Yang Terpilih
Rosa tersadar dari lamunannya setelah merasakan tepukan di bahunya.
“Ramona jago lho, Non, dia bisa bikin kuku-kuku Non, cantik berseri,” bujuknya lagi dengan alunan suara sedikit “melambai”.
Rosa mengangguk, dia senang melihat bayangannya sendiri di cermin, seperti bukan dirinya. Kilau berlian dari kedua telinganya menambah kemewahan pada kecantikannya. Seorang karyawan mengantar Rosa ke salah satu bilik di bagian belakang salon. Yang disebut Ramona mirip seperti orang yang tadi mengerjakan rambutnya. Hanya saja level melambainya sudah seperti nyiur, bukan hanya suara, tubuh cekingnya juga memperlihatkan bahasa tubuh yang khas.