Ck! Masa kalah sama Mak." Mak mendecak kesal lalu wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah dan mengunci Dinda dari dalam.
103.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 91 kali sebagai najis hukmiyah
Baca
+Pustaka
Memori Yang Menghukum

Memori Yang Menghukum

“Ayah butuh uang untuk judi. Cepat! sebelum terlambat.” Fiona menghela napas berat, berusaha menenangkan dirinya. Tapi melihat pria yang pernah menghancurkan masa kecilnya kini berdiri di depan pintu rumahnya, membuat emosinya sulit terkendali.
736 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14 kali sebagai najis hukmiyah
Baca
+Pustaka
Nisan Retak

Nisan Retak

"Apa yang bapak maksud?" “Terlalu banyak yang hilang, Nak. Keluargamu mungkin tidak sebersih yang kalian bayangkan. Dan batu nisan itu...” pria tua itu menunjuk dengan jarinya ke arah nisan retak, “itu adalah tanda dari sebuah janji yang tak terpenuhi. Sesuatu yang lebih besar daripada yang kalian tahu.” Amira merasa tubuhnya kaku, seolah baru saja diterjang badai. “Janji yang tak terpenuhi? Apa yang Bapak maksud?”
985 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 19 kali sebagai najis hukmiyah
Baca
+Pustaka
Bertahan Dalam Asa Hampa

Bertahan Dalam Asa Hampa

jangan-jangan . "Oh, ya? Kita lihat saja nanti." Nissa memilih menyampingkan kecurigaannya. "Setelah urusan ini selesai. Saya akan membuat perhitungan dengan anda. Dasar manusia culas dan bejat!" desis Nissa sambil balas menyeringai.
1017.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 400 kali sebagai najis hukmiyah
Baca
+Pustaka
Nikah Yuk!

Nikah Yuk!

Baru saja duduk di daybed, seorang pelayan datang membawakan teh hangat beserta camilan. Zhafira pun menceritakan mengenai penyakit yang dideritanya, berbagai theraphy dan program kehamilan sebagai alasan kenapa dirinya resign. Dewi mendengar dengan seksama tanpa menjeda ucapan Zhafira, matanya menatap Zhafira serius. “Harusnya kamu enggak resign, Fir ... kalau suami kamu sama keluarganya ngusir kamu dari rumah ini gimana? Kamu itu ‘kan mandul.”
9.334.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 764 kali sebagai najis hukmiyah
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
12
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status